<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><rss version="2.0" xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/">
  <channel>
    <title>bulanjuni</title>
    <link>https://bulanjuni.writeas.com/</link>
    <description></description>
    <pubDate>Sun, 31 May 2026 22:30:04 +0000</pubDate>
    <item>
      <title>Pinggir Pantai</title>
      <link>https://bulanjuni.writeas.com/pinggir-pantai?pk_campaign=rss-feed</link>
      <description>&lt;![CDATA[  POV: BERMUDA.&#xA;  cw  // mention of death ; trauma ; crime &#xA;&#xA;&#34;Haku Dharmakala.&#34;&#xA;&#xA;Haya menyodorkan tangan, terlihat sedang mengajak berkenalan. &#xA;&#xA;Mataku membalasnya heran. Maksudnya? !--more--&#xA;&#xA;&#34;Nama yang dikasih bonyok ke gue,&#34; ia menurunkan tangan, mengembalikannya ke dalam saku jaket. Mata coklatnya diarahkan pada langit kuning kemerahan di hadapan kami. &#34;Haku Dharmakala.&#34; Nada suaranya melembut.&#xA;&#xA;Aku meliriknya sekilas. Kenapa manusia licik ini tiba-tiba membahas orang tuanya? Sengaja agar aku merasa tidak enak sudah meremehkan dukanya semasa kecil?&#xA;&#xA;&#34;Oh... gue cuma tau nama lo Haya.&#34;&#xA;&#xA;&#34;Lengkapnya Himalaya.&#34; Koreksinya, &#34;Haya nama panggilan gue di kampus.&#34;&#xA;&#xA;Yep. Lagi-lagi sesuatu yang tidak aku tahu.&#xA;&#xA;Kami kembali memandangi matahari yang sedang merosot ke laut. Rasa kesal dan marah atas perdebatan semalam perlahan surut. &#xA;&#xA;Menjadi sosok kakak untuk Fuji tentunya melatih kekuatan sekaligus kelunakkanku sebagai manusia. Hal-hal menyakitkan yang diucapkan Haya semalam bagai sinar matahari yang akhirnya menghilang sebelum hari baru menjemput. &#xA;&#xA;&#34;Sebelum gue dipanggil Haya, orang-orang manggil gue Hima.&#34; Lelaki berambut agak gondrong itu menatapku, hembusan angin membuat anak rambutnya beterbangan seiring ujung jaketnya yang  terhempas ketika tangannya dikeluarkan dari saku. &#xA;&#xA;&#34;Lo nggak kenal gue di masa Haku Dharmakala atau Hima, lo kenal gue sebagai Haya...HOKU...&#34; Ia terdiam sejenak. Matanya terpaku pada ujung kaki seolah sedang menghitung hamparan pasir yang kami duduki. &#34;Bisa aja gue juga gitu, gue nggak kenal lo sebelum Erde, Rudi, atau Bermuda.&#34;&#xA;&#xA;&#34;Dari dulu nama gue emang Erde...&#34; Sambarku, &#34;sejak pergi dari panti.&#34;&#xA;&#xA;&#34;Pas masih di panti?&#34; Ia memiringkan wajahnya, &#34;Erde juga?&#34;&#xA;&#xA;Aku menggigit bibir, enggan menjawab. &#xA;&#xA;Kenapa tiba-tiba bertanya?&#xA;&#xA;Sikapnya yang menumpul setelah semalam menajam membuatku tidak nyaman--seolah Haya sudah mengetahui masa laluku dan memutuskan bahwa aku patut dikasihani. &#xA;&#xA;&#34;Kita nggak sekenal itu, makanya kemungkinan besar kita bakal nyakitin satu sama lain.&#34; Haya menarik wajahnya menjauh lalu menatapku. &#xA;&#xA;Dua alisku naik. &#34;Ya... harusnya kita nggak nyelesaiin perbedaan pendapat dengan saling nyakitin, sih. Harusnya kita cari jalan tengah.&#34; Mataku meliriknya, &#34;namanya juga kerja sama.&#34;&#xA;&#xA;Haya terkekeh. &#34;Kerja sama....&#34; Matanya menerawang jauh. &#34;Dari dulu gue lebih suka ngerjain apa-apa sendiri. Gue nggak terlatih kerja kelompok, gue takut deket-deket sama orang lain... takut mereka tau kalo gue... beda sama mereka.&#34;&#xA;&#xA;Pengakuan itu membuat dahiku mengernyit. &#34;Lo nggak kayak HOKU yang gue kenal.&#34;&#xA;&#xA;Matanya kini menuntut penjelasan.&#xA;&#xA;&#34;HOKU yang gue kenal, justru bakal bangga karena dia beda dari orang lain. Ngrasa paling pinter karena menurut dia, semua orang di dunia ini bego.&#34; Lanjutku.&#xA;&#xA;&#34;Itu kan HOKU. Gue lagi jadi Haku!&#34; Protesnya tidak terima.  &#34;HOKU itu beda, dia nggak takut apa pun karena semua yang ada di layar bisa dikendaliin sama tangannya.&#34; &#xA;&#xA;Aku terkekeh. Padahal tangan HOKU adalah tangan milik Haku juga.&#xA;&#xA;&#34;Tapi Haku Dharmakala... beda.&#34; Pandangan Haya dilempar jauh. &#34;Kalo lo cari tau dikit aja... lo bakal tau Haku Dharmakala itu anak dari Chisen Dharmakala, hakim koruptor yang mobilnya masuk jurang--itu semua di luar kendali Haku.&#34;&#xA;&#xA;Uh-Oh. &#xA;&#xA;&#34;Selama jadi Haku, gue hidup berkecukupan. Tapi pas jadi Himalaya, gue hidup serba nggak ada.&#34; Haya terkekeh, &#34;lo tau kan gimana susahnya sekolah tanpa surat-surat kelahiran?&#34; &#xA;&#xA;Aku mengamini dalam hati. Tidak perlu ditanya bagaimana sulitnya mendaftar sekolah tanpa surat-surat resmi dari negara. Kalau enggan memenuhi berbagai persyaratan yang memusingkan itu, sebagai wali dari Fuji, aku harus menyiapkan uang yang tidak sedikit. &#xA;&#xA;Sama denganku, Haya menceritakan bagaimana ia susah payah mengganti identitas agar orang lain tidak mengetahui asal-usulnya. &#xA;&#xA;&#34;Dulu pas gue udah jadi Himalaya, gue tetep takut orang-orang bakal tau tentang keluarga gue, latar belakang gue, atau rumah gue yang kelewat biasa, sepi--nggak kayak rumah mereka. Gue takut bakal dikatain karena nggak punya mainan atau nggak pernah nyobain makanan di mall,&#34; ia terkekeh pelan, &#34;bahkan gue selalu nutupin sepatu gue... karena sepatu gue paling biasa di antara temen-temen...&#34; kalimatnya terhenti, matanya tertuju pada ujung kaki, &#34;yah...&#34; helaan napasnya terdengar,  &#34;gitu lah.&#34;&#xA;&#xA;Aku menelan ludahku. &#34;Maaf.&#34;&#xA;&#xA;&#34;Kenapa minta maaf?&#34;&#xA;&#xA;Mengatakan hidup orang lain enak pada orang yang benar-benar hidup enak tentunya adalah pujian, namun mengatakan hidup orang lain enak pada orang yang hidup penuh sesak adalah hinaan.&#xA;&#xA;Untuk sesaat aku menimang untuk menyampaikannya atau tidak. &#xA;&#xA;Baiklah. Aku mengalah.&#xA;&#xA;&#34;Gue sembarangan banget bilang hidup lo lebih enak cuma karena lo punya apa yang gue nggak punya--sekolah, ijazah, orang tua.&#34; Jawabku akhirnya. &#xA;&#xA;&#34;Padahal kalo gue nggak punya itu semua, gue juga nggak tahu rasanya kehilangan itu semua.&#34; Aku sengaja memberi jeda, berusaha mencari kata yang tepat agar ujung dari percakapan ini bukan perdebatan. &#xA;&#xA;&#34;Pas keluar dari panti, gue mulai liat gimana anak-anak dimanja sama orang tuanya, mereka cuma perlu nangis buat dapetin apa yang mereka mau, bahkan ada anak-anak yang nggak perlu ngapa-ngapain dan orang tuanya bakal langsung ngasih mereka sesuatu... anak kedua saya suka makan ini, saya pesen satu ya.&#34; Aku menirukan seorang ibu-ibu yang dulu pernah menjadi pelanggan di toserba tempatku bekerja.&#xA;&#xA;Setelah memastikan Haya tersenyum, aku melanjutkan ceritaku.&#xA;&#xA;&#34;Dulu gue mikir orang tua itu sumber kebahagiaan buat anak-anak.&#34; Aku menghela napas. &#34;Dan gue baru tau juga kalo... pas gue dipukulin di panti, ada anak seumuran gue yang dijaga mati-matian sama orang tuanya biar nggak jatuh pas belajar naik sepeda.&#34;&#xA;&#xA;Ingatanku tentang rasa iri yang kupendam saat masih remaja terkupas satu per satu.&#xA;&#xA;&#34;Pas gue nahan laper karena harus ngejar setoran, ada anak yang makan siangnya disiapin dan disuapin orang tuanya. Anak-anak kecil yang gue liat dulu, punya orang-orang yang mastiin mereka nggak akan nangis atau hidup kekurangan.&#34;&#xA;&#xA;Ringisanku terdengar. Ternyata masih ada sisa iri di sudut jantungku.&#xA;&#xA;&#34;Liat anak lain seumuran gue yang lagi main sama temen-temennya atau ketawa bareng keluarganya bikin gue yang masih umur belasan sadar kalo...&#34; Aku menoleh pada Haya. &#34;Gue kemudaan buat ngerasain itu semua.&#34;&#xA;&#xA;Suara deburan ombak sempat menjeda kalimatku.&#xA;&#xA;&#34;Fuji nggak pernah bilang,&#34; Lanjutku. &#34;Tapi gue yakin dia juga kesusahan di sekolah. Dia mungkin pernah minder, diejek, ngrasa beda--tapi dia diem aja.&#34;&#xA;&#xA;Angin laut meniup rongga dadaku.&#xA;&#xA;Terasa ringan.&#xA;&#xA;Mungkin karena aku tahu, Haya mengerti apa yang kurasakan.&#xA;&#xA;Terasa lebih mudah menyusun setiap kalimat yang akan kuucap. &#xA;&#xA;Mungkin karena aku tahu, Haya memahamiku.&#xA;&#xA;Dan setelah berkeluh kesah tentang masa lalu yang lebih baik kulupakan itu, mendadak topik pembicaraan kami sudah kembali ke masa kini.&#xA;&#xA;&#34;Liat anak-anak di panti kemarin bikin gue seneng karena mereka nggak perlu ngalamin apa yang udah gue alamin pas gue seumuran mereka.&#34;&#xA;&#xA;&#34;Kita belum tau apa yang mereka sembunyiin.&#34; Tambahku cepat, takut tiba-tiba Haya mendebatku dengan mengatai aku hobi berasumsi sendiri. &#34;Tapi apa pun itu, gue bakal mastiin anak-anak di sini tetep hidup nyaman.&#34; &#xA;&#xA;Dengan yakin, senyumku mengembang pada Haya&#xA;&#xA;Aku nyaris mematahkan tangan Haya yang tiba-tiba menepuk ujung kepalaku. &#34;Mereka nggak bakal ngerasain apa yang lo atau gue rasain dulu.&#34; &#xA;&#xA;&#34;Emang harus gitu.&#34; Anggukku setuju. &#xA;&#xA;&#34;Gue nggak semarah itu, tahu...&#34; Haya mengganti posisi duduknya, bersila. &#34;Lo nggak harus minta maaf ke gue.&#34; Kemudian wajah tengilnya dicondongkan, &#34;gue juga kelewatan. Harusnya tanpa minta maaf, kita impas.&#34;&#xA;&#xA;Aku terkekeh. Sepertinya Haya juga merasakan apa yang kurasakan setelah mendengar ceritanya--rasa bersalah. Dia hanya enggan meminta maaf balik padaku.&#xA;&#xA;Kemudian suara yang tersisa tinggal debur ombak, hembusan angin, dan deru motor dari kejauhan. &#xA;&#xA;Kami sama-sama terdiam untuk beberapa waktu.&#xA;&#xA;&#34;Seberapa pengen lo ngancurin Manggala?&#34;&#xA;&#xA;Keheningan pertama dipecah oleh Haya.&#xA;&#xA;Hah?&#xA;&#xA;&#34;Gue?&#34; Aku menunjuk diri sendiri. &#xA;&#xA;Haya mengangguk.&#xA;&#xA;Aku bergumam. &#34;Jujur...&#34;&#xA;&#xA;&#34;Jujur...?&#34; Satu alis Haya naik.&#xA;&#xA;Tanganku naik mengusap tengkuk. Tidak yakin.&#xA;&#xA;&#34;Nggak tau.&#34; Aku akhirnya menggeleng. &#xA;&#xA;&#34;Gue lebih ke... takut?&#34; Aku meragukan kata sifat yang kuucapkan, &#34;--setiap denger mereka.&#34; Lanjutku. &#34;Gue takut kalo ketemu mereka, bukan gue yang ngancurin mereka, tapi justru mereka yang ngancurin gue.&#34;&#xA;&#xA;&#34;Gue takut usaha gue sama Fuji buat lari dari mereka jadi sia-sia karena kita ngejar sekarang ngejar mereka.&#34; Jemariku turun, memainkan ribuan pasir dalam genggaman. &#34;Gue nggak pernah bener-bener yakin bisa ngancurin mereka.&#34;&#xA;&#xA;&#34;Lo bener...&#34; Aku terkekeh--mendadak teringat ucapan Haya semalam. &#34;Gue emang pengecut.&#34;&#xA;&#xA;&#34;Lo tau...&#34; Haya tersenyum padaku dengan kedua tangan memeluk lutut, &#34;gue takut banget pas Maru ngarahin pistolnya ke gue, pas nyamar jadi suami lo kemarin.&#34; Tawa kecilnya terdengar. &#34;Tapi pas udah di depan komputer, gue ngrasa gue bisa hancurin Manggala. Gue ngerasa... gue harus hancurin mereka semua.&#34;&#xA;&#xA;&#34;Gue pengen orang yang bunuh bokap gue ngrasain juga apa yang dirasain keluarga gue.&#34;&#xA;&#xA;Mata kami kembali bertemu, ia seperti sedang bersumpah di hadapanku.&#xA;&#xA;&#34;Mau lo... bunuh...?&#34; &#xA;&#xA;&#34;Mati aja nggak cukup buat ngerasain apa yang keluarga gue rasain.&#34;&#xA;&#xA;Aku menelan ludahku. &#xA;&#xA;Tentu. Tentu mati terlalu mudah untuk mereka. &#xA;&#xA;&#34;Intinya, gue juga pengecut--kita berdua pengecut yang benci Manggala.&#34; Haya mengoreksi cepat. &#34;Tapi kita bukan cuma Haya sama Erde, kita HOKU sama RED. Kita udah berkali-kali kerja buat orang lain, tingkat kesuksesan kita 100%. Sekarang kalo kita emang mau kerja sama buat ngancurin mereka, gue yakin kita tetep bakal sukses 100%.&#34; Haya mengendikkan bahunya.&#xA;&#xA;Kemudian mata kecoklatan itu menatapku--secepat kilat, rasa hangat merasuki tubuhku.&#xA;&#xA;Kehangatan itu menjalar hingga tenggorokanku seperti dihantam bola panas. &#xA;&#xA;Aku tercekat.&#xA;&#xA;Darahku mengalir deras. Pembuluhku seolah membesar dan jantungku berdetak cepat. Rongga dadaku nyaris meledak.&#xA;&#xA;Alih-alih meledakkan jantungku, sesuatu yang eksplosif itu menggelitik perutku, tawaku lebih dulu menyembur. &#xA;&#xA;Menggelikan.&#xA;&#xA;&#34;Kenapa?&#34; Haya menatapku heran. &#xA;&#xA;Pastilah dia heran. &#xA;&#xA;Aku juga heran, tidak paham. &#xA;&#xA;Ledakan ini datang mendadak. Seperti menemukan sebuah cahaya dalam lorong gelap yang selama ini kukira tak berujung. Seolah sebuah lentera baru saja disodorkan padaku oleh pejalan lain yang kutemui di tengah perjalanan. Seperti langkah kaki yang kudengar selain langkah kakiku sendiri. &#xA;&#xA;Perasaan bahwa aku tidak akan berjalan sendirian ini menghantam tepat di inti jantung.&#xA;&#xA;Aneh.&#xA;&#xA;Mungkin, kata kita yang diucapkan Haya, baru saja menjadi pemantik yang menyalakan tubuhku.&#xA;&#xA;&#34;Gue tau gue pengecut, banyak takutnya,&#34; bahkan senyumku tidak dapat terbendung, &#34;tapi pas denger elo ngaku lo pengecut, gue jadi nggak takut... gue justru pengen bilang kalo kita berdua bukan pengecut, tapi Manggala yang pengcut.&#34;&#xA;&#xA;Haya tertawa. &#34;Kenapa mendadak bilang gitu? Sesama pengecut harus saling nguatin?&#34;&#xA;&#xA;Tawa itu menular pada bibirku. &#34;Bukan, bukan.&#34; Gelengku cepat. &#34;Menang dari orang yang jauh lebih lemah dari kita bukan sesuatu yang pantes dibanggain. Gue pernah adu panco sama kakek-kakek terus menang, bukannya bangga gue malah malu karena...&#34; dahiku mengernyit mengingat betapa cupu-nya aku saat itu, &#34;ngapain gue nantangin dia panco?&#34;&#xA;&#xA;Lelaki di sampingku tampak memahami arah pembicaraanku, anggukannya mengamini cerita dariku. &#34;Pas awal kuliah, gue juga pernah main game 5v5, tim gue kalah, terus gue marah-marah sama temen setim gue, abis itu gue buru dia sampe ketauan kalo ternyata dia masih bocah umur 13 tahun. Bukannya pengen makin marah gue langsung nggak jadi marah karena dia masih kecil banget.&#34; Ia terkekeh, &#34;itu &#39;kan yang lo maksud?&#34;&#xA;&#xA;Aku mengangguk. &#34;Itu respon normal orang biasa pas tau lawan mereka nggak sepadan. Tapi Manggala beda--buat mereka, lawan tetep lawan. Cuma ada menang sama kalah. Justru itu sifat pengecut.&#34;&#xA;&#xA;Kami tersenyum puas setelah merasa cukup menghakimi Manggala. &#xA;&#xA;Saat masih mengenyam Sekolah Menengah Pertama, Fuji pernah bilang, fungsi jantung adalah memompa darah ke seluruh tubuh. Ledakan dari Haya sepertinya meningkatkan fungsi jantungku, tidak hanya darah yang disalurkan ke seluruh tubuh, rasanya keberanian dan semangatku ikut mengaliri tiap tubuhku hingga rasanya aku bisa berenang mengitari lautan tanpa takut tenggelam. &#xA;&#xA;Mataku mengamati Haya dari samping. &#xA;&#xA;Benar.&#xA;&#xA;Jika kami bersama, keberhasilan adalah kepastian.&#xA;&#xA;Senyumku, sekali lagi, mengembang. &#xA;&#xA;&#34;Apa rencana lo nanti?&#34;&#xA;&#xA;Aku langsung terbatuk saat tiba-tiba Haya menoleh, menangkap basah pandanganku yang masih terkunci di wajahnya.&#xA;&#xA;&#34;Nanti malem?&#34; Aku berdeham.&#xA;&#xA;&#34;Nanti kalo semua ini udah selesai.&#34;&#xA;&#xA;Oh.&#xA;&#xA;&#34;Gue belum pernah mikir sampe situ.&#34; &#xA;&#xA;Namun karena Haya bertanya, kini aku memikirkannya.&#xA;&#xA;Setelah semua pelarian ini selesai dan tidak ada pihak mana pun yang harus kami hindari, apa yang akan kulakukan?&#xA;&#xA;Menarik.&#xA;&#xA;&#34;Gue pengen liat Fuji kuliah, wisuda, kerja, ngelakuin apa yang dia mau.&#34; Bahkan mengucapkannya membuat ujung bibirku melengkung. &#xA;&#xA;&#34;Lo kayak bapaknya.&#34; Haya mendengus, mengejekku. &#34;Itu &#39;kan buat Fuji, kalo buat lo sendiri apa?&#34;&#xA;&#xA;&#34;Gue sendiri?&#34;&#xA;&#xA;&#34;Iya,&#34; Haya mengangguk, &#34;apa yang pengen lo lakuin? Lo pengen Fuji liat lo ngapain?&#34;&#xA;&#xA;Lucu. Aku menepuk lengan Haya, tertawa.  &#34;Gue nggak tau mau ngapain.&#34; Kekehku pelan. &#34;Kerja... mungkin? Biar Fuji bisa kuliah?&#34;&#xA;&#xA;&#34;Kerja?&#34; Haya merubah posisi duduknya, meluruskan kedua kaki dan membiarkan kedua tangannya menopang tubuh, wajahnya sedikit didongakkan menatap langit, &#34;kalo kerja mah... semua orang juga kerja.&#34;&#xA;&#xA;&#34;Gue kurang tau apa yang pengen gue lakuin.&#34; Aku memeluk lutut, mencegah angin malam terlalu membelai kulit--dingin. &#34;Tapi ada yang nggak pengen gue lakuin.&#34;&#xA;&#xA;&#34;Apa?&#34; Seketika Haya kembali bersila, wajahnya didekatkan padaku, matanya membulat seperti anak kucing yang hendak diberi makan.&#xA;&#xA;&#34;Lari.&#34; Aku menoleh padanya. &#34;Gue nggak mau ngejar atau dikejar... sama siapapun.&#34;&#xA;&#xA;&#34;Yah...&#34; Seperti anak kucing yang tidak berselera dengan makanan yang diberi, Haya kembali pada posisi duduk semula--menarik wajahnya dariku. &#34;Nggak ada kegiatan spesifik mau ngapain?&#34;&#xA;&#xA;Nggak, menjadi jawabanku dalam hati. &#xA;&#xA;Sulit mengatakan bahwa sebenarnya tidak ada yang ingin kulakukan. Aku berharap bisa terus merasakan ledakan di rongga dadaku dengan pantat menempel sedekat mungkin pada bumi--seperti sekarang.&#xA;&#xA;&#34;Duduk...&#34; &#xA;&#xA;Ucapku akhirnya. &#xA;&#xA; &#34;Diem...&#34; &#xA;&#xA;Bibirku tersenyum.&#xA;&#xA;&#34;Liatin...&#34; Mataku mengerjap beberapa kali, mengitar pada pemandangan di sekitarku,  &#34;ombak... orang jualan ikan bakar... anak main pasir...&#34; wajahku menengadah, &#34;langit...&#34; lalu turun dan mendapati satu-satunya pemandangan yang belum kusebut di sampingku,&#xA;&#xA;&#34;... gue...?&#34; &#xA;&#xA;Telunjuk Haya menunjuk dirinya sendiri.&#xA;&#xA;Dan ledakan itu datang lagi, kini dengan cepat membuat tawaku lebih dulu berhamburan. &#xA;&#xA;Perasaan ini terasa aneh, seperti sebuah balon yang terus dipompa dan tak mau meletus. &#xA;&#xA;&#34;Jenguk lo di penjara karena lo mau bunuh orang Manggala, &#39;kan?&#34;&#xA;&#xA;&#34;Ngaco!&#34; Pukulan Haya mendarat di pundakku. &#34;Gue bilang, mati nggak cukup buat mereka!&#34; Ia mendengus kesal. &#34;Lagian, di antara kita berdua, lo yang kemungkinan besar bakal masuk penjara! Nggak ngerti hukum, emosian, nggak bisa baca situasi lagi!&#34; Tiba-tiba tangannya mencubit pipiku keras--amat keras. &#34;Gue nggak bakal heran kalo muka lo nampang di berita karena nganiaya polisi!&#34;&#xA;&#xA;&#34;Sembarangan!&#34; Aku menepis tangan Haya.&#xA;&#xA;&#34;Besok gue pastiin lo dapet sel yang ngadep laut biar tetep bisa duduk sambil liat ombak, ikan bakar, sama pasir!&#34; Matanya memicing kesal. &#xA;&#xA;Meskipun ikut kesal mendengarnya, aku tertawa. Haya benar-benar mirip anak kucing yang marah karena camilannya diambil.&#xA;&#xA;Setelah itu, telingaku sibuk mendengar Haya yang berandai-andai jika besok aku menjadi penghuni sementara di penjara. &#xA;&#xA;Suara Haya menjadi latar musik yang menyenangkan di pinggir pantai. Dengan lautan biru di depan mata dan langit kemerahan yang cenderung meremang seiring berjalannya waktu--mengisyaratkan kegelapan akan datang dalam beberapa detik. &#xA;&#xA;&#34;Lo denger &#39;kan cerita Maru kemarin?&#34;&#xA;&#xA;Aku terkesiap. Tiba-tiba ocehanya sudah berganti menjadi pertanyaan normal.&#xA;&#xA;&#34;Yang...?&#34;&#xA;&#xA;&#34;Mata pisau. Eksekutor Manggala.&#34;&#xA;&#xA;Aku mengangguk. &#34;Mereka... yang bunuh orang tua lo, &#39;kan?&#34; Tanyaku hati-hati.&#xA;&#xA;&#34;Bisa jadi.&#34; Dua alis Haya naik sekilas.&#xA;&#xA;&#34;Kita bakal pastiin nggak ada anak-anak yang dimanfaatin sama Manggala dan nggak ada anak-anak yang kehilangan orang tuanya karena Manggala.&#34; Haya menatapku mantap. &#34;Dengan gitu, nggak ada lagi masa lalu dan masa depan yang hancur karena Manggala.&#34; Ia terdiam sejenak, &#34;lo mau &#39;kan lanjutin ini semua?&#34;&#xA;&#xA;Aku mengangguk. Tentu!&#xA;&#xA;---&#xA;&#xA;Tepat sebelum kegelapan menyelimuti kami, aku mengulurkan tanganku pada Haya. &#34;Oh iya, Erlan.&#34;&#xA;&#xA;Si anak kucing--Haya--kini terlihat kebingungan. &#xA;&#xA;&#34;Nama gue di panti R-8, panggilannya Erlan.&#34; Aku tersenyum, mataku menunjuk tanganku sebagai isyarat  perkenalan kami.&#xA;&#xA;&#34;Erlan!&#34; Seperti anak kucing yang bertemu induknya, Haya menyerbu tanganku dan menjabatnya erat. Binar matanya melembut perlahan. &#34;Makasih udah pergi dari panti dan bawa Erde ke sini.&#34;&#xA;&#xA;Haya menepuk pelan ujung kepalaku. &#xA;&#xA;Dan itu.&#xA;&#xA;Itu adalah ledakan ketigaku hari ini.]]&gt;</description>
      <content:encoded><![CDATA[<blockquote><p><em>POV: BERMUDA.</em>
cw  // mention of death ; trauma ; crime</p></blockquote>

<p>“Haku Dharmakala.”</p>

<p>Haya menyodorkan tangan, terlihat sedang mengajak berkenalan.</p>

<p>Mataku membalasnya heran. <em>Maksudnya?</em> </p>

<p>“Nama yang dikasih <em>bonyok</em> ke gue,” ia menurunkan tangan, mengembalikannya ke dalam saku jaket. Mata coklatnya diarahkan pada langit kuning kemerahan di hadapan kami. “<em>Haku Dharmakala</em>.” Nada suaranya melembut.</p>

<p>Aku meliriknya sekilas. Kenapa manusia licik ini tiba-tiba membahas orang tuanya? Sengaja agar aku merasa tidak enak sudah meremehkan dukanya semasa kecil?</p>

<p>“Oh... gue cuma tau nama lo Haya.”</p>

<p>“Lengkapnya Himalaya.” Koreksinya, “Haya nama panggilan gue di kampus.”</p>

<p><em>Yep.</em> Lagi-lagi sesuatu yang tidak aku tahu.</p>

<p>Kami kembali memandangi matahari yang sedang merosot ke laut. Rasa kesal dan marah atas perdebatan semalam perlahan surut.</p>

<p>Menjadi sosok kakak untuk Fuji tentunya melatih kekuatan sekaligus kelunakkanku sebagai manusia. Hal-hal menyakitkan yang diucapkan Haya semalam bagai sinar matahari yang akhirnya menghilang sebelum hari baru menjemput.</p>

<p>“Sebelum gue dipanggil Haya, orang-orang manggil gue Hima.” Lelaki berambut agak gondrong itu menatapku, hembusan angin membuat anak rambutnya beterbangan seiring ujung jaketnya yang  terhempas ketika tangannya dikeluarkan dari saku.</p>

<p>“Lo nggak kenal gue di masa Haku Dharmakala atau Hima, lo kenal gue sebagai Haya...<em>HOKU</em>...” Ia terdiam sejenak. Matanya terpaku pada ujung kaki seolah sedang menghitung hamparan pasir yang kami duduki. “Bisa aja gue juga gitu, gue nggak kenal lo sebelum Erde, Rudi, atau Bermuda.”</p>

<p>“Dari dulu nama gue emang Erde...” Sambarku, “sejak pergi dari panti.”</p>

<p>“Pas masih di panti?” Ia memiringkan wajahnya, “Erde juga?”</p>

<p>Aku menggigit bibir, enggan menjawab.</p>

<p><em>Kenapa tiba-tiba bertanya?</em></p>

<p>Sikapnya yang menumpul setelah semalam menajam membuatku tidak nyaman—seolah Haya sudah mengetahui masa laluku dan memutuskan bahwa aku patut dikasihani.</p>

<p>“Kita nggak sekenal itu, makanya kemungkinan besar kita bakal nyakitin satu sama lain.” Haya menarik wajahnya menjauh lalu menatapku.</p>

<p>Dua alisku naik. “<em>Ya...</em> harusnya kita nggak nyelesaiin perbedaan pendapat dengan saling nyakitin, sih. Harusnya kita cari jalan tengah.” Mataku meliriknya, “namanya juga kerja sama.”</p>

<p>Haya terkekeh. “Kerja sama....” Matanya menerawang jauh. “Dari dulu gue lebih suka ngerjain apa-apa sendiri. Gue nggak terlatih kerja kelompok, gue takut deket-deket sama orang lain... takut mereka tau kalo gue... beda sama mereka.”</p>

<p>Pengakuan itu membuat dahiku mengernyit. “Lo nggak kayak <em>HOKU</em> yang gue kenal.”</p>

<p>Matanya kini menuntut penjelasan.</p>

<p>“<em>HOKU</em> yang gue kenal, justru bakal bangga karena dia beda dari orang lain. Ngrasa paling pinter karena <em>menurut dia</em>, semua orang di dunia ini bego.” Lanjutku.</p>

<p>“Itu kan <em>HOKU</em>. Gue lagi jadi Haku!” Protesnya tidak terima.  “<em>HOKU</em> itu beda, dia nggak takut apa pun karena semua yang ada di layar bisa dikendaliin sama tangannya.”</p>

<p>Aku terkekeh. <em>Padahal tangan</em> HOKU <em>adalah tangan milik Haku juga.</em></p>

<p>“Tapi Haku Dharmakala... beda.” Pandangan Haya dilempar jauh. “Kalo lo cari tau dikit aja... lo bakal tau Haku Dharmakala itu anak dari Chisen Dharmakala, hakim koruptor yang mobilnya masuk jurang—itu semua di luar kendali Haku.”</p>

<p><em>Uh-Oh.</em></p>

<p>“Selama jadi Haku, gue hidup berkecukupan. Tapi pas jadi Himalaya, gue hidup serba nggak ada.” Haya terkekeh, “lo tau kan gimana susahnya sekolah tanpa surat-surat kelahiran?”</p>

<p>Aku mengamini dalam hati. Tidak perlu ditanya bagaimana sulitnya mendaftar sekolah tanpa surat-surat resmi dari negara. Kalau enggan memenuhi berbagai persyaratan yang memusingkan itu, sebagai wali dari Fuji, aku harus menyiapkan uang yang tidak sedikit.</p>

<p>Sama denganku, Haya menceritakan bagaimana ia susah payah mengganti identitas agar orang lain tidak mengetahui asal-usulnya.</p>

<p>“Dulu pas gue udah jadi Himalaya, gue tetep takut orang-orang bakal tau tentang keluarga gue, latar belakang gue, atau rumah gue yang kelewat biasa, sepi—nggak kayak rumah mereka. Gue takut bakal dikatain karena nggak punya mainan atau nggak pernah nyobain makanan di mall,” ia terkekeh pelan, “bahkan gue selalu nutupin sepatu gue... karena sepatu gue paling biasa di antara temen-temen...” kalimatnya terhenti, matanya tertuju pada ujung kaki, “yah...” helaan napasnya terdengar,  “gitu lah.”</p>

<p>Aku menelan ludahku. “Maaf.”</p>

<p>“Kenapa minta maaf?”</p>

<p>Mengatakan hidup orang lain enak pada orang yang benar-benar hidup enak tentunya adalah pujian, namun mengatakan hidup orang lain enak pada orang yang hidup penuh sesak adalah hinaan.</p>

<p>Untuk sesaat aku menimang untuk menyampaikannya atau tidak.</p>

<p><em>Baiklah</em>. Aku mengalah.</p>

<p>“Gue sembarangan banget bilang hidup lo lebih enak cuma karena lo punya apa yang gue nggak punya—sekolah, ijazah, orang tua.” Jawabku akhirnya.</p>

<p>“Padahal kalo gue nggak punya itu semua, gue juga nggak tahu rasanya kehilangan itu semua.” Aku sengaja memberi jeda, berusaha mencari kata yang tepat agar ujung dari percakapan ini bukan perdebatan.</p>

<p>“Pas keluar dari panti, gue mulai liat gimana anak-anak dimanja sama orang tuanya, mereka cuma perlu nangis buat dapetin apa yang mereka mau, bahkan ada anak-anak yang nggak perlu ngapa-ngapain dan orang tuanya bakal langsung ngasih mereka sesuatu... <em>anak kedua saya suka makan ini, saya pesen satu ya</em>.” Aku menirukan seorang ibu-ibu yang dulu pernah menjadi pelanggan di toserba tempatku bekerja.</p>

<p>Setelah memastikan Haya tersenyum, aku melanjutkan ceritaku.</p>

<p>“Dulu gue mikir orang tua itu sumber kebahagiaan buat anak-anak.” Aku menghela napas. “Dan gue baru tau juga kalo... pas gue dipukulin di panti, ada anak seumuran gue yang dijaga mati-matian sama orang tuanya biar nggak jatuh pas belajar naik sepeda.”</p>

<p>Ingatanku tentang rasa iri yang kupendam saat masih remaja terkupas satu per satu.</p>

<p>“Pas gue nahan laper karena harus ngejar setoran, ada anak yang makan siangnya disiapin dan disuapin orang tuanya. Anak-anak kecil yang gue liat dulu, punya orang-orang yang mastiin mereka nggak akan nangis atau hidup kekurangan.”</p>

<p>Ringisanku terdengar. Ternyata masih ada sisa iri di sudut jantungku.</p>

<p>“Liat anak lain seumuran gue yang lagi main sama temen-temennya atau ketawa bareng keluarganya bikin gue yang masih umur belasan sadar kalo...” Aku menoleh pada Haya. “Gue kemudaan buat ngerasain itu semua.”</p>

<p>Suara deburan ombak sempat menjeda kalimatku.</p>

<p>“Fuji nggak pernah bilang,” Lanjutku. “Tapi gue yakin dia juga kesusahan di sekolah. Dia mungkin pernah minder, diejek, ngrasa beda—tapi dia diem aja.”</p>

<p>Angin laut meniup rongga dadaku.</p>

<p>Terasa ringan.</p>

<p><em>Mungkin karena aku tahu, Haya mengerti apa yang kurasakan.</em></p>

<p>Terasa lebih mudah menyusun setiap kalimat yang akan kuucap.</p>

<p><em>Mungkin karena aku tahu, Haya memahamiku.</em></p>

<p>Dan setelah berkeluh kesah tentang masa lalu yang lebih baik kulupakan itu, mendadak topik pembicaraan kami sudah kembali ke masa kini.</p>

<p>“Liat anak-anak di panti kemarin bikin gue seneng karena mereka nggak perlu ngalamin apa yang udah gue alamin pas gue seumuran mereka.”</p>

<p>“Kita belum tau apa yang mereka sembunyiin.” Tambahku cepat, takut tiba-tiba Haya mendebatku dengan mengatai aku hobi berasumsi sendiri. “Tapi apa pun itu, gue bakal mastiin anak-anak di sini tetep hidup nyaman.”</p>

<p>Dengan yakin, senyumku mengembang pada Haya</p>

<p>Aku nyaris mematahkan tangan Haya yang tiba-tiba menepuk ujung kepalaku. “Mereka nggak bakal ngerasain apa yang lo atau gue rasain dulu.”</p>

<p>“Emang harus gitu.” Anggukku setuju.</p>

<p>“Gue nggak semarah itu, tahu...” Haya mengganti posisi duduknya, bersila. “Lo nggak harus minta maaf ke gue.” Kemudian wajah tengilnya dicondongkan, “gue juga kelewatan. Harusnya tanpa minta maaf, kita impas.”</p>

<p>Aku terkekeh. Sepertinya Haya juga merasakan apa yang kurasakan setelah mendengar ceritanya—rasa bersalah. Dia hanya enggan meminta maaf balik padaku.</p>

<p>Kemudian suara yang tersisa tinggal debur ombak, hembusan angin, dan deru motor dari kejauhan.</p>

<p>Kami sama-sama terdiam untuk beberapa waktu.</p>

<p>“Seberapa pengen lo ngancurin Manggala?”</p>

<p>Keheningan pertama dipecah oleh Haya.</p>

<p><em>Hah?</em></p>

<p>“Gue?” Aku menunjuk diri sendiri.</p>

<p>Haya mengangguk.</p>

<p>Aku bergumam. “Jujur...”</p>

<p>“Jujur...?” Satu alis Haya naik.</p>

<p>Tanganku naik mengusap tengkuk. <em>Tidak yakin.</em></p>

<p>“Nggak tau.” Aku akhirnya menggeleng.</p>

<p>“Gue lebih ke... takut?” Aku meragukan kata sifat yang kuucapkan, “—setiap denger mereka.” Lanjutku. “Gue takut kalo ketemu mereka, bukan gue yang ngancurin mereka, tapi justru mereka yang ngancurin gue.”</p>

<p>“Gue takut usaha gue sama Fuji buat lari dari mereka jadi sia-sia karena kita ngejar sekarang ngejar mereka.” Jemariku turun, memainkan ribuan pasir dalam genggaman. “Gue nggak pernah bener-bener yakin bisa ngancurin mereka.”</p>

<p>“Lo bener...” Aku terkekeh—mendadak teringat ucapan Haya semalam. “Gue emang pengecut.”</p>

<p>“Lo tau...” Haya tersenyum padaku dengan kedua tangan memeluk lutut, “gue takut banget pas Maru ngarahin pistolnya ke gue, pas nyamar jadi suami lo kemarin.” Tawa kecilnya terdengar. “Tapi pas udah di depan komputer, gue ngrasa gue bisa hancurin Manggala. Gue ngerasa... gue harus hancurin mereka semua.”</p>

<p>“Gue pengen orang yang bunuh bokap gue ngrasain juga apa yang dirasain keluarga gue.”</p>

<p>Mata kami kembali bertemu, ia seperti sedang bersumpah di hadapanku.</p>

<p>“Mau lo... bunuh...?”</p>

<p>“Mati aja nggak cukup buat ngerasain apa yang keluarga gue rasain.”</p>

<p>Aku menelan ludahku.</p>

<p><em>Tentu.</em> Tentu mati terlalu mudah untuk mereka.</p>

<p>“Intinya, gue juga pengecut—kita berdua pengecut yang benci Manggala.” Haya mengoreksi cepat. “Tapi kita bukan cuma Haya sama Erde, kita <em>HOKU</em> sama <em>RED</em>. Kita udah berkali-kali kerja buat orang lain, tingkat kesuksesan kita 100%. Sekarang kalo kita emang mau kerja sama buat ngancurin mereka, gue yakin kita tetep bakal sukses 100%.” Haya mengendikkan bahunya.</p>

<p>Kemudian mata kecoklatan itu menatapku—secepat kilat, rasa hangat merasuki tubuhku.</p>

<p>Kehangatan itu menjalar hingga tenggorokanku seperti dihantam bola panas.</p>

<p><em>Aku tercekat.</em></p>

<p>Darahku mengalir deras. Pembuluhku seolah membesar dan jantungku berdetak cepat. Rongga dadaku nyaris meledak.</p>

<p>Alih-alih meledakkan jantungku, sesuatu yang eksplosif itu menggelitik perutku, tawaku lebih dulu menyembur.</p>

<p><em>Menggelikan.</em></p>

<p>“Kenapa?” Haya menatapku heran.</p>

<p>Pastilah dia heran.</p>

<p>Aku juga heran, tidak paham.</p>

<p>Ledakan ini datang mendadak. Seperti menemukan sebuah cahaya dalam lorong gelap yang selama ini kukira tak berujung. Seolah sebuah lentera baru saja disodorkan padaku oleh pejalan lain yang kutemui di tengah perjalanan. Seperti langkah kaki yang kudengar selain langkah kakiku sendiri.</p>

<p>Perasaan bahwa aku tidak akan berjalan sendirian ini menghantam tepat di inti jantung.</p>

<p><em>Aneh.</em></p>

<p><em>Mungkin, kata</em> kita <em>yang diucapkan Haya, baru saja menjadi pemantik yang menyalakan tubuhku.</em></p>

<p>“Gue tau gue pengecut, banyak takutnya,” bahkan senyumku tidak dapat terbendung, “tapi pas denger elo ngaku lo pengecut, gue jadi nggak takut... gue justru pengen bilang kalo kita berdua bukan pengecut, tapi Manggala yang pengcut.”</p>

<p>Haya tertawa. “Kenapa mendadak bilang gitu? Sesama pengecut harus saling nguatin?”</p>

<p>Tawa itu menular pada bibirku. “Bukan, bukan.” Gelengku cepat. “Menang dari orang yang jauh lebih lemah dari kita bukan sesuatu yang pantes dibanggain. Gue pernah adu panco sama kakek-kakek terus menang, bukannya bangga gue malah malu karena...” dahiku mengernyit mengingat betapa <em>cupu</em>-nya aku saat itu, “ngapain gue nantangin dia panco?”</p>

<p>Lelaki di sampingku tampak memahami arah pembicaraanku, anggukannya mengamini cerita dariku. “Pas awal kuliah, gue juga pernah main game <em>5v5</em>, tim gue kalah, terus gue marah-marah sama temen setim gue, abis itu gue buru dia sampe ketauan kalo ternyata dia masih bocah umur 13 tahun. Bukannya pengen makin marah gue langsung nggak jadi marah karena dia masih kecil banget.” Ia terkekeh, “itu &#39;kan yang lo maksud?”</p>

<p>Aku mengangguk. “Itu respon normal orang biasa pas tau lawan mereka nggak sepadan. Tapi Manggala beda—buat mereka, lawan tetep lawan. Cuma ada menang sama kalah. Justru itu sifat pengecut.”</p>

<p>Kami tersenyum puas setelah merasa cukup menghakimi Manggala.</p>

<p>Saat masih mengenyam Sekolah Menengah Pertama, Fuji pernah bilang, fungsi jantung adalah memompa darah ke seluruh tubuh. Ledakan dari Haya sepertinya meningkatkan fungsi jantungku, tidak hanya darah yang disalurkan ke seluruh tubuh, rasanya keberanian dan semangatku ikut mengaliri tiap tubuhku hingga rasanya aku bisa berenang mengitari lautan tanpa takut tenggelam.</p>

<p>Mataku mengamati Haya dari samping.</p>

<p><em>Benar.</em></p>

<p><em>Jika kami bersama, keberhasilan adalah kepastian.</em></p>

<p>Senyumku, sekali lagi, mengembang.</p>

<p>“Apa rencana lo nanti?”</p>

<p>Aku langsung terbatuk saat tiba-tiba Haya menoleh, menangkap basah pandanganku yang masih terkunci di wajahnya.</p>

<p>“Nanti malem?” Aku berdeham.</p>

<p>“Nanti kalo semua ini udah selesai.”</p>

<p><em>Oh.</em></p>

<p>“Gue belum pernah mikir sampe situ.”</p>

<p>Namun karena Haya bertanya, kini aku memikirkannya.</p>

<p>Setelah semua pelarian ini selesai dan tidak ada pihak mana pun yang harus kami hindari, apa yang akan kulakukan?</p>

<p><em>Menarik.</em></p>

<p>“Gue pengen liat Fuji kuliah, wisuda, kerja, ngelakuin apa yang dia mau.” Bahkan mengucapkannya membuat ujung bibirku melengkung.</p>

<p>“Lo kayak bapaknya.” Haya mendengus, mengejekku. “Itu &#39;kan buat Fuji, kalo buat lo sendiri apa?”</p>

<p>“Gue sendiri?”</p>

<p>“Iya,” Haya mengangguk, “apa yang pengen lo lakuin? Lo pengen Fuji liat lo ngapain?”</p>

<p><em>Lucu</em>. Aku menepuk lengan Haya, tertawa.  “Gue nggak tau mau ngapain.” Kekehku pelan. “Kerja... mungkin? Biar Fuji bisa kuliah?”</p>

<p>“Kerja?” Haya merubah posisi duduknya, meluruskan kedua kaki dan membiarkan kedua tangannya menopang tubuh, wajahnya sedikit didongakkan menatap langit, “kalo kerja <em>mah</em>... semua orang juga kerja.”</p>

<p>“Gue kurang tau apa yang pengen gue lakuin.” Aku memeluk lutut, mencegah angin malam terlalu membelai kulit—dingin. “Tapi ada yang <em>nggak pengen</em> gue lakuin.”</p>

<p>“Apa?” Seketika Haya kembali bersila, wajahnya didekatkan padaku, matanya membulat seperti anak kucing yang hendak diberi makan.</p>

<p>“Lari.” Aku menoleh padanya. “Gue nggak mau ngejar atau dikejar... sama siapapun.”</p>

<p>“Yah...” Seperti anak kucing yang tidak berselera dengan makanan yang diberi, Haya kembali pada posisi duduk semula—menarik wajahnya dariku. “Nggak ada kegiatan spesifik mau ngapain?”</p>

<p><em>Nggak</em>, menjadi jawabanku dalam hati.</p>

<p>Sulit mengatakan bahwa sebenarnya tidak ada yang ingin kulakukan. Aku berharap bisa terus merasakan ledakan di rongga dadaku dengan pantat menempel sedekat mungkin pada bumi—<em>seperti sekarang</em>.</p>

<p>“Duduk...”</p>

<p>Ucapku akhirnya.</p>

<p> “Diem...”</p>

<p>Bibirku tersenyum.</p>

<p>“Liatin...” Mataku mengerjap beberapa kali, mengitar pada pemandangan di sekitarku,  “ombak... orang jualan ikan bakar... anak main pasir...” wajahku menengadah, “langit...” lalu turun dan mendapati satu-satunya pemandangan yang belum kusebut di sampingku,</p>

<p>”... gue...?”</p>

<p>Telunjuk Haya menunjuk dirinya sendiri.</p>

<p>Dan ledakan itu datang lagi, kini dengan cepat membuat tawaku lebih dulu berhamburan.</p>

<p>Perasaan ini terasa aneh, seperti sebuah balon yang terus dipompa dan tak mau meletus.</p>

<p>“Jenguk lo di penjara karena lo mau bunuh orang Manggala, &#39;kan?”</p>

<p>“Ngaco!” Pukulan Haya mendarat di pundakku. “Gue bilang, <em>mati nggak cukup buat mereka!</em>” Ia mendengus kesal. “Lagian, di antara kita berdua, lo yang kemungkinan besar bakal masuk penjara! Nggak ngerti hukum, emosian, nggak bisa baca situasi lagi!” Tiba-tiba tangannya mencubit pipiku keras—amat keras. “Gue nggak bakal heran kalo muka lo nampang di berita karena nganiaya polisi!”</p>

<p>“Sembarangan!” Aku menepis tangan Haya.</p>

<p>“Besok gue pastiin lo dapet sel yang ngadep laut biar tetep bisa duduk sambil liat ombak, ikan bakar, sama pasir!” Matanya memicing kesal.</p>

<p>Meskipun ikut kesal mendengarnya, aku tertawa. Haya benar-benar mirip anak kucing yang marah karena camilannya diambil.</p>

<p>Setelah itu, telingaku sibuk mendengar Haya yang berandai-andai jika besok aku menjadi penghuni sementara di penjara.</p>

<p>Suara Haya menjadi latar musik yang menyenangkan di pinggir pantai. Dengan lautan biru di depan mata dan langit kemerahan yang cenderung meremang seiring berjalannya waktu—mengisyaratkan kegelapan akan datang dalam beberapa detik.</p>

<p>“Lo denger &#39;kan cerita Maru kemarin?”</p>

<p>Aku terkesiap. Tiba-tiba ocehanya sudah berganti menjadi pertanyaan normal.</p>

<p>“Yang...?”</p>

<p>“Mata pisau. Eksekutor Manggala.”</p>

<p>Aku mengangguk. “Mereka... yang bunuh orang tua lo, &#39;kan?” Tanyaku hati-hati.</p>

<p>“Bisa jadi.” Dua alis Haya naik sekilas.</p>

<p>“Kita bakal pastiin nggak ada anak-anak yang dimanfaatin sama Manggala dan nggak ada anak-anak yang kehilangan orang tuanya karena Manggala.” Haya menatapku mantap. “Dengan gitu, nggak ada lagi masa lalu dan masa depan yang hancur karena Manggala.” Ia terdiam sejenak, “lo mau &#39;kan lanjutin ini semua?”</p>

<p>Aku mengangguk. <em>Tentu!</em></p>

<hr/>

<p>Tepat sebelum kegelapan menyelimuti kami, aku mengulurkan tanganku pada Haya. “Oh iya, Erlan.”</p>

<p>Si anak kucing—Haya—kini terlihat kebingungan.</p>

<p>“Nama gue di panti R-8, panggilannya Erlan.” Aku tersenyum, mataku menunjuk tanganku sebagai isyarat  <em>perkenalan</em> kami.</p>

<p>“Erlan!” Seperti anak kucing yang bertemu induknya, Haya menyerbu tanganku dan menjabatnya erat. Binar matanya melembut perlahan. “Makasih udah pergi dari panti dan bawa Erde ke sini.”</p>

<p>Haya menepuk pelan ujung kepalaku.</p>

<p><em>Dan</em> <strong><em>itu.</em></strong></p>

<p><em>Itu adalah ledakan ketigaku hari ini.</em></p>
]]></content:encoded>
      <guid>https://bulanjuni.writeas.com/pinggir-pantai</guid>
      <pubDate>Sat, 02 Dec 2023 11:05:26 +0000</pubDate>
    </item>
    <item>
      <title>Banda Rarangi</title>
      <link>https://bulanjuni.writeas.com/banda-rarangi?pk_campaign=rss-feed</link>
      <description>&lt;![CDATA[  POV: BERMUDA.&#xA;&#xA;  cw / tw : mention of human trafficking ; crime ; death . Kissing&#xA;&#xA;Enam belas jam telah berlalu sejak aku dan Haya memasuki penginapan. Dua jam kami habiskan untuk berdebat tentang dekorasi tempat tidur, satu jam untuk ban motor, tiga jam untuk saling mendiamkan satu sama lain, dan sepuluh jam untuk melakukan urusan masing-masing--aku di balkon dan Haya di ruang tamu kecil yang menyatu dengan kamar.&#xA;&#xA;Pagi ini--pukul tujuh tepat, kami sedang menunggu jemputan mobil ke panti.&#xA;&#xA;Pakaianku dan Haya agak kontras hari ini, dia mengenakan kemeja dan celana pendek bernuansa gelap yang memberikan kesan santai, sementara aku mengenakan celana kain hitam dan kemeja coklat lengan panjang--lengkap dengan tas pundak hitam--yang membuatku terlihat lebih... serius.&#xA;&#xA;&#34;Sama kayak yang gue bilang kemarin, gue Harum Sinardjaja, lo Rudi Sinardjaja. Kita abis nikah, kesini mau honeymoon, sekalian ngecek panti karena reputasinya bagus. Entar bakal ada pegawai yang nemuin kita karena gue udah bikin janji sebelumnya. Inget, harus keliatan santai.&#34;&#xA;&#xA;Mataku melirik sumber suara dengan sengit. &#34;Lama-lama gue beneran apal.&#34; !--more--&#xA;&#xA;Sumber suara itu--siapa lagi kalau bukan si Haya menyebalkan--balas menatapku. &#34;Ya bagus. Daripada lo lupa?&#34;&#xA;&#xA;&#34;Lo udah ngulang-ngulang itu 100 kali, gue nggak bakal lupa.&#34; Balasku kesal. &#xA;&#xA;Berani sumpah, ucapan itu sudah diucapkannya satu... dua... tiga--puluhan kali. Memang tidak sampai seratus, tapi kalau selama perjalanan ia terus mengucapkannya, bisa jadi saat mencapai panti akan genap seratus. &#xA;&#xA;Bahkan, di antara sepuluh jam kami mengurus urusan masing-masing semalam, sekitar enam jam kuhabiskan sambil mendengar Haya merapalkan hafalan itu.&#xA;&#xA;Jika dilihat sekilas, orang-orang akan mengira kalimat itu terus menempel di lidah Haya karena ia khawatir aku akan lupa--tentunya karena Haya jauh lebih pintar dariku. Tapi faktanya, yang membuatnya takut adalah dirinya sendiri. &#xA;&#xA;Kenapa?&#xA;&#xA;Karena dia sedang tidak percaya diri. &#xA;&#xA;Aku dapat mencium rasa gelisah yang berserakan di sekitarnya dengan jelas.&#xA;&#xA;Dua menit sebelum mobil jemputan kami datang, aku menepuk pundak Haya. &#34;Lo panik, &#39;kan?&#34;&#xA;&#xA;&#34;Enggak.&#34; Haya menggeleng cepat. Jawaban tersebut kontras dengan kuku jarinya yang terus digigiti dan kaki kiri yang digoyangkan. &#xA;&#xA;Tidak butuh orang luar biasa cerdas untuk mengetahui seberapa gugup Haya sekarang.&#xA;&#xA;Aku juga sama gugupnya dengan Haya. Selama bekerja menjadi RED, aku tidak pernah mendapat misi untuk menyamar atau melakukan interaksi sosial dengan orang lain--interaksi antar buku jariku dengan rahang mereka, mungkin pernah. &#xA;&#xA;Namun melihat Haya--si HOKU yang selalu menyombongkan kapasitas otaknya--kehilangan percaya diri, mau tidak mau aku harus mengabaikan rasa cemasku.&#xA;&#xA;Aku gugup, tapi aku tidak takut.  Setakut apapun aku dalam misi ini, aku masih cukup yakin tidak ada tangan yang bisa menyentuhku. Tapi Haya berbeda, dia tidak bisa melindungi dirinya sendiri dari serangan fisik. Aku masih ingat wajah pucatnya saat dia ditodong moncong pistol Maru yang sebenarnya bisa ditepis dengan mudah. Jadi wajar jika dia merasa takut.&#xA;&#xA;Napas panjangku terhela saat mendengar Haya, sekali lagi, menyampaikan paragraf itu dengan bahasa yang diubah pada sopir kami. &#xA;&#xA;Diceritakannya latar belakang kami. Harum Sinardjaja, seorang anak mandor pemilik kebun teh,  menikahi Rudi, seorang--&#xA;&#xA;Seorang apa?&#xA;&#xA;Aku menoleh saat Haya mengenalkanku sebagai... buruh pabrik? &#xA;&#xA;Kenapa dia mengenalkan kami sebagai pasangan dengan status sosial yang berbeda jauh?&#xA;&#xA;&#34;Saya jatuh cinta sama dia pas pertama ketemu di pabrik.&#34; Tiba-tiba tangan Haya menggenggam jemariku. &#34;Dia pekerja keras, baik...&#34; Matanya menatapku, tersenyum, &#34;ya, mukanya emang judes tapi hatinya baik banget, Pak. Penyayang juga.&#34; Ia tertawa kecil seolah-olah kami memang memiliki kenangan seperti ucapannya.&#xA;&#xA;Cih. Dasar halu.&#xA;&#xA;Setidaknya dia bisa mengenalkanku sebagai buruh pemetik teh atau pekerjaan lain yang mudah dibayangkan. Buruh pabrik terlalu luas, bagaimana kalau--&#xA;&#xA;&#34;Saya dulu kerja di pabrik juga. Jadi operator forklift, Bapak Rudi di bagian apa?&#34;&#xA;&#xA;Nah kan.&#xA;&#xA;Mataku melirik Haya tajam. Dari banyaknya pekerjaan yang pernah kulakukan, buruh pabrik bukan salah satunya. Aku sudah menjelaskan pada Haya tentang pengalaman kerjaku seumur hidup, aku yakin otaknya yang berkapasitas besar itu bisa mengingatnya--kalau dia benar-benar menyimak. &#xA;&#xA;Haya memang tidak pernah mendengarkan.&#xA;&#xA;Ditanya seperti itu, Haya terbatuk. Akhirnya ia tersedak kecerobohannya sendiri. Mungkin rasa gugup membuatnya tidak berpikir panjang. &#xA;&#xA;&#34;Admin produksi.&#34; Jawabku akhirnya. &#xA;&#xA;Setelah itu aku membiarkan Haya menangani situasi ini. Aku memandangi jalanan.&#xA;&#xA;Banyak pohon dan rumah makan terlihat sepanjang jalan. Mendadak aku teringat Fuji. &#xA;&#xA;Aku tidak bisa menjangkaunya, jarak kami terlampau jauh. &#xA;&#xA;Mataku melirik gelang SOS di tangan kiri. Semoga nantinya, alat ini benar-benar berguna tapi tidak digunakan.&#xA;&#xA;*&#xA;&#xA;Tidak sampai empat puluh menit, kami sudah memasuki area panti. Mataku tertarik pada sebuah bangunan satu lantai dengan gapura tinggi di sebrang jalan, sebuah papan nama terlihat.&#xA;&#xA;Panti Sosial Wredha Banda Rarangi?&#xA;&#xA;Panti... Wredha?&#xA;&#xA;Aku kembali fokus saat mobil kami melewati papan nama bertuliskan Panti Sosial Anak Banda Rarangi. Dua buah bangunan tiga lantai yang saling berhadapan dan satu bangunan dua lantai di tengahnya menyambut kami.&#xA;&#xA;Helaan kasar napas Haya terdengar. Dia berdeham beberapa kali. &#xA;&#xA;Aku lebih dulu keluar, membuka pintu di sisi Haya lalu mengulurkan telapak--meminta tangannya. &#xA;&#xA;Bukannya menyambut uluran tanganku, Haya justru terdiam. Dua alisnya terangkat. Mulutnya komat-kamit, apa? Ngapain? &#xA;&#xA;&#34;Yuk.&#34; Aku sedikit melotot.&#xA;&#xA;Haya menyambut tanganku. Berpamitan pada sopir. &#xA;&#xA;Wah. Telapak tangannya dingin. &#xA;&#xA;&#34;Lo nggak apa-apa?&#34;&#xA;&#xA;Haya mengangguk, melonggarkan kerah bajunya, &#34;nervous dikit.&#34;&#xA;&#xA;&#34;Katanya &#39;harus keliatan santai&#39;?&#34; Aku terkekeh pelan. Menggodanya dengan hafalan yang semalaman dikomat-kamitkannya.&#xA;&#xA;Haya mendengus kesal. &#34;Apaan sih. Nggak lucu.&#34;&#xA;&#xA;&#34;Tenang aja.&#34; Mataku menunjuk tangan kami yang bergandengan. &#34;Ada gue.&#34; Lalu menepuk punggung tangannya sekilas. &#xA;&#xA;Haya menggigit bibirnya, bergumam. &#34;Hm, thanks.&#34;&#xA;&#xA;&#34;Bapak Harum Sinardjaja?&#34; Seorang dengan kemeja batik dan celana hitam menghampiri kami, menyalami Haya. &#xA;&#xA;Seketika mimik muka Haya berubah. Seolah ia menanggalkan rasa gugupnya di suatu tempat, menggantinya dengan senyum lebar. Disambutnya jabat tangan dari pria tersebut--yang kuduga adalah pengurus panti.&#xA;&#xA;&#34;Ini suami saya.&#34; Dia mengenalkanku pada pengurus panti tersebut. &#xA;&#xA;&#34;Rudi.&#34; Jawabku cepat, sebisa mungkin tersenyum. Pengurus ini menyalamiku dengan dua tangan dan badan sedikit membungkuk--membuatku tidak nyaman. &#xA;&#xA;&#34;Saya Joseph.&#34; &#xA;&#xA;Lelaki bernama Joseph itu memiliki perawakan kurus-tinggi dengan kumis tipis dan kaca mata berbingkai hitam tebal. Rambutnya yang juga berwarna hitam legam dipotong cepak. Hidungnya mancung, matanya besar, alisnya tebal. Dia memiliki kulit kuning yang sedikit terbakar sinar matahari--membuatnya terlihat mendekati sawo matang saat berada di dalam ruangan. &#xA;&#xA;Setelah berkenalan, ia mempersilakan aku dan Haya mengikutinya. &#xA;&#xA;&#34;Bapak sedang di perjalanan, sambil nunggu Bapak sampai, kita keliling sebentar.&#34;&#xA;&#xA;Bapak... yang dimaksud Bapak pastilah ketua panti di sini. &#xA;&#xA;&#34;Kalau kalian perhatikan, di depan tadi ada Panti Sosial Wredha, itu juga panti di bawah yayasan kami.&#34; Joseph mulai menjelaskan, &#34;bedanya--selain penghuninya, di sana lebih banyak relawan daripada pegawai tetap. Panti kami nggak terlalu memerlukan relawan karena banyak pegawai terlatih di sini.&#34;&#xA;&#xA;Joseph berjalan sambil merapikan ujung lengan kemeja motifnya. &#xA;&#xA;&#34;Panti di sini ada dua, ini Panti Petirahan,&#34; tangannya menunjuk bangunan di sebelah kanan, &#34;yang ini Panti Asuhan,&#34; lalu menunjuk bangunan sebelah kiri.&#xA;&#xA;Kami diajak berjalan melewati lorong bangunan di sebelah kiri--panti asuhan. Bagian tengah diisi taman dengan beberapa fasilitas olahraga dan permainan. Area ini tampak sepi namun terawat. &#xA;&#xA;&#34;Di sini biasanya ramai anak-anak. Sekarang mereka sedang membersihkan halaman belakang yang terhubung langsung sama jalan kampung di sini.&#34; Seolah dapat membaca pikiranku, si Joseph menambahkan. &#xA;&#xA;&#34;Panti Petirahan digunakan untuk memberikan bimbingan dan pelayanan bagi anak yang mengalami hambatan belajar karena terkena masalah sosial. Jadi mereka hanya tinggal beberapa bulan di sini.&#34; &#xA;&#xA;Kami diajak memasuki lorong panti asuhan.&#xA;&#xA;&#34;Kalau Panti Asuhan digunakan untuk memberikan bimbingan dan pelayanan bagi anak yatim piatu yang membutuhkan. Biasanya, kami menemani mereka sampai SMA.&#34;&#xA;&#xA;&#34;Dua gedung di sini gedung kembar. Lantai tiga sama-sama digunakan sebagai kamar anak-anak. Lantai satu dan dua ini isinya ruang-ruang komunal.&#34; Ia membuka salah satu ruang di lantai satu, &#34;ini ruang makan, di balik sekat itu ada dapur. Petugas kami sedang menyiapkan snack dan sarapan untuk anak-anak.&#34; &#xA;&#xA;Sebuah ruangan luas dengan meja panjang dan kursi-kursi berjajar rapi menyambut kami. Terdapat ruangan lain di ujung yang dipisahkan oleh dua pintu, salah satu pintunya terbuka. Dari pintu itu, aku dapat melihat kepulan asap dan kesibukan beberapa orang di dapur. &#xA;&#xA;Entah bagaimana, aku lega. &#xA;&#xA;Anak-anak ini mendapatkan tempat makan yang layak dan makanan yang baru selesai dimasak. &#xA;&#xA;&#34;Pak Harum dan Pak Rudi bisa ikut kami sarapan kalau mau.&#34; Ia menoleh pada kami. &#34;Nanti Bapak juga akan ikut sarapan bersama anak-anak. Mereka pasti senang kalau melihat ada tamu hari ini.&#34;&#xA;&#xA;Aku tertegun. Bahkan makanan mereka layak dihidangkan untuk orang lain. &#xA;&#xA;&#34;We&#39;re good. Kita udah makan sebelum kesini. Sebenernya--&#34;&#xA;&#xA;&#34;Mending kita ikut aja nggak sih, Sayang?&#34; Aku memegang lengan Haya, berusaha menghentikan ucapannya. &#34;Nanti kalo masih ada waktu.&#34;&#xA;&#xA;Haya menatapku. Ia terdiam cukup lama hingga aku harus meremas lengannya agar dia mengatakan sesuatu.&#xA;&#xA;&#34;Oke.&#34; Haya menoleh pada Joseph, &#34;siapa tau... eh--pas sarapan...&#34; Haya melirikku, &#34;nanti... kan--&#34;&#xA;&#xA;&#34;Siapa tau kita bisa ketemu sama anak-anak di sini.&#34; Aku melanjutkan. Tanganku turun menuju telapak tangan Haya--dan benar, telapak tangannya dingin, dia pasti gugup karena improvisasi mendadak yang kuberikan. Kami memang tidak berencana makan di sini.&#xA;&#xA;Joseph mengangguk. &#34;Akan kami siapkan. Anak-anak pasti senang menyambut orang baru.&#34; Ia berbalik. Mengajak kami ke ruangan berikutnya. &#xA;&#xA;&#34;Gue cuma pengen liat mereka makan apa di sini.&#34; Bisikku pelan saat Joseph berada beberapa langkah di depan kami, &#34;kita bisa ngobrol sama anak-anak juga.&#34;&#xA;&#xA;&#34;Anything for you, Sayang.&#34; &#xA;&#xA;Uh?&#xA;&#xA;&#34;Dia sampe minta maaf karena udah ngubah jadwal.&#34; Haya tiba-tiba terkekeh, matanya memandang Joseph, &#34;it&#39;s okay, Sayang, acara abis ini bisa kita undur sementara. Mereka bakal ngerti.&#34;&#xA;&#xA;Sepertinya Joseph sempat menoleh saat aku berbisik dengan Haya. &#xA;&#xA;Jantungku berhenti berdetak saat tiba-tiba Haya melepas pegangan tangan kami lalu mengusap pundakku, menarik pelan kepalaku hingga bersandar di bahunya--kami nyaris berpelukan. &#xA;&#xA;Uh-Oh. Wajahku memanas. &#xA;&#xA;Mungkin aku terlalu terbawa peran.&#xA;&#xA;Pegangan Haya melonggar saat Joseph tersenyum lebar menanggapi kebohongannya.&#xA;&#xA;Kami melanjutkan berkeliling. &#xA;&#xA;Lantai dua berisi ruang belajar. Setelah puas melihat-lihat, kami berpindah ke gedung lain--gedung sebelah kanan, panti petirahan. &#xA;&#xA;Lantai satu berisi aula, digunakan untuk acara-acara yang diadakan panti ini. Lantai dua adalah ruang bermain, lengkap dengan fasilitas seperti tempat menyimpan snack, kulkas, pojok baca, hingga rak penuh mainan. Aku takjub dengan fasilitas yang dimiliki panti sosial ini. &#xA;&#xA;Kami terus berkeliling dan mendapati banyak jejak yang menunjukkan kebersamaan mereka. Foto-foto yang dibingkai indah di dinding hingga souvenir dari luar negeri yang ditempel di kulkas bertuliskan asal masing-masing negara--Malaysia, Singapore, Cambodia. &#xA;&#xA;Joseph menceritakan tentang asal-muasal souvenir itu. Tiap tahun panti ini mengadakan liburan ke luar negeri, beberapa yang lain merupakan kiriman dari pengurus yang melakukan pelatihan. &#xA;&#xA;Di antara gedung petirahan dan gedung di tengah--gedung administrasi, terdapat sebuah jalan setapak kecil yang membawa kami ke sebuah kebun mini.  &#xA;&#xA;Puluhan pot warna-warni yang disusun rapi menyambut mata. Ada berbagai macam tumbuhan yang ditanam di sini--bunga dan buah.&#xA;&#xA;&#34;Berkebun adalah salah satu cara kami agar anak-anak dapat merawat makhluk hidup dengan penuh kesabaran dan ketelatenan.&#34; Joseph mulai menjelaskan.&#xA;&#xA;Kami terus menyimak setiap cerita yang diungkapkan Joseph. Mataku tetap awas, kakiku berjalan mengelilingi kebun, membuatku seolah sedang melihat-lihat pot satu per satu, padahal aku sedang mengecek sekitar--mencari hal-hal mencurigakan yang mungkin tidak seharusnya di sini.&#xA;&#xA;Nihil. &#xA;&#xA;Sekop, garpu tanah, sarung tangan, gunting ranting, penyiram tanaman, kereta dorong--setiap barang berjumlah normal dan berposisi di tempat yang wajar. &#xA;&#xA;Joseph lanjut menceritakan tentang kegiatan yang diadakan setiap tahun di sini. Entah itu pelatihan, kursus, festival, atau lomba kecil-kecilan.&#xA;&#xA;Seluruh anak di panti ini diberi kesempatan untuk tetap menikmati masa kecil mereka, dan panti ini--entah petirahan atau panti asuhan atau apapun namanya--benar-benar memastikan semua anak dapat mengembangkan diri. Kadang di hari besar tertentu, panti anak di sini akan mengunjungi Panti Wredha di sebrang. &#xA;&#xA;Aku menelan ludahku, merasa tidak nyaman.&#xA;&#xA;Tempat semenyenangkan ini adalah kaki tangan Manggala? &#xA;&#xA;Tidak mungkin. &#xA;&#xA;Bahkan aku mulai berpikir panti asuhan yang dulu kutinggali bukan di sini. Tidak di pulau ini. &#xA;&#xA;Mungkin Fuji salah.&#xA;&#xA;Dia menganggap panti asuhan kami di wilayah Timur karena kami terus berlari ke arah barat. Padahal kami tidak harus berasal dari daerah Timur untuk berlari ke arah barat. Kami bisa di bagian Utara atau Barat dan tetap berlari ke arah barat.&#xA;&#xA;Bagaimana jika... panti ini bukan bagian dari Manggala?&#xA;&#xA;Dugaanku semakin kuat saat Joseph tiba-tiba memberi penjelasan tentang apa saja masalah yang dihadapi di panti ini. &#xA;&#xA;&#34;Anak-anak seneng tinggal di panti ini. Kami selalu berusaha ngasih pelayanan dan bimbingan terbaik. Tapi tetap ada masalah selanjutnya yang dihadapi anak-anak. Misal, anak-anak dari panti petirahan yang kesini karena masalah sosial cuma tinggal di panti beberapa bulan. Kadang mereka udah terlanjur dekat sama anak-anak lain dan malah nggak mau keluar dari panti.&#34; Dia menghela napas, &#34;anak-anak dari panti asuhan juga begitu. Kadang mereka jadi sedih karena ada anak lain yang punya keluarga baru.&#34;&#xA;&#xA;Joseph membawa kami ke ruang ketua panti sambil memberi penjelasan tentang masalah-masalah lain yang mereka hadapi. Seolah kami memang harus mengetahui semua informasi ini. &#xA;&#xA;&#34;Untuk anak-anak petirahan yang masuk karena mereka nggak bisa disekolahkan sama orang tuanya, justru punya masalah lain. Mereka ngrasa lebih dekat sama orang panti daripada keluarga sendiri--saking lamanya tinggal di panti. Jadi istilahnya, kita tetep ngawasin mereka tapi nggak boleh terlalu dekat sampai melebihi keluarganya. Tapi juga tetep memposisikan diri sebagai penanggungjawab karena secara fisik, kami lebih dekat dari keluarganya.&#34; Joseph melanjutkan, &#34;makanya yayasan terus ngasih kami pelatihan biar masalah kayak gini nggak keulang. Malah ada yang dilatih sampai luar negeri, tapi banyak juga yang akhirnya ditarik sama yayasan untuk ngurus panti yang lebih besar.&#34;&#xA;&#xA;Haya terlihat seksama mendengarkan, aku hanya mengangguk--agar terlihat paham. &#xA;&#xA;Setelah memberi penjelasan, Joseph undur diri. Kami ditinggal di ruang ketua panti. &#xA;&#xA;Tiba-tiba aku dapat merasakan ada jemari lain yang menyusup di antara jemariku. Aku berdeham, segera menjauhkan diri saat menyadari tanganku dan Haya saling mengait sejak tadi. &#xA;&#xA;Kami saling memandang lalu terdiam.&#xA;&#xA;Satu detik.&#xA;&#xA;Dua detik.&#xA;&#xA;Aku membuang mataku. Awalnya aku tidak tahu kemana arah pandangaku, tapi setelah melihat ruangan penuh bingkai foto ini, aku berencana memastikan tidak ada kamera yang mengawasi kami. &#xA;&#xA;Haya beranjak, mendekati meja ketua panti yang terletak tidak jauh dari jendela besar. &#xA;Saat kakiku mendekati jendela, desisan kasar Haya terdengar, &#34;shit. Gue gemeter.&#34; &#xA;&#xA;Aku menoleh. Haya mengibaskan tangannya sebelum kembali mengarahkan penunjuk layar. &#xA;&#xA;Uh, pasti dia gugup lagi.&#xA;&#xA;Setelah mengawasi situasi di luar, aku menghampiri Haya, menepuk dan mengusap punggungnya, &#34;lo tadi bisa ngomong sama Joseph, sekarang pasti juga bisa.&#34;&#xA;&#xA;&#34;Kepala gue berisik banget.&#34;&#xA;&#xA;&#34;Kenapa?&#34;&#xA;&#xA;&#34;Takut bakal ketauan. Gue nggak bisa stop mikir apa yang harus kita lakuin kalo ketauan beneran. Gue takut kalo Joseph udah tau kita cuma ngarang dan dia sekarang lagi nelpon back up. Sekuat apapun lo, kita bisa abis di sini. Atau jangan-jangan dari awal mereka udah tau kita bo&#39;ong. Lo liat panti ini sepi banget? Dia bilang anak-anak lagi bersih-bersih? Gimana kalo mereka nggak lagi bersih-bersih? Gimana kalo ternyata ini jebakan buat kita, terus sebener--&#34;&#xA;&#xA;&#34;Heh!&#34; Tanganku mencekal lengannya. &#34;Fokus!&#34; &#xA;&#xA;Haya mengusap wajahnya kasar. &#34;Lo enak. Lo bisa berantem. Bisa ngelindungin diri sendiri, gue gimana? Gue mau ngelindungin diri pake apa?&#34;&#xA;&#xA;&#34;Gue.&#34; Jawabku cepat.&#xA;&#xA;Mata Haya mengerjap dua kali. &#xA;&#xA;&#34;Gue bisa nglindungin lo, jadi lo fokus aja sama apa yang mau lo lakuin sekarang.&#34;&#xA;&#xA;Matanya kembali menatap layar. Ia berdeham, &#34;sopir kita nungguin di bawah, gue udah cek background-nya berkali-kali, clear, dia sopir beneran dan peduli ama penumpangnya. Dia bakal nyariin kita kalo kita nggak keluar-keluar.&#34;&#xA;&#xA;Oh. Jadi sekarang Haya sedang mengumpulkan hal-hal yang bisa melindunginya. Aku mengangkat pergelangan tanganku, &#34;kita juga punya gelang SOS ini, kalo entar ada apa-apa dan gue lagi nggak ada di deket lo, gue pasti bakal langsung nyamper--&#34;&#xA;&#xA;&#34;Kalo lo yang kenapa-kenapa, lo bakal ngaktifin gelang ini nggak?&#34;&#xA;&#xA;Tentu saja tidak. Sergahku cepat dalam hati. &#xA;&#xA;Jika aku menyalakan gelang ini, berarti aku sedang terjebak dalam sebuah jurang dalam, kemudian Fuji akan menerima sinyalnya. Aku tidak akan menyeret Fuji atau siapapun ke dalam jurang yang tidak bisa kudaki sendiri. &#xA;&#xA;&#34;Kok nggak jawab?&#34; Haya menoleh, menatap mataku. &#xA;&#xA;&#34;Emang gue bakal kenapa?&#34;&#xA;&#xA;&#34;Ya...&#34; Haya terdiam selama beberapa saat, pandangannya kembali terpaku pada layar, &#34;lo boleh aja yakin kalo lo nggak bakal kenapa-kenapa, tapi masih ada kemungkinan lo bakal kenapa-kenapa.&#34; Ia balik menatapku. &#34;Nggak pernah ada kemungkinan 100% di dunia ini kecuali kemungkinan setiap manusia bakal mati.&#34;&#xA;&#xA;&#34;Gue nggak bakal kenapa-kenapa.&#34; Haya terlihat kurang puas dengan jawabanku, &#34;kalo gue kenapa-kenapa berarti gue mati.&#34; Tambahku.&#xA;&#xA;Tangan Haya terhenti, ia menoleh padaku dengan wajah sengit. &#34;Sembarangan banget sih mulut lo!&#34;&#xA;&#xA;&#34;Lo duluan!&#34; Balasku cepat. &#34;Makanya fokus aja sama komputer ini!&#34; Aku melepaskan tanganku darinya. &#xA;&#xA;Haya mendengus kesal sebelum melanjutkan aktivitasnya.&#xA;&#xA;Mataku meliriknya sekilas, wajahnya kini lebih tenang--meski aroma tegang masih menguar jelas di sekitarnya. &#xA;&#xA;Mungkin ada beberapa hal tentang orang pintar yang tidak akan kupahami. Satu, bagaimana mereka bisa pintar. Kedua, bagaimana cara tubuh mereka bekerja. &#xA;&#xA;Mengapa dia merasa begitu dikuasai oleh pikirannya? Mengapa dia lebih mengkhawatirkan hal-hal yang belum tentu terjadi daripada kenyataan yang ada di depannya? Bukankah pikiran juga bagian dari tubuh manusia, yang artinya bisa dikendalikan, mengapa Haya justru tidak bisa melakukan apapun saat kepalanya berpikir?&#xA;&#xA;Sayup-sayup terdengar suara riuh dari luar.&#xA;&#xA;&#34;Gue mau liat keluar bentar.&#34; Ucapku sebelum berjalan menuju jendela.&#xA;&#xA;Terlihat anak-anak berlari riang memenuhi taman. Aku menghela napas lega, &#34;tuh, anak-anak baru selesai kerja bakti beneran, tadi pantinya beneran kosong, bukan sengaja dikosongin.&#34; &#xA;&#xA;Beberapa pengurus panti yang menggunakan baju olahraga ikut mendampingi mereka, mengarahkan anak-anak untuk memasuki asrama masing-masing agar segera membersihkan diri lalu ke ruang makan. &#xA;&#xA;Sepasang anak kembar menarik perhatianku. Keduanya dikuncir dua dengan kaos olahraga dan muka yang sama-sama dipenuhi noda tanah. Berlarian hingga mencapai lorong gedung panti asuhan, mereka saling berebut tentang siapa yang lebih dulu mencapai lorong lalu berhenti saat dilerai oleh pengurus yang wajahnya juga dipenuhi noda tanah. Ketiganya tertawa. &#xA;&#xA;Aku menggigit bibir.&#xA;&#xA;Mendadak semua terasa tidak nyaman. &#xA;&#xA;Bagaimana jika panti ini hanyalah panti biasa?&#xA;&#xA;Atau lebih parah lagi, aku justru takut menemukan sesuatu di panti ini. &#xA;&#xA;Bagaimana jika semua kebahagiaan ini hanya digunakan untuk menutupi tangisan orang lain? Atau bagaimana jika tawa mereka nantinya berubah menjadi jeritan?&#xA;&#xA;&#34;Kameranya sama elo, &#39;kan?&#34; &#xA;&#xA;Pertanyaan Haya memecah lamunanku. &#xA;&#xA;Aku mengangguk, merogoh sesuatu dari dalam tas hitam yang kukenakan, sebuah kamera tersembunyi yang dimodifikasi menjadi USB, &#34;ini mau taruh di mana?&#34;&#xA;&#xA;Dagu Haya diarahkan pada sebuah boks dokumen yang berjejer di ujung meja, &#34;taruh di box file ini aja, ada banyak kertas di sini, pasti nggak keliatan, atur aja bagian pinggir adep ke dokumen terus bagian yang ada merah-merahnya itu di bagian celah ini.&#34; Jarinya bergerak menunjuk setiap tempat yang dimaksudnya. &#xA;&#xA;Aku mengangguk paham, mulai meletakkan dan mengatur kamera kecil ini sesuai yang diperintahkan Haya agar USB, mengarahkannya ke sofa--tempat Ketua Panti menerima tamu.&#xA;&#xA;Kamera ini terhubung langsung dengan ponsel Haya, ia menyerahkan ponselnya padaku untuk mengecek dan membenarkan letak kamera.  &#xA;&#xA;Dua menit berlalu. Pemasangan kamera selesai. &#xA;&#xA;&#34;Sini doang yang mau dipasangin kamera? Bagian luar perlu nggak?&#34;&#xA;&#xA;Haya menggeleng, &#34;nggak perlu. Tadi gue liat salinan video CCTV di gedung ini udah kehubung otomatis sama komputer ini, kita bisa liat dari sini langsung, tapi nggak real time, nunggu 24 jam.&#34;&#xA;&#xA;Aku mengangguk (lagi). Kembali berjalan mendekati jendela, mengamati kondisi di luar. &#xA;&#xA;Seorang lelaki tua memasuki area panti dengan motor matic abu-abu dan helm hitam. Ia mengenakan jaket hitam dan celana krem. Tampak beberapa anak menyapanya dan pegawai--&#xA;&#xA;Uh-Oh.&#xA;&#xA;&#34;Haya.&#34; Aku menoleh. &#34;Masih lama?&#34;&#xA;&#xA;Haya menatapku, diam untuk beberapa saat. &#34;Kenapa?&#34;&#xA;&#xA;&#34;Ketua Panti udah dateng.&#34;&#xA;&#xA;Haya menggigit bibir. &#34;Lagi loading. Dikit lagi.&#34;&#xA;&#xA;Aku menelan ludah. Mengingat jarak ruangan ini yang tidak jauh dari tempat parkir, Ketua Panti itu akan segera mencapai pintu ruangan ini dalam beberapa puluh detik lagi. &#xA;&#xA;&#34;Udah belum?&#34;&#xA;&#xA;Haya menggeleng. &#xA;&#xA;&#34;Kita duduk sekarang aja.&#34; Aku berjalan mendekati Hay--&#xA;&#xA;Cklek.&#xA;&#xA;Sial.&#xA;&#xA;.&#xA;&#xA;.&#xA;&#xA;.&#xA;&#xA;---&#xA;&#xA;Pretend. &#xA;&#xA;  POV: HIMALAYA.&#xA;&#xA;Kira-kira, berapa besar kemungkinan kami tidak akan meninggalkan panti ini dalam keadaan hidup?&#xA;&#xA;Pertanyaan sederhana itu terus membuat kepalaku berhitung semalaman, sepagian, bahkan hingga sekarang. &#xA;&#xA;Aku telah memperhitungkan semua hal yang akan terjadi hari ini. Jam keberangkatan kami dari penginapan, waktu perjalanan, hingga acara keliling panti tadi sudah kuperhitungkan. Semuanya sudah dihitung secara presisi, ketua panti seharusnya belum berangkat saat kami tiba di sini karena kami datang satu jam lebih awal dari waktu yang ditentukan. Kalaupun ketua panti itu langsung berangkat dari rumahnya, paling tidak membutuhkan waktu 20 menit. &#xA;&#xA;Saat tiba-tiba Erde mengumumkan kedatangan Ketua Panti. Hitunganku pecah, sebuah variabel baru muncul. &#xA;&#xA;Perhitunganku makin buyar ketika Erde tiba-tiba menyerangku--uhm--tidak separah menyerang, sebenarnya, ia membalik badanku lalu mendorongku hingga mau tidak mau pantatku naik di ujung meja. &#xA;&#xA;Angin kencang menyerbu kepalaku saat sepasang benda kenyal menyapu permukaan bibirku. Hembusannya menerbangkan puluhan kertas hitung probabilitas yang berserakan di kepalaku. &#xA;&#xA;Kepalaku berhenti bekerja.&#xA;&#xA;Kini hanya ada ruangan kosong dengan angin yang berputar di dalamnya seiring dengan tangan Erde yang meremas pinggangku. &#xA;&#xA;Shit.&#xA;&#xA;Erde menciumku!&#xA;&#xA;Untuk pertama kalinya sejak aku tahu hubungan kami terjalin bukan berlandas perasaan, kami berciuman!&#xA;&#xA;Yep. Kami sudah pernah berciuman sebelumnya, tapi ini berbeda. Dulu aku yang menciumnya berdasar pikiran bahwa Erde menginginkanku sebagai aku. &#xA;&#xA;&#34;Ini tinggal dicabut aja, &#39;kan?&#34;&#xA;&#xA;Bisikan Erde terdengar. &#xA;&#xA;Angin di kepalaku berhenti.&#xA;&#xA;Aku tertegun.&#xA;&#xA;Dan saat kesadaranku kembali, ternyata kami telah menjadi tontonan dua orang di pintu. &#xA;&#xA;Shiiiiiiiit.&#xA;&#xA;Aku ingin menegakkan punggungku namun Erde menahanku dengan tubuhnya. &#34;Pura-pura nggak nyadar.&#34; Hangat bisik Erde menyentuh kulit leherku, membuatku bergidik.&#xA;&#xA;&#34;Ehem.&#34;&#xA;&#xA;Tubuh Erde segera menjauh dariku, seolah-olah terkejut. &#34;Oh? Maaf....&#34; Ia terkekeh pelan. Aku dapat melihat USB yang sebelumnya kutancapkan di komputer kini disembunyikan di belakang tubuhnya lalu perlahan memasuki saku celananya.&#xA;&#xA;Deg.Deg.Deg.Deg.&#xA;&#xA;Oke, baiklah.&#xA;&#xA;Aku bukan lagi manusia kosong. Tubuhku dapat merasakan setiap organ tubuhku bekerja. Jantungku berdetak keras, lambungku perih, dan kapasitas paru-paruku membesar. Aku tersengal. &#xA;&#xA;Seorang lelaki tua dengan kaos berkerah dan celana warna cerah bersama dengan Joseph berdiri canggung di ambang pintu. &#xA;&#xA;&#34;Maaf, kita kebawa suasana...&#34; Erde tersenyum, tangannya melingkar di pinggangku. Berkat tangan ini aku berhasil berdiri tegak. &#xA;&#xA;&#34;Ah nggak apa-apa... Saya dengar kalian baru menikah ya?&#34; Lelaki tua tadi--si Ketua Panti, alias Pak Darwis--terkekeh pelan.&#xA;&#xA;Aku menelan ludah. Ikut terkekeh pelan. Tanganku meraih punggung tangan Erde yang melingkari pinggangku, mengusapnya pelan. Erde menoleh padaku. Terlihat pura-pura (atau tidak?) terkejut. &#xA;&#xA;&#34;Tahan dulu ya sampai nanti kembali ke hotel. Sekarang kita ngobrol dulu, bisa &#39;kan?&#34; &#xA;&#xA;Aku nyaris tersedak mendengar godaan ketua panti ini. &#xA;&#xA;Semua yang ada di ruangan--termasuk Joseph--tertawa. &#xA;&#xA;&#34;Silakan duduk.&#34; &#xA;&#xA;Kami menurut. Segera kembali ke sofa (dengan aku yang sedikit terbatuk).&#xA;&#xA;Tidak banyak hal yang membuatku terkesan saat berbincang dengan Pak Darwis, jika aku tidak tahu dia adalah Ketua Panti, pasti aku hanya mengira dia adalah lelaki tua biasa. Kaos polo biru muda dimasukkan ke celana kain berwarna krem membuat perut buncitnya terlihat. Kumisnya tebal dan rambutnya disisir ke belakang dengan gel rambut.&#xA;&#xA;Perbincangan dengan Pak Darwis berjalan lancar, kami hanya membahas topik ringan yang sebelumnya sudah kuprediksi. &#xA;&#xA;Pak Darwis juga tidak menanyakan tentang hal-hal sensitif atau berat, tentu karena aku membawa nama Sinardjaja. Keluarga pemilik perusahaan minuman raksasa. Aku memanfaatkan desas-desus di kalangan atas yang menyebutkan bahwa anak bungsu Sinardjaja, Riko Sinardjaja, memiliki anak di luar nikah berinisial H yang baru saja melangsungkan pernikahan--yang mana menjadi asal usul nama Harum Sinardjaja. Kabar ini tidak ada di media manapun karena keluarga Sinardjaja berusaha keras menutupinya, hanya orang-orang tertentu yang mengetahuinya (contoh: pemilik Yayasan Kasih Abadi yang pastinya menerima kabar kedatangan kami di sini).&#xA;&#xA;Pak Darwis lanjut menceritakan tentang permasalahan di panti ini. Lagi-lagi, ini adalah topik yang sudah masuk di perhitunganku. Tentu saja mereka akan membuatku bersimpati, tujuannya adalah membujuk keluarga Sinardjaja mendukung tempat ini. &#xA;&#xA;&#34;Banyak hal-hal baik terjadi di sini. Tapi seperti kebanyakan hal di dunia, mereka datang berpasangan. Baik dan buruk. Pertemuan dan perpisahan. Kebahagiaan dan kesedihan.&#34; Pak Darwis melanjutkan ucapannya setelah sibuk membahas fasilitas di panti ini. &#xA;&#xA;&#34;Beberapa anak masuk ke petirahan karena menjadi korban kekerasan orang tuanya. Ada juga anak yang tinggal di panti asuhan karena kehilangan orang tuanya sejak kecil.&#34; Pak Darwis menyandarkan punggungnya di sandaran sofa, &#34;seolah sama aja, ada atau tidak adanya orang tua, mereka tetap masuk ke panti. Jadi, kami berusaha memberi bimbingan di sini, biar mereka nggak berkecil hati sama kondisi yang mereka alami. Orang tua mereka di sini ada banyak.&#34;&#xA;&#xA;&#34;Tapi masalah lain muncul, hampir 90% anak-anak di sini masih punya orang tua dan keluarga, jadi kita juga harus memastikan peran kita nggak terlalu besar buat mereka. Biar mereka yang masih punya keluarga, nggak merasa jauh dari keluarganya.&#34;&#xA;&#xA;&#34;Nasib anak-anak di sini macam-macam. Ada yang nggak liat orang tuanya dari kecil, ada yang liat orang tuanya tapi malah diperlakukan kurang baik, ada yang liat orang tuanya; diperlakukan dengan baik; tapi justru nasibnya yang kurang baik.&#34; &#xA;&#xA;Aku mengangguk paham, melirik Erde yang sejak tadi terlihat membeku.&#xA;&#xA;Telingaku terpasang sempurna mendengar setiap keresahan Pak Darwis. &#xA;&#xA; Kami terus membahas hal-hal terkait anak panti, saat berjalan bersama di lorong, duduk di meja makan, bahkan saat mereka mengantar kami ke mobil.&#xA;&#xA;Sepanjang cerita itu, Erde tetap bergeming. Sejak tadi hanya aku yang memberi tanggapan. Bahkan Erde terdiam saat beberapa anak menghampiri kami di ruang makan. &#xA;&#xA;Aneh.&#xA;&#xA;Saat di mobil, aku kembali mengisi kekosongan dengan bercerita pada sopir kami.&#xA;&#xA;&#34;Oh, Bapak habis ketemu Pak Darwis?&#34;&#xA;&#xA;&#34;Bapak kenal?&#34;&#xA;&#xA;Sopir kami tertawa, &#34;siapa yang nggak kenal Pak Darwis? Dia baik dan sederhana, Pak. Orang-orang sini sampe bilang, kalo ada masalah, coba ke Pak Darwis.&#34; Ia kembali tertawa. Diceritakannya cerita-cerita kecil tentang kebaikan Pak Darwis. &#xA;&#xA;&#34;Pak Darwis pernah bantu warga yang terjerat hutang.&#34;&#xA;&#xA;&#34;Sering banget Pak Darwis ini memberi pekerjaan sama orang-orang kampung sebrang, Pak.&#34; &#xA;&#xA;&#34;Kebaikan Pak Darwis ini sudah paling top, nggak ada orang sini yang nggak kenal Pak Darwis. Setiap keluarga pasti pernah dibantu sama Pak Darwis, istilahnya, minimal Pak Darwis ini pernah nyingkirin batu di depan rumah tiap warga.&#34;&#xA;&#xA;Sambil mendengar pujian-pujian itu, mataku sesekali melirik Erde, tidak ada satupun kata yang keluar dari mulutnya.&#xA;&#xA;Kenapa?&#xA;&#xA;Jika ditelusuri secara mendalam, Erde terdiam sejak kami di ruang Pak Darwis. Sejak kami berc--&#xA;&#xA;Tunggu...&#xA;&#xA;Apa jangan-jangan... ciuman tadi membekas di ingatan Erde?&#xA;&#xA;Dan sekarang dia merasa terlalu canggung?&#xA;&#xA;*&#xA;&#xA;Kami sampai di penginapan saat hari menginjak siang. Aku melanjutkan kegiatanku di depan laptop dan Erde pergi keluar--lari siang, katanya. &#xA;&#xA;(Atau mungkin dia memang benar-benar merasa canggung karena ciuman tadi)&#xA;&#xA;Aku menyandarkan punggungku. Menarik napas sejenak, hari ini pikiranku telah bekerja keras, terutama karena aku sedang dalam tekanan. &#xA;&#xA;Jadi, dari mana aku harus memulai pengecekan ini?&#xA;&#xA;Dalam seni rupa dasar, setiap titik saling terhubung membentuk garis, setiap garis membentuk bidang. Semakin banyak titik yang kutemukan, semakin banyak garis yang bisa kuhubungkan. &#xA;&#xA;Dalam matematika sederhana, pola bilangan dapat ditemukan dengan menyusun sebanyak mungkin deretan angka. Jika aku ingin menemukan pola tertentu di sini, maka aku harus menyusun informasi sebanyak mungkin. &#xA;&#xA;Jadi, dimulai dari manapun tidak masalah, yang penting adalah mengumpulkan informasi sebanyak mungkin. &#xA;&#xA;Spyware yang kupasang di komputer Pak Darwis bekerja dengan cara menduplikat layar komputer sasaran hingga aku bisa bebas menggerakkan kursor mereka sekaligus melihat pergerakan layar mereka saat komputernya digunakan. Hampir mirip seperti dual monitor tools biasa, tapi perangkat ini didesain khusus agar komputer target tidak dapat mendeteksi pergerakanku di layar komputer mereka. &#xA;&#xA;Karena masih dalam pengembangan, mungkin kursor dan tampilan di layar komputer Pak Darwis akan mengalami glitch saat aku menggerakannya dari sini. &#xA;&#xA;Mataku fokus memeriksa semua file di komputer milik Pak Darwis. Saat sarapan bersama pagi tadi, aku mencuri kesempatan untuk menanyakan jadwal kegiatan Pak Darwis, tidak ada jadwal yang mengharuskan ia untuk tetap berada di ruangan. Jadi hari ini aku bebas mengutak-atik komputernya. &#xA;&#xA;Satu jam terlewati.&#xA;&#xA;Lagi-lagi, tidak banyak hal yang membuatku terkesan. &#xA;&#xA;Komputer milik Pak Darwis didominasi oleh foto-fotonya sebagai representasi Panti Asuhan Banda Rarangi di berbagai event, foto liburan tahunan dan laporan-laporan yang harus ia tandatangani. Ada berbagai laporan, tapi yang paling sering muncul adalah laporan perjalanan liburan anak-anak panti atau pelatihan pengurus. &#xA;&#xA;Tidak menarik.&#xA;&#xA;Tapi informasi tidak menarik ini harus tetap kuingat. Petunjuk sekecil apapun pasti berguna nantinya. &#xA;&#xA;Ada dua hal yang kudapat dari pengecekan siang ini: dokumentasi kegiatan-kegiatan di panti dalam bentuk foto, video, dan laporan, serta video CCTV setahun belakangan (aku juga menemukan file CCTV tahun-tahun sebelumnya, tapi perlu beberapa saat untuk melakukan pemulihan karena dokumen CCTV otomatis terhapus tiap tahun).&#xA;&#xA;Aku menyandarkan punggungku pada sandaran kursi, menghela napas panjang. &#xA;&#xA;Dua menit istirahat. &#xA;&#xA;Tanganku bergerak, beralih melihat file lain. Rekaman CCTV. &#xA;&#xA;Mataku menyipit memperhatikan setiap video yang kuputar. &#xA;&#xA;Selama setahun belakangan, panti asuhan ini memiliki banyak pengunjung. Cukup sulit mendeteksi pengunjungnya satu per satu, apalagi keterbatasan CCTV yang hanya berada di lorong-lorong gedung. &#xA;&#xA;Ternyata CCTV ini tidak seberguna yang kuduga.&#xA;&#xA;Ini agak sulit. Ingatanku memang bagus tapi menghapalkan muka yang hanya terlihat dari angle setinggi ini tidaklah mudah.&#xA;&#xA;Setengah jam.&#xA;&#xA;Satu jam.&#xA;&#xA;Dua jam.&#xA;&#xA;&#34;Lo ngapain?&#34;&#xA;&#xA;Aku menoleh--Aduh. Punggungku sakit karena terdiam di posisi yang sama terlalu lama. &#xA;&#xA;&#34;Udah selesai larinya?&#34; Tanyaku, meringis karena nyeri di punggung.&#xA;&#xA;&#34;Udah.&#34; Erde meminum botol air mineral yang tersedia di meja. &#34;Lo masih liatin isi komputer Pak Darwis?&#34; Badannya didudukkan di sofa yang terletak tepat di belakangku.&#xA;&#xA;Aku mengangguk, &#34;ini lagi ngecek CCTV-nya.&#34;&#xA;&#xA;&#34;Udah nemuin apa aja?&#34; Erde menyeka keringatnya dengan handuk kecil di tangan. &#xA;&#xA;Ganteng. Cantik. Bersinar. Seksi.&#xA;&#xA;Wajah kecil Erde terlihat menawan dengan kilauan keringat di sekitar wajah dan lehernya. &#xA;&#xA;Aku menimang sejenak apakah aku harus mengucapkan pikiranku atau menjawab pertanyaan Erde.&#xA;&#xA;&#34;Nemu orang ganteng.&#34;&#xA;&#xA;Oh. Yep. Shit. Cerdas.&#xA;&#xA;Erde mengernyit. &#34;Di CCTV?&#34;&#xA;&#xA;Aku menggigit bibir. Mungkin sebaiknya aku istirahat. &#34;Ya...&#34; Aku berdeham, &#34;btw, tadi gue abis mikir,&#34; cepat-cepat mengalihkan topik, aku memutar kursiku hingga menghadap Erde.&#xA;&#xA;Dua alis Erde naik, apa?&#xA;&#xA;Aku menegak gelas air putihku yang tinggal setengah. &#xA;&#xA;Saatnya menghubungkan titik yang baru ditemukan dan yang telah ada.&#xA;&#xA;&#34;Lo inget nggak Maru kemarin sempet bahas perubahan sistem pengelolaan panti Manggala? Dari tahun 2014, panti asuhan di Barat, Utara, sama Selatan dibubarin. Jadi sekarang panti di bawah Manggala cuma ada di Timur--di sini.&#34; Aku membasahi tenggorokanku sekilas, &#34;sampe tahun 2018, mereka cuma ada satu panti--Panti Asuhan Kasih Abadi. Tapi dari tahun 2019, panti di sini dipecah jadi tiga titik: Nilamani, Banda Rarangi, Salura.&#34;&#xA;&#xA;&#34;Yang perlu kita garisbawahin di sini, pembubaran panti Manggala di tiga wilayah pasti bikin mereka rugi besar.&#34;&#xA;&#xA;Erde mengangguk perlahan, &#34;jadi wilayah Timur satu-satunya harapan mereka buat terus lanjutin bisnis di bidang ini.&#34;&#xA;&#xA;Aku mengangguk cepat. &#34;Bener!&#34; &#xA;&#xA;&#34;Manggala udah terlanjur punya sindikat--nggak main-main, menurut gue mereka punya jaringan sampe luar negeri--kalo mereka matiin bisnis ini gitu aja, itu sama aja mereka ngancurin relasi dan reputasi yang udah mereka bangun bertahun-tahun.&#34; Aku memajukan kursiku mendekati sofa Erde, &#34;lo inget Maru pernah bilang, ada tiga pesaing Manggala di sektor perdagangan anak?&#34;&#xA;&#xA;Kepala Erde mengangguk lamban--terlihat ragu. &#xA;&#xA;&#34;Di grup, dia pernah ngomong gitu.&#34; Imbuhku sebelum melanjutkan, &#34;jadi Manggala pasti berusaha mati-matian buat tetep mertahanin reputasinya walaupun banyak panti yang harus ditutup.&#34;&#xA;&#xA;&#34;Artinya, pemecahan panti jadi tiga titik di sini, pasti salah satu cara mereka buat ngembangin bisnis itu.&#34;&#xA;&#xA;Erde terdiam. &#xA;&#xA;&#34;Kemarin kita sempet bingung &#39;kan, kira-kira mana di antara tiga panti di sini yang ada di bawah Manggala?&#34; Aku mencondongkan tubuhku, &#34;menurut gue, semuanya.&#34;&#xA;&#xA;Tidak ada jawaban. &#xA;&#xA;Mata Erde hanya menatapku kaku. &#xA;&#xA;&#34;Panti asuhan lo dul--eh sorry, kita bakal bahas panti asuhan lo dulu, nggak apa-apa?&#34;&#xA;&#xA;Erde membenarkan posisi duduknya, ia berdeham sambil tangannya mempersilakan aku melanjutkan penjelasan. &#xA;&#xA;&#34;Panti lo dulu jelas ada di bawah Manggala, mereka ngelakuin adopsi ilegal sama perdangan anak. Jaman udah banyak berubah, menurut gue mereka udah pasti ngubah modus operandinya. Mungkin nggak lagi sekasar dulu, kayak yang kita liat tadi--justru fasilitasnya jor-joran, bagus banget.&#34;&#xA;&#xA;&#34;Yang bikin gue bingung,&#34; aku memundurkan tubuhku, menyandarkan punggungku di sandaran kursi, &#34;gimana modus operandi mereka sekarang? Gimana bisa pemecahan tiga panti jadi cara mereka buat ngembangin bisnis? Kalo satu panti aja kayak tadi yang kita liat--fasilitasnya mewah, sarana prasarana lengkap, ada banyak pegawai, ada banyak kegiatan--berarti biaya operasional satu panti aja bisa bikin keuangan mereka bengkak.&#34;&#xA;&#xA;Aku menatap Erde. &#34;Fuji pasti bisa jawab ini, &#39;kan?&#34;&#xA;&#xA;&#34;Hah?&#34;&#xA;&#xA;&#34;Gue nggak terlalu paham tentang bisnis,&#34; aku menelan ludah untuk membasahi tenggorokan, &#34;tapi setau gue, buat nambah keuntungan, mereka harus nambah pembeli, atau nambah jumlah anak yang dijual, atau ngurangin modal mereka--salah satunya biaya operasional.&#34; &#xA;&#xA;Tanganku menyilang di depan dada. &#34;Gimana cara mereka ngelakuin itu semua?&#34; Aku terdiam sejenak sebelum melanjutkan, &#34;serumit apa sistem baru mereka, sampe harus ditutupin serapi ini?&#34;&#xA;&#xA;&#34;Rapi?&#34;&#xA;&#xA;Aku mengangguk. &#34;Dari tadi nggak banyak yang gue temuin. Mungkin ini salah satu cara mereka buat nyembunyiin modus operandi biar nggak ditiru sama wilayah lain, karena antar wilayah selalu saingan satu sama lain.&#34;&#xA;&#xA;&#34;Cuma ada laporan, foto, video, CCTV--semuanya biasa aja.&#34; &#xA;&#xA;Aku menyandarkan kepalaku hingga mendongak menatap langit-langit. Kepalaku terus mengulang semua informasi yang telah kutemukan tadi. &#34;Berarti wilayah Timur harus ngasih performa bagus biar bisa terus dipercaya sampe sekarang.&#34; Gumamku. &#34;Kalo sampe mereka dikasih ijin mecah panti sosial jadi tiga, berarti keuntungan yang mereka hasilin jauh lebih besar dari biaya mecah pantinya.&#34;&#xA;&#xA;&#34;Berarti mereka berhasil ngembangin bisnis mereka.&#34; Aku membasahi bibirku yang terasa kering karena terlalu banyak bicara.&#xA;&#xA;Satu menit berlalu, kami terdiam.&#xA;&#xA;&#34;Berarti jaringan mereka lebih gede dari sebelumnya.&#34; Suara Erde akhirnya terdengar. &#xA;&#xA;&#34;Mereka jauh lebih gede dari sebelumnya.&#34; Aku menegakkan posisi tubuhku, mengangguk setuju. Sebuah cahaya menembus kepalaku. &#xA;&#xA;&#34;Bisa jadi...&#34; Aku mencondongkan tubuhku, &#34;panti Manggala di wilayah Utara, Barat, Selatan, emang udah nggak ada, tapi mereka semua jadi satu di Timur. Dan semua panti di sini, nggak berdiri sendiri--tapi kerja sama buat nglengkapin satu sama lain.&#34;&#xA;&#xA;Erde kembali terdiam, kini ia menggigit bibirnya, terlihat gelisah. &#xA;&#xA;&#34;Kenapa?&#34;&#xA;&#xA;Matanya melirikku, seolah menimang beberapa hal. &#34;Gue...&#34; Kini pandangannya dijatuhkan ke lantai sebelum kembali melanjutkan, &#34;lo inget kemarin Fuji bilang panti gue dulu kemungkinan ada di wilayah sini?&#34;&#xA;&#xA;Aku mengangguk. Fuji memang pernah mengatakan ada kemungkinan panti mereka dulu ada di Timur, karena Fuji merasa mereka berlari ke barat. &#xA;&#xA;&#34;Gue nggak yakin apa panti gue dulu emang ada di wilayah ini. Nggak ada satu tempat pun yang familier...&#34; Erde menatapku, &#34;semuanya asing banget, kayak gue baru pertama kesini.&#34;&#xA;&#xA;Oh... menarik.&#xA;&#xA;Erde tidak sepenuhnya bodoh. Meski, ya... mungkin memang agak bodoh--secara daya pikir. Tapi Erde mampu mengendalikan tubuhnya dan memiliki insting yang bagus. Bahkan jika otaknya tidak mengingat di mana pantinya dulu berada, tapi aku yakin tubuhnya mampu mengingat medan yang dihadapinya dulu. &#xA;&#xA;Jika Erde merasa asing dengan tempat ini, maka memang ada kemungkinan panti tadi bukanlah tempat tinggalnya dulu. &#xA;&#xA;&#34;Terus?&#34;&#xA;&#xA;Tidak ada jawaban.&#xA;&#xA;Mataku mengerjap.&#xA;&#xA;Kenapa... dia tidak menjawab?&#xA;&#xA;Jantungku berdebar. Aku merasa Erde telah membuat keputusan yang bertentangan denganku selama ia terdiam. &#xA;&#xA;&#34;Terus kenapa kalo panti lo dulu nggak ada di sini? Panti lo dulu dikelola Manggala dan ada kemungkinan semua panti di sini juga di bawah Manggala, emang--&#34;&#xA;&#xA;Kini aku terdiam melihat tatapan Erde. &#xA;&#xA;Napasku tertahan. &#34;Lo masih mau ngelanjutin ini semua, &#39;kan?&#34;&#xA;&#xA;Lagi-lagi, Erde terdiam. &#xA;&#xA;Oh... no.&#xA;&#xA;Erde menghela napas berat. &#34;Gue takut kalo mereka cuma panti biasa.&#34;&#xA;&#xA;Jadi... ini yang membuat Erde terdiam sejak tadi?&#xA;&#xA;&#34;Semua yang lo bilang tadi, masih kemungkinan... &#39;kan?&#34;&#xA;&#xA;Aku menggigit bibirku. Kepalaku sudah memahami maksud kalimat Erde. Hatiku mendesis sebal. Semua tadi bukan hanya kemungkinan biasa, itu semua kemungkinan besar yang didukung dengan logika yang--&#xA;&#xA;&#34;Belum tentu semua panti di sini ada hubungannya sama Manggala, bisa aja mereka berdiri sendiri dan dua panti lain jadi panti biasa buat sekadar reputasi ke masyarakat, bisa aja panti yang jadi jaringan ilegal Manggala ada di Nilamani, Salura, atau di sini.&#34; Mata Erde menatapku lurus. &#34;Berarti kita juga belum tau pasti apa mereka beneran jaringan ilegal Manggala. Lo sendiri liat &#39;kan tadi ada banyak panti di sana--panti petirahan, panti asuhan, bahkan ada Panti Wredha di depannya pas.&#34;&#xA;&#xA;Mataku menatapnya datar. Terus?&#xA;&#xA;Erde bangkit, berjalan beberapa langkah mendekati ranjang. &#34;Gue nggak tahu keadaan panti yang lain gimana. Tapi panti yang kita kunjungin tadi bukan jaringan Manggala.&#34;&#xA;&#xA;Kini aku yang dibuat terdiam. &#xA;&#xA;&#34;Jadi ini yang bikin lo diem aja dari pagi?&#34;&#xA;&#xA;Erde tidak menjawab. &#xA;&#xA;Yep. Inilah yang mengusik pikirannya. &#xA;&#xA;Bagaimana bisa aku mengira dia terdiam karena ciuman kami siang tadi?&#xA;&#xA;Mungkin dia sudah melupakannya.&#xA;&#xA;Mungkin hanya aku yang memikirkannya.&#xA;&#xA;Bagaimana bisa aku melupakan fakta bahwa kedatangan kami kemari hanyalah untuk berpura-pura?&#xA;&#xA;Semua yang terjadi di hadapan orang lain hanyalah sandiwara.&#xA;&#xA;&#34;Denger.&#34; Aku ikut berdiri. &#34;Gue nggak tahu apa yang bikin lo jadi nggak mau nerusin--mungkin karena lo nganggep mereka baik, karena panti tadi jauh lebih bagus dari tempat lo dulu atau gimana, tapi ini langkah awal kita buat ngancurin Manggala. Ini hal paling deket yang bisa kita lakuin buat nyingkirin salah satu jaringan mereka.&#34;&#xA;&#xA;&#34;Gue nggak--&#34;&#xA;&#xA;&#34;Oke. Mungkin kita nggak tau apa panti yang baru aja kita datengin beneran jaringan Manggala atau bukan, Ketua Panti di sana juga keliatan baik dan nggak ada celah. Tapi kita bahkan belum selesai nyari tau tentang mereka, Fuji sama Maru juga belum ngasih tau apa-apa. Terlalu cepet buat mundur sekarang. Lo nggak bisa nyampurin perasaan lo ke sini.&#34;&#xA;&#xA;&#34;Haya.&#34;&#xA;&#xA;&#34;Oke, gue tahu lo ikut seneng atau terharu karena anak-anak tadi nggak semenderita elo dulu.&#34; Aku mengabaikan Erde yang berusaha memotong ucapanku. &#34;Mungkin liat anak panti di bawah yayasan yang dulu nyiksa lo dibaik-baikin bikin lo ngrasa kalo yayasan itu udah tobat dan itu cara mereka nebus kesalahannya buat lo, Fuji, sama temen-temen lo dulu.&#34;&#xA;&#xA;&#34;Haya.&#34; Aku dapat mendengar Erde menggertakkan giginya. &#xA;&#xA;&#34;Ohh!&#34; Aku menaikkan dua alisku, &#34;bisa aja lo bukan mau mundur karena yakin panti itu beneran baik, bisa aja lo takut eskpektasi lo yang tinggi itu ancur. Lo takut kalo ternyata lo masih harus ngadepin mereka karena mereka belum tobat.&#34; Aku memicingkan mataku. &#34;Lo cuma pengecut yang pengen kabur dari mereka!&#34;&#xA;&#xA;Grep!&#xA;&#xA;Cengkeraman Erde pada kerah kaosku menghentikan ucapanku. &#xA;&#xA;&#34;Gue nggak peduli mereka baik atau enggak.&#34; Kedua mata Erde memandangku lurus , terlihat jelas dia tersinggung dengan ucapanku tadi, &#34;anak-anak di sana hidup layak. Mereka punya kasur empuk, baju anget, temen, keluarga.&#34; Suaranya bergetar. &#34;Ada orang yang mikirin masa depan mereka, bahkan mereka nggak saingan satu sama lain cuma buat makan karena ada orang yang masakin mereka tiap hari!&#34;&#xA;&#xA;&#34;Kalo jaringan Manggala beneran ada salah satu di antara 3 panti yang lagi kita selidikin--atau dua, atau malah tiga-tiganya,&#34; suara Erde masih mendominasi percakapan, &#34;dan kita berusaha ngancurin mereka...&#34; Ia bersusah payah melanjutkan ucapannya, &#34;... anak-anak tadi juga bakal kena!&#34; Erde menelan ludah. &#34;Anak-anak itu juga bakalan ancur!&#34; &#xA;&#xA;&#34;Lo--&#34;&#xA;&#xA;&#34;Dunia luar belum tentu lebih baik dari kehidupan di panti tadi. Belum tentu pas mereka keluar dari sana, ada orang yang bakal mikirin ke depannya mereka bakal jadi apa, belum tentu ada yang masakin mereka--boro-boro masakin, belum tentu mereka bisa makan!&#34;&#xA;&#xA;Baru saja aku akan menjawab, Erde lebih dulu memotong, &#34;lo mungkin nggak tau rasanya mau mati cuma buat tetep hidup!&#34; Tangannya menunjukku. &#34;Tapi jangan sampe lo biarin orang lain ngrasain itu cuma karena lo nggak tau rasanya! Lo terlalu arogan karena hidup enak!&#34;&#xA;&#xA;Oke. Cukup.&#xA;&#xA;Aku mencekal pergelangan tangan Erde. &#34;Hidup enak?!&#34; &#xA;&#xA;Ini adalah limitku.&#xA;&#xA;Aku tidak percaya Erde tidak tahu bahwa kata hidup enak yang dilontarkan pada orang lain adalah hal yang menyinggung dan pantang dilakukan. Jika hidupnya memang sesulit itu, seharusnya ia tahu aku tidak akan berada di hadapannya jika hidupku memang benar-benar enak, aku justru akan berada di hadapan orang lain yang hidupnya sama enaknya denganku!&#xA;&#xA;Darahku mendidih. &#xA;&#xA;&#34;Gue pernah ngubur jasad adek gue di kebun orang!&#34; Rahangku mengeras. &#34;Gue liat keluarga gue satu-satu mati di depan mata gue! Kalo lo mau ceramah tentang mau mati atau hidup enak*, jangan ke gue!&#34; Seruku geram, ada sesuatu yang mengganjal di tenggorokanku. &#xA;&#xA;Cengekaraman tangan Erde pada kerahku melemah. &#xA;&#xA;&#34;Nggak usah ngrasa hidup lo yang paling menderita dan orang lain hidupnya enak.&#34; Aku menghempas tangan Erde. &#34;Nggak ada orang yang hidupnya enak di dunia ini. Kalo gue bisa milih nggak lahir--&#34; Kalimatku tercekat di tenggorokan. Aku tidak bisa mengucapkannya, akhirnya kalimat itu menguap menjadi helaan napas. &#xA;&#xA;Kakiku bersiap meninggalkan Erde.&#xA;&#xA;&#34;Oh, satu lagi.&#34; Aku melirik Erde, &#34;lo mungkin nggak tau rasanya dikasih rasa aman yang ternyata palsu . Orang-orang di sekitar lo bilang semuanya bakal baik-baik aja padahal lo lagi jalan ke jurang.&#34; &#xA;&#xA;Aku tertawa getir. &#34;Dari awal lo udah hidup di jurang, lo berusaha buat bangkit dari situ seumur hidup. Dan lo pikir lo orang paling menderita karena titik awal lo serendah itu. Tapi gimana orang-orang yang titik awalnya di langit terus berakhir di jurang? Lo pikir jatuh itu nggak sakit?&#34;&#xA;&#xA;Sebelum kembali ke meja kerjaku, aku dapat melihat mata Erde yang berkilat. ]]&gt;</description>
      <content:encoded><![CDATA[<blockquote><p>POV: BERMUDA.</p>

<p><em>cw / tw : mention of human trafficking ; crime ; death . Kissing</em></p></blockquote>

<p>Enam belas jam telah berlalu sejak aku dan Haya memasuki penginapan. Dua jam kami habiskan untuk berdebat tentang dekorasi tempat tidur, satu jam untuk ban motor, tiga jam untuk saling mendiamkan satu sama lain, dan sepuluh jam untuk melakukan urusan masing-masing—aku di balkon dan Haya di ruang tamu kecil yang menyatu dengan kamar.</p>

<p>Pagi ini—pukul tujuh tepat, kami sedang menunggu jemputan mobil ke panti.</p>

<p>Pakaianku dan Haya agak kontras hari ini, dia mengenakan kemeja dan celana pendek bernuansa gelap yang memberikan kesan santai, sementara aku mengenakan celana kain hitam dan kemeja coklat lengan panjang—lengkap dengan tas pundak hitam—yang membuatku terlihat lebih... <em>serius.</em></p>

<p>“Sama kayak yang gue bilang kemarin, gue Harum Sinardjaja, lo Rudi Sinardjaja. Kita abis nikah, kesini mau <em>honeymoon</em>, sekalian ngecek panti karena reputasinya bagus. Entar bakal ada pegawai yang nemuin kita karena gue udah bikin janji sebelumnya. Inget, harus keliatan santai.”</p>

<p>Mataku melirik sumber suara dengan sengit. “Lama-lama gue beneran apal.” </p>

<p>Sumber suara itu—siapa lagi kalau bukan si Haya menyebalkan—balas menatapku. “Ya bagus. Daripada lo lupa?”</p>

<p>“Lo udah ngulang-ngulang itu 100 kali, gue nggak bakal lupa.” Balasku kesal.</p>

<p><em>Berani sumpah</em>, ucapan itu sudah diucapkannya satu... dua... tiga—puluhan kali. Memang tidak sampai seratus, tapi kalau selama perjalanan ia terus mengucapkannya, bisa jadi saat mencapai panti akan genap seratus.</p>

<p>Bahkan, di antara sepuluh jam kami mengurus urusan masing-masing semalam, sekitar enam jam kuhabiskan sambil mendengar Haya merapalkan <em>hafalan</em> itu.</p>

<p>Jika dilihat sekilas, orang-orang akan mengira kalimat itu terus menempel di lidah Haya karena ia khawatir aku akan lupa—tentunya karena Haya <em>jauh</em> lebih pintar dariku. Tapi faktanya, yang membuatnya takut adalah dirinya sendiri.</p>

<p><em>Kenapa?</em></p>

<p>Karena dia sedang tidak percaya diri.</p>

<p>Aku dapat mencium rasa gelisah yang berserakan di sekitarnya dengan jelas.</p>

<p>Dua menit sebelum mobil jemputan kami datang, aku menepuk pundak Haya. “Lo panik, &#39;kan?”</p>

<p>“Enggak.” Haya menggeleng cepat. Jawaban tersebut kontras dengan kuku jarinya yang terus digigiti dan kaki kiri yang digoyangkan.</p>

<p>Tidak butuh orang luar biasa cerdas untuk mengetahui seberapa gugup Haya sekarang.</p>

<p>Aku juga sama gugupnya dengan Haya. Selama bekerja menjadi <em>RED</em>, aku tidak pernah mendapat misi untuk menyamar atau melakukan interaksi sosial dengan orang lain—interaksi antar buku jariku dengan rahang mereka, mungkin pernah.</p>

<p>Namun melihat Haya—si <em>HOKU</em> yang selalu menyombongkan kapasitas otaknya—kehilangan percaya diri, mau tidak mau aku harus mengabaikan rasa cemasku.</p>

<p>Aku gugup, tapi aku tidak takut.  Setakut apapun aku dalam <em>misi</em> ini, aku masih cukup yakin tidak ada tangan yang bisa menyentuhku. Tapi Haya berbeda, dia tidak bisa melindungi dirinya sendiri dari serangan fisik. Aku masih ingat wajah pucatnya saat dia ditodong moncong pistol Maru yang sebenarnya bisa ditepis dengan mudah. Jadi wajar jika dia merasa takut.</p>

<p>Napas panjangku terhela saat mendengar Haya, sekali lagi, menyampaikan paragraf itu dengan bahasa yang diubah pada sopir kami.</p>

<p>Diceritakannya latar belakang kami. Harum Sinardjaja, seorang anak mandor pemilik kebun teh,  menikahi Rudi, seorang—</p>

<p><em>Seorang apa?</em></p>

<p>Aku menoleh saat Haya mengenalkanku sebagai... <em>buruh pabrik?</em></p>

<p>Kenapa dia mengenalkan kami sebagai pasangan dengan status sosial yang berbeda jauh?</p>

<p>“Saya jatuh cinta sama dia pas pertama ketemu di pabrik.” Tiba-tiba tangan Haya menggenggam jemariku. “Dia pekerja keras, baik...” Matanya menatapku, tersenyum, “ya, mukanya emang judes tapi hatinya baik banget, Pak. Penyayang juga.” Ia tertawa kecil seolah-olah kami memang memiliki kenangan seperti ucapannya.</p>

<p><em>Cih. Dasar halu.</em></p>

<p>Setidaknya dia bisa mengenalkanku sebagai buruh pemetik teh atau pekerjaan lain yang mudah dibayangkan. Buruh pabrik terlalu luas, bagaimana kalau—</p>

<p>“Saya dulu kerja di pabrik juga. Jadi operator <em>forklift</em>, Bapak Rudi di bagian apa?”</p>

<p><em>Nah kan.</em></p>

<p>Mataku melirik Haya tajam. Dari banyaknya pekerjaan yang pernah kulakukan, buruh pabrik bukan salah satunya. Aku sudah menjelaskan pada Haya tentang pengalaman kerjaku seumur hidup, aku yakin otaknya yang berkapasitas besar itu bisa mengingatnya—kalau dia benar-benar menyimak.</p>

<p><em>Haya memang tidak pernah mendengarkan.</em></p>

<p>Ditanya seperti itu, Haya terbatuk. Akhirnya ia tersedak kecerobohannya sendiri. Mungkin rasa gugup membuatnya tidak berpikir panjang.</p>

<p>“Admin produksi.” Jawabku akhirnya.</p>

<p>Setelah itu aku membiarkan Haya menangani situasi ini. Aku memandangi jalanan.</p>

<p>Banyak pohon dan rumah makan terlihat sepanjang jalan. Mendadak aku teringat Fuji.</p>

<p>Aku tidak bisa menjangkaunya, jarak kami terlampau jauh.</p>

<p>Mataku melirik gelang <em>SOS</em> di tangan kiri. Semoga nantinya, alat ini benar-benar berguna tapi tidak digunakan.</p>

<p>**</p>

<p>Tidak sampai empat puluh menit, kami sudah memasuki area panti. Mataku tertarik pada sebuah bangunan satu lantai dengan gapura tinggi di sebrang jalan, sebuah papan nama terlihat.</p>

<p><em>Panti Sosial Wredha Banda Rarangi?</em></p>

<p><em>Panti... Wredha?</em></p>

<p>Aku kembali fokus saat mobil kami melewati papan nama bertuliskan <em>Panti Sosial Anak Banda Rarangi</em>. Dua buah bangunan tiga lantai yang saling berhadapan dan satu bangunan dua lantai di tengahnya menyambut kami.</p>

<p>Helaan kasar napas Haya terdengar. Dia berdeham beberapa kali.</p>

<p>Aku lebih dulu keluar, membuka pintu di sisi Haya lalu mengulurkan telapak—meminta tangannya.</p>

<p>Bukannya menyambut uluran tanganku, Haya justru terdiam. Dua alisnya terangkat. Mulutnya komat-kamit, <em>apa? Ngapain?</em></p>

<p>“Yuk.” Aku sedikit melotot.</p>

<p>Haya menyambut tanganku. Berpamitan pada sopir.</p>

<p><em>Wah</em>. Telapak tangannya dingin.</p>

<p>“Lo nggak apa-apa?”</p>

<p>Haya mengangguk, melonggarkan kerah bajunya, “<em>nervous</em> dikit.”</p>

<p>“Katanya <em>&#39;harus keliatan santai&#39;</em>?” Aku terkekeh pelan. Menggodanya dengan hafalan yang semalaman dikomat-kamitkannya.</p>

<p>Haya mendengus kesal. “Apaan sih. Nggak lucu.”</p>

<p>“Tenang aja.” Mataku menunjuk tangan kami yang bergandengan. “Ada gue.” Lalu menepuk punggung tangannya sekilas.</p>

<p>Haya menggigit bibirnya, bergumam. “<em>Hm, thanks.</em>“</p>

<p>“Bapak Harum Sinardjaja?” Seorang dengan kemeja batik dan celana hitam menghampiri kami, menyalami Haya.</p>

<p>Seketika mimik muka Haya berubah. Seolah ia menanggalkan rasa gugupnya di suatu tempat, menggantinya dengan senyum lebar. Disambutnya jabat tangan dari pria tersebut—yang kuduga adalah pengurus panti.</p>

<p>“Ini suami saya.” Dia mengenalkanku pada pengurus panti tersebut.</p>

<p>“Rudi.” Jawabku cepat, sebisa mungkin tersenyum. Pengurus ini menyalamiku dengan dua tangan dan badan sedikit membungkuk—membuatku tidak nyaman.</p>

<p>“Saya Joseph.”</p>

<p>Lelaki bernama Joseph itu memiliki perawakan kurus-tinggi dengan kumis tipis dan kaca mata berbingkai hitam tebal. Rambutnya yang juga berwarna hitam legam dipotong cepak. Hidungnya mancung, matanya besar, alisnya tebal. Dia memiliki kulit kuning yang sedikit terbakar sinar matahari—membuatnya terlihat mendekati sawo matang saat berada di dalam ruangan.</p>

<p>Setelah berkenalan, ia mempersilakan aku dan Haya mengikutinya.</p>

<p>“Bapak sedang di perjalanan, sambil nunggu Bapak sampai, kita keliling sebentar.”</p>

<p><em>Bapak</em>... yang dimaksud Bapak pastilah ketua panti di sini.</p>

<p>“Kalau kalian perhatikan, di depan tadi ada Panti Sosial Wredha, itu juga panti di bawah yayasan kami.” Joseph mulai menjelaskan, “bedanya—selain penghuninya, di sana lebih banyak relawan daripada pegawai tetap. Panti kami nggak terlalu memerlukan relawan karena banyak pegawai terlatih di sini.”</p>

<p>Joseph berjalan sambil merapikan ujung lengan kemeja motifnya.</p>

<p>“Panti di sini ada dua, ini Panti Petirahan,” tangannya menunjuk bangunan di sebelah kanan, “yang ini Panti Asuhan,” lalu menunjuk bangunan sebelah kiri.</p>

<p>Kami diajak berjalan melewati lorong bangunan di sebelah kiri—panti asuhan. Bagian tengah diisi taman dengan beberapa fasilitas olahraga dan permainan. Area ini tampak sepi namun terawat.</p>

<p>“Di sini biasanya ramai anak-anak. Sekarang mereka sedang membersihkan halaman belakang yang terhubung langsung sama jalan kampung di sini.” Seolah dapat membaca pikiranku, si Joseph menambahkan.</p>

<p>“Panti Petirahan digunakan untuk memberikan bimbingan dan pelayanan bagi anak yang mengalami hambatan belajar karena terkena masalah sosial. Jadi mereka hanya tinggal beberapa bulan di sini.”</p>

<p>Kami diajak memasuki lorong panti asuhan.</p>

<p>“Kalau Panti Asuhan digunakan untuk memberikan bimbingan dan pelayanan bagi anak yatim piatu yang membutuhkan. Biasanya, kami menemani mereka sampai SMA.”</p>

<p>“Dua gedung di sini gedung kembar. Lantai tiga sama-sama digunakan sebagai kamar anak-anak. Lantai satu dan dua ini isinya ruang-ruang komunal.” Ia membuka salah satu ruang di lantai satu, “ini ruang makan, di balik sekat itu ada dapur. Petugas kami sedang menyiapkan <em>snack</em> dan sarapan untuk anak-anak.”</p>

<p>Sebuah ruangan luas dengan meja panjang dan kursi-kursi berjajar rapi menyambut kami. Terdapat ruangan lain di ujung yang dipisahkan oleh dua pintu, salah satu pintunya terbuka. Dari pintu itu, aku dapat melihat kepulan asap dan kesibukan beberapa orang di dapur.</p>

<p><em>Entah bagaimana, aku lega.</em></p>

<p>Anak-anak ini mendapatkan tempat makan yang layak dan makanan yang baru selesai dimasak.</p>

<p>“Pak Harum dan Pak Rudi bisa ikut kami sarapan kalau mau.” Ia menoleh pada kami. “Nanti Bapak juga akan ikut sarapan bersama anak-anak. Mereka pasti senang kalau melihat ada tamu hari ini.”</p>

<p>Aku tertegun. Bahkan makanan mereka layak dihidangkan untuk orang lain.</p>

<p>“<em>We&#39;re good.</em> Kita udah makan sebelum kesini. Sebenernya—”</p>

<p>“Mending kita ikut aja nggak sih, Sayang?” Aku memegang lengan Haya, berusaha menghentikan ucapannya. “Nanti kalo masih ada waktu.”</p>

<p>Haya menatapku. Ia terdiam cukup lama hingga aku harus meremas lengannya agar dia mengatakan sesuatu.</p>

<p>“Oke.” Haya menoleh pada Joseph, “siapa tau... eh—pas sarapan...” Haya melirikku, “nanti... kan—”</p>

<p>“Siapa tau kita bisa ketemu sama anak-anak di sini.” Aku melanjutkan. Tanganku turun menuju telapak tangan Haya—dan benar, telapak tangannya dingin, dia pasti gugup karena improvisasi mendadak yang kuberikan. Kami memang tidak berencana makan di sini.</p>

<p>Joseph mengangguk. “Akan kami siapkan. Anak-anak pasti senang menyambut orang baru.” Ia berbalik. Mengajak kami ke ruangan berikutnya.</p>

<p>“Gue cuma pengen liat mereka makan apa di sini.” Bisikku pelan saat Joseph berada beberapa langkah di depan kami, “kita bisa ngobrol sama anak-anak juga.”</p>

<p>“<em>Anything for you</em>, Sayang.”</p>

<p><em>Uh?</em></p>

<p>“Dia sampe minta maaf karena udah ngubah jadwal.” Haya tiba-tiba terkekeh, matanya memandang Joseph, “<em>it&#39;s okay</em>, Sayang, acara abis ini bisa kita undur sementara. Mereka bakal ngerti.”</p>

<p>Sepertinya Joseph sempat menoleh saat aku berbisik dengan Haya.</p>

<p>Jantungku berhenti berdetak saat tiba-tiba Haya melepas pegangan tangan kami lalu mengusap pundakku, menarik pelan kepalaku hingga bersandar di bahunya—kami nyaris berpelukan.</p>

<p><em>Uh-Oh.</em> Wajahku memanas.</p>

<p>Mungkin aku terlalu terbawa peran.</p>

<p>Pegangan Haya melonggar saat Joseph tersenyum lebar menanggapi kebohongannya.</p>

<p>Kami melanjutkan berkeliling.</p>

<p>Lantai dua berisi ruang belajar. Setelah puas melihat-lihat, kami berpindah ke gedung lain—gedung sebelah kanan, panti petirahan.</p>

<p>Lantai satu berisi aula, digunakan untuk acara-acara yang diadakan panti ini. Lantai dua adalah ruang bermain, lengkap dengan fasilitas seperti tempat menyimpan <em>snack</em>, kulkas, pojok baca, hingga rak penuh mainan. Aku takjub dengan fasilitas yang dimiliki panti sosial ini.</p>

<p>Kami terus berkeliling dan mendapati banyak jejak yang menunjukkan kebersamaan mereka. Foto-foto yang dibingkai indah di dinding hingga souvenir dari luar negeri yang ditempel di kulkas bertuliskan asal masing-masing negara—<em>Malaysia, Singapore, Cambodia</em>.</p>

<p>Joseph menceritakan tentang asal-muasal souvenir itu. Tiap tahun panti ini mengadakan liburan ke luar negeri, beberapa yang lain merupakan kiriman dari pengurus yang melakukan pelatihan.</p>

<p>Di antara gedung petirahan dan gedung di tengah—gedung administrasi, terdapat sebuah jalan setapak kecil yang membawa kami ke sebuah kebun mini.</p>

<p>Puluhan pot warna-warni yang disusun rapi menyambut mata. Ada berbagai macam tumbuhan yang ditanam di sini—bunga dan buah.</p>

<p>“Berkebun adalah salah satu cara kami agar anak-anak dapat merawat makhluk hidup dengan penuh kesabaran dan ketelatenan.” Joseph mulai menjelaskan.</p>

<p>Kami terus menyimak setiap cerita yang diungkapkan Joseph. Mataku tetap awas, kakiku berjalan mengelilingi kebun, membuatku seolah sedang melihat-lihat pot satu per satu, padahal aku sedang mengecek sekitar—mencari hal-hal mencurigakan yang <em>mungkin</em> tidak seharusnya di sini.</p>

<p><em>Nihil.</em></p>

<p>Sekop, garpu tanah, sarung tangan, gunting ranting, penyiram tanaman, kereta dorong—setiap barang berjumlah normal dan berposisi di tempat yang wajar.</p>

<p>Joseph lanjut menceritakan tentang kegiatan yang diadakan setiap tahun di sini. Entah itu pelatihan, kursus, festival, atau lomba kecil-kecilan.</p>

<p>Seluruh anak di panti ini diberi kesempatan untuk tetap menikmati masa kecil mereka, dan panti ini—entah petirahan atau panti asuhan atau apapun namanya—benar-benar memastikan semua anak dapat mengembangkan diri. Kadang di hari besar tertentu, panti anak di sini akan mengunjungi Panti Wredha di sebrang.</p>

<p>Aku menelan ludahku, merasa tidak nyaman.</p>

<p>Tempat semenyenangkan ini adalah kaki tangan Manggala?</p>

<p><em>Tidak mungkin</em>.</p>

<p>Bahkan aku mulai berpikir panti asuhan yang dulu kutinggali bukan di sini. Tidak di pulau ini.</p>

<p><em>Mungkin Fuji salah.</em></p>

<p>Dia menganggap panti asuhan kami di wilayah Timur karena kami terus berlari ke arah barat. Padahal kami tidak harus berasal dari daerah <em>Timur</em> untuk berlari ke arah barat. Kami bisa di bagian <em>Utara</em> atau <em>Barat</em> dan tetap berlari ke arah barat.</p>

<p><em>Bagaimana jika... panti ini bukan bagian dari Manggala?</em></p>

<p>Dugaanku semakin kuat saat Joseph tiba-tiba memberi penjelasan tentang apa saja masalah yang dihadapi di panti ini.</p>

<p>“Anak-anak seneng tinggal di panti ini. Kami selalu berusaha ngasih pelayanan dan bimbingan terbaik. Tapi tetap ada masalah selanjutnya yang dihadapi anak-anak. Misal, anak-anak dari panti petirahan yang kesini karena masalah sosial cuma tinggal di panti beberapa bulan. Kadang mereka udah terlanjur dekat sama anak-anak lain dan malah nggak mau keluar dari panti.” Dia menghela napas, “anak-anak dari panti asuhan juga begitu. Kadang mereka jadi sedih karena ada anak lain yang punya keluarga baru.”</p>

<p>Joseph membawa kami ke ruang ketua panti sambil memberi penjelasan tentang masalah-masalah lain yang mereka hadapi. Seolah kami memang harus mengetahui semua informasi ini.</p>

<p>“Untuk anak-anak petirahan yang masuk karena mereka nggak bisa disekolahkan sama orang tuanya, justru punya masalah lain. Mereka ngrasa lebih dekat sama orang panti daripada keluarga sendiri—saking lamanya tinggal di panti. Jadi istilahnya, kita tetep ngawasin mereka tapi nggak boleh terlalu dekat sampai melebihi keluarganya. Tapi juga tetep memposisikan diri sebagai penanggungjawab karena secara fisik, kami lebih dekat dari keluarganya.” Joseph melanjutkan, “makanya yayasan terus ngasih kami pelatihan biar masalah kayak gini nggak keulang. Malah ada yang dilatih sampai luar negeri, tapi banyak juga yang akhirnya ditarik sama yayasan untuk ngurus panti yang lebih besar.”</p>

<p>Haya terlihat seksama mendengarkan, aku hanya mengangguk—agar terlihat paham.</p>

<p>Setelah memberi penjelasan, Joseph undur diri. Kami ditinggal di ruang ketua panti.</p>

<p>Tiba-tiba aku dapat merasakan ada jemari lain yang menyusup di antara jemariku. Aku berdeham, segera menjauhkan diri saat menyadari tanganku dan Haya saling mengait sejak tadi.</p>

<p>Kami saling memandang lalu terdiam.</p>

<p>Satu detik.</p>

<p>Dua detik.</p>

<p>Aku membuang mataku. Awalnya aku tidak tahu kemana arah pandangaku, tapi setelah melihat ruangan penuh bingkai foto ini, aku berencana memastikan tidak ada kamera yang mengawasi kami.</p>

<p>Haya beranjak, mendekati meja ketua panti yang terletak tidak jauh dari jendela besar.
Saat kakiku mendekati jendela, desisan kasar Haya terdengar, “<em>shit</em>. Gue gemeter.”</p>

<p>Aku menoleh. Haya mengibaskan tangannya sebelum kembali mengarahkan penunjuk layar.</p>

<p><em>Uh, pasti dia gugup lagi.</em></p>

<p>Setelah mengawasi situasi di luar, aku menghampiri Haya, menepuk dan mengusap punggungnya, “lo tadi bisa ngomong sama Joseph, sekarang pasti juga bisa.”</p>

<p>“Kepala gue berisik banget.”</p>

<p>“Kenapa?”</p>

<p>“Takut bakal ketauan. Gue nggak bisa <em>stop</em> mikir apa yang harus kita lakuin kalo ketauan beneran. Gue takut kalo Joseph udah tau kita cuma ngarang dan dia sekarang lagi nelpon <em>back up</em>. Sekuat apapun lo, kita bisa abis di sini. Atau jangan-jangan dari awal mereka udah tau kita <em>bo&#39;ong</em>. Lo liat panti ini sepi banget? Dia bilang anak-anak lagi bersih-bersih? Gimana kalo mereka nggak lagi bersih-bersih? Gimana kalo ternyata ini jebakan buat kita, terus sebener—”</p>

<p>“Heh!” Tanganku mencekal lengannya. “Fokus!”</p>

<p>Haya mengusap wajahnya kasar. “Lo enak. Lo bisa berantem. Bisa ngelindungin diri sendiri, gue gimana? Gue mau ngelindungin diri pake apa?”</p>

<p>“Gue.” Jawabku cepat.</p>

<p>Mata Haya mengerjap dua kali.</p>

<p>“Gue bisa nglindungin lo, jadi lo fokus aja sama apa yang mau lo lakuin sekarang.”</p>

<p>Matanya kembali menatap layar. Ia berdeham, “sopir kita nungguin di bawah, gue udah cek <em>background</em>-nya berkali-kali, <em>clear</em>, dia sopir beneran dan peduli ama penumpangnya. Dia bakal nyariin kita kalo kita nggak keluar-keluar.”</p>

<p><em>Oh</em>. Jadi sekarang Haya sedang mengumpulkan hal-hal yang bisa melindunginya. Aku mengangkat pergelangan tanganku, “kita juga punya gelang <em>SOS</em> ini, kalo entar ada apa-apa dan gue lagi nggak ada di deket lo, gue pasti bakal langsung nyamper—”</p>

<p>“Kalo lo yang kenapa-kenapa, lo bakal ngaktifin gelang ini nggak?”</p>

<p><em>Tentu saja tidak</em>. Sergahku cepat dalam hati.</p>

<p>Jika aku menyalakan gelang ini, berarti aku sedang terjebak dalam sebuah jurang dalam, kemudian Fuji akan menerima sinyalnya. Aku tidak akan menyeret Fuji atau siapapun ke dalam jurang yang tidak bisa kudaki sendiri.</p>

<p>“Kok nggak jawab?” Haya menoleh, menatap mataku.</p>

<p>“Emang gue bakal kenapa?”</p>

<p>“Ya...” Haya terdiam selama beberapa saat, pandangannya kembali terpaku pada layar, “lo boleh aja yakin kalo lo nggak bakal kenapa-kenapa, tapi masih ada kemungkinan lo bakal kenapa-kenapa.” Ia balik menatapku. “Nggak pernah ada kemungkinan 100% di dunia ini kecuali kemungkinan setiap manusia bakal mati.”</p>

<p>“Gue nggak bakal kenapa-kenapa.” Haya terlihat kurang puas dengan jawabanku, “kalo gue kenapa-kenapa berarti gue mati.” Tambahku.</p>

<p>Tangan Haya terhenti, ia menoleh padaku dengan wajah sengit. “Sembarangan banget sih mulut lo!”</p>

<p>“Lo duluan!” Balasku cepat. “Makanya fokus aja sama komputer ini!” Aku melepaskan tanganku darinya.</p>

<p>Haya mendengus kesal sebelum melanjutkan aktivitasnya.</p>

<p>Mataku meliriknya sekilas, wajahnya kini lebih tenang—meski aroma tegang masih menguar jelas di sekitarnya.</p>

<p>Mungkin ada beberapa hal tentang orang pintar yang tidak akan kupahami. Satu, bagaimana mereka bisa pintar. Kedua, bagaimana cara tubuh mereka bekerja.</p>

<p>Mengapa dia merasa begitu dikuasai oleh pikirannya? Mengapa dia lebih mengkhawatirkan hal-hal yang belum tentu terjadi daripada kenyataan yang ada di depannya? Bukankah pikiran juga bagian dari tubuh manusia, yang artinya bisa dikendalikan, mengapa Haya justru tidak bisa melakukan apapun saat kepalanya berpikir?</p>

<p>Sayup-sayup terdengar suara riuh dari luar.</p>

<p>“Gue mau liat keluar bentar.” Ucapku sebelum berjalan menuju jendela.</p>

<p>Terlihat anak-anak berlari riang memenuhi taman. Aku menghela napas lega, “tuh, anak-anak baru selesai kerja bakti beneran, tadi pantinya beneran kosong, bukan sengaja dikosongin.”</p>

<p>Beberapa pengurus panti yang menggunakan baju olahraga ikut mendampingi mereka, mengarahkan anak-anak untuk memasuki asrama masing-masing agar segera membersihkan diri lalu ke ruang makan.</p>

<p>Sepasang anak kembar menarik perhatianku. Keduanya dikuncir dua dengan kaos olahraga dan muka yang sama-sama dipenuhi noda tanah. Berlarian hingga mencapai lorong gedung panti asuhan, mereka saling berebut tentang siapa yang lebih dulu mencapai lorong lalu berhenti saat dilerai oleh pengurus yang wajahnya juga dipenuhi noda tanah. Ketiganya tertawa.</p>

<p>Aku menggigit bibir.</p>

<p>Mendadak semua terasa tidak nyaman.</p>

<p><em>Bagaimana jika panti ini hanyalah panti biasa?</em></p>

<p>Atau lebih parah lagi, aku justru takut menemukan <em>sesuatu</em> di panti ini.</p>

<p>Bagaimana jika semua kebahagiaan ini hanya digunakan untuk menutupi tangisan orang lain? Atau bagaimana jika tawa mereka nantinya berubah menjadi jeritan?</p>

<p>“Kameranya sama elo, &#39;kan?”</p>

<p>Pertanyaan Haya memecah lamunanku.</p>

<p>Aku mengangguk, merogoh sesuatu dari dalam tas hitam yang kukenakan, sebuah kamera tersembunyi yang dimodifikasi menjadi <em>USB</em>, “ini mau taruh di mana?”</p>

<p>Dagu Haya diarahkan pada sebuah boks dokumen yang berjejer di ujung meja, “taruh di <em>box file</em> ini aja, ada banyak kertas di sini, pasti nggak keliatan, atur aja bagian pinggir adep ke dokumen terus bagian yang ada merah-merahnya itu di bagian celah ini.” Jarinya bergerak menunjuk setiap tempat yang dimaksudnya.</p>

<p>Aku mengangguk paham, mulai meletakkan dan mengatur kamera kecil ini sesuai yang diperintahkan Haya agar <em>USB</em>, mengarahkannya ke sofa—tempat Ketua Panti menerima tamu.</p>

<p>Kamera ini terhubung langsung dengan ponsel Haya, ia menyerahkan ponselnya padaku untuk mengecek dan membenarkan letak kamera.</p>

<p>Dua menit berlalu. Pemasangan kamera selesai.</p>

<p>“Sini doang yang mau dipasangin kamera? Bagian luar perlu nggak?”</p>

<p>Haya menggeleng, “nggak perlu. Tadi gue liat salinan video CCTV di gedung ini udah kehubung otomatis sama komputer ini, kita bisa liat dari sini langsung, tapi nggak <em>real time</em>, nunggu 24 jam.”</p>

<p>Aku mengangguk (lagi). Kembali berjalan mendekati jendela, mengamati kondisi di luar.</p>

<p>Seorang lelaki tua memasuki area panti dengan motor <em>matic</em> abu-abu dan helm hitam. Ia mengenakan jaket hitam dan celana krem. Tampak beberapa anak menyapanya dan pegawai—</p>

<p><em>Uh-Oh.</em></p>

<p>“Haya.” Aku menoleh. “Masih lama?”</p>

<p>Haya menatapku, diam untuk beberapa saat. “Kenapa?”</p>

<p>“Ketua Panti udah dateng.”</p>

<p>Haya menggigit bibir. “Lagi <em>loading</em>. Dikit lagi.”</p>

<p>Aku menelan ludah. Mengingat jarak ruangan ini yang tidak jauh dari tempat parkir, Ketua Panti itu akan segera mencapai pintu ruangan ini dalam beberapa puluh detik lagi.</p>

<p>“Udah belum?”</p>

<p>Haya menggeleng.</p>

<p>“Kita duduk sekarang aja.” Aku berjalan mendekati Hay—</p>

<p><strong>Cklek.</strong></p>

<p><em>Sial.</em></p>

<p>.</p>

<p>.</p>

<p>.</p>

<hr/>

<h1 id="pretend" id="pretend">Pretend.</h1>

<blockquote><p>POV: HIMALAYA.</p></blockquote>

<p><em>Kira-kira, berapa besar kemungkinan kami tidak akan meninggalkan panti ini dalam keadaan hidup?</em></p>

<p>Pertanyaan sederhana itu terus membuat kepalaku berhitung semalaman, sepagian, bahkan hingga sekarang.</p>

<p>Aku telah memperhitungkan semua hal yang akan terjadi hari ini. Jam keberangkatan kami dari penginapan, waktu perjalanan, hingga acara keliling panti tadi sudah kuperhitungkan. Semuanya sudah dihitung secara presisi, ketua panti seharusnya belum berangkat saat kami tiba di sini karena kami datang satu jam lebih awal dari waktu yang ditentukan. Kalaupun ketua panti itu langsung berangkat dari rumahnya, paling tidak membutuhkan waktu 20 menit.</p>

<p>Saat tiba-tiba Erde mengumumkan kedatangan Ketua Panti. Hitunganku pecah, sebuah variabel baru muncul.</p>

<p>Perhitunganku makin buyar ketika Erde tiba-tiba menyerangku—<em>uhm</em>—tidak separah menyerang, sebenarnya, ia membalik badanku lalu mendorongku hingga mau tidak mau pantatku naik di ujung meja.</p>

<p>Angin kencang menyerbu kepalaku saat sepasang benda kenyal menyapu permukaan bibirku. Hembusannya menerbangkan puluhan kertas hitung probabilitas yang berserakan di kepalaku.</p>

<p>Kepalaku berhenti bekerja.</p>

<p>Kini hanya ada ruangan kosong dengan angin yang berputar di dalamnya seiring dengan tangan Erde yang meremas pinggangku.</p>

<p><em>Shit.</em></p>

<p>Erde menciumku!</p>

<p>Untuk pertama kalinya sejak aku tahu hubungan kami terjalin bukan berlandas perasaan, kami berciuman!</p>

<p><em>Yep.</em> Kami sudah pernah berciuman sebelumnya, tapi ini berbeda. Dulu aku yang menciumnya berdasar pikiran bahwa Erde menginginkanku sebagai <em>aku</em>.</p>

<p>“Ini tinggal dicabut aja, &#39;kan?”</p>

<p>Bisikan Erde terdengar.</p>

<p>Angin di kepalaku berhenti.</p>

<p>Aku tertegun.</p>

<p>Dan saat kesadaranku kembali, ternyata kami telah menjadi tontonan dua orang di pintu.</p>

<p><em>Shiiiiiiiit.</em></p>

<p>Aku ingin menegakkan punggungku namun Erde menahanku dengan tubuhnya. “Pura-pura nggak nyadar.” Hangat bisik Erde menyentuh kulit leherku, membuatku bergidik.</p>

<p>“<em>Ehem.</em>“</p>

<p>Tubuh Erde segera menjauh dariku, seolah-olah terkejut. “Oh? Maaf....” Ia terkekeh pelan. Aku dapat melihat <em>USB</em> yang sebelumnya kutancapkan di komputer kini disembunyikan di belakang tubuhnya lalu perlahan memasuki saku celananya.</p>

<p><em>Deg.Deg.Deg.Deg.</em></p>

<p><em>Oke, baiklah.</em></p>

<p>Aku bukan lagi manusia kosong. Tubuhku dapat merasakan setiap organ tubuhku bekerja. Jantungku berdetak keras, lambungku perih, dan kapasitas paru-paruku membesar. Aku tersengal.</p>

<p>Seorang lelaki tua dengan kaos berkerah dan celana warna cerah bersama dengan Joseph berdiri canggung di ambang pintu.</p>

<p>“Maaf, kita kebawa suasana...” Erde tersenyum, tangannya melingkar di pinggangku. Berkat tangan ini aku berhasil berdiri tegak.</p>

<p>“Ah nggak apa-apa... Saya dengar kalian baru menikah ya?” Lelaki tua tadi—si Ketua Panti, alias Pak Darwis—terkekeh pelan.</p>

<p>Aku menelan ludah. Ikut terkekeh pelan. Tanganku meraih punggung tangan Erde yang melingkari pinggangku, mengusapnya pelan. Erde menoleh padaku. Terlihat pura-pura (<em>atau tidak?</em>) terkejut.</p>

<p>“Tahan dulu ya sampai nanti kembali ke hotel. Sekarang kita ngobrol dulu, bisa <em>&#39;kan</em>?”</p>

<p>Aku nyaris tersedak mendengar godaan ketua panti ini.</p>

<p>Semua yang ada di ruangan—termasuk Joseph—tertawa.</p>

<p>“Silakan duduk.”</p>

<p>Kami menurut. Segera kembali ke sofa (dengan aku yang sedikit terbatuk).</p>

<p>Tidak banyak hal yang membuatku terkesan saat berbincang dengan Pak Darwis, jika aku tidak tahu dia adalah Ketua Panti, pasti aku hanya mengira dia adalah lelaki tua biasa. Kaos polo biru muda dimasukkan ke celana kain berwarna krem membuat perut buncitnya terlihat. Kumisnya tebal dan rambutnya disisir ke belakang dengan <em>gel</em> rambut.</p>

<p>Perbincangan dengan Pak Darwis berjalan lancar, kami hanya membahas topik ringan yang sebelumnya sudah kuprediksi.</p>

<p>Pak Darwis juga tidak menanyakan tentang hal-hal sensitif atau berat, tentu karena aku membawa nama <em>Sinardjaja</em>. Keluarga pemilik perusahaan minuman raksasa. Aku memanfaatkan desas-desus di kalangan <em>atas</em> yang menyebutkan bahwa anak bungsu Sinardjaja, Riko Sinardjaja, memiliki anak di luar nikah berinisial H yang baru saja melangsungkan pernikahan—yang mana menjadi asal usul nama Harum Sinardjaja. Kabar ini tidak ada di media manapun karena keluarga Sinardjaja berusaha keras menutupinya, hanya orang-orang tertentu yang mengetahuinya (contoh: pemilik Yayasan Kasih Abadi yang pastinya menerima kabar kedatangan kami di sini).</p>

<p>Pak Darwis lanjut menceritakan tentang permasalahan di panti ini. Lagi-lagi, ini adalah topik yang sudah masuk di perhitunganku. Tentu saja mereka akan membuatku bersimpati, tujuannya adalah membujuk keluarga Sinardjaja mendukung tempat ini.</p>

<p>“Banyak hal-hal baik terjadi di sini. Tapi seperti kebanyakan hal di dunia, mereka datang berpasangan. Baik dan buruk. Pertemuan dan perpisahan. Kebahagiaan dan kesedihan.” Pak Darwis melanjutkan ucapannya setelah sibuk membahas fasilitas di panti ini.</p>

<p>“Beberapa anak masuk ke petirahan karena menjadi korban kekerasan orang tuanya. Ada juga anak yang tinggal di panti asuhan karena kehilangan orang tuanya sejak kecil.” Pak Darwis menyandarkan punggungnya di sandaran sofa, “seolah sama aja, ada atau tidak adanya orang tua, mereka tetap masuk ke panti. Jadi, kami berusaha memberi bimbingan di sini, biar mereka nggak berkecil hati sama kondisi yang mereka alami. <em>Orang tua</em> mereka di sini ada banyak.”</p>

<p>“Tapi masalah lain muncul, hampir 90% anak-anak di sini masih punya orang tua dan keluarga, jadi kita juga harus memastikan peran kita nggak terlalu besar buat mereka. Biar mereka yang masih punya keluarga, nggak merasa jauh dari keluarganya.”</p>

<p>“Nasib anak-anak di sini macam-macam. Ada yang nggak liat orang tuanya dari kecil, ada yang liat orang tuanya tapi malah diperlakukan kurang baik, ada yang liat orang tuanya; diperlakukan dengan baik; tapi justru nasibnya yang kurang baik.”</p>

<p>Aku mengangguk paham, melirik Erde yang sejak tadi terlihat membeku.</p>

<p>Telingaku terpasang sempurna mendengar setiap <em>keresahan</em> Pak Darwis.</p>

<p> Kami terus membahas hal-hal terkait anak panti, saat berjalan bersama di lorong, duduk di meja makan, bahkan saat mereka mengantar kami ke mobil.</p>

<p>Sepanjang cerita itu, Erde tetap bergeming. Sejak tadi hanya aku yang memberi tanggapan. Bahkan Erde terdiam saat beberapa anak menghampiri kami di ruang makan.</p>

<p><em>Aneh.</em></p>

<p>Saat di mobil, aku kembali mengisi kekosongan dengan bercerita pada sopir kami.</p>

<p>“Oh, Bapak habis ketemu Pak Darwis?”</p>

<p>“Bapak kenal?”</p>

<p>Sopir kami tertawa, “siapa yang nggak kenal Pak Darwis? Dia baik dan sederhana, Pak. Orang-orang sini sampe bilang, <em>kalo ada masalah, coba ke Pak Darwis</em>.” Ia kembali tertawa. Diceritakannya cerita-cerita kecil tentang kebaikan Pak Darwis.</p>

<p>“Pak Darwis pernah bantu warga yang terjerat hutang.”</p>

<p>“Sering banget Pak Darwis ini memberi pekerjaan sama orang-orang kampung sebrang, Pak.”</p>

<p>“Kebaikan Pak Darwis ini sudah paling <em>top</em>, nggak ada orang sini yang nggak kenal Pak Darwis. Setiap keluarga pasti pernah dibantu sama Pak Darwis, istilahnya, minimal Pak Darwis ini pernah nyingkirin batu di depan rumah tiap warga.”</p>

<p>Sambil mendengar pujian-pujian itu, mataku sesekali melirik Erde, tidak ada satupun kata yang keluar dari mulutnya.</p>

<p><em>Kenapa?</em></p>

<p>Jika ditelusuri secara mendalam, Erde terdiam sejak kami di ruang Pak Darwis. Sejak kami berc—</p>

<p><em>Tunggu...</em></p>

<p><em>Apa jangan-jangan... ciuman tadi membekas di ingatan Erde?</em></p>

<p><em>Dan sekarang dia merasa terlalu canggung?</em></p>

<p>***</p>

<p>Kami sampai di penginapan saat hari menginjak siang. Aku melanjutkan kegiatanku di depan laptop dan Erde pergi keluar—lari siang, katanya.</p>

<p><em>(Atau mungkin dia memang benar-benar merasa canggung karena ciuman tadi)</em></p>

<p>Aku menyandarkan punggungku. Menarik napas sejenak, hari ini pikiranku telah bekerja keras, terutama karena aku sedang dalam tekanan.</p>

<p><em>Jadi, dari mana aku harus memulai pengecekan ini?</em></p>

<p>Dalam seni rupa dasar, setiap titik saling terhubung membentuk garis, setiap garis membentuk bidang. Semakin banyak titik yang kutemukan, semakin banyak garis yang bisa kuhubungkan.</p>

<p>Dalam matematika sederhana, pola bilangan dapat ditemukan dengan menyusun sebanyak mungkin deretan angka. Jika aku ingin menemukan pola tertentu di sini, maka aku harus menyusun informasi sebanyak mungkin.</p>

<p>Jadi, dimulai dari manapun tidak masalah, yang penting adalah mengumpulkan informasi sebanyak mungkin.</p>

<p><em>Spyware</em> yang kupasang di komputer Pak Darwis bekerja dengan cara menduplikat layar komputer sasaran hingga aku bisa bebas menggerakkan kursor mereka sekaligus melihat pergerakan layar mereka saat komputernya digunakan. Hampir mirip seperti <em>dual monitor tools</em> biasa, tapi perangkat ini didesain khusus agar komputer target tidak dapat mendeteksi pergerakanku di layar komputer mereka.</p>

<p>Karena masih dalam pengembangan, mungkin kursor dan tampilan di layar komputer Pak Darwis akan mengalami <em>glitch</em> saat aku menggerakannya dari sini.</p>

<p>Mataku fokus memeriksa semua <em>file</em> di komputer milik Pak Darwis. Saat sarapan bersama pagi tadi, aku mencuri kesempatan untuk menanyakan jadwal kegiatan Pak Darwis, tidak ada jadwal yang mengharuskan ia untuk tetap berada di ruangan. Jadi hari ini aku bebas mengutak-atik komputernya.</p>

<p>Satu jam terlewati.</p>

<p>Lagi-lagi, tidak banyak hal yang membuatku terkesan.</p>

<p>Komputer milik Pak Darwis didominasi oleh foto-fotonya sebagai representasi Panti Asuhan Banda Rarangi di berbagai <em>event</em>, foto liburan tahunan dan laporan-laporan yang harus ia tandatangani. Ada berbagai laporan, tapi yang paling sering muncul adalah laporan perjalanan liburan anak-anak panti atau pelatihan pengurus.</p>

<p><em>Tidak menarik.</em></p>

<p>Tapi informasi tidak menarik ini harus tetap kuingat. Petunjuk sekecil apapun pasti berguna nantinya.</p>

<p>Ada dua hal yang kudapat dari pengecekan siang ini: dokumentasi kegiatan-kegiatan di panti dalam bentuk foto, video, dan laporan, serta video CCTV setahun belakangan (aku juga menemukan <em>file</em> CCTV tahun-tahun sebelumnya, tapi perlu beberapa saat untuk melakukan pemulihan karena dokumen CCTV otomatis terhapus tiap tahun).</p>

<p>Aku menyandarkan punggungku pada sandaran kursi, menghela napas panjang.</p>

<p>Dua menit istirahat.</p>

<p>Tanganku bergerak, beralih melihat file lain. Rekaman CCTV.</p>

<p>Mataku menyipit memperhatikan setiap video yang kuputar.</p>

<p>Selama setahun belakangan, panti asuhan ini memiliki banyak pengunjung. Cukup sulit mendeteksi pengunjungnya satu per satu, apalagi keterbatasan CCTV yang hanya berada di lorong-lorong gedung.</p>

<p>Ternyata CCTV ini tidak seberguna yang kuduga.</p>

<p>Ini agak sulit. Ingatanku memang bagus tapi menghapalkan muka yang hanya terlihat dari <em>angle</em> setinggi ini tidaklah mudah.</p>

<p><em>Setengah jam.</em></p>

<p><em>Satu jam.</em></p>

<p><em>Dua jam.</em></p>

<p>“Lo ngapain?”</p>

<p>Aku menoleh—<em>Aduh.</em> Punggungku sakit karena terdiam di posisi yang sama terlalu lama.</p>

<p>“Udah selesai larinya?” Tanyaku, meringis karena nyeri di punggung.</p>

<p>“Udah.” Erde meminum botol air mineral yang tersedia di meja. “Lo masih liatin isi komputer Pak Darwis?” Badannya didudukkan di sofa yang terletak tepat di belakangku.</p>

<p>Aku mengangguk, “ini lagi ngecek CCTV-nya.”</p>

<p>“Udah nemuin apa aja?” Erde menyeka keringatnya dengan handuk kecil di tangan.</p>

<p><em>Ganteng. Cantik. Bersinar. Seksi.</em></p>

<p>Wajah kecil Erde terlihat menawan dengan kilauan keringat di sekitar wajah dan lehernya.</p>

<p>Aku menimang sejenak apakah aku harus mengucapkan pikiranku atau menjawab pertanyaan Erde.</p>

<p>“Nemu orang ganteng.”</p>

<p><em>Oh. Yep. Shit. Cerdas.</em></p>

<p>Erde mengernyit. “Di CCTV?”</p>

<p>Aku menggigit bibir. Mungkin sebaiknya aku istirahat. “Ya...” Aku berdeham, “<em>btw</em>, tadi gue abis mikir,” cepat-cepat mengalihkan topik, aku memutar kursiku hingga menghadap Erde.</p>

<p>Dua alis Erde naik, <em>apa?</em></p>

<p>Aku menegak gelas air putihku yang tinggal setengah.</p>

<p><em>Saatnya menghubungkan titik yang baru ditemukan dan yang telah ada.</em></p>

<p>“Lo inget nggak Maru kemarin sempet bahas perubahan sistem pengelolaan panti Manggala? Dari tahun 2014, panti asuhan di Barat, Utara, sama Selatan dibubarin. Jadi sekarang panti di bawah Manggala cuma ada di Timur—di sini.” Aku membasahi tenggorokanku sekilas, “sampe tahun 2018, mereka cuma ada satu panti—Panti Asuhan Kasih Abadi. Tapi dari tahun 2019, panti di sini dipecah jadi tiga titik: Nilamani, Banda Rarangi, Salura.”</p>

<p>“Yang perlu kita garisbawahin di sini, pembubaran panti Manggala di tiga wilayah pasti bikin mereka rugi besar.”</p>

<p>Erde mengangguk perlahan, “jadi wilayah Timur satu-satunya harapan mereka buat terus lanjutin bisnis di bidang ini.”</p>

<p>Aku mengangguk cepat. “Bener!”</p>

<p>“Manggala udah terlanjur punya sindikat—nggak main-main, menurut gue mereka punya jaringan sampe luar negeri—kalo mereka matiin bisnis ini gitu aja, itu sama aja mereka ngancurin relasi dan reputasi yang udah mereka bangun bertahun-tahun.” Aku memajukan kursiku mendekati sofa Erde, “lo inget Maru pernah bilang, ada tiga pesaing Manggala di sektor perdagangan anak?”</p>

<p>Kepala Erde mengangguk lamban—terlihat ragu.</p>

<p>“Di grup, dia pernah ngomong gitu.” Imbuhku sebelum melanjutkan, “jadi Manggala pasti berusaha mati-matian buat tetep mertahanin reputasinya walaupun banyak panti yang harus ditutup.”</p>

<p>“Artinya, pemecahan panti jadi tiga titik di sini, pasti salah satu cara mereka buat ngembangin <em>bisnis</em> itu.”</p>

<p>Erde terdiam.</p>

<p>“Kemarin kita sempet bingung &#39;kan, kira-kira mana di antara tiga panti di sini yang ada di bawah Manggala?” Aku mencondongkan tubuhku, “menurut gue, semuanya.”</p>

<p>Tidak ada jawaban.</p>

<p>Mata Erde hanya menatapku kaku.</p>

<p>“Panti asuhan lo dul—eh <em>sorry</em>, kita bakal bahas panti asuhan lo dulu, nggak apa-apa?”</p>

<p>Erde membenarkan posisi duduknya, ia berdeham sambil tangannya mempersilakan aku melanjutkan penjelasan.</p>

<p>“Panti lo dulu jelas ada di bawah Manggala, mereka ngelakuin adopsi ilegal sama perdangan anak. Jaman udah banyak berubah, menurut gue mereka udah pasti ngubah modus operandinya. Mungkin nggak lagi sekasar dulu, kayak yang kita liat tadi—justru fasilitasnya <em>jor-joran</em>, bagus banget.”</p>

<p>“Yang bikin gue bingung,” aku memundurkan tubuhku, menyandarkan punggungku di sandaran kursi, “gimana modus operandi mereka sekarang? Gimana bisa pemecahan tiga panti jadi cara mereka buat ngembangin <em>bisnis</em>? Kalo satu panti aja kayak tadi yang kita liat—fasilitasnya mewah, sarana prasarana lengkap, ada banyak pegawai, ada banyak kegiatan—berarti biaya operasional satu panti aja bisa bikin keuangan mereka bengkak.”</p>

<p>Aku menatap Erde. “Fuji pasti bisa jawab ini, &#39;kan?”</p>

<p>“Hah?”</p>

<p>“Gue nggak terlalu paham tentang bisnis,” aku menelan ludah untuk membasahi tenggorokan, “tapi setau gue, buat nambah keuntungan, mereka harus nambah pembeli, atau nambah jumlah anak yang dijual, atau ngurangin modal mereka—salah satunya biaya operasional.”</p>

<p>Tanganku menyilang di depan dada. “Gimana cara mereka ngelakuin itu semua?” Aku terdiam sejenak sebelum melanjutkan, “serumit apa <em>sistem baru</em> mereka, sampe harus ditutupin serapi ini?”</p>

<p>“<em>Rapi?</em>“</p>

<p>Aku mengangguk. “Dari tadi nggak banyak yang gue temuin. Mungkin ini salah satu cara mereka buat nyembunyiin modus operandi biar nggak ditiru sama wilayah lain, karena antar wilayah selalu saingan satu sama lain.”</p>

<p>“Cuma ada laporan, foto, video, CCTV—semuanya biasa aja.”</p>

<p>Aku menyandarkan kepalaku hingga mendongak menatap langit-langit. Kepalaku terus mengulang semua informasi yang telah kutemukan tadi. “Berarti wilayah Timur harus ngasih performa bagus biar bisa terus dipercaya sampe sekarang.” Gumamku. “Kalo sampe mereka dikasih ijin mecah panti sosial jadi tiga, berarti keuntungan yang mereka hasilin jauh lebih besar dari biaya mecah pantinya.”</p>

<p>“Berarti mereka berhasil ngembangin bisnis mereka.” Aku membasahi bibirku yang terasa kering karena terlalu banyak bicara.</p>

<p>Satu menit berlalu, kami terdiam.</p>

<p>“Berarti jaringan mereka lebih gede dari sebelumnya.” Suara Erde akhirnya terdengar.</p>

<p>“Mereka <em>jauh</em> lebih gede dari sebelumnya.” Aku menegakkan posisi tubuhku, mengangguk setuju. Sebuah cahaya menembus kepalaku.</p>

<p>“Bisa jadi...” Aku mencondongkan tubuhku, “panti Manggala di wilayah Utara, Barat, Selatan, emang udah nggak ada, tapi mereka semua jadi satu di Timur. Dan semua panti di sini, nggak berdiri sendiri—tapi kerja sama buat nglengkapin satu sama lain.”</p>

<p>Erde kembali terdiam, kini ia menggigit bibirnya, terlihat gelisah.</p>

<p>“Kenapa?”</p>

<p>Matanya melirikku, seolah menimang beberapa hal. “Gue...” Kini pandangannya dijatuhkan ke lantai sebelum kembali melanjutkan, “lo inget kemarin Fuji bilang panti gue dulu kemungkinan ada di wilayah sini?”</p>

<p>Aku mengangguk. Fuji memang pernah mengatakan ada kemungkinan panti mereka dulu ada di Timur, karena Fuji merasa mereka berlari ke barat.</p>

<p>“Gue nggak yakin apa panti gue dulu emang ada di wilayah ini. Nggak ada satu tempat pun yang familier...” Erde menatapku, “semuanya asing banget, kayak gue baru pertama kesini.”</p>

<p><em>Oh... menarik.</em></p>

<p>Erde tidak sepenuhnya bodoh. Meski, ya... mungkin memang agak bodoh—secara daya pikir. Tapi Erde mampu mengendalikan tubuhnya dan memiliki insting yang bagus. Bahkan jika otaknya tidak mengingat di mana pantinya dulu berada, tapi aku yakin tubuhnya mampu mengingat medan yang dihadapinya dulu.</p>

<p>Jika Erde merasa asing dengan tempat ini, maka memang ada kemungkinan panti tadi bukanlah tempat tinggalnya dulu.</p>

<p>“Terus?”</p>

<p>Tidak ada jawaban.</p>

<p>Mataku mengerjap.</p>

<p><em>Kenapa... dia tidak menjawab?</em></p>

<p>Jantungku berdebar. Aku merasa Erde telah membuat keputusan yang bertentangan denganku selama ia terdiam.</p>

<p>“Terus kenapa kalo panti lo dulu nggak ada di sini? Panti lo dulu dikelola Manggala dan ada kemungkinan semua panti di sini juga di bawah Manggala, emang—”</p>

<p>Kini aku terdiam melihat tatapan Erde.</p>

<p>Napasku tertahan. “Lo masih mau ngelanjutin ini semua, &#39;kan?”</p>

<p>Lagi-lagi, Erde terdiam.</p>

<p><em>Oh... no.</em></p>

<p>Erde menghela napas berat. “Gue takut kalo mereka cuma panti biasa.”</p>

<p><em>Jadi... ini yang membuat Erde terdiam sejak tadi?</em></p>

<p>“Semua yang lo bilang tadi, masih kemungkinan... &#39;kan?”</p>

<p>Aku menggigit bibirku. Kepalaku sudah memahami maksud kalimat Erde. Hatiku mendesis sebal. Semua tadi bukan hanya kemungkinan biasa, itu semua kemungkinan besar yang didukung dengan logika yang—</p>

<p>“Belum tentu semua panti di sini ada hubungannya sama Manggala, bisa aja mereka berdiri sendiri dan dua panti lain jadi panti biasa buat sekadar reputasi ke masyarakat, bisa aja panti yang jadi jaringan ilegal Manggala ada di Nilamani, Salura, atau di sini.” Mata Erde menatapku lurus. “Berarti kita juga belum tau pasti apa mereka beneran jaringan ilegal Manggala. Lo sendiri liat &#39;kan tadi ada banyak panti di sana—panti petirahan, panti asuhan, bahkan ada Panti Wredha di depannya pas.”</p>

<p>Mataku menatapnya datar. <em>Terus?</em></p>

<p>Erde bangkit, berjalan beberapa langkah mendekati ranjang. “Gue nggak tahu keadaan panti yang lain gimana. Tapi panti yang kita kunjungin tadi bukan jaringan Manggala.”</p>

<p>Kini aku yang dibuat terdiam.</p>

<p>“Jadi ini yang bikin lo diem aja dari pagi?”</p>

<p>Erde tidak menjawab.</p>

<p><em>Yep. Inilah yang mengusik pikirannya.</em></p>

<p><em>Bagaimana bisa aku mengira dia terdiam karena ciuman kami siang tadi?</em></p>

<p><em>Mungkin dia sudah melupakannya.</em></p>

<p><em>Mungkin hanya aku yang memikirkannya.</em></p>

<p><em>Bagaimana bisa aku melupakan fakta bahwa kedatangan kami kemari hanyalah untuk berpura-pura?</em></p>

<p><em>Semua yang terjadi di hadapan orang lain hanyalah sandiwara.</em></p>

<p>“Denger.” Aku ikut berdiri. “Gue nggak tahu apa yang bikin lo jadi nggak mau nerusin—mungkin karena lo nganggep mereka baik, karena panti tadi jauh lebih bagus dari tempat lo dulu atau gimana, tapi ini langkah awal kita buat ngancurin Manggala. Ini hal paling deket yang bisa kita lakuin buat nyingkirin salah satu jaringan mereka.”</p>

<p>“Gue nggak—”</p>

<p>“Oke. Mungkin kita nggak tau apa panti yang baru aja kita datengin beneran jaringan Manggala atau bukan, Ketua Panti di sana juga keliatan baik dan nggak ada celah. Tapi kita bahkan belum selesai nyari tau tentang mereka, Fuji sama Maru juga belum ngasih tau apa-apa. Terlalu cepet buat mundur sekarang. Lo nggak bisa nyampurin perasaan lo ke sini.”</p>

<p>“Haya.”</p>

<p>“Oke, gue tahu lo ikut seneng atau terharu karena anak-anak tadi nggak semenderita elo dulu.” Aku mengabaikan Erde yang berusaha memotong ucapanku. “Mungkin liat anak panti di bawah yayasan yang dulu nyiksa lo dibaik-baikin bikin lo ngrasa kalo yayasan itu udah tobat dan itu cara mereka nebus kesalahannya buat lo, Fuji, sama temen-temen lo dulu.”</p>

<p>“Haya.” Aku dapat mendengar Erde menggertakkan giginya.</p>

<p>“Ohh!” Aku menaikkan dua alisku, “bisa aja lo bukan mau mundur karena yakin panti itu beneran <em>baik</em>, bisa aja lo takut eskpektasi lo yang tinggi itu ancur. Lo takut kalo ternyata lo masih harus ngadepin mereka karena mereka belum tobat.” Aku memicingkan mataku. “Lo cuma pengecut yang pengen kabur dari mereka!”</p>

<p><em>Grep!</em></p>

<p>Cengkeraman Erde pada kerah kaosku menghentikan ucapanku.</p>

<p>“Gue nggak peduli mereka baik atau enggak.” Kedua mata Erde memandangku lurus , terlihat jelas dia tersinggung dengan ucapanku tadi, “anak-anak di sana hidup layak. Mereka punya kasur empuk, baju anget, temen, keluarga.” Suaranya bergetar. “Ada orang yang mikirin masa depan mereka, bahkan mereka nggak saingan satu sama lain cuma buat makan karena ada orang yang masakin mereka tiap hari!”</p>

<p>“Kalo jaringan Manggala beneran ada salah satu di antara 3 panti yang lagi kita selidikin—atau dua, atau malah tiga-tiganya,” suara Erde masih mendominasi percakapan, “dan kita berusaha ngancurin mereka...” Ia bersusah payah melanjutkan ucapannya, “... anak-anak tadi juga bakal kena!” Erde menelan ludah. “Anak-anak itu juga bakalan ancur!”</p>

<p>“Lo—”</p>

<p>“Dunia luar belum tentu lebih baik dari kehidupan di panti tadi. Belum tentu pas mereka keluar dari sana, ada orang yang bakal mikirin ke depannya mereka bakal jadi apa, belum tentu ada yang masakin mereka—<em>boro-boro</em> masakin, belum tentu mereka bisa makan!”</p>

<p>Baru saja aku akan menjawab, Erde lebih dulu memotong, “lo mungkin nggak tau rasanya mau mati cuma buat tetep hidup!” Tangannya menunjukku. “Tapi jangan sampe lo biarin orang lain ngrasain itu cuma karena lo nggak tau rasanya! Lo terlalu arogan karena hidup enak!”</p>

<p><em>Oke. Cukup.</em></p>

<p>Aku mencekal pergelangan tangan Erde. “<em>Hidup enak?!</em>“</p>

<p><em>Ini adalah limitku.</em></p>

<p>Aku tidak percaya Erde tidak tahu bahwa kata <em>hidup enak</em> yang dilontarkan pada orang lain adalah hal yang menyinggung dan pantang dilakukan. Jika hidupnya memang sesulit itu, seharusnya ia tahu aku tidak akan berada di hadapannya jika hidupku memang benar-benar <em>enak</em>, aku justru akan berada di hadapan orang lain yang hidupnya sama enaknya denganku!</p>

<p>Darahku mendidih.</p>

<p>“Gue pernah ngubur jasad adek gue di kebun orang!” Rahangku mengeras. “Gue liat keluarga gue satu-satu mati di depan mata gue! Kalo lo mau ceramah tentang <em>mau mati</em> atau <em>hidup enak</em>, jangan ke gue!” Seruku geram, ada sesuatu yang mengganjal di tenggorokanku.</p>

<p>Cengekaraman tangan Erde pada kerahku melemah.</p>

<p>“Nggak usah ngrasa hidup lo yang paling menderita dan orang lain hidupnya enak.” Aku menghempas tangan Erde. “Nggak ada orang yang hidupnya enak di dunia ini. Kalo gue bisa milih nggak lahir—” Kalimatku tercekat di tenggorokan. Aku tidak bisa mengucapkannya, akhirnya kalimat itu menguap menjadi helaan napas.</p>

<p>Kakiku bersiap meninggalkan Erde.</p>

<p>“Oh, satu lagi.” Aku melirik Erde, “lo mungkin nggak tau rasanya dikasih rasa aman yang ternyata palsu . Orang-orang di sekitar lo bilang semuanya bakal baik-baik aja padahal lo lagi jalan ke jurang.”</p>

<p>Aku tertawa getir. “Dari awal lo udah hidup di jurang, lo berusaha buat bangkit dari situ seumur hidup. Dan lo pikir lo orang paling menderita karena titik awal lo serendah itu. Tapi gimana orang-orang yang titik awalnya di langit terus berakhir di jurang? Lo pikir jatuh itu nggak sakit?”</p>

<p>Sebelum kembali ke meja kerjaku, aku dapat melihat mata Erde yang berkilat.</p>
]]></content:encoded>
      <guid>https://bulanjuni.writeas.com/banda-rarangi</guid>
      <pubDate>Sat, 06 May 2023 22:14:07 +0000</pubDate>
    </item>
    <item>
      <title>Mata Pisau</title>
      <link>https://bulanjuni.writeas.com/mata-pisau?pk_campaign=rss-feed</link>
      <description>&lt;![CDATA[  POV: MAHAMERU&#xA;  cw /tw // harsh words ; mention of murder ; crime ; mention of violence act ; mention of drug ; mention of suicide ; mention of death ; family death&#xA;&#xA;Just to come clean, aku memang pernah tinggal di Panti Asuhan Kasih Abadi. &#xA;&#xA;Untuk menceritakan tentang panti asuhan itu, mungkin aku harus sedikit mengintip di tahun 1998. !--more--&#xA;&#xA;Ibu meninggal setelah melahirkanku. Sejauh yang kuingat, aku tinggal bersama Bapak.&#xA;&#xA;Bapak adalah seorang buruh pabrik di siang hari dan seorang petarung jalanan di malam hari. Namanya cukup tersohor. Setiap Bapak muncul, orang-orang langsung memasang taruhannya untuk Bapak. &#xA;&#xA;Sayangnya, uang Bapak banyak terkuras untuk membayar biaya persalinan dan pemakaman Ibu. Masalah berikutnya muncul karena aku masih bayi. Bapak harus bekerja lebih keras tapi juga harus menjagaku. Masalah berikutnya (lagi), adalah adanya krisis keuangan yang menyebabkan Bapak diberhentikan dari pabrik. &#xA;&#xA;Namun yang mengejutkan, di tengah krisis keuangan yang mencaruk-marukkan beberapa negara, klub tempat Bapak bertarung justru semakin ramai. &#xA;&#xA;Ternyata, klub itu ramai bukan hanya karena pertarungan ecek-ecek yang sering dilaksanakan di sana. Ada transaksi gelap yang dilakukan tiap malam. Pada masa itulah Bapak bertemu dengan salah seorang pengedar yang sedang melakukan transaksi sabu-sabu.&#xA;&#xA;Bapak tertarik, apalagi setelah berbincang dengan si pengedar, keuntungan yang didapat cukup menggiurkan. &#xA;&#xA;Waktu berlalu, Bapak menjadi seorang pengedar. Awalnya hanya ditawarkan pada teman atau saudara dekat, hanya butuh dua tahun pengalaman memberanikan Bapak untuk menawarkan sabu pada pengunjung klub. &#xA;&#xA;Keuntungannya? Luar biasa. Apalagi semenjak pihak kepolisian galak memberantas peredaran obat-obatan terlarang di tahun 2005. Sabu yang awalnya seharga paling mahal ratusan ribu, menjadi jutaan per gram. 1,5 juta di tahun itu setara dua kali lipat upah minimum ibu kota. &#xA;&#xA;Mudah bagi Bapak untuk mencari pelanggan di klub-nya karena Bapak adalah petarung tersohor. Reputasinya bagus. Lama-kelamaan, semua pengunjung klub akhirnya membeli sabu di Bapak. &#xA;&#xA;Pengedar sebelumnya--yang ternyata berasal dari organisasiku sekarang--merasa pasarnya direbut. Bapak diberi peringatan keras. Tapi Bapak adalah seorang petarung juara bertahan, apa yang Bapak takutkan? Tidak ada. &#xA;&#xA;Akhirnya, Bapak mengabaikan peringatan itu. Peringatan kedua, ketiga, dan keempat datang. Bapak tetap abai. Peringatan kelima akhirnya datang. Bergerombol dan bersenjata. Bapak dibunuh. &#xA;&#xA;Usiaku 8 tahun.&#xA;&#xA;Warga menemukan mayat Bapak di pinggir sungai. Kabar tentang Bapak yang dibunuh oleh pengedar dari organisasiku menyebar. Keadaan makin kacau karena pengedar itu dinilai membangkang dari organisasi, dia tidak melapor atau meminta persetujuan untuk membunuh, membawa pasukan pula. Agen itu dicampakkan oleh organisasi, mendekam di penjara. Kasus ditutup. &#xA;&#xA;Tapi masih ada aku. &#xA;&#xA;Entah bagaimana, organisasi itu mendengar tentangku. Aku ingat saat itu seorang lelaki tinggi besar dengan jas hitam datang ke rumah. Dia menjelaskan bahwa mulai sekarang, aku akan diasuh oleh mereka. &#xA;&#xA;Untuk pertama kalinya, aku mendengar nama organisasi itu.&#xA;&#xA;Manggala.&#xA;&#xA;Aku mulai tinggal di panti asuhan. Nah, aku tidak bohong, kan?&#xA;&#xA;Bedanya, aku mendapat perlakuan istimewa. Tugasku adalah mengawasi anak asuh lain, memastikan mereka melaksanakan pekerjaannya dan melaporkan pada penjaga jika ada yang berusaha kabur. &#xA;&#xA;Meskipun ingatanku sudah agak kabur, tapi aku tahu semua hal yang terjadi di panti. Penyiksaan, pemukulan, pemaksaan. Semuanya. &#xA;&#xA;In my defense, I was a child. &#xA;&#xA;Aku tidak tahu di pihak mana aku harus berada. Di pikiranku, Manggala adalah pihak yang telah menolongku saat Bapak meninggal. &#xA;&#xA;Di satu sisi, aku mual tiap melihat anak-anak itu memakan makanan basi dan dipukuli. Aku selalu berpapasan dengan anak-anak itu di lorong. Tubuh penuh lebam, kaos compang-camping, bibir kering, kuku hitam, wajah kusam, tulang menonjol. Saking mualnya, aku lebih suka mengawasi mereka dari jauh. &#xA;&#xA;Don&#39;t get me wrong.&#xA;&#xA;Rasa mual itu untuk diriku sendiri. Semuanya terasa lebih memuakkan karena aku bisa tetap makan enak dan dibiarkan melakukan apapun sesukaku--yang penting pekerjaanku mengawasi mereka beres. &#xA;&#xA;Dua tahun kemudian, aku mendapat uluran tangan untuk kedua kalinya. Dari Sejati, yang kemudian aku panggil Bang Jati. Kami bertemu saat dia mengunjungi panti, saat itu dia belum lama bergabung dengan Manggala. &#xA;&#xA;Bang Jati membawaku pergi. Aku meninggalkan semua kenangan buruk di panti. &#xA;&#xA;But that was just the beginning.&#xA;&#xA;Sejati merawat, menyekolahkan, dan melatihku. Tugasku saat itu hanya dua, sekolah dan berlatih. Hariku dimulai pukul empat pagi. Berlatih. Sekolah. Berlatih. Mengerjakan PR. Tidur. &#xA;&#xA;Latihanku dibagi dua sesi. Pagi dan sore. Pagi digunakan untuk melatih stamina--kebanyakan dilakukan dengan berlari. Sedangkan sore digunakan untuk melatih keterampilan bela diri. Ada beberapa teknik bela diri yang diajarkan oleh Sejati, tapi aku pribadi lebih menyukai wing chun. Gerakannya tangkas, cepat, sederhana, sekaligus kompleks. &#xA;&#xA;Lambat laun aku mulai beradaptasi dan menyukai rutinitasku bersama Bang Jati. &#xA;&#xA;Kami tinggal di rumah dua lantai yang terletak di pinggiran kota. Rumah kami menghadap rel kereta api, di seberangnya lagi adalah sawah milik warga sekitar. Pada waktu tertentu, bising kereta menembus telingaku. Pada waktu tertentu juga, aku dan Bang Jati menikmati kebisingan dan ketenangan di rumah itu.&#xA;&#xA;Tiap pagi kami akan berlari bersama lalu menikmati teh di balkon rumah. Bang Jati adalah orang yang berpengetahuan luas, dia mengetahui banyak hal--termasuk tentang kisah Bapak. Aku bisa menceritakan kisah itu dengan lancar karena mendengarnya langsung dari Bang Jati--padahal saat insiden Bapak terjadi, Bang Jati belum bergabung dengan Manggala.&#xA;&#xA;Sore, saat pulang sekolah, dia akan menanyakan hariku, memastikan pekerjaan rumah apa yang harus kukerjakan dan mengestimasi berapa lama waktu yang tersisa untuk berlatih. &#xA;&#xA;Kadang, saat malam, aku harus berlatih sendiri. Bang Jati sering bepergian, bagaimanapun, dia adalah anggota Manggala. Ketika pulang, Bang Jati akan membawa berbagai oleh-oleh--entah itu makanan, baju, buku, mainan, atau pulpen. Dia membelikan apapun yang dikiranya tidak ada di kampung kami. &#xA;&#xA;Bang Jati adalah orang yang cukup religius. Dia selalu mengajarkanku untuk berdoa dan bersyukur. Setiap napas yang kami hirup, darah yang mengalir, jantung yang berdetak, angin yang berhembus, makanan yang kami telan--setiap hal yang kami lihat dan kami alami adalah karunia Tuhan. &#xA;&#xA;Menjadi yatim piatu dan tidak punya keluarga adalah sebuah ruang gelap tidak berujung. Kemanapun aku pergi, tidak ada lagi cahaya yang dapat menerangi jalanku. Aku menyadarinya karena sering mencuri dengar teman-temanku yang bercerita tentang keluarganya. Anak seusiaku, tidak seharusnya tumbuh tanpa keluarga. &#xA;&#xA;Tapi Bang Jati berhasil mengisi semua kekosongan itu. &#xA;&#xA;Aku merasa cukup. Aku berseyukur.&#xA;&#xA;Namun, mungkin aku terlalu naif--manusia tidak boleh mudah merasa cukup,mengira kehidupanku akan terus berjalan senormal itu. Aku bahkan tidak menyadari latihanku setiap hari dilakukan bukan untuk bersenang-senang. Ada sesuatu yang menantiku di ujung jalan. &#xA;&#xA;Sesuatu itu datang empat tahun kemudian, saat usiaku 14 tahun. Aku baru lulus SMP. &#xA;&#xA;Sesosok lelaki berbadan tegap dan gempal menjemputku, aku hanya ingat Bang Jati mengatakan padanya bahwa aku telah siap.&#xA;&#xA;Setelahnya, aku dibawa pergi. Perpisahan itu singkat dan menyedihkan. Bang Jati meremas pundakku. Senyum hangatnya melepasku pergi.&#xA;&#xA;Tanpa Bang Jati, aku teringat bahwa aku hanyalah anak sebatang kara tanpa siapapun. Aku teringat posisiku. Aku disadarkan oleh keberadaanku.&#xA;&#xA;Tapi sebagai anak usia belasan yang tidak punya banyak pilihan, aku tetap menjalani apa yang telah digariskan padaku.&#xA;&#xA;Pelatihan kedua dimulai. Kali ini, aku dilatih langsung oleh eksekutor Manggala. &#xA;&#xA;Mata Pisau.&#xA;&#xA;Itulah yang menungguku di ujung jalan. Aku dibentuk sejak kecil untuk menjadi Mata Pisau Manggala--boleh jadi karena reputasi Bapak yang bagus, mungkin mereka berpikir bahwa darah petarung mengalir di tubuhku. &#xA;&#xA;Aku tidak langsung dijelaskan secara mendetail tugas Mata Pisau. Mereka memberiku tempat tidur dan makan seadanya. &#xA;&#xA;Eksekutor (slash Mata Pisau) ini tinggal di tengah hutan besar. Uniknya, jika dilihat secara sekilas, markas Mata Pisau tidak terlihat karena bangunannya berada di bawah tanah. &#xA;&#xA;Dari luar, siapapun yang lewat hanya akan melihat sebuah lahan kosong membentang di tengah rimbunnya hutan. Namun saat ditelusuri, terdapat tangga tersembunyi di samping lahan, tangga turun, membawa pada sebuah pintu untuk memasuki basemen. Di situlah tempat tinggal Mata Pisau.&#xA;&#xA;Basemen Mata Pisau dibagi menjadi empat bagian. Bagian tempat tidur, bagian ruang rapat, bagian kamar mandi, dan bagian dapur. &#xA;&#xA;Mata Pisau lebih banyak melakukan pekerjaannya di malam hari. Aku bersekolah saat siang di salah satu sekolah terdekat yang jaraknya 15km. &#xA;&#xA;Saat malam, Mata Pisau akan berkumpul di satu ruangan yang lebih mirip penjara basemen--alias ruang rapat. Terdapat meja besar di tengah dan bilik telepon di ujung ruangan. Setiap malam ada satu orang yang berjaga di samping telepon. &#xA;&#xA;Sisanya yang berkumpul di tengah akan dibagi menjadi dua kelompok. Satu kelompok akan membahas pekerjaan yang sebelumnya diberikan pada mereka, satu kelompok adalah kelompok yang tidak sedang bertugas--berjaga menerima perintah dari si penjaga telepon.&#xA;&#xA;Beberapa hari mengamati, aku menyadari bahwa telepon itu adalah alat komunikasi yang digunakan untuk menerima pekerjaan singkat--pekerjaan yang harus dilakukan malam itu juga. Biasanya pekerjaan yang diberikan melalui telepon adalah hal sederhana seperti membuntuti, menggertak, atau menjadi pengawal tambahan. Target untuk pekerjaan singkat ini adalah orang biasa, jadi tidak perlu strategi khusus untuk menanganinya. &#xA;&#xA;Sementara kelompok lain yang berada di meja tengah biasanya membahas tentang pekerjaan jangka panjang. Tugas itulah yang--menurutku--cukup berat. Membunuh, merampok, dan menggertak. Bedanya, kelompok ini memerlukan strategi khusus karena target mereka berasal dari kalangan atas atau memiliki keamanan yang sulit ditembus. &#xA;&#xA;Sama seperti namanya, tugas Mata Pisau hanya dua. Menyerang dan melindungi. Yang paling penting, seorang Mata Pisau harus selalu siap diarahkan pada siapapun.&#xA;&#xA;Selain mengamati cara kerja Mata Pisau, di pelatihan kedua aku menerima pelatihan menggunakan senjata. Ada berbagai senjata yang diberikan, mulai dari senjata tajam, senjata peledak, senjata pembakar hingga senjata api. &#xA;&#xA;Latihan dasar yang harus diikuti adalah penggunaan senjata api. Kami berlatih di lahan kosong yang terletak di atas basemen. &#xA;&#xA;Setiap orang harus berbekal senjata api dan satu senjata tajam. Kebanyakan orang-orang di Mata Pisau lebih memilih senjata yang kecil dan mematikan, praktis--seperti belati.&#xA;&#xA;Aku menyukai dua senjata di sana. Balisong (atau dikenal dengan butterfly knife) dan kerambit (pisau dua sisi berbentuk bulan sabit). Membutuhkan banyak waktu untuk mempelajari dua senjata itu, tapi aku menikmati prosesnya. Tapi hanya soal waktu, aku akan mengetahui mengapa Mata Pisau yang lain menyukai belati.&#xA;&#xA;Setahun berlatih, mereka mengijinkanku (dan peserta baru lain) untuk mengamati eksekusi.&#xA;&#xA;Di sinilah semua kengerian dan mimpi buruk dalam hidupku dimulai. &#xA;&#xA;Aku telah sering mendengar mereka berdiskusi dan membahas tentang pembunuhan, penggertakan, penyiksaan dan sejenisnya. Tapi melihatnya langsung tetap tidak mudah. Aku mual. Pusing. Bahkan demam saat pertama kali menyaksikan seorang mata pisau menembuskan pelurunya tepat di kepala seorang wanita berusia 60-an. &#xA;&#xA;Dan ternyata itulah pelatihan ketigaku. &#xA;&#xA;Berlatih membunuh.&#xA;&#xA;Semakin aku mual saat mereka melaksanakan eksekusi, aku akan semakin diikutkan. Setiap ekskusi, aku diharuskan melihat semuanya, tanpa berbalik badan atau menutup mata. &#xA;&#xA;Ada tiga orang lain yang sedang dilatih saat itu dan aku adalah urutan terakhir di pelatihan membunuh ini. Setelah berhasil mengontrol mental, kami diharuskan melatih tangan kami karena--ternyata--mengacungkan senjata pada seseorang (with intention to kill) bukanlah hal yang mudah. &#xA;&#xA;Meskipun aku menyukai balisong dan kerambit, tapi dua senjata itu tidak efisien untuk membunuh orang--terutama karena kemampuanku yang belum seberapa. Akhirnya, aku memilih belati sebagai senjata tajam pribadiku. &#xA;&#xA;Seperti sebelum-sebelumnya, fase pelatihanku berjalan lambat. Tapi karena sistem pelatihan mandiri di Mata Pisau, tidak ada yang mengeluh atau memprotesku. &#xA;&#xA;Tidak ada guru. Tidak ada murid. Semuanya berlatih bersama, bertanggung jawab atas progres masing-masing. Mengutip kata bos kami saat itu, yang penting kerjaan beres.&#xA;&#xA;Dua tahun kemudian, setelah lulus SMA, aku mendapat pekerjaan pertamaku. &#xA;&#xA;Pekerjaan singkat. Membunuh.&#xA;&#xA;Satu hal tentang para Mata Pisau di sini, kami tidak pernah tahu alasan target kami menjadi target kami. Yang jelas, jika Manggala menganggap orang itu harus mati, maka dia harus mati. Dan Mata Pisau-lah yang mewujudkannya. &#xA;&#xA;Target pertamaku adalah lelaki biasa usia 40-an. Di pesan deksripsi pekerjaanku hanya tertulis bahwa dia harus mati, maka aku menyelinap ke rumahnya dan membunuhnya. Karena itu adalah pekerjaan singkat yang dilakukan sendiri, maka aku juga harus membereskannya sendiri. Kematiannya aku palsukan sebagai bunuh diri. &#xA;&#xA;Sejak pekerjaan pertamaku selesai. Pekerjaan singkat lain terus berdatangan. &#xA;&#xA;Target keduaku adalah seorang lelaki paruh baya. Di pesan deskripsi pekerjaanku tertulis bahwa dia harus mati dalam kebakaran rumahnya, maka tugasku adalah membunuh lalu membakar rumahnya. &#xA;&#xA;Target ketigaku adalah seorang wanita usia 20-an. Di pesan deskripsi pekerjaanku tertulis bahwa dia harus menghilang, maka tugasku adalah membunuh lalu melenyapkan tubuhnya. &#xA;&#xA;Selama tiga tahun, aku terus melakukannya. Berulang. Beberapa kali aku melakukan pekerjaan jangka panjang, tapi aku lebih sering melakukan pekerjaan singkat--sendiri. Konon, pekerjaan singkat hanya diberikan pada urutan terbawah. Aku tidak masalah.&#xA;&#xA;Sejak pergantian presiden terbaru di tahun 2018, pekerjaan Mata Pisau mulai kabur. Kami tidak lagi membunuh orang. Cara itu ditinggalkan. Membunuh lebih kompleks. Perkembangan berita di media sosial cepat. Pengawasan masyarakat ketat. Melenyapkan tubuh tidak semudah dulu. &#xA;&#xA;Mata Pisau mulai berganti haluan. Kami lebih fokus melakukan pengintaian dan penggertakan. Pekerjaanku menjadi lebih longgar. &#xA;&#xA;Saat itu hari Sabtu yang terik, aku sedang duduk di luar basemen, menunggu jam latihan dimulai. &#xA;&#xA;Sudah enam tahun aku tinggal di basemen. &#xA;&#xA;Mataku mengamati daun-daun kecoklatan yang jatuh dari pepohonan. &#xA;&#xA;&#34;Mahameru.&#34;&#xA;&#xA;Aku menoleh. &#xA;&#xA;&#34;Bang Jati!&#34; &#xA;&#xA;Kami bertemu lagi. &#34;Kirain gue nggak bakal ketemu lo lagi, Bang.&#34;&#xA;&#xA;&#34;Well, here I am.&#34; Dia tersenyum, khas senyum hangatnya. &#xA;&#xA;Kerutan di samping mata Bang Jatu menyadarkanku bahwa tidak ada yang bisa melawan waktu saat ia hanya ingin bergerak maju. Bang Jati tergulung penuaan.&#xA;&#xA;&#34;You grew well, Man.&#34; Bang Jati menepuk punggungku. &#xA;&#xA;I know.&#xA;&#xA;Sama sepertinya, aku juga tidak bisa melawan waktu. Banyak hal yang terjadi tujuh tahun belakangan, aku bukan lagi anak belasan tahun yang mengerjakan PR tiap malam di rumahnya. &#xA;&#xA;Aku membalas senyumnya. Kami berbincang selama dua jam. Bang Jati bercerita tentang kepindahannya ke wilayah Selatan. Responku tidak banyak. &#xA;&#xA;Kami tinggal di tengah hutan tanpa alat komunikasi selain pager (penyeranta) yang kami gunakan selama menjalankan pekerjaan dan telepon rumah yang berada di ruang rapat. &#xA;&#xA;Hidupku hanya seputar hutan-basemen-mobil-lokasi target. Aku juga bersekolah di desa yang paling dekat dengan hutan, jumlah siswa di sana tidak lebih dari dua puluh. Tidak banyak yang bisa kulakukan untuk memberi respon selain anggukan dan ucapan selamat, Bang.&#xA;&#xA;Bang Jati memahami maksud ucapanku. Mungkin dia juga tidak paham wilayah Selatan yang dimaksudnya. Dia terkekeh pelan. &#34;Gimana rasanya jadi Mata Pisau?&#34;&#xA;&#xA;Lagi-lagi, responku tidak banyak. Aku justru terpikir untuk menanyakan hal lain--selagi kami membahas tentang organisasi.&#xA;&#xA;&#34;Bang, sebenernya kita ini ngapain?&#34;&#xA;&#xA;Dia terdiam selama beberapa saat. Mungkin khawatir karena pertanyaanku terlalu dalam atau memang jawabannya sudah hanyut tenggelam.&#xA;&#xA;Alih-alih memberiku jawaban, Bang Jati justru memberiku uluran tangan berupa pertanyaan, &#34;mau ikut gue ke Selatan?&#34;&#xA;&#xA;Tentu aku menerima uluran tangannya, dulu dia juga yang memberiku uluran tangan dan membebaskan-ku dari panti asuhan. Mungkin kali ini dia juga akan membawaku ke tempat yang lebih baik. &#xA;&#xA;Seperti uluran tangan, ucapan Bang Jati dapat kupegang. &#xA;&#xA;Aku pindah ke wilayah Selatan. Wilayah asing yang bahkan saat itu tidak kuketahui apakah namanya benar-benar Selatan atau letaknya ada di selatan. &#xA;&#xA;Bang Jati tinggal di apartemen mewah. Untuk pertama kalinya, aku melihat dunia luar yang gemerlap. Manusia yang pekerjaanya tidak saling membunuh dan tidak tinggal di bawah tanah. &#xA;&#xA;Saat itu Bang Jati menjelaskan sedikit banyak tentang Manggala. &#xA;&#xA;Organisasi ini dibagi menjadi empat wilayah yang tersebar di seluruh wilayah Nusantara. &#xA;&#xA;Utara. Selatan. Timur. Barat.&#xA;&#xA;Setiap wilayah memiliki eksekutor yang bertugas menjaga perusahaan-perusahaan Mandala Group. Aku tidak terlalu paham tapi setiap perusahaan di Mandala Group memiliki dua sisi. &#xA;&#xA;Sisi pertama adalah sisi yang ditampilkan untuk publik, sisi Mandala. Sementara sisi yang lain adalah sisi terbatas yang hanya dapat dilihat oleh orang tertentu, sisi Manggala.&#xA;&#xA;Wilayah Selatan mencakup Neo Central yang bergerak di bidang keuangan, Neo Nusantara Utama yang bergerak di bidang pendidikan, dan Citra Neo Pratama yang bergerak di bidang properti. Di sisi Manggala, ketiganya bertugas mengelola dan membersihkan uang. &#xA;&#xA;Tugasku selama menjadi Mata Pisau di wilayah Selatan masih tetap sama--menerima dan melaksanakan perintah. Hanya saja, berbeda dengan wilayah sebelumnya--yang kemudian kuketahui sebagai wilayah Utara--wilayah ini tidak terlalu sibuk dan tugas yang diberikan lebih transparan. Kami tidak menerima telepon untuk mendapat pekerjaan. &#xA;&#xA;Semuanya satu komando. Dari Bang Jati. &#xA;&#xA;Bang Jati juga menjelaskan peran masing-masing wilayah untuk Manggala. (Aku tidak terlalu ingat semuanya, tapi aku selalu bisa bertanya pada Bang Jati). &#xA;&#xA;Wilayah Selatan adalah wilayah yang paling bersih. Mungkin karena wilayah ini mencakup pulau-pulau populasi padat, jadi semua pihak di sini harus lebih berhati-hati. Tidak banyak sisi Manggala yang harus kami lindungi di sini. Hanya saja, tugas kami tetap penting karena semua aliran dana yang masuk dibersihkan di wilayah Selatan.&#xA;&#xA;Pemimpin Manggala disebut sebagai Kepala. Ketua eksekutor disebut sebagai leher. &#xA;&#xA;Kemungkinan, sebutan leher ini muncul karena tugas utama ketua eksekutor adalah melakukan segala cara untuk menyangga, melindungi, dan menjunjung Kepala. Ketua eksekutor adalah ketua para eksekutor--atau Mata Pisau. Para leher ini tidak menjalankan pekerjaan seperti mata pisau lain, mereka hanya perlu memastikan Mandala Group yang berada di bawah wilayah mereka baik-baik saja. &#xA;&#xA;Pada tahun pertama aku mengikuti Bang Jati, dia memintaku mendaftar ke Universitas Neo Pratama. Kampus di bawah yayasan kami. Bang Jati menjabat sebagai dosen di sana. Itulah caranya melindungi Neo Nusantara.&#xA;&#xA;Aku tidak keberatan. Selama ini tidak ada masalah dengan pendidikanku, sekolah bukan tantangan besar. Yang menjadi tantangan adalah ucapan Bang Jati setelahnya, &#34;abis lulus lo bakal disiapin buat jadi leher Manggala.&#34; &#xA;&#xA;Holy Moly.&#xA;&#xA;&#34;Oh, jadi itu yang bikin lo nggak lulus-lulus?&#34; &#xA;&#xA;Tanggapan Haya menjeda sesi kilas balik-ku.&#xA;&#xA;Yeah. Tidak salah, sih. Aku memang sengaja menunda kelulusanku karena aku tidak mau disiapkan menjadi leher Manggala. Jangankan disiapkan menjadi leher, kembali ke tugasku sebagai Mata Pisau saja aku enggan. (Plus, skripsi memang susah).&#xA;&#xA;&#34;Terus,&#34; Erde yang sejak tadi diam kini mulai bersuara, dari raut wajahnya, aku dapat menyimpulkan dia terkejut dan bingung--tapi mati-matian menahan kerutan di dahinya agar terlihat tenang, &#34;siapa yang ngejar gue sama Fuji?&#34;&#xA;&#xA;&#34;Yang ngejar anak panti yang kabur?&#34; Tanyaku, memastikan.&#xA;&#xA;Erde mengangguk. &#xA;&#xA;&#34;Kalo lo masih di wilayah panti, lo dikejar sama penjaga panti. Kalo udah di luar wilayah panti, lo dikejar sama Mata Pisau.&#34; Terangku. &#xA;&#xA;Tidak ada jawaban. &#xA;&#xA;Aku duduk bersebrangan dengan Haya, Erde, dan Fuji. Suara kipas angin yang berputar mengisi sunyi ruangan. Walaupun angin kipasnya mengenaiku, bagian kerahku tetap terasa panas. &#xA;&#xA;Sebuah helaan napas keluar dari mulutku. &#xA;&#xA;&#34;Lo dulu di panti wilayah mana?&#34; Tanyaku akhirnya.&#xA;&#xA;Sekali lagi, hening. Tidak ada yang menjawab pertanyaanku. &#xA;&#xA;Sebenarnya, wajar jika mereka tidak tahu mereka berasal dari panti mana. Aku tinggal di wilayah Utara selama beberapa tahun dan baru baru tahu kalau tempat itu adalah wilayah Utara setelah dijelaskan oleh Bang Jati.&#xA;&#xA;&#34;Timur.&#34; Fuji angkat suara.&#xA;&#xA;Semua mata mengarah pada Fuji.&#xA;&#xA;&#34;Tau dari mana?&#34; Sambar Erde cepat.&#xA;&#xA;Fuji menoleh pada Erde. &#34;Kita lari ke barat.&#34;&#xA;&#xA;Aku mengangguk pelan. Sepertinya Fuji memiliki kecerdasan praktis. Tidak semua orang tahu kemana arah mereka berlari. Apalagi saat sedang dikejar. &#xA;&#xA;Kalau tidak salah ingat, wilayah timur hanya memiliki tiga sektor sisi Manggala: panti asuhan; gudang dan penjualan obat-obatan terlarang.&#xA;&#xA;Siapa leher dari Timur?&#xA;&#xA;Dahiku mengernyit, berusaha mengais ingatan yang sudah hampir lima tahun kupendam--Yeah, sudah lima tahun aku menjadi mahasiswa dan mengulur waktu kelulusan untuk menghindari persiapan menjadi leher Manggala. &#xA;&#xA;Aku tidak terlalu ingat siapa leher dari Timur, mungkin nanti akan aku tanyakan pada Bang Jati.  &#xA;&#xA;&#34;Oke, anggep cerita lo bener.&#34; Erde memajukan tubuhnya, kedua sikunya diistirahatkan pada lutut, &#34;terus lo mau kita ngapain? Bantuin lo kabur dari  Mata Pisau di sini? Dengan kondisi gue juga dikejar Mata Pisau dari Timur? Lo pikir kita bisa?&#34; Dua alisnya terangkat, seolah permintaanku adalah hal paling konyol di dunia. &#xA;&#xA;Padahal, permintaanku adalah permintaan paling masuk akal yang pernah kubuat seumur hidupku. &#xA;&#xA;Aku tidak tahu di sebelah mana penjelasanku sulit dipahami. Aku bahkan memberikan detail pelatihan tiga tahap Mata Pisau dan dia masih merasa kabur dari Mata Pisau bukanlah hal yang luar biasa?&#xA;&#xA;&#34;Nggak gampang kabur dari Mata Pisau!&#34; Seruku tidak terima. &#34;Asal lo tau, ngejar orang yang kabur dari panti--kayak lo--bukan cuma pekerjaan jangka panjang buat eksekutor--kayak gue, it&#39;s a fucking permanent project.&#34; &#xA;&#xA;Tidak ada jawaban. &#xA;&#xA;Suasana menjadi lebih hening dari sebelumnya. Bahkan aku bisa mendengar hembusan angin yang bertebaran di seluruh rumah. &#xA;&#xA;Aku mencondongkan tubuhku. &#34;Semua anak yang kabur cuma punya dua pilihan.&#34; Mataku menatap lurus mata Erde yang duduk bersebrangan denganku, &#34;balik atau mati.&#34;&#xA;&#xA;Sorot mata Erde menajam. Pekat bola matanya menghitam, memantulkan wajahku dengan sempurna. &#34;Heh.&#34; Satu ujung bibirnya naik, ia terkekeh--kontras dengan matanya yang berkilat, kini tubuhnya lebih dicondongkan lagi padakau. &#34;Jaga mulut lo. Ini bukan wilayah lo, ini rumah gue.&#34;&#xA;&#xA;Hening. &#xA;&#xA;Dingin. &#xA;&#xA;Bulu kudukku meremang.&#xA;&#xA;Damn Right.&#xA;&#xA;Ini adalah rumah Erde. Aku hanyalah tamu.&#xA;&#xA;&#34;Wow...&#34; Tangan Haya memutus pandanganku dan Erde, &#34;santai, santai.&#34; Ia mengibaskan tangannya. Aku menelan ludah, memundurkan tubuhku. Begitupun Erde. &#xA;&#xA;&#34;Sorry.&#34; Ucapku, &#34;what I wanna say is, nggak semua anak panti bisa kayak lo.&#34; Aku berdeham. &#34;Kabur dari panti nggak gampang, apalagi dari Mata Pisau.&#34;&#xA;&#xA;Erde menghela napas. Terlihat jelas aku sudah membuatnya kesal. &#xA;&#xA;&#34;Sampe sekarang nggak ada yang tau lo kabur dari panti.&#34; Aku berusaha menjelaskan. &#34;Gue nggak pernah denger orang dari Timur ngomongin apapun tentang kalian. They really had no idea you guys are here.&#34;&#xA;&#xA;Terdengar suara ketukan dari jemari Fuji dan pegangan kursi. &#34;Kalo ada orang-orang lo di wilayah sini yang tau kalo kita kabur dari panti,&#34; Ia menoleh ke arahku, &#34;mereka bakal ngelaporin kita? Balikin kita ke panti Timur?&#34;&#xA;&#xA;Aku terdiam.&#xA;&#xA;Secara logika (sebagai sebuah organisasi) wilayah Selatan harus menyerahkan Fuji dan Erde pada wilayah Timur. Tapi kenyatannya, para eksekutor antar wilayah tidak pernah bekerja sama. Kami saling menjatuhkan. Keberadaan eksekutor bukan berdasar kepercayaan dan kesetiaan, tapi uang dan kekuasaan. &#xA;&#xA;Saat Bang Jati mengambilku dari wilayah Utara, mereka dengan senang hati menyerahkanku karena aku diremehkan di sana. Mereka bilang aku terlalu lambat untuk berada di Utara--karena utara adalah wilayah pusat. Itu sebabnya aku selalu diberi pekerjaan singkat setiap harinya--karena dianggap sebagai pekerjaan receh. &#xA;&#xA;Di wilayah lain, eksekutor biasa mungkin akan menangkap sendiri Erde dan Fuji--entah Leher mereka mengijinkan atau tidak-- lalu menyerahkannya pada wilayah Timur melalui wilayah Utara--agar Kepala mengetahui wilayah mana yang menangkap mereka, hal ini sengaja dilakukan untuk menjatuhkan reputasi wilayah Timur, jika Kepala tahu, maka kemungkinan besar tubuh Erde dan Fuji akan diserahkan kepada wilayah yang menemukannya. &#xA;&#xA;Siapa yang menemukannya, dia yang dapat.&#xA;&#xA;Namun eksekutor di wilayah Selatan amat segan pada Bang Jati, jika Bang Jati berkata tidak maka tidak ada satupun eksekutor di wilayah Selatan yang akan menangkap Erde dan Fuji. Dan setahuku, Bang Jati tidak suka mencampuri urusan wilayah lain. &#xA;&#xA;Risiko lain akan muncul jika wilayah lain tahu Erde dan Fuji adalah anak asuh yang kabur dari panti asuhan wilayah Timur dan bersembunyi selama beberapa tahun di wilayah Selatan. Reputasi wilayah Selatan akan hancur jika kabar ini sampai di telinga Kepala--telinga adalah julukan untuk agen tersembunyi pribadi milik Kepala yang bertugas mengumpulkan informasi penting untuk dilaporkan tiap minggu. &#xA;&#xA;Mengabaikan risiko kedua--karena menurutku peluang risiko ini terjadi amat kecil--Erde dan Fuji tidak akan dikembalikan ke wilayah Timur dan tidak akan dilaporkan. &#xA;&#xA;Aku menggeleng. &#34;Nggak. Wilayah Timur, Barat, Selatan, Utara semuanya berdiri sendiri-sendiri. Mereka nggak bakal kerja sama.&#34;&#xA;&#xA;Lengang.&#xA;&#xA;&#34;Lo yakin?&#34; Fuji memastikan.&#xA;&#xA;Aku mengangguk.&#xA;&#xA;&#34;Apa untungnya buat kita?&#34; Tanya Fuji. &#xA;&#xA;Aku menggigit bibir. &#xA;&#xA;&#34;Gue bisa bantu apa aja.&#34; Jawabku mantab. &#34;Apapun yang kalian butuhin, bisa gue sediain.&#34;&#xA;&#xA;Lagi-lagi, lengang. &#xA;&#xA;Jemari Erde saling mengusap, ia gusar. Fuji melirik Erde, ia menggigir bibir--lelaki itu juga tengah gusar. &#xA;&#xA;&#34;Kita mau kabur ke luar negeri.&#34; Fuji memecahkan kelengangan di ruang tamu, &#34;kalo lo--&#34;&#xA;&#xA;Ctik!&#xA;&#xA;Suara itu memotong ucapan Fuji, berasal dari jentikan jari Haya. &#34;Gue punya ide!&#34; Serunya. &#xA;&#xA;Satu alisku naik. Tell us.&#xA;&#xA;Telunjuknya menunjukku, &#34;lo bisa nyediain apapun yang kita butuhin.&#34; Telunjuknya berpindah pada Erde, &#34;lo bisa lakuin apapun yang mau kita lakuin.&#34; Kemudian bergeser pada Fuji, &#34;lo bisa cari tau apapun yang pengen kita tau.&#34; Terakhir telunjuk Haya mengarah pada dirinya sendiri, &#34;gue...&#34; Ia terdiam sejenak, &#34;gue paling advanced di sini.&#34;&#xA;&#xA;Aku mengernyit. &#xA;&#xA;&#34;We&#39;re a perfect team!&#34; Haya berseru penuh semangat. &#34;Kita sempurna. Kita semua punya pengalaman di kemampuan masing-masing.&#34; Matanya berbinar, &#34;jadi daripada lo semua kabur dan kejar-kejaran gini, mending kita jatohin orang-orang Timur itu.&#34;&#xA;&#xA;Crazy.&#xA;&#xA;Ide itu ditolak mentah-mentah oleh Erde dan Fuji, terlihat jelas dari raut jengah dari keduanya. &#xA;&#xA;&#34;Lo nggak usah ikut-ikutan.&#34; Ucap Erde ketus. &#xA;&#xA;&#34;Gue harus ikut dong.&#34; Jawab Haya tidak terima. &#xA;&#xA;&#34;Kenapa? Ceknya udah tinggal dicairin Maru, dia bisa nyediain keperluan gue sama Fuji buat ke luar negeri. Ngapain balik ke Timur? Lo pikir--&#34;&#xA;&#xA;&#34;Dengerin gue dulu.&#34; Tangan Haya menyentuh lengan Erde--yang anehnya membuat Erde benar-benar diam, aku mengira Erde akan menangkis tangan Haya atau semacamnya. &#34;Kak Maru, lo tau Makmur Pangan di mana?&#34;&#xA;&#xA;Makmur Pangan...&#xA;&#xA;&#34;Makmur Pangan pusat?&#34;&#xA;&#xA;Haya mengendikkan bahu, &#34;Makmur Pangan yang jualan beras?&#34;&#xA;&#xA;Beras...&#xA;&#xA;Karena pernah menjadi Mata Pisau Utara, aku tahu terdapat gudang beras raksasa di wilayah Utara. &#xA;&#xA;&#34;Utara...?&#34; Jawabku--agak ragu. &#34;Kenapa?&#34;&#xA;&#xA;&#34;Bokap gue diabisin sama orang-orang Makmur Pangan.&#34;&#xA;&#xA;Oh. Fuck.&#xA;&#xA;Aku menelan ludah. &#34;Tahun berapa?&#34;&#xA;&#xA;&#34;2007.&#34;&#xA;&#xA;Mungkin lega adalah perasaan yang salah untuk situasi sekarang. Tapi, aku benar-benar lega karena bapak dari Haya dieksekusi tahun 2007--Tunggu. Kenapa aku langsung mempercayai Haya?&#xA;&#xA;&#34;Tau dari mana orang Makmur Pangan yang bunuh bokap lo?&#34;&#xA;&#xA;&#34;Bokap gue hakim di kasus beras plastik Makmur Pangan, semua yang nyelidikin kasus itu mati nggak wajar, termasuk bokap gue.&#34; Jawabnya enteng, &#34;Makmur Pangan bagian dari Mandala juga, kalo yang lo omongin tentang eksekutor tadi emang bener, berarti orang-orang yang ngelindungin Makmur Pangan yang bunuh bokap gue.&#34;&#xA;&#xA;&#34;Emang bokap lo mati gimana?&#34;&#xA;&#xA;&#34;Mobilnya terjun ke jurang. Katanya, sih, bunuh diri.&#34; Haya terdiam sejenak,ia melirik ujung meja lalu kembali menatapku--wajahnya masih datar, &#34;abis beliau meninggal, muncul kabar kalo beliau korup dan hakim yang... nggak bener gitu lah.&#34;&#xA;&#xA;Sebagai orang yang pernah menjadi Mata Pisau di wilayah Utara, membuang sesuatu ke jurang adalah cara paling basic yang dilakukan oleh para Mata Pisau Utara untuk melenyapkan apapun--tubuh, kendaraan, sekaligus bukti-bukti.&#xA;&#xA;Aku mengangguk. &#34;Bisa jadi Mata Pisau Utara yang nerjunin mobil bokap lo ke jurang.&#34; Ucapku--berusaha biasa saja walaupun rasanya canggung, aneh, takut, tidak nyaman, berdebar--bagaimanapun ini adalah bapak Haya, &#34;tapi bikin berita-berita kayak gitu bukan kerjaan Mata Pisau.&#34;&#xA;&#xA;Haya mengangguk perlahan. Seolah kami tidak sedang membicarakan mendiang Bapaknya yang meninggal dengan tragis. &#xA;&#xA;Tangan Haya naik, mengusap dagunya, &#34;abis itu, Bunda gue bunuh diri.&#34; Ia menatapku. &#34;Gue awalnya mikir beliau bunuh diri. Udah. Selesai. Tapi abis dengerin apa yang lo omongin, gue jadi mikir,&#34; Ia menyandarkan punggungnya di sandaran kursi, &#34;apa Makmur Pangan juga bunuh nyokap dan bikin nyokap gue jadi kayak orang bunuh diri?&#34;&#xA;&#xA;Mulutku tidak mampu menjawab. Hal yang disebut Haya lebih dari mampu untuk dilakukan oleh eksekutor di Mata Pisau. &#xA;&#xA;Aku menggigit bibir, &#34;maaf.&#34; Ujarku--lebih mirip gumaman.&#xA;&#xA;Dua alis Haya naik, &#34;lo yang dorong bokap gue ke jurang?&#34;&#xA;&#xA;&#34;No.&#34; Aku menggeleng cepat. &#34;I swear.&#34;&#xA;&#xA;&#34;Lo yang bikin berita palsu soal bokap gue?&#34; &#xA;&#xA;Aku menggeleng lagi. Jelas bukan.&#xA;&#xA;&#34;Lo bunuh nyokap gue?&#34;&#xA;&#xA;Aku kembali menggeleng kuat.&#xA;&#xA;Haya memicingkan matanya. &#34;Then don&#39;t take the blame.&#34; &#xA;&#xA;Sepuluh detik berjalan dengan lambat. &#xA;&#xA;Kepalaku menunduk. Menarik napas dalam lalu menghembuskannya kasar. &#xA;&#xA;Aku mengangkat kepalaku, hendak menanggapi usul Haya sebelumnya. Tapi Oh My God, aku terkejut saat menyadari wajah pucat pasi Fuji dan dua mata Erde yang menatap kosong. &#xA;&#xA;&#34;Kenapa lo nggak pernah bilang ke kita?!&#34; Erde menoleh pada Haya yang duduk di sampingnya. &#xA;&#xA;Mata Haya tertuju pada lantai, &#34;gue juga baru tau tadi.&#34;&#xA;&#xA;Dan, kini mata Erde juga ikut menghujani lantai. Hanya saja, pupil Erde terus bergerak--kepalanya sedang sibuk. &#xA;&#xA;Sejenak kami semua terdiam. &#xA;&#xA;Tidak ada suara apapun kecuali baling-baling kipas di atas kami dan suara motor di jalanan. &#xA;&#xA;Mata Fuji mengerjap beberapa kali. &#34;Mereka ngancurin hidup kita...&#34; Gumamnya pelan. &#xA;&#xA;Aku mengamininya. &#xA;&#xA;Yeah, they did.&#xA;&#xA;&#34;Gue setuju sama Haya.&#34; Seruan Erde memecah hening ruangan. Ia mengangkat wajahnya. &#34;Kita bisa saling bantu.&#34; Kepalanya ditolehkan pada Haya, &#34;lo mau apa? Nemu yang bunuh bokap lo? Bunuh yang bunuh bokap lo?&#34;&#xA;&#xA;Entah mataku yang salah lihat atau memang mata Haya terlihat berair saat menatap Erde. Dan.. Oh, God... Mataku juga ikut berair. Perasaan bersalah itu muncul lagi, tatapan mata orang-orang yang rela mencium kakiku agar aku mengampuni nyawa mereka. Pandangan penuh penyesalan mereka saat menyadari napas yang mereka hirup adalah napas terakhir.&#xA;&#xA;Aku pembunuh.&#xA;&#xA;Dan di hadapanku, duduk seorang anak yang bapaknya dibunuh oleh orang-orang yang mendidikku menjadi pembunuh. &#xA;&#xA;Oh, Dear Lord, &#xA;&#xA;Aku menunduk. &#xA;&#xA;Will You forgive me?&#xA;&#xA;Mataku terpejam.&#xA;&#xA;Every time I choose sin over you, I revert to the ways of my old self before I knew you. Help me to return to the paths of righteousness, to turn away from my wrongdoing.&#xA;&#xA;Aku membuka mata, menatap tiga orang di hadapanku.&#xA;&#xA;Dear Merciful Lord, please provide me with guidance in the future. Please give me strength to go on Your direction.&#xA;&#xA;Tanpa kusadari, mulutku terbuka, &#34;gue bisa bantu kalian...&#34;&#xA;&#xA;I will try, Lord...&#xA;&#xA;&#34;Kita bakal bebas.&#34; Lanjutku.&#xA;&#xA;...to change.]]&gt;</description>
      <content:encoded><![CDATA[<blockquote><p><em>POV: MAHAMERU</em>
<em>cw /tw // harsh words ; mention of murder ; crime ; mention of violence act ; mention of drug ; mention of suicide ; mention of death ; family death</em></p></blockquote>

<p><em>Just to come clean</em>, aku memang pernah <em>tinggal</em> di Panti Asuhan Kasih Abadi.</p>

<p>Untuk menceritakan tentang panti asuhan itu, mungkin aku harus sedikit mengintip di tahun 1998. </p>

<p>Ibu meninggal setelah melahirkanku. Sejauh yang kuingat, aku tinggal bersama Bapak.</p>

<p>Bapak adalah seorang buruh pabrik di siang hari dan seorang petarung jalanan di malam hari. Namanya cukup tersohor. Setiap Bapak muncul, orang-orang langsung memasang taruhannya untuk Bapak.</p>

<p>Sayangnya, uang Bapak banyak terkuras untuk membayar biaya persalinan dan pemakaman Ibu. Masalah berikutnya muncul karena aku masih bayi. Bapak harus bekerja lebih keras tapi juga harus menjagaku. Masalah berikutnya (lagi), adalah adanya krisis keuangan yang menyebabkan Bapak diberhentikan dari pabrik.</p>

<p>Namun yang mengejutkan, di tengah krisis keuangan yang mencaruk-marukkan beberapa negara, klub tempat Bapak bertarung justru semakin ramai.</p>

<p>Ternyata, klub itu ramai bukan hanya karena pertarungan ecek-ecek yang sering dilaksanakan di sana. Ada transaksi gelap yang dilakukan tiap malam. Pada masa itulah Bapak bertemu dengan salah seorang pengedar yang sedang melakukan transaksi sabu-sabu.</p>

<p>Bapak tertarik, apalagi setelah berbincang dengan si pengedar, keuntungan yang didapat cukup menggiurkan.</p>

<p>Waktu berlalu, Bapak menjadi seorang pengedar. Awalnya hanya ditawarkan pada teman atau saudara dekat, hanya butuh dua tahun pengalaman memberanikan Bapak untuk menawarkan sabu pada pengunjung klub.</p>

<p>Keuntungannya? Luar biasa. Apalagi semenjak pihak kepolisian galak memberantas peredaran obat-obatan terlarang di tahun 2005. Sabu yang awalnya seharga paling mahal ratusan ribu, menjadi jutaan per gram. 1,5 juta di tahun itu setara dua kali lipat upah minimum ibu kota.</p>

<p>Mudah bagi Bapak untuk mencari pelanggan di klub-nya karena Bapak adalah petarung tersohor. Reputasinya bagus. Lama-kelamaan, semua pengunjung klub akhirnya membeli sabu di Bapak.</p>

<p>Pengedar sebelumnya—yang ternyata berasal dari organisasiku sekarang—merasa pasarnya direbut. Bapak diberi peringatan keras. Tapi Bapak adalah seorang petarung juara bertahan, apa yang Bapak takutkan? <em>Tidak ada</em>.</p>

<p>Akhirnya, Bapak mengabaikan peringatan itu. Peringatan kedua, ketiga, dan keempat datang. Bapak tetap abai. Peringatan kelima akhirnya datang. Bergerombol dan bersenjata. Bapak dibunuh.</p>

<p>Usiaku 8 tahun.</p>

<p>Warga menemukan mayat Bapak di pinggir sungai. Kabar tentang Bapak yang dibunuh oleh pengedar dari organisasiku menyebar. Keadaan makin kacau karena pengedar itu dinilai membangkang dari organisasi, dia tidak melapor atau meminta persetujuan untuk membunuh, membawa pasukan pula. Agen itu dicampakkan oleh organisasi, mendekam di penjara. Kasus ditutup.</p>

<p>Tapi masih ada aku.</p>

<p>Entah bagaimana, organisasi itu mendengar tentangku. Aku ingat saat itu seorang lelaki tinggi besar dengan jas hitam datang ke rumah. Dia menjelaskan bahwa mulai sekarang, aku akan diasuh oleh <em>mereka</em>.</p>

<p>Untuk pertama kalinya, aku mendengar nama organisasi itu.</p>

<p><em>Manggala.</em></p>

<p>Aku mulai tinggal di panti asuhan. <em>Nah</em>, aku tidak bohong, kan?</p>

<p>Bedanya, aku mendapat perlakuan istimewa. Tugasku adalah mengawasi anak asuh lain, memastikan mereka melaksanakan pekerjaannya dan melaporkan pada penjaga jika ada yang berusaha kabur.</p>

<p>Meskipun ingatanku sudah agak kabur, tapi aku tahu semua hal yang terjadi di panti. Penyiksaan, pemukulan, pemaksaan. Semuanya.</p>

<p><em>In my defense, I was a child</em>.</p>

<p>Aku tidak tahu di pihak mana aku harus berada. Di pikiranku, Manggala adalah pihak yang telah menolongku saat Bapak meninggal.</p>

<p>Di satu sisi, aku mual tiap melihat anak-anak itu memakan makanan basi dan dipukuli. Aku selalu berpapasan dengan anak-anak itu di lorong. Tubuh penuh lebam, kaos compang-camping, bibir kering, kuku hitam, wajah kusam, tulang menonjol. Saking mualnya, aku lebih suka mengawasi mereka dari jauh.</p>

<p><em>Don&#39;t get me wrong.</em></p>

<p>Rasa mual itu untuk diriku sendiri. Semuanya terasa lebih memuakkan karena aku bisa tetap makan enak dan dibiarkan melakukan apapun sesukaku—yang penting pekerjaanku mengawasi mereka beres.</p>

<p>Dua tahun kemudian, aku mendapat uluran tangan untuk kedua kalinya. Dari Sejati, yang kemudian aku panggil Bang Jati. Kami bertemu saat dia mengunjungi panti, saat itu dia belum lama bergabung dengan Manggala.</p>

<p>Bang Jati membawaku pergi. Aku meninggalkan semua kenangan buruk di panti.</p>

<p><em>But that was just the beginning.</em></p>

<p>Sejati merawat, menyekolahkan, dan melatihku. Tugasku saat itu hanya dua, sekolah dan berlatih. Hariku dimulai pukul empat pagi. Berlatih. Sekolah. Berlatih. Mengerjakan PR. Tidur.</p>

<p>Latihanku dibagi dua sesi. Pagi dan sore. Pagi digunakan untuk melatih stamina—kebanyakan dilakukan dengan berlari. Sedangkan sore digunakan untuk melatih keterampilan bela diri. Ada beberapa teknik bela diri yang diajarkan oleh Sejati, tapi aku pribadi lebih menyukai <em>wing chun</em>. Gerakannya tangkas, cepat, sederhana, sekaligus kompleks.</p>

<p>Lambat laun aku mulai beradaptasi dan menyukai rutinitasku bersama Bang Jati.</p>

<p>Kami tinggal di rumah dua lantai yang terletak di pinggiran kota. Rumah kami menghadap rel kereta api, di seberangnya lagi adalah sawah milik warga sekitar. Pada waktu tertentu, bising kereta menembus telingaku. Pada waktu tertentu juga, aku dan Bang Jati menikmati kebisingan dan ketenangan di rumah itu.</p>

<p>Tiap pagi kami akan berlari bersama lalu menikmati teh di balkon rumah. Bang Jati adalah orang yang berpengetahuan luas, dia mengetahui banyak hal—termasuk tentang kisah Bapak. Aku bisa menceritakan kisah itu dengan lancar karena mendengarnya langsung dari Bang Jati—padahal saat insiden Bapak terjadi, Bang Jati belum bergabung dengan Manggala.</p>

<p>Sore, saat pulang sekolah, dia akan menanyakan hariku, memastikan pekerjaan rumah apa yang harus kukerjakan dan mengestimasi berapa lama waktu yang tersisa untuk berlatih.</p>

<p>Kadang, saat malam, aku harus berlatih sendiri. Bang Jati sering bepergian, bagaimanapun, dia adalah anggota Manggala. Ketika pulang, Bang Jati akan membawa berbagai oleh-oleh—entah itu makanan, baju, buku, mainan, atau pulpen. Dia membelikan apapun yang dikiranya tidak ada di kampung kami.</p>

<p>Bang Jati adalah orang yang cukup religius. Dia selalu mengajarkanku untuk berdoa dan bersyukur. Setiap napas yang kami hirup, darah yang mengalir, jantung yang berdetak, angin yang berhembus, makanan yang kami telan—setiap hal yang kami lihat dan kami alami adalah karunia Tuhan.</p>

<p>Menjadi yatim piatu dan tidak punya keluarga adalah sebuah ruang gelap tidak berujung. Kemanapun aku pergi, tidak ada lagi cahaya yang dapat menerangi jalanku. Aku menyadarinya karena sering mencuri dengar teman-temanku yang bercerita tentang keluarganya. Anak seusiaku, tidak seharusnya tumbuh tanpa keluarga.</p>

<p>Tapi Bang Jati berhasil mengisi semua kekosongan itu.</p>

<p>Aku merasa cukup. Aku berseyukur.</p>

<p>Namun, mungkin aku terlalu naif—manusia tidak boleh mudah merasa cukup,mengira kehidupanku akan terus berjalan senormal itu. Aku bahkan tidak menyadari latihanku setiap hari dilakukan bukan untuk bersenang-senang. Ada sesuatu yang menantiku di ujung jalan.</p>

<p><em>Sesuatu</em> itu datang empat tahun kemudian, saat usiaku 14 tahun. Aku baru lulus SMP.</p>

<p>Sesosok lelaki berbadan tegap dan gempal menjemputku, aku hanya ingat Bang Jati mengatakan padanya bahwa aku telah siap.</p>

<p>Setelahnya, aku dibawa pergi. Perpisahan itu singkat dan menyedihkan. Bang Jati meremas pundakku. Senyum hangatnya melepasku pergi.</p>

<p>Tanpa Bang Jati, aku teringat bahwa aku hanyalah anak sebatang kara tanpa siapapun. Aku teringat posisiku. Aku disadarkan oleh keberadaanku.</p>

<p>Tapi sebagai anak usia belasan yang tidak punya banyak pilihan, aku tetap menjalani apa yang telah digariskan padaku.</p>

<p>Pelatihan kedua dimulai. Kali ini, aku dilatih langsung oleh eksekutor Manggala.</p>

<p><em>Mata Pisau.</em></p>

<p>Itulah yang menungguku di ujung jalan. Aku dibentuk sejak kecil untuk menjadi Mata Pisau Manggala—boleh jadi karena reputasi Bapak yang bagus, mungkin mereka berpikir bahwa darah petarung mengalir di tubuhku.</p>

<p>Aku tidak langsung dijelaskan secara mendetail tugas Mata Pisau. Mereka memberiku tempat tidur dan makan seadanya.</p>

<p>Eksekutor (<em>slash</em> Mata Pisau) ini tinggal di tengah hutan besar. Uniknya, jika dilihat secara sekilas, markas Mata Pisau tidak terlihat karena bangunannya berada di bawah tanah.</p>

<p>Dari luar, siapapun yang lewat hanya akan melihat sebuah lahan kosong membentang di tengah rimbunnya hutan. Namun saat ditelusuri, terdapat tangga tersembunyi di samping lahan, tangga turun, membawa pada sebuah pintu untuk memasuki basemen. Di situlah tempat tinggal Mata Pisau.</p>

<p>Basemen Mata Pisau dibagi menjadi empat bagian. Bagian tempat tidur, bagian ruang rapat, bagian kamar mandi, dan bagian dapur.</p>

<p>Mata Pisau lebih banyak melakukan pekerjaannya di malam hari. Aku bersekolah saat siang di salah satu sekolah terdekat yang jaraknya 15km.</p>

<p>Saat malam, Mata Pisau akan berkumpul di satu ruangan yang lebih mirip penjara basemen—alias ruang rapat. Terdapat meja besar di tengah dan bilik telepon di ujung ruangan. Setiap malam ada satu orang yang berjaga di samping telepon.</p>

<p>Sisanya yang berkumpul di tengah akan dibagi menjadi dua kelompok. Satu kelompok akan membahas pekerjaan yang sebelumnya diberikan pada mereka, satu kelompok adalah kelompok yang tidak sedang bertugas—berjaga menerima perintah dari si penjaga telepon.</p>

<p>Beberapa hari mengamati, aku menyadari bahwa telepon itu adalah alat komunikasi yang digunakan untuk menerima pekerjaan singkat—pekerjaan yang harus dilakukan malam itu juga. Biasanya pekerjaan yang diberikan melalui telepon adalah hal sederhana seperti membuntuti, menggertak, atau menjadi pengawal tambahan. Target untuk pekerjaan singkat ini adalah orang biasa, jadi tidak perlu strategi khusus untuk menanganinya.</p>

<p>Sementara kelompok lain yang berada di meja tengah biasanya membahas tentang pekerjaan jangka panjang. Tugas itulah yang—menurutku—cukup berat. Membunuh, merampok, dan menggertak. Bedanya, kelompok ini memerlukan strategi khusus karena target mereka berasal dari kalangan atas atau memiliki keamanan yang sulit ditembus.</p>

<p>Sama seperti namanya, tugas Mata Pisau hanya dua. Menyerang dan melindungi. Yang paling penting, seorang Mata Pisau harus selalu siap diarahkan pada siapapun.</p>

<p>Selain mengamati cara kerja Mata Pisau, di pelatihan kedua aku menerima pelatihan menggunakan senjata. Ada berbagai senjata yang diberikan, mulai dari senjata tajam, senjata peledak, senjata pembakar hingga senjata api.</p>

<p>Latihan dasar yang harus diikuti adalah penggunaan senjata api. Kami berlatih di lahan kosong yang terletak di atas basemen.</p>

<p>Setiap orang harus berbekal senjata api dan satu senjata tajam. Kebanyakan orang-orang di Mata Pisau lebih memilih senjata yang kecil dan mematikan, praktis—seperti belati.</p>

<p>Aku menyukai dua senjata di sana. Balisong (atau dikenal dengan <em>butterfly knife</em>) dan kerambit (pisau dua sisi berbentuk bulan sabit). Membutuhkan banyak waktu untuk mempelajari dua senjata itu, tapi aku menikmati prosesnya. Tapi hanya soal waktu, aku akan mengetahui mengapa Mata Pisau yang lain menyukai belati.</p>

<p>Setahun berlatih, mereka mengijinkanku (dan peserta baru lain) untuk mengamati eksekusi.</p>

<p>Di sinilah semua kengerian dan mimpi buruk dalam hidupku dimulai.</p>

<p>Aku telah sering mendengar mereka berdiskusi dan membahas tentang pembunuhan, penggertakan, penyiksaan dan sejenisnya. Tapi melihatnya langsung tetap tidak mudah. Aku mual. Pusing. Bahkan demam saat pertama kali menyaksikan seorang mata pisau menembuskan pelurunya tepat di kepala seorang wanita berusia 60-an.</p>

<p>Dan ternyata itulah pelatihan ketigaku.</p>

<p><em>Berlatih membunuh.</em></p>

<p>Semakin aku mual saat mereka melaksanakan eksekusi, aku akan semakin diikutkan. Setiap ekskusi, aku diharuskan melihat semuanya, tanpa berbalik badan atau menutup mata.</p>

<p>Ada tiga orang lain yang sedang dilatih saat itu dan aku adalah urutan terakhir di pelatihan membunuh ini. Setelah berhasil mengontrol mental, kami diharuskan melatih tangan kami karena—ternyata—mengacungkan senjata pada seseorang (<em>with intention to kill</em>) bukanlah hal yang mudah.</p>

<p>Meskipun aku menyukai balisong dan kerambit, tapi dua senjata itu tidak efisien untuk membunuh orang—terutama karena kemampuanku yang belum seberapa. Akhirnya, aku memilih belati sebagai senjata tajam pribadiku.</p>

<p>Seperti sebelum-sebelumnya, fase pelatihanku berjalan lambat. Tapi karena sistem pelatihan mandiri di Mata Pisau, tidak ada yang mengeluh atau memprotesku.</p>

<p>Tidak ada guru. Tidak ada murid. Semuanya berlatih bersama, bertanggung jawab atas progres masing-masing. Mengutip kata bos kami saat itu, <em>yang penting kerjaan beres.</em></p>

<p>Dua tahun kemudian, setelah lulus SMA, aku mendapat pekerjaan pertamaku.</p>

<p>Pekerjaan singkat. Membunuh.</p>

<p>Satu hal tentang para Mata Pisau di sini, kami tidak pernah tahu alasan target kami menjadi <em>target</em> kami. Yang jelas, jika Manggala menganggap orang itu harus mati, maka dia harus mati. Dan Mata Pisau-lah yang mewujudkannya.</p>

<p>Target pertamaku adalah lelaki biasa usia 40-an. Di pesan deksripsi pekerjaanku hanya tertulis bahwa dia harus mati, maka aku menyelinap ke rumahnya dan membunuhnya. Karena itu adalah pekerjaan singkat yang dilakukan sendiri, maka aku juga harus membereskannya sendiri. Kematiannya aku palsukan sebagai bunuh diri.</p>

<p>Sejak pekerjaan pertamaku selesai. Pekerjaan singkat lain terus berdatangan.</p>

<p>Target keduaku adalah seorang lelaki paruh baya. Di pesan deskripsi pekerjaanku tertulis bahwa dia harus mati dalam kebakaran rumahnya, maka tugasku adalah membunuh lalu membakar rumahnya.</p>

<p>Target ketigaku adalah seorang wanita usia 20-an. Di pesan deskripsi pekerjaanku tertulis bahwa dia harus menghilang, maka tugasku adalah membunuh lalu melenyapkan tubuhnya.</p>

<p>Selama tiga tahun, aku terus melakukannya. Berulang. Beberapa kali aku melakukan pekerjaan jangka panjang, tapi aku lebih sering melakukan pekerjaan singkat—sendiri. Konon, pekerjaan singkat hanya diberikan pada urutan terbawah. Aku tidak masalah.</p>

<p>Sejak pergantian presiden terbaru di tahun 2018, pekerjaan Mata Pisau mulai kabur. Kami tidak lagi membunuh orang. Cara itu ditinggalkan. Membunuh lebih kompleks. Perkembangan berita di media sosial cepat. Pengawasan masyarakat ketat. Melenyapkan tubuh tidak semudah dulu.</p>

<p>Mata Pisau mulai berganti haluan. Kami lebih fokus melakukan pengintaian dan penggertakan. Pekerjaanku menjadi lebih longgar.</p>

<p>Saat itu hari Sabtu yang terik, aku sedang duduk di luar basemen, menunggu jam latihan dimulai.</p>

<p>Sudah enam tahun aku tinggal di basemen.</p>

<p>Mataku mengamati daun-daun kecoklatan yang jatuh dari pepohonan.</p>

<p>“Mahameru.”</p>

<p>Aku menoleh.</p>

<p>“Bang Jati!”</p>

<p><em>Kami bertemu lagi</em>. “Kirain gue nggak bakal ketemu lo lagi, Bang.”</p>

<p>“<em>Well, here I am.</em>” Dia tersenyum, khas senyum hangatnya.</p>

<p>Kerutan di samping mata Bang Jatu menyadarkanku bahwa tidak ada yang bisa melawan waktu saat ia hanya ingin bergerak maju. Bang Jati tergulung penuaan.</p>

<p><em>“You grew well, Man.”</em> Bang Jati menepuk punggungku.</p>

<p><em>I know.</em></p>

<p>Sama sepertinya, aku juga tidak bisa melawan waktu. Banyak hal yang terjadi tujuh tahun belakangan, aku bukan lagi anak belasan tahun yang mengerjakan PR tiap malam di rumahnya.</p>

<p>Aku membalas senyumnya. Kami berbincang selama dua jam. Bang Jati bercerita tentang kepindahannya ke wilayah Selatan. Responku tidak banyak.</p>

<p>Kami tinggal di tengah hutan tanpa alat komunikasi selain <em>pager</em> (penyeranta) yang kami gunakan selama menjalankan pekerjaan dan telepon rumah yang berada di ruang rapat.</p>

<p>Hidupku hanya seputar hutan-basemen-mobil-lokasi target. Aku juga bersekolah di desa yang paling dekat dengan hutan, jumlah siswa di sana tidak lebih dari dua puluh. Tidak banyak yang bisa kulakukan untuk memberi respon selain anggukan dan ucapan <em>selamat, Bang</em>.</p>

<p>Bang Jati memahami maksud ucapanku. Mungkin dia juga tidak paham wilayah Selatan yang dimaksudnya. Dia terkekeh pelan. “Gimana rasanya jadi <em>Mata Pisau</em>?”</p>

<p>Lagi-lagi, responku tidak banyak. Aku justru terpikir untuk menanyakan hal lain—selagi kami membahas tentang organisasi.</p>

<p>“Bang, sebenernya kita ini ngapain?”</p>

<p>Dia terdiam selama beberapa saat. Mungkin khawatir karena pertanyaanku terlalu dalam atau memang jawabannya sudah hanyut tenggelam.</p>

<p>Alih-alih memberiku jawaban, Bang Jati justru memberiku <em>uluran tangan</em> berupa pertanyaan, “mau ikut gue ke Selatan?”</p>

<p>Tentu aku menerima uluran tangannya, dulu dia juga yang memberiku uluran tangan dan <em>membebaskan</em>-ku dari panti asuhan. Mungkin kali ini dia juga akan membawaku ke tempat yang lebih baik.</p>

<p>Seperti uluran tangan, ucapan Bang Jati dapat kupegang.</p>

<p>Aku pindah ke wilayah Selatan. Wilayah asing yang bahkan saat itu tidak kuketahui apakah namanya benar-benar Selatan atau letaknya ada di selatan.</p>

<p>Bang Jati tinggal di apartemen mewah. Untuk pertama kalinya, aku melihat dunia luar yang gemerlap. Manusia yang pekerjaanya tidak saling membunuh dan tidak tinggal di bawah tanah.</p>

<p>Saat itu Bang Jati menjelaskan sedikit banyak tentang Manggala.</p>

<p>Organisasi ini dibagi menjadi empat wilayah yang tersebar di seluruh wilayah Nusantara.</p>

<p><em>Utara. Selatan. Timur. Barat.</em></p>

<p>Setiap wilayah memiliki eksekutor yang bertugas menjaga perusahaan-perusahaan Mandala Group. Aku tidak terlalu paham tapi setiap perusahaan di Mandala Group memiliki dua sisi.</p>

<p>Sisi pertama adalah sisi yang ditampilkan untuk publik, sisi Mandala. Sementara sisi yang lain adalah sisi terbatas yang hanya dapat dilihat oleh orang tertentu, sisi Manggala.</p>

<p>Wilayah Selatan mencakup <em>Neo Central</em> yang bergerak di bidang keuangan, <em>Neo Nusantara Utama</em> yang bergerak di bidang pendidikan, dan <em>Citra Neo Pratama</em> yang bergerak di bidang properti. Di sisi Manggala, ketiganya bertugas mengelola dan membersihkan uang.</p>

<p>Tugasku selama menjadi Mata Pisau di wilayah Selatan masih tetap sama—menerima dan melaksanakan perintah. Hanya saja, berbeda dengan wilayah sebelumnya—yang kemudian kuketahui sebagai wilayah Utara—wilayah ini tidak terlalu sibuk dan tugas yang diberikan lebih transparan. Kami tidak menerima telepon untuk mendapat pekerjaan.</p>

<p>Semuanya satu komando. Dari Bang Jati.</p>

<p>Bang Jati juga menjelaskan peran masing-masing wilayah untuk Manggala. (Aku tidak terlalu ingat semuanya, tapi aku selalu bisa bertanya pada Bang Jati).</p>

<p>Wilayah Selatan adalah wilayah yang paling <em>bersih</em>. Mungkin karena wilayah ini mencakup pulau-pulau populasi padat, jadi semua pihak di sini harus lebih berhati-hati. Tidak banyak sisi Manggala yang harus kami lindungi di sini. Hanya saja, tugas kami tetap penting karena semua aliran dana yang masuk <em>dibersihkan</em> di wilayah Selatan.</p>

<p>Pemimpin Manggala disebut sebagai <em>Kepala</em>. Ketua eksekutor disebut sebagai <em>leher</em>.</p>

<p>Kemungkinan, sebutan leher ini muncul karena tugas utama ketua eksekutor adalah melakukan segala cara untuk menyangga, melindungi, dan menjunjung <em>Kepala</em>. Ketua eksekutor adalah ketua para eksekutor—atau Mata Pisau. Para leher ini tidak menjalankan pekerjaan seperti mata pisau lain, mereka <em>hanya</em> perlu memastikan Mandala Group yang berada di bawah wilayah mereka baik-baik saja.</p>

<p>Pada tahun pertama aku mengikuti Bang Jati, dia memintaku mendaftar ke Universitas Neo Pratama. Kampus di bawah yayasan kami. Bang Jati menjabat sebagai dosen di sana. Itulah caranya melindungi <em>Neo Nusantara</em>.</p>

<p>Aku tidak keberatan. Selama ini tidak ada masalah dengan pendidikanku, sekolah bukan tantangan besar. Yang menjadi tantangan adalah ucapan Bang Jati setelahnya, “abis lulus lo bakal disiapin buat jadi <em>leher</em> Manggala.”</p>

<p><em>Holy Moly.</em></p>

<p>“Oh, jadi itu yang bikin lo nggak lulus-lulus?”</p>

<p>Tanggapan Haya menjeda sesi kilas balik-ku.</p>

<p><em>Yeah</em>. Tidak salah, <em>sih</em>. Aku memang sengaja menunda kelulusanku karena aku tidak mau disiapkan menjadi <em>leher</em> Manggala. Jangankan disiapkan menjadi <em>leher</em>, kembali ke tugasku sebagai Mata Pisau saja aku enggan. (<em>Plus</em>, skripsi memang susah).</p>

<p>“Terus,” Erde yang sejak tadi diam kini mulai bersuara, dari raut wajahnya, aku dapat menyimpulkan dia terkejut dan bingung—tapi mati-matian menahan kerutan di dahinya agar terlihat tenang, “siapa yang ngejar gue sama Fuji?”</p>

<p>“Yang ngejar anak panti yang kabur?” Tanyaku, memastikan.</p>

<p>Erde mengangguk.</p>

<p>“Kalo lo masih di wilayah panti, lo dikejar sama penjaga panti. Kalo udah di luar wilayah panti, lo dikejar sama Mata Pisau.” Terangku.</p>

<p>Tidak ada jawaban.</p>

<p>Aku duduk bersebrangan dengan Haya, Erde, dan Fuji. Suara kipas angin yang berputar mengisi sunyi ruangan. Walaupun angin kipasnya mengenaiku, bagian kerahku tetap terasa panas.</p>

<p>Sebuah helaan napas keluar dari mulutku.</p>

<p>“Lo dulu di panti wilayah mana?” Tanyaku akhirnya.</p>

<p>Sekali lagi, hening. Tidak ada yang menjawab pertanyaanku.</p>

<p>Sebenarnya, wajar jika mereka tidak tahu mereka berasal dari panti mana. Aku tinggal di wilayah Utara selama beberapa tahun dan baru baru tahu kalau tempat itu adalah wilayah Utara setelah dijelaskan oleh Bang Jati.</p>

<p>“Timur.” Fuji angkat suara.</p>

<p>Semua mata mengarah pada Fuji.</p>

<p>“Tau dari mana?” Sambar Erde cepat.</p>

<p>Fuji menoleh pada Erde. “Kita lari ke barat.”</p>

<p>Aku mengangguk pelan. Sepertinya Fuji memiliki kecerdasan praktis. Tidak semua orang tahu kemana arah mereka berlari. Apalagi saat sedang dikejar.</p>

<p>Kalau tidak salah ingat, wilayah timur hanya memiliki tiga sektor sisi Manggala: panti asuhan; gudang dan penjualan obat-obatan terlarang.</p>

<p><em>Siapa</em> leher <em>dari Timur?</em></p>

<p>Dahiku mengernyit, berusaha mengais ingatan yang sudah hampir lima tahun kupendam—<em>Yeah,</em> sudah lima tahun aku menjadi mahasiswa dan mengulur waktu kelulusan untuk menghindari persiapan menjadi <em>leher</em> Manggala.</p>

<p>Aku tidak terlalu ingat siapa <em>leher</em> dari Timur, mungkin nanti akan aku tanyakan pada Bang Jati.</p>

<p>“Oke, anggep cerita lo bener.” Erde memajukan tubuhnya, kedua sikunya diistirahatkan pada lutut, “terus lo mau kita ngapain? Bantuin lo kabur dari  Mata Pisau di sini? Dengan kondisi gue juga dikejar Mata Pisau dari Timur? Lo pikir kita bisa?” Dua alisnya terangkat, seolah permintaanku adalah hal paling konyol di dunia.</p>

<p>Padahal, permintaanku adalah permintaan paling masuk akal yang pernah kubuat seumur hidupku.</p>

<p>Aku tidak tahu di sebelah mana penjelasanku sulit dipahami. Aku bahkan memberikan detail pelatihan tiga tahap Mata Pisau dan dia masih merasa kabur dari Mata Pisau bukanlah hal yang luar biasa?</p>

<p>“Nggak gampang kabur dari Mata Pisau!” Seruku tidak terima. “Asal lo tau, ngejar orang yang kabur dari panti—kayak lo—bukan cuma pekerjaan jangka panjang buat eksekutor—kayak gue, <em>it&#39;s a fucking permanent project</em>.”</p>

<p>Tidak ada jawaban.</p>

<p>Suasana menjadi lebih hening dari sebelumnya. Bahkan aku bisa mendengar hembusan angin yang bertebaran di seluruh rumah.</p>

<p>Aku mencondongkan tubuhku. “Semua anak yang kabur cuma punya dua pilihan.” Mataku menatap lurus mata Erde yang duduk bersebrangan denganku, “balik atau mati.”</p>

<p>Sorot mata Erde menajam. Pekat bola matanya menghitam, memantulkan wajahku dengan sempurna. “Heh.” Satu ujung bibirnya naik, ia terkekeh—kontras dengan matanya yang berkilat, kini tubuhnya lebih dicondongkan lagi padakau. “Jaga mulut lo. Ini bukan wilayah lo, ini rumah gue.”</p>

<p>Hening.</p>

<p>Dingin.</p>

<p>Bulu kudukku meremang.</p>

<p><em>Damn Right.</em></p>

<p>Ini adalah rumah Erde. Aku hanyalah tamu.</p>

<p>“<em>Wow...</em>” Tangan Haya memutus pandanganku dan Erde, “santai, santai.” Ia mengibaskan tangannya. Aku menelan ludah, memundurkan tubuhku. Begitupun Erde.</p>

<p>“<em>Sorry</em>.” Ucapku, “<em>what I wanna say is,</em> nggak semua anak panti bisa kayak lo.” Aku berdeham. “Kabur dari panti nggak gampang, apalagi dari Mata Pisau.”</p>

<p>Erde menghela napas. Terlihat jelas aku sudah membuatnya kesal.</p>

<p>“Sampe sekarang nggak ada yang tau lo kabur dari panti.” Aku berusaha menjelaskan. “Gue nggak pernah denger orang dari Timur ngomongin apapun tentang kalian. <em>They really had no idea you guys are here.</em>“</p>

<p>Terdengar suara ketukan dari jemari Fuji dan pegangan kursi. “Kalo ada orang-orang lo di wilayah sini yang tau kalo kita kabur dari panti,” Ia menoleh ke arahku, “mereka bakal ngelaporin kita? Balikin kita ke panti Timur?”</p>

<p>Aku terdiam.</p>

<p>Secara logika (sebagai sebuah organisasi) wilayah Selatan harus menyerahkan Fuji dan Erde pada wilayah Timur. Tapi kenyatannya, para eksekutor antar wilayah tidak pernah bekerja sama. Kami saling menjatuhkan. Keberadaan eksekutor bukan berdasar kepercayaan dan kesetiaan, tapi uang dan kekuasaan.</p>

<p>Saat Bang Jati mengambilku dari wilayah Utara, mereka dengan senang hati menyerahkanku karena aku diremehkan di sana. Mereka bilang aku terlalu lambat untuk berada di Utara—karena utara adalah wilayah pusat. Itu sebabnya aku selalu diberi pekerjaan singkat setiap harinya—karena dianggap sebagai pekerjaan receh.</p>

<p>Di wilayah lain, eksekutor biasa mungkin akan menangkap sendiri Erde dan Fuji—entah <em>Leher</em> mereka mengijinkan atau tidak— lalu menyerahkannya pada wilayah Timur melalui wilayah Utara—agar <em>Kepala</em> mengetahui wilayah mana yang menangkap mereka, hal ini sengaja dilakukan untuk menjatuhkan reputasi wilayah Timur, jika <em>Kepala</em> tahu, maka kemungkinan besar tubuh Erde dan Fuji akan diserahkan kepada wilayah yang menemukannya.</p>

<p><em>Siapa yang menemukannya, dia yang dapat</em>.</p>

<p>Namun eksekutor di wilayah Selatan amat segan pada Bang Jati, jika Bang Jati berkata <em>tidak</em> maka tidak ada satupun eksekutor di wilayah Selatan yang akan menangkap Erde dan Fuji. Dan setahuku, Bang Jati tidak suka mencampuri urusan wilayah lain.</p>

<p>Risiko lain akan muncul jika wilayah lain tahu Erde dan Fuji adalah anak asuh yang kabur dari panti asuhan wilayah Timur dan bersembunyi selama beberapa tahun di wilayah Selatan. Reputasi wilayah Selatan akan hancur jika kabar ini sampai di <em>telinga</em> Kepala—<em>telinga</em> adalah julukan untuk agen tersembunyi pribadi milik <em>Kepala</em> yang bertugas mengumpulkan informasi penting untuk dilaporkan tiap minggu.</p>

<p>Mengabaikan risiko kedua—karena menurutku peluang risiko ini terjadi amat kecil—Erde dan Fuji tidak akan <em>dikembalikan</em> ke wilayah Timur dan tidak akan dilaporkan.</p>

<p>Aku menggeleng. “Nggak. Wilayah Timur, Barat, Selatan, Utara semuanya berdiri sendiri-sendiri. Mereka nggak bakal kerja sama.”</p>

<p>Lengang.</p>

<p>“Lo yakin?” Fuji memastikan.</p>

<p>Aku mengangguk.</p>

<p>“Apa untungnya buat kita?” Tanya Fuji.</p>

<p>Aku menggigit bibir.</p>

<p>“Gue bisa bantu apa aja.” Jawabku mantab. “Apapun yang kalian butuhin, bisa gue sediain.”</p>

<p>Lagi-lagi, lengang.</p>

<p>Jemari Erde saling mengusap, ia gusar. Fuji melirik Erde, ia menggigir bibir—lelaki itu juga tengah gusar.</p>

<p>“Kita mau kabur ke luar negeri.” Fuji memecahkan kelengangan di ruang tamu, “kalo lo—”</p>

<p><em>Ctik!</em></p>

<p>Suara itu memotong ucapan Fuji, berasal dari jentikan jari Haya. “Gue punya ide!” Serunya.</p>

<p>Satu alisku naik. <em>Tell us.</em></p>

<p>Telunjuknya menunjukku, “lo bisa nyediain apapun yang kita butuhin.” Telunjuknya berpindah pada Erde, “lo bisa lakuin apapun yang mau kita lakuin.” Kemudian bergeser pada Fuji, “lo bisa cari tau apapun yang pengen kita tau.” Terakhir telunjuk Haya mengarah pada dirinya sendiri, “gue...” Ia terdiam sejenak, “gue paling <em>advanced</em> di sini.”</p>

<p>Aku mengernyit.</p>

<p><em>“We&#39;re a perfect team!”</em> Haya berseru penuh semangat. “Kita sempurna. Kita semua punya pengalaman di kemampuan masing-masing.” Matanya berbinar, “jadi daripada lo semua kabur dan kejar-kejaran gini, mending kita jatohin orang-orang Timur itu.”</p>

<p><em>Crazy.</em></p>

<p>Ide itu ditolak mentah-mentah oleh Erde dan Fuji, terlihat jelas dari raut jengah dari keduanya.</p>

<p>“Lo nggak usah ikut-ikutan.” Ucap Erde ketus.</p>

<p>“Gue harus ikut dong.” Jawab Haya tidak terima.</p>

<p>“Kenapa? Ceknya udah tinggal dicairin Maru, dia bisa nyediain keperluan gue sama Fuji buat ke luar negeri. Ngapain balik ke Timur? Lo pikir—”</p>

<p>“Dengerin gue dulu.” Tangan Haya menyentuh lengan Erde—yang anehnya membuat Erde benar-benar diam, aku mengira Erde akan menangkis tangan Haya atau semacamnya. “Kak Maru, lo tau Makmur Pangan di mana?”</p>

<p><em>Makmur Pangan...</em></p>

<p>“Makmur Pangan pusat?”</p>

<p>Haya mengendikkan bahu, “Makmur Pangan yang jualan beras?”</p>

<p><em>Beras...</em></p>

<p>Karena pernah menjadi Mata Pisau Utara, aku tahu terdapat gudang beras raksasa di wilayah Utara.</p>

<p>“Utara...?” Jawabku—agak ragu. “Kenapa?”</p>

<p>“Bokap gue diabisin sama orang-orang Makmur Pangan.”</p>

<p><em>Oh. Fuck.</em></p>

<p>Aku menelan ludah. “Tahun berapa?”</p>

<p>“2007.”</p>

<p>Mungkin <em>lega</em> adalah perasaan yang salah untuk situasi sekarang. Tapi, aku benar-benar lega karena bapak dari Haya dieksekusi tahun 2007—<em>Tunggu.</em> Kenapa aku langsung mempercayai Haya?</p>

<p>“Tau dari mana orang Makmur Pangan yang bunuh bokap lo?”</p>

<p>“Bokap gue hakim di kasus beras plastik Makmur Pangan, semua yang nyelidikin kasus itu mati nggak wajar, termasuk bokap gue.” Jawabnya enteng, “Makmur Pangan bagian dari Mandala juga, kalo yang lo omongin tentang eksekutor tadi emang bener, berarti orang-orang yang ngelindungin Makmur Pangan yang bunuh bokap gue.”</p>

<p>“Emang bokap lo mati gimana?”</p>

<p>“Mobilnya terjun ke jurang. Katanya, <em>sih</em>, bunuh diri.” Haya terdiam sejenak,ia melirik ujung meja lalu kembali menatapku—wajahnya masih datar, “abis beliau meninggal, muncul kabar kalo beliau korup dan hakim yang... nggak bener gitu lah.”</p>

<p>Sebagai orang yang pernah menjadi Mata Pisau di wilayah Utara, membuang <em>sesuatu</em> ke jurang adalah cara paling <em>basic</em> yang dilakukan oleh para Mata Pisau Utara untuk melenyapkan apapun—tubuh, kendaraan, sekaligus bukti-bukti.</p>

<p>Aku mengangguk. “Bisa jadi Mata Pisau Utara yang nerjunin mobil bokap lo ke jurang.” Ucapku—berusaha biasa saja walaupun rasanya canggung, aneh, takut, tidak nyaman, berdebar—bagaimanapun ini adalah bapak Haya, “tapi bikin berita-berita kayak gitu bukan kerjaan Mata Pisau.”</p>

<p>Haya mengangguk perlahan. Seolah kami tidak sedang membicarakan mendiang Bapaknya yang meninggal dengan tragis.</p>

<p>Tangan Haya naik, mengusap dagunya, “abis itu, Bunda gue bunuh diri.” Ia menatapku. “Gue awalnya mikir beliau bunuh diri. Udah. Selesai. Tapi abis dengerin apa yang lo omongin, gue jadi mikir,” Ia menyandarkan punggungnya di sandaran kursi, “apa Makmur Pangan juga bunuh nyokap dan bikin nyokap gue jadi kayak orang bunuh diri?”</p>

<p>Mulutku tidak mampu menjawab. Hal yang disebut Haya lebih dari mampu untuk dilakukan oleh eksekutor di Mata Pisau.</p>

<p>Aku menggigit bibir, “maaf.” Ujarku—lebih mirip gumaman.</p>

<p>Dua alis Haya naik, “lo yang dorong bokap gue ke jurang?”</p>

<p><em>“No.”</em> Aku menggeleng cepat. <em>“I swear.”</em></p>

<p>“Lo yang bikin berita palsu soal bokap gue?”</p>

<p>Aku menggeleng lagi. <em>Jelas bukan.</em></p>

<p>“Lo bunuh nyokap gue?”</p>

<p>Aku kembali menggeleng kuat.</p>

<p>Haya memicingkan matanya. <em>“Then don&#39;t take the blame.”</em></p>

<p>Sepuluh detik berjalan dengan lambat.</p>

<p>Kepalaku menunduk. Menarik napas dalam lalu menghembuskannya kasar.</p>

<p>Aku mengangkat kepalaku, hendak menanggapi usul Haya sebelumnya. Tapi <em>Oh My God</em>, aku terkejut saat menyadari wajah pucat pasi Fuji dan dua mata Erde yang menatap kosong.</p>

<p>“Kenapa lo nggak pernah bilang ke kita?!” Erde menoleh pada Haya yang duduk di sampingnya.</p>

<p>Mata Haya tertuju pada lantai, “gue juga baru tau tadi.”</p>

<p>Dan, kini mata Erde juga ikut menghujani lantai. Hanya saja, pupil Erde terus bergerak—kepalanya sedang sibuk.</p>

<p>Sejenak kami semua terdiam.</p>

<p>Tidak ada suara apapun kecuali baling-baling kipas di atas kami dan suara motor di jalanan.</p>

<p>Mata Fuji mengerjap beberapa kali. “Mereka ngancurin hidup kita...” Gumamnya pelan.</p>

<p>Aku mengamininya.</p>

<p><em>Yeah, they did.</em></p>

<p>“Gue setuju sama Haya.” Seruan Erde memecah hening ruangan. Ia mengangkat wajahnya. “Kita bisa saling bantu.” Kepalanya ditolehkan pada Haya, “lo mau apa? Nemu yang bunuh bokap lo? Bunuh yang bunuh bokap lo?”</p>

<p>Entah mataku yang salah lihat atau memang mata Haya terlihat berair saat menatap Erde. Dan.. <em>Oh, God...</em> Mataku juga ikut berair. Perasaan bersalah itu muncul lagi, tatapan mata orang-orang yang rela mencium kakiku agar aku mengampuni nyawa mereka. Pandangan penuh penyesalan mereka saat menyadari napas yang mereka hirup adalah napas terakhir.</p>

<p><em>Aku pembunuh.</em></p>

<p>Dan di hadapanku, duduk seorang anak yang bapaknya dibunuh oleh orang-orang yang mendidikku menjadi pembunuh.</p>

<p><em>Oh, Dear Lord,</em></p>

<p>Aku menunduk.</p>

<p><em>Will You forgive me?</em></p>

<p>Mataku terpejam.</p>

<p><em>Every time I choose sin over you, I revert to the ways of my old self before I knew you. Help me to return to the paths of righteousness, to turn away from my wrongdoing.</em></p>

<p>Aku membuka mata, menatap tiga orang di hadapanku.</p>

<p><em>Dear Merciful Lord, please provide me with guidance in the future. Please give me strength to go on Your direction.</em></p>

<p>Tanpa kusadari, mulutku terbuka, “gue bisa bantu kalian...”</p>

<p><em>I will try, Lord...</em></p>

<p>“Kita bakal bebas.” Lanjutku.</p>

<p><em>...to change.</em></p>
]]></content:encoded>
      <guid>https://bulanjuni.writeas.com/mata-pisau</guid>
      <pubDate>Wed, 22 Mar 2023 08:23:51 +0000</pubDate>
    </item>
    <item>
      <title>(P)akar</title>
      <link>https://bulanjuni.writeas.com/p-akar?pk_campaign=rss-feed</link>
      <description>&lt;![CDATA[  POV: HIMALAYA&#xA;  cw / tw // harsh words ; violence &#xA;&#xA;Aku percaya struktur otak Erde memiliki lekukan sederhana. Saking sederhananya, mungkin lekukan otak dan ususnya hampir mirip. Dengan kata lain, aku membenci Erde dengan sepenuh hati, jantung, usus, otak, empedu, dan organ dalamku yang lain. &#xA;&#xA;Orang bodoh seperti Erde adalah manusia yang paling kuhindari di seluruh dunia. Aku tidak suka ketika dihadapkan dengan seseorang berdaya pikir rendah dan lamban karena aku tidak sabaran dan menurutku menjelaskan suatu hal yang mudah dimengerti adalah kesia-siaan.  !--more--&#xA;&#xA;Namun--aku tidak mau mengakuinya--aku dua kali lebih bodoh, aku sudah terlanjur jatuh hati pada orang bodoh yang berlagak pintar dengan menyamar menjadi mahasiswa hukum dan bersikap sok perhatian padaku. &#xA;&#xA;Shit.&#xA;&#xA;Lelaki bodoh yang kukasihi itu sekarang sedang berduaan dengan lelaki berbahaya yang dulunya (menurut dugaanku) mengalami krisis identitas karena ia begitu rajin memohon ampun pada Tuhan namun tetap bertahan di tempat yang membuatnya menentang Tuhannya. &#xA;&#xA;Fuji terus memintaku untuk tenang selama di jalan. Dia bilang, jangan khawatirin Bang Erde, tenang aja dia nggak bakal kenapa-kenapa. &#xA;&#xA;Oh, yeah. Tentu saja. Jika kami semua berkelahi di satu ruangan, aku akan menjadi orang pertama yang K.O dan Erde adalah orang terakhir yang harus kukhawatirkan, tapi apa salahnya jika aku takut sesuatu terjadi pada Erde? Mudah bagi Fuji untuk tidak khawatir karena di kepalanya Maru hanyalah debt collector ganas yang tidak bisa melakukan apa-apa jika sendirian--mungkin di kepalanya si bodoh Erde memiliki kemampuan self defense yang luar biasa. Dia tidak tahu Maru berkaitan dengan panti asuhan yang dihindarinya mati-matian.&#xA;&#xA;Ketika kami sampai di rumah Erde, aku sempat mengamati rumahnya yang biasa saja. Pagar dan teras rumah Erde hanya berjarak dua langkah. Walaupun rumah kontrakanku terlihat lebih modern, tapi rumah Erde juga masih layak huni--memang sih, rumahnya berada di lingkungan yang padat dan--uhm--agak kumuh.&#xA;&#xA;Tepat sebelum membuka pintu, aku menarik napas lalu mengeluarkannya perlahan. Tarikan napas ini berguna untuk menenangkan otakku yang sebenarnya sudah siap mengeluarkan reak--&#xA;&#xA;Oh. Shit.&#xA;&#xA;Aku melotot saat Erde tiba-tiba menyerang ke arahku begitu mata kami bertemu. Bagian leher hoodie-ku ditarik hingga aku merasa tercekik. Sialnya, bukannya marah karena tiba-tiba diserang--padahal aku mengkhawatirkannya setengah mati, kepalaku justru membuat berbagai cabang kemungkinan mengapa Erde menarik kerahku dengan penuh amarah—aku salah apa?&#xA;&#xA;Di halaman rumah Erde yang tidak seberapa luas, tubuhku terdorong kuat, punggungku sempat berbenturan dengan kusen pintu. Aku meringis.&#xA;&#xA;Wajah Erde berubah merah padam dengan mata menajam. Rahangnya mengeras. &#34;Lo bilang sama Maru kalo gue sama Fuji kabur dari panti?!&#34; Desisnya, cengkeramannya pada leherku menguat. Aku nyaris terbatuk. &#xA;&#xA;Erde menarikku ke dalam rumah saat menyadari dia baru saja membuat kegaduhan di teras rumahnya. Punggungku kembali dibenturkan pada dinding. Sebelum kakinya menendang daun pintu hingga tertutup sempurna, tangannya yang tidak mencengkeram hoodie-ku menunjuk Fuji yang ikut masuk, &#34;tunggu di luar!&#34;&#xA;&#xA;Lelaki malang itu menatapku dan Maru--yang berada di belakang Erde--bergantian sebelum akhirnya keluar.&#xA;&#xA;&#34;Uhuk! Uhuk!&#34; Kini aku benar-benar terbatuk karena cekikan di leherku yang makin kuat. &#xA;&#xA;&#34;Lo ngomongin apa sama Maru tadi malem?!&#34; Seru Erde cepat. &#34;Lo tau nggak Maru kerja di mana? Kantor dia yang ngurusin duit panti itu! Lo—&#34;&#xA;&#xA;&#34;Bermuda!&#34; &#xA;&#xA;Oh, yep. Maru.&#xA;&#xA;Lelaki itu muncul dari punggung Erde, &#34;hey, hey, stop!&#34; Tangannya berusaha melepas cengkeraman Erde pada hoodie-ku, memberikan sedikit kelegaan untuk bernapas. Tapi kelegaan itu hanya bertahan beberapa detik, Erde melepas cengkeramannya dengan mendorongku kuat-kuat, punggungku kembali terbentur tembok. Aku mengusap leherku dan terbatuk beberapa kali.&#xA;&#xA;&#34;Oh gitu.&#34; Erde menatapku dan Maru bergantian. Ia menjaga jarak dari kami berdua. &#34;Sekarang kalian berdua setim? Kalian janjian mau dateng ke rumah gue? Mau ngapain? Nangkep gue sama Fuji?&#34;&#xA;&#xA;&#34;Denger—&#34;&#xA;&#xA;&#34;Sini.&#34; Tangan Erde--dengan kecepatan yang nyaris tidak tertangkap mata--merogoh saku celananya lalu mengacungkan pisau lipatnya pada Maru, kakinya memasang kuda-kuda. &#34;Maju selangkah lagi, gue pastiin lo nggak bisa jalan kemana-mana.&#34;&#xA;&#xA;Sepertinya Erde tidak punya respon fight or flight, dia hanya mengenal fight or fight.&#xA;&#xA;Cklek!&#xA;&#xA;Pintu terbuka, wajah Fuji terlihat. Kami semua menoleh tapi Erde sama sekali tidak bergeming dari posisinya--seolah dia tidak peduli misal seseorang yang baru membuka pintu adalah orang asing dan orang itu melihatnya dengan posisi mengacungkan pisau.&#xA;&#xA;Fuji meringis begitu melihat sebuah pisau teracung di rumahnya yang sempit. &#34;Bang, tenang dulu. Mereka nggak janjian.&#34;&#xA;&#xA;Oh. Dia menguping pembicaraan kami.&#xA;&#xA;&#34;Lo kenapa balik lagi?!&#34; Erde berdecak kesal. Dia terlihat dua kali lebih kesal dari sebelumnya. Menurut hematku, wajah super masam Erde saat ini karena Maru yang berdiri tepat dua langkah di depan Fuji. Mungkin Erde takut Maru akan melakukan sesuatu pada adiknya. &#34;Gue udah nyuruh lo nunggu di luar, &#39;kan?&#34;&#xA;&#xA;&#34;Gue nggak sengaja denger yang kalian omongin dari luar.&#34; Fuji bergeser perlahan mendekati Erde, &#34;Haya nggak janjian sama Maru, tadi gue ketemu Haya di jalan, dia nggak tau rumah kita di mana.&#34;&#xA;&#xA;Erde menurunkan pisaunya. Ia melirik Maru.&#xA;&#xA;&#34;I swear gue nggak ada janjian apa-apa sama Haya.&#34; Maru menatap Erde lurus, &#34;gue cuma mau ngomongin cek tadi malem.&#34;&#xA;&#xA;&#34;Lo nanyain tentang kabur dari panti!&#34; Sanggah Erde tajam, &#34;dan yang tau kalo gue kabur dari panti cuma lo!&#34; Kini mata hitamnya menghardikku.&#xA;&#xA;&#34;Oke, maaf!&#34; Seruku cepat. Aku terkejut saat mendengar suaraku yang serak dipadu dengan nada suaraku yang naik--aku terbatuk sekali lagi. &#34;Gue emang nanyain ke Maru tentang orang yang kabur dari panti tapi gue nggak bilang kalo itu elo!&#34; Dan aku semakin terkejut saat mulutku kembali menghasilkan nada ketus. Sepertinya aku terbawa emosi karena baru saja dicekik oleh orang yang kukhawatirkan. Aku menarik napas, membiarkan lobus frontalku kembali bekerja agar aku tidak mengeluarkan reaksi berlebihan hanya karena dicekik Erde.&#xA;&#xA;Hening. &#xA;&#xA;Permasalahan (atau keunggulan?) manusia dengan lekukan otak kompleks sepertiku adalah terbiasa melakukan analisis panjang saat mulutku tidak digunakan. &#xA;&#xA;Dalam waktu hening yang singkat ini. Aku benar-benar merutuki Erde dan semua situasi yang kami alami sekarang. Niatku datang ke rumah Erde adalah untuk menyampaikan simpatiku tentang tragedi yang menimpanya dan menceritakan tentang keterkaitan panti biadab itu dan kematian ayahku. Namun yang kudapatkan malah cekikan, benturan, dan tatapan sinis dari Erde.  Lagi-lagi, aku harus menarik banyak oksigen ke paru-paruku agar otakku berhenti menyuruhku menunjukkan reaksi kecewa.&#xA;&#xA;Sial. Ini semua karena Maru!&#xA;Dia merusak rencanaku dengan datang mendahuluiku. &#xA;&#xA;Erde menghela napas. Melipat kembali pisaunya lalu memasukkanya ke dalam saku. &#34;Lo nggak tau kita udah hampir mati berapa kali karena orang lain tau kita kabur dari panti?&#34; Ia menatapku datar. &#xA;&#xA;Aku menelan ludah. Menggeleng pelan. Tidak tau.&#xA;&#xA;Decakan Erde terdengar memenuhi ruangan. Dia terlihat enggan menyebutkan berapa kali ia hampir mati.&#xA;&#xA;Tunggu... kenapa orang dari panti itu masih mengejar Erde dan Fuji padahal sudah bertahun-tahun terlewati?&#xA;&#xA;Kal--&#xA;&#xA;&#34;Terus ngapain lo tanya sama dia?&#34; Erde melotot galak--membuatku segera tersadar dari lamunan singkatku. &#34;Lo sendiri yang bilang kantor dia ada hubungannya sama panti itu!&#34;&#xA;&#xA;Lihat, &#39;kan? Erde memang bodohnya bukan main.&#xA;&#xA;Untuk situasi seperti ini, pertanyaan yang seharusnya ia ajukan pertama bukan &#39;kenapa Haya nanya sama Maru?&#39; tapi &#39;kenapa Maru nanyain itu ke gue?&#39;&#xA;&#xA;Kalau Maru hanya ingin mengonfirmasi, ada banyak hal yang bisa dilakukannya selain bertanya langsung pada Erde. Kalau Maru memang ingin mengkonfrontasi Erde, apa tujuannya? Dia tahu persis pertanyaan itu sensitif dan Erde bisa saja membunuhnya.&#xA;&#xA;Aku melirik Maru. Berusaha melempar beban menjawab pertanyaan ini padanya--karena memang dialah akar masalah pagi ini.&#xA;&#xA;Seolah menangkap sinyalku, Maru segera berdeham, &#34;Bermuda, listen.&#34;&#xA;&#xA;Erde menoleh cepat pada Maru. &#34;Lo diem. Jangan bikin gue makin pengen ngabisin lo.&#34;&#xA;&#xA;&#34;Bang,&#34; kini Fuji ikut mendekati Erde, &#34;kayaknya dia mau jelasin sesuatu.&#34;&#xA;&#xA;Astaga. Aku sangat membenci Erde dan kemampuan linguistiknya yang rendah.&#xA;&#xA;&#34;Urusan gue sama orang ini cuma cek aja.&#34; Erde menatap Fuji jengah. &#34;Dia nggak punya urusan nanyain tentang panti, Ji. Gue ama dia udah sepakat tadi malem buat lupain semuanya asal ceknya--&#34;&#xA;&#xA;&#34;Erde,&#34; suaraku memanggil serak, &#34;biarin Maru jelasin dulu.&#34;&#xA;&#xA;Benar. Maru harus menjelaskan mengapa ia datang kemari pagi buta dan menanyakan pertanyaan itu.&#xA;&#xA;Aku juga ingin tahu. &#xA;&#xA;Namun tidak ada jawaban. Ruangan lengang. &#xA;&#xA;Erde menghela napas lalu menghembuskannya pelan. Ia menoleh pada Maru, matanya mempersilakan Maru memberi penjelasan.&#xA;&#xA;&#34;Kantor gue emang ada hubungannya sama panti yang dulu lo tinggalin,&#34; Maru membuka penjelasannya, &#34;tapi gue nggak ada niatan buat ngelaporin kalian.&#34; Lanjutnya, nada suaranya tenang. &#34;Haya juga nggak ngasih tau kalo lo pernah kabur dari panti, gue cuma asal nebak aja.&#34;&#xA;&#xA;&#34;Lo ke rumah gue pagi-pagi cuma buat asal nebak aja?&#34; Satu alis Erde naik. &#34;Buat mastiin tebakan lo bener atau salah?&#34;&#xA;&#xA;&#34;Iy--bukan. Iya tapi bukan.&#34; Maru menggumam pelan. &#34;Iya gue emang mau mastiin tebakan gue bener atau salah, tapi bukan itu tujuan gue kesini.&#34;&#xA;&#xA;&#34;Terus?&#34;&#xA;&#xA;&#34;Gue mau tanya gimana lo bisa kabur dari panti.&#34; &#xA;&#xA;Bahkan aku ikut terkejut mendengar jawaban Maru. &#xA;&#xA;&#34;Kenapa?&#34; Tanya Erde sangsi. &#34;Buat nyegah orang lain pake metode yang sama kayak gue? Biar kantor lo bisa ambil tindakan prefen--&#34;&#xA;&#xA;&#34;No, it&#39;s not. Bukan itu.&#34; Maru menggeleng cepat. &#xA;&#xA;Kami (aku, Erde, dan Fuji) memandang Maru dengan tatapan heran. Kami sama-sama penasaran dengan apa yang akan diucapkan mulutnya karena matanya melirik kami bergantian, seolah dia ragu akan meloloskan kalimatnya.&#xA;&#xA;&#34;Gu--gue juga mau kabur.&#34;&#xA;&#xA;Oh. Shit.&#xA;&#xA;Kini aku terperangah. &#xA;&#xA;&#34;Lo mau kabur dari kantor lo?&#34; Fuji menyambar, kini ia sudah berada di samping Erde--tepat di depan Maru. &#xA;&#xA;Maru menggeleng, &#34;gue mau kabur dari organisasi gue.&#34;&#xA;&#xA;Shit.&#xA;&#xA;&#34;Kalo kalian bisa kabur dari panti sampe sekarang,&#34; Maru melanjutkan. &#34;Kalian pasti bisa bantu gue kabur dari mereka.&#34;&#xA;&#xA;Aku menggaruk bagian belakang kepalaku yang mendadak terasa gatal. &#xA;&#xA;Organisasi yang dimaksud Maru pastilah seluruh nama perusahaan-perusahaan besar yang kami temukan saat itu. Mandala Group?&#xA;&#xA;Mau dipikir bagaimanapun, peluang Maru untuk berhasil kabur sangat kecil. Mana bisa dia lolos dari gurita raksasa seperti mereka? Bahkan para polisi, jaksa, dan hakim (mendiang Ayah) kehilangan nyawa hanya karena menjalankan tugas. Bagaimana dengan Maru yang nantinya akan dicap pengkhianat oleh organisasi itu? Dia akan diburu sepanjang hidupnya. &#xA;&#xA;Dan dia meminta bantuan Erde untuk kabur?&#xA;&#xA;Aku mengernyit. &#xA;&#xA;Maru hanya akan membahayakan Erde. Bisa-bisa Erde dan Fuji ikut diburu oleh organisasi itu karena membantu Maru, belum lagi kalau nantinya mereka mengetahui asal-usul Erde dan Fuji sebagai penghuni panti yang kabur. &#xA;&#xA;Mataku cepat-cepat melirik Erde dan Fuji. Aku dapat melihat keraguan di wajah Fuji tapi si bodoh Erde justru terlihat sedang mempertimbangkan sesuatu.&#xA;&#xA;Aku tidak setuju dengan apapun yang direncakan Maru. Dia terlihat seperti sedang menggali kuburannya sendiri.&#xA;&#xA;Atau...&#xA;&#xA;Dia sedang menggali kuburan Erde dan Fuji...&#xA;&#xA;Bagaimana kalau ini hanya tipuan? &#xA;&#xA;Bagaimana kalau Maru hanya ingin menjebak Erde dan Fuji untuk diserahkan pada panti asuhan itu lagi?&#xA;&#xA;Kepalaku segera menoleh pada Maru. &#34;Lo. Maru--&#34;&#xA;&#xA;&#34;Kak Maru.&#34; Koreksinya--menyebalkan.&#xA;&#xA;&#34;Oke, Kak Maru.&#34; Aku memutar bola mataku malas. &#34;Gimana kita bisa tau lo nggak lagi nipu kita? Bukannya lo udah kerja dari lama sama mereka? Erde sama Fuji juga masih dikejar sama panti asuhan itu,&#34; aku berdeham, &#34;gimana kita bisa tau lo bukan suruhan mereka?&#34;&#xA;&#xA;Fuji menatapku dengan dua alis terangkat sementara Erde melirikku tajam. &#xA;&#xA;Bagus, mereka ikut terkejut.&#xA;&#xA;&#34;Jaga ya mulut lo!&#34; Sergah Maru cepat. &#34;Gue udah bilang, kantor gue cuma ngurusin duit--&#34;&#xA;&#xA;&#34;Lo tau dari mana dia udah kerja dari lama sama mereka?&#34; Potong Erde cepat. Dahinya mengernyit, dua bola matanya menatapku penuh selidik. &#xA;&#xA;Aku mengendikkan bahuku. Karena aku HOKU.&#xA;&#xA;Sepertinya jawabanku sampai pada Erde. Dia meremas ujung kaos putih yang dikenakannya, menoleh pada Maru. &#34;Kalo gue nggak mau bantu, gimana?&#34;&#xA;&#xA;&#34;No way.&#34; &#xA;&#xA;Dua alisku bertaut begitu mendengar jawaban Maru. &#34;Yes way!&#34; Seruku tidak terima. &#xA;&#xA;&#34;Lo bakal bantuin gue.&#34; Maru menatap Erde--mengabaikan seruanku. &#xA;&#xA;&#34;Kenapa?&#34;&#xA;&#xA;&#34;Karena nasib kita sama.&#34;&#xA;&#xA;Lengang.&#xA;&#xA;Nasib sama?!&#xA;&#xA;Semua kepala di ruangan itu menoleh pada Maru.&#xA;&#xA;&#34;Dulu gue tinggal di panti itu.&#34;&#xA;&#xA;]]&gt;</description>
      <content:encoded><![CDATA[<blockquote><p>POV: HIMALAYA
cw / tw // harsh words ; violence</p></blockquote>

<p>Aku percaya struktur otak Erde memiliki lekukan sederhana. Saking sederhananya, mungkin lekukan otak dan ususnya hampir mirip. Dengan kata lain, aku membenci Erde dengan sepenuh hati, jantung, usus, otak, empedu, dan organ dalamku yang lain.</p>

<p>Orang bodoh seperti Erde adalah manusia yang paling kuhindari di seluruh dunia. Aku tidak suka ketika dihadapkan dengan seseorang berdaya pikir rendah dan lamban karena aku tidak sabaran dan menurutku menjelaskan suatu hal yang mudah dimengerti adalah kesia-siaan.  </p>

<p>Namun—aku tidak mau mengakuinya—aku dua kali lebih bodoh, aku sudah terlanjur jatuh hati pada orang bodoh yang berlagak pintar dengan menyamar menjadi mahasiswa hukum dan bersikap sok perhatian padaku.</p>

<p><em>Shit.</em></p>

<p>Lelaki bodoh yang kukasihi itu sekarang sedang berduaan dengan lelaki berbahaya yang dulunya (menurut dugaanku) mengalami krisis identitas karena ia begitu rajin memohon ampun pada Tuhan namun tetap bertahan di tempat yang membuatnya menentang Tuhannya.</p>

<p>Fuji terus memintaku untuk tenang selama di jalan. Dia bilang, <em>jangan khawatirin Bang Erde, tenang aja dia nggak bakal kenapa-kenapa</em>.</p>

<p><em>Oh, yeah</em>. Tentu saja. Jika kami semua berkelahi di satu ruangan, aku akan menjadi orang pertama yang <em>K.O</em> dan Erde adalah orang terakhir yang harus kukhawatirkan, tapi apa salahnya jika aku takut sesuatu terjadi pada Erde? Mudah bagi Fuji untuk tidak khawatir karena di kepalanya Maru hanyalah <em>debt collector</em> ganas yang tidak bisa melakukan apa-apa jika sendirian—mungkin di kepalanya si bodoh Erde memiliki kemampuan <em>self defense</em> yang luar biasa. Dia tidak tahu Maru berkaitan dengan panti asuhan yang dihindarinya mati-matian.</p>

<p>Ketika kami sampai di rumah Erde, aku sempat mengamati rumahnya yang biasa saja. Pagar dan teras rumah Erde hanya berjarak dua langkah. Walaupun rumah kontrakanku terlihat lebih modern, tapi rumah Erde juga masih layak huni—memang sih, rumahnya berada di lingkungan yang padat dan—<em>uhm</em>—agak kumuh.</p>

<p>Tepat sebelum membuka pintu, aku menarik napas lalu mengeluarkannya perlahan. Tarikan napas ini berguna untuk menenangkan otakku yang sebenarnya sudah siap mengeluarkan reak—</p>

<p><em>Oh. Shit.</em></p>

<p>Aku melotot saat Erde tiba-tiba menyerang ke arahku begitu mata kami bertemu. Bagian leher <em>hoodie</em>-ku ditarik hingga aku merasa tercekik. Sialnya, bukannya marah karena tiba-tiba diserang—padahal aku mengkhawatirkannya setengah mati, kepalaku justru membuat berbagai cabang kemungkinan mengapa Erde menarik kerahku dengan penuh amarah—<em>aku salah apa?</em></p>

<p>Di halaman rumah Erde yang tidak seberapa luas, tubuhku terdorong kuat, punggungku sempat berbenturan dengan kusen pintu. Aku meringis.</p>

<p>Wajah Erde berubah merah padam dengan mata menajam. Rahangnya mengeras. “Lo bilang sama Maru kalo gue sama Fuji kabur dari panti?!” Desisnya, cengkeramannya pada leherku menguat. Aku nyaris terbatuk.</p>

<p>Erde menarikku ke dalam rumah saat menyadari dia baru saja membuat kegaduhan di teras rumahnya. Punggungku kembali dibenturkan pada dinding. Sebelum kakinya menendang daun pintu hingga tertutup sempurna, tangannya yang tidak mencengkeram <em>hoodie</em>-ku menunjuk Fuji yang ikut masuk, “tunggu di luar!”</p>

<p>Lelaki malang itu menatapku dan Maru—yang berada di belakang Erde—bergantian sebelum akhirnya keluar.</p>

<p><em>“Uhuk! Uhuk!”</em> Kini aku benar-benar terbatuk karena cekikan di leherku yang makin kuat.</p>

<p>“Lo ngomongin apa sama Maru tadi malem?!” Seru Erde cepat. “Lo tau nggak Maru kerja di mana? Kantor dia yang ngurusin duit panti itu! Lo—”</p>

<p>“Bermuda!”</p>

<p><em>Oh, yep. Maru.</em></p>

<p>Lelaki itu muncul dari punggung Erde, <em>“hey, hey, stop!”</em> Tangannya berusaha melepas cengkeraman Erde pada <em>hoodie</em>-ku, memberikan sedikit kelegaan untuk bernapas. Tapi kelegaan itu hanya bertahan beberapa detik, Erde melepas cengkeramannya dengan mendorongku kuat-kuat, punggungku kembali terbentur tembok. Aku mengusap leherku dan terbatuk beberapa kali.</p>

<p>“Oh gitu.” Erde menatapku dan Maru bergantian. Ia menjaga jarak dari kami berdua. “Sekarang kalian berdua setim? Kalian janjian mau dateng ke rumah gue? Mau ngapain? Nangkep gue sama Fuji?”</p>

<p>“Denger—”</p>

<p>“Sini.” Tangan Erde—dengan kecepatan yang nyaris tidak tertangkap mata—merogoh saku celananya lalu mengacungkan pisau lipatnya pada Maru, kakinya memasang kuda-kuda. “Maju selangkah lagi, gue pastiin lo nggak bisa jalan kemana-mana.”</p>

<p>Sepertinya Erde tidak punya respon <em>fight or flight</em>, dia hanya mengenal <em>fight or fight</em>.</p>

<p><em>Cklek!</em></p>

<p>Pintu terbuka, wajah Fuji terlihat. Kami semua menoleh tapi Erde sama sekali tidak bergeming dari posisinya—seolah dia tidak peduli misal seseorang yang baru membuka pintu adalah orang asing dan orang itu melihatnya dengan posisi mengacungkan pisau.</p>

<p>Fuji meringis begitu melihat sebuah pisau teracung di rumahnya yang sempit. “Bang, tenang dulu. Mereka nggak janjian.”</p>

<p><em>Oh. Dia menguping pembicaraan kami.</em></p>

<p>“Lo kenapa balik lagi?!” Erde berdecak kesal. Dia terlihat dua kali lebih kesal dari sebelumnya. Menurut hematku, wajah super masam Erde saat ini karena Maru yang berdiri tepat dua langkah di depan Fuji. Mungkin Erde takut Maru akan melakukan sesuatu pada <em>adiknya</em>. “Gue udah nyuruh lo nunggu di luar, &#39;kan?”</p>

<p>“Gue nggak sengaja denger yang kalian omongin dari luar.” Fuji bergeser perlahan mendekati Erde, “Haya nggak janjian sama Maru, tadi gue ketemu Haya di jalan, dia nggak tau rumah kita di mana.”</p>

<p>Erde menurunkan pisaunya. Ia melirik Maru.</p>

<p>“<em>I swear</em> gue nggak ada janjian apa-apa sama Haya.” Maru menatap Erde lurus, “gue cuma mau ngomongin cek tadi malem.”</p>

<p>“Lo nanyain tentang kabur dari panti!” Sanggah Erde tajam, “dan yang tau kalo gue kabur dari panti cuma lo!” Kini mata hitamnya menghardikku.</p>

<p>“Oke, maaf!” Seruku cepat. Aku terkejut saat mendengar suaraku yang serak dipadu dengan nada suaraku yang naik—aku terbatuk sekali lagi. “Gue emang nanyain ke Maru tentang orang yang kabur dari panti tapi gue nggak bilang kalo itu elo!” Dan aku semakin terkejut saat mulutku kembali menghasilkan nada ketus. Sepertinya aku terbawa emosi karena baru saja dicekik oleh orang yang kukhawatirkan. Aku menarik napas, membiarkan lobus frontalku kembali bekerja agar aku tidak mengeluarkan reaksi berlebihan hanya karena dicekik Erde.</p>

<p>Hening.</p>

<p>Permasalahan (atau keunggulan?) manusia dengan lekukan otak kompleks sepertiku adalah terbiasa melakukan analisis panjang saat mulutku tidak digunakan.</p>

<p>Dalam waktu hening yang singkat ini. Aku benar-benar merutuki Erde dan semua situasi yang kami alami sekarang. Niatku datang ke rumah Erde adalah untuk menyampaikan simpatiku tentang tragedi yang menimpanya dan menceritakan tentang keterkaitan panti biadab itu dan kematian ayahku. Namun yang kudapatkan malah cekikan, benturan, dan tatapan sinis dari Erde.  Lagi-lagi, aku harus menarik banyak oksigen ke paru-paruku agar otakku berhenti menyuruhku menunjukkan reaksi kecewa.</p>

<p><em>Sial. Ini semua karena Maru!</em>
Dia merusak rencanaku dengan datang mendahuluiku.</p>

<p>Erde menghela napas. Melipat kembali pisaunya lalu memasukkanya ke dalam saku. “Lo nggak tau kita udah hampir mati berapa kali karena orang lain tau kita kabur dari panti?” Ia menatapku datar.</p>

<p>Aku menelan ludah. Menggeleng pelan. <em>Tidak tau.</em></p>

<p>Decakan Erde terdengar memenuhi ruangan. Dia terlihat enggan menyebutkan berapa kali ia hampir mati.</p>

<p><em>Tunggu... kenapa orang dari panti itu masih mengejar Erde dan Fuji padahal sudah bertahun-tahun terlewati?</em></p>

<p><em>Kal—</em></p>

<p>“Terus ngapain lo tanya sama dia?” Erde melotot galak—membuatku segera tersadar dari lamunan singkatku. “Lo sendiri yang bilang kantor dia ada hubungannya sama panti itu!”</p>

<p><em>Lihat, &#39;kan? Erde memang bodohnya bukan main.</em></p>

<p>Untuk situasi seperti ini, pertanyaan yang seharusnya ia ajukan pertama bukan <em>&#39;kenapa Haya nanya sama Maru?&#39;</em> tapi <em>&#39;kenapa Maru nanyain itu ke gue?&#39;</em></p>

<p>Kalau Maru hanya ingin mengonfirmasi, ada banyak hal yang bisa dilakukannya selain bertanya langsung pada Erde. Kalau Maru memang ingin mengkonfrontasi Erde, apa tujuannya? Dia tahu persis pertanyaan itu sensitif dan Erde bisa saja membunuhnya.</p>

<p>Aku melirik Maru. Berusaha melempar beban menjawab pertanyaan ini padanya—karena memang dialah akar masalah pagi ini.</p>

<p>Seolah menangkap sinyalku, Maru segera berdeham, “Bermuda, <em>listen</em>.”</p>

<p>Erde menoleh cepat pada Maru. “Lo diem. Jangan bikin gue makin pengen ngabisin lo.”</p>

<p>“Bang,” kini Fuji ikut mendekati Erde, “kayaknya dia mau jelasin sesuatu.”</p>

<p><em>Astaga. Aku sangat membenci Erde dan kemampuan linguistiknya yang rendah.</em></p>

<p>“Urusan gue sama orang ini cuma cek aja.” Erde menatap Fuji jengah. “Dia nggak punya urusan nanyain tentang panti, Ji. Gue ama dia udah sepakat tadi malem buat lupain semuanya asal ceknya—”</p>

<p>“Erde,” suaraku memanggil serak, “biarin Maru jelasin dulu.”</p>

<p><em>Benar. Maru harus menjelaskan mengapa ia datang kemari pagi buta dan menanyakan pertanyaan itu.</em></p>

<p>Aku juga ingin tahu.</p>

<p>Namun tidak ada jawaban. Ruangan lengang.</p>

<p>Erde menghela napas lalu menghembuskannya pelan. Ia menoleh pada Maru, matanya mempersilakan Maru memberi penjelasan.</p>

<p>“Kantor gue emang ada hubungannya sama panti yang dulu lo tinggalin,” Maru membuka penjelasannya, “tapi gue nggak ada niatan buat ngelaporin kalian.” Lanjutnya, nada suaranya tenang. “Haya juga nggak ngasih tau kalo lo pernah kabur dari panti, gue cuma asal nebak aja.”</p>

<p>“Lo ke rumah gue pagi-pagi cuma buat <em>asal nebak aja</em>?” Satu alis Erde naik. “Buat mastiin tebakan lo bener atau salah?”</p>

<p>“Iy—bukan. Iya tapi bukan.” Maru menggumam pelan. “Iya gue emang mau mastiin tebakan gue bener atau salah, tapi bukan itu tujuan gue kesini.”</p>

<p>“Terus?”</p>

<p>“Gue mau tanya gimana lo bisa kabur dari panti.”</p>

<p>Bahkan aku ikut terkejut mendengar jawaban Maru.</p>

<p>“Kenapa?” Tanya Erde sangsi. “Buat nyegah orang lain pake metode yang sama kayak gue? Biar kantor lo bisa ambil tindakan prefen—”</p>

<p>“<em>No, it&#39;s not.</em> Bukan itu.” Maru menggeleng cepat.</p>

<p>Kami (aku, Erde, dan Fuji) memandang Maru dengan tatapan heran. Kami sama-sama penasaran dengan apa yang akan diucapkan mulutnya karena matanya melirik kami bergantian, seolah dia ragu akan meloloskan kalimatnya.</p>

<p>“Gu—gue juga mau kabur.”</p>

<p><em>Oh. Shit.</em></p>

<p>Kini aku terperangah.</p>

<p>“Lo mau kabur dari kantor lo?” Fuji menyambar, kini ia sudah berada di samping Erde—tepat di depan Maru.</p>

<p>Maru menggeleng, “gue mau kabur dari organisasi gue.”</p>

<p><em>Shit.</em></p>

<p>“Kalo kalian bisa kabur dari panti sampe sekarang,” Maru melanjutkan. “Kalian pasti bisa bantu gue kabur dari mereka.”</p>

<p>Aku menggaruk bagian belakang kepalaku yang mendadak terasa gatal.</p>

<p>Organisasi yang dimaksud Maru pastilah seluruh nama perusahaan-perusahaan besar yang kami temukan saat itu. <em>Mandala Group?</em></p>

<p>Mau dipikir bagaimanapun, peluang Maru untuk berhasil kabur sangat kecil. Mana bisa dia lolos dari gurita raksasa seperti mereka? Bahkan para polisi, jaksa, dan hakim (mendiang Ayah) kehilangan nyawa hanya karena menjalankan tugas. Bagaimana dengan Maru yang nantinya akan dicap <em>pengkhianat</em> oleh <em>organisasi</em> itu? Dia akan diburu sepanjang hidupnya.</p>

<p>Dan dia meminta bantuan Erde untuk kabur?</p>

<p>Aku mengernyit.</p>

<p>Maru hanya akan membahayakan Erde. Bisa-bisa Erde dan Fuji ikut diburu oleh organisasi itu karena membantu Maru, belum lagi kalau nantinya mereka mengetahui asal-usul Erde dan Fuji sebagai penghuni panti yang kabur.</p>

<p>Mataku cepat-cepat melirik Erde dan Fuji. Aku dapat melihat keraguan di wajah Fuji tapi si bodoh Erde justru terlihat sedang mempertimbangkan sesuatu.</p>

<p>Aku tidak setuju dengan apapun yang direncakan Maru. Dia terlihat seperti sedang menggali kuburannya sendiri.</p>

<p><em>Atau...</em></p>

<p><em>Dia sedang menggali kuburan Erde dan Fuji...</em></p>

<p>Bagaimana kalau ini hanya tipuan?</p>

<p>Bagaimana kalau Maru hanya ingin menjebak Erde dan Fuji untuk diserahkan pada panti asuhan itu lagi?</p>

<p>Kepalaku segera menoleh pada Maru. “Lo. Maru—”</p>

<p>“Kak Maru.” Koreksinya—menyebalkan.</p>

<p>“Oke, Kak Maru.” Aku memutar bola mataku malas. “Gimana kita bisa tau lo nggak lagi nipu kita? Bukannya lo udah kerja dari lama sama mereka? Erde sama Fuji juga masih dikejar sama panti asuhan itu,” aku berdeham, “gimana kita bisa tau lo bukan suruhan mereka?”</p>

<p>Fuji menatapku dengan dua alis terangkat sementara Erde melirikku tajam.</p>

<p><em>Bagus, mereka ikut terkejut.</em></p>

<p>“Jaga ya mulut lo!” Sergah Maru cepat. “Gue udah bilang, kantor gue cuma ngurusin duit—”</p>

<p>“Lo tau dari mana dia udah kerja dari lama sama mereka?” Potong Erde cepat. Dahinya mengernyit, dua bola matanya menatapku penuh selidik.</p>

<p>Aku mengendikkan bahuku. <em>Karena aku HOKU.</em></p>

<p>Sepertinya jawabanku sampai pada Erde. Dia meremas ujung kaos putih yang dikenakannya, menoleh pada Maru. “Kalo gue nggak mau bantu, gimana?”</p>

<p><em>“No way.”</em></p>

<p>Dua alisku bertaut begitu mendengar jawaban Maru. <em>“Yes way!”</em> Seruku tidak terima.</p>

<p>“Lo bakal bantuin gue.” Maru menatap Erde—mengabaikan seruanku.</p>

<p>“Kenapa?”</p>

<p>“Karena nasib kita sama.”</p>

<p>Lengang.</p>

<p><em>Nasib sama?!</em></p>

<p>Semua kepala di ruangan itu menoleh pada Maru.</p>

<p>“Dulu gue tinggal di panti itu.”</p>
]]></content:encoded>
      <guid>https://bulanjuni.writeas.com/p-akar</guid>
      <pubDate>Sat, 18 Mar 2023 19:31:06 +0000</pubDate>
    </item>
    <item>
      <title>Reflection</title>
      <link>https://bulanjuni.writeas.com/reflection?pk_campaign=rss-feed</link>
      <description>&lt;![CDATA[  POV: MAHAMERU&#xA;  cw / tw // gun ; pistol ; knife ; pisau ; fight scene ; berantem ; &#xA;&#xA;Apa, sih, yang lebih menyakitkan dari dikhianati teman sendiri?&#xA;&#xA;Aku yakin ada banyak jawaban tapi sampai sekarang hal tersakit yang pernah kurasakan adalah dikhianati oleh Haya. !--more--&#xA;&#xA;Oh, c&#39;mon, Haya adalah orang terakhir yang akan kucurigai jika korekku hilang di meja Warung Aa&#39;. Bagaimana bisa dia merencanakan pengkhianatan?&#xA;&#xA;Dua tahun bukan waktu yang singkat. Awalnya kami hanya teman makan di Warung Aa&#39;, kemudian kami bermain game bersama, kemudian kami saling menyimpan kontak satu sama lain. Haya adalah satu-satunya temanku selama aku berstatus mahasiswa di kampusku yang sekarang.&#xA;&#xA;Memang, sih, aku sendiri yang memutuskan tidak mau berteman dengan siapapun karena tidak mau pekerjaanku terganggu. Namun ada kalanya aku salah dalam menentukan mana yang aku mau dan tidak mau saat merasakannya sendiri. Contohnya adalah pertemananaku dengan Haya. &#xA;&#xA;Mempunyai teman ternyata tidak buruk juga. Kami dua orang asing dengan dunia masing-masing. Duduk di meja yang sama. Bertukar opini tentang hal yang tabu dan tidak kami tahu. Menyenangkan karena kami sama-sama tidak terlalu peduli dengan urusan pribadi.&#xA;&#xA;Aku suka berteman dengan Haya. Tidak ada hal berat yang perlu kupikirkan dan aku hanya perlu menjadi Mahameru tanpa kepura-puraan.  &#xA;&#xA;Yeah, bodohnya aku berpikir bahwa Haya adalah pengecualian. Hanya karena kami sama-sama tertutup dan tidak kepo, seharusnya aku tidak langsung mempercayainya. &#xA;&#xA;Aku masih mengingat darahku mendidih saat menangkap keberadaan Bermuda (slash Rudi) sore tadi. &#xA;&#xA;Lelaki berambut cepak itu sedang mengikutiku. Dia cukup pintar dengan menyuruh orang lain mengikutiku sebelumnya--sosok tinggi dengan rambut yang sedikit lebih panjang. Namun dia tidak cukup pintar untuk tidak bergabung dengan sosok yang lebih tinggi itu. Dia seharusnya sadar, aku pernah bertemu sekaligus berduel dengannya. Aku hapal tinggi, perawakan, panjang kaki, bahkan ritme napasnya. &#xA;&#xA;Terlebih lagi, dia membuntutiku di wilayahku sendiri! Salah satu penghinaan terbesar yang pernah kuterima. Setiap jalan, manusia, rumah, bangunan, hingga tempat sampah di sekitar kantorku adalah milik kami. Tidak ada satu nyamuk pun yang bergerak tanpa seizin kami, berani-beraninya lelaki tidak tahu diri itu menginjakkan kaki di tempat kami, membawa satu orang asing lain pula!&#xA;&#xA;Dari awal aku sudah yakin dia memang mencurigakan. Sembarangan memasuki kamarku, membawa pisau di balik bajunya, dan--yang paling utama--pisau itu diarahkan pada leherku. Lalu saat aku tahu nama aslinya bukan Rudi, aku yakin Haya juga terlibat dalam semua keanehan ini--kalau tidak, untuk apa dia menyembunyikan nama asli Bermuda di depanku?&#xA;&#xA;Kecurigaanku diperkuat saat sore tadi tiba-tiba ponselku bergetar hebat dan kantorku mendapat telepon dari divisi IT organisasi kami, mereka ingin berbicara langsung denganku.&#xA;&#xA;&#34;Mahameru, ada spyware di HP-mu. Coba cek email yang baru aja dikirim. Buka lewat komputer, jangan HP.&#34;&#xA;&#xA;Holy crap.&#xA;&#xA;Email itu berisi sebuah file yang terindikasi melakukan pemantauan di ponselku, lengkap dengan lokasi file tersebut. &#xA;&#xA;Ini aplikasi yang dipasang Haya di ponselku. &#xA;&#xA;Oh, c&#39;mon. Jangan Haya. &#xA;&#xA;Di detik itu juga, aku teringat bagaimana kami bertemu. Setiap adegan terulang kembali di kepalaku. &#xA;&#xA;Kalau Haya memang benar komplotan Bermuda, itu artinya semua yang dilakukannya padaku hanyalah strategi. &#xA;&#xA;He tricked me.&#xA;&#xA;Apalagi yang bisa kurasakan selain marah?&#xA;&#xA;Aku yakin aku terlihat bodoh di depan Haya. Aku yakin dia menertawaiku habis-habisan karena gampang didekati. Memalukan.&#xA;&#xA;Ada banyak musuh kami, aku tidak heran kalau ada pihak tertentu yang mengincar kami. Yang membuatku heran adalah, aku tidak menyangka mereka berani sedekat ini. &#xA;&#xA;Apalagi Haya. &#xA;&#xA;Terutama Haya.&#xA;&#xA;Benarkah semua yang dilakukan Haya selama ini hanya wujud strategi-nya? &#xA;&#xA;Yeah. Mungkin Haya tidak menganggap pertemanan kami. Bisa saja di matanya aku hanyalah target, tapi Haya adalah satu-satunya teman yang kumiliki. &#xA;&#xA;Oh, crap. Makin dipikirkan aku makin terlihat menyedihkan.&#xA;&#xA;Setidaknya aku menghabiskan sepuluh menit untuk merutuki Haya. &#xA;&#xA;Manusia Sialan.&#xA;&#xA;Sore itu juga aku merancang sebuah rencana memancing sederhana. Aku hanya perlu mengutarakan niatku untuk mengunjungi rumah Bermuda. Jika Haya yang datang, itu artinya Haya memang bekerja untuk Bermuda--karena dia tidak tahu alamat rumah Bermuda tapi dia tetap datang untuk membuntutiku. Jika Bermuda yang datang, itu artinya dia menangkap pesanku sebagai ajakan untuk berduel. Jika tidak ada yang datang, setidaknya mereka tahu kalau rencana mereka sudah terbongkar olehku, aku bisa memburu mereka dengan bebas. &#xA;&#xA;Tapi holy moly, aku tidak tahu keduanya akan datang. Tidak terprediksi. Rencana pancingan itu gagal. &#xA;&#xA;Awalnya aku sedikit lega karena hanya Haya yang datang. Dia terlihat ketakutan melihat pistol yang kubawa--tapi ketakutan itu tidak sepadan dengan amarah yang kurasakan. Setidaknya ketakutan yang dirasakannya harus menghantuinya seumur hidup atau minimal dia merasa ngeri tiap mendengar namaku agar perasaan kami setara.&#xA;&#xA;Tapi baru di tembakan pertama--itupun ke udara. Kini leherku justru menjadi korban dari pisau Bermuda, untuk yang kedua kalinya pula!&#xA;&#xA;Harus kuakui, Bermuda cukup luar biasa. Aku bahkan tidak menyadari kedatangannya--kapan dia sampai dan mengendap. Tidak mungkin dia datang ke tempat ini tanpa menggunakan kendaraan, tapi aku tidak mendengar kendaraannya sama sekali. Telingaku juga tidak sempat mendeteksi keberadaannya. &#xA;&#xA;Setengah kepalaku yakin Bermuda bukan orang biasa. Pegerakan senyap mungkin bisa diakali dan dibuat-buat, tapi caranya menodong leherku dengan pisau hanya dapat dilakukan oleh tangan yang sudah berpengalaman. Tidak ada keraguan pada genggamannya. &#xA;&#xA;Ini bukan pertama kalinya nyawaku berada di ujung senjata. Setidaknya, lebih dari seratus orang pernah mengarahkan mata pisaunya padaku. &#xA;&#xA;Hebatnya, tangan Bermuda tidak bergetar. Sama sekali. Tidak ada keraguan setitik pun. &#xA;&#xA;Bermuda tidak takut membunuh.&#xA;&#xA;Impressive. Organisasi kami memiliki satu sesi latihan khusus untuk melawan rasa takut membunuh. &#xA;&#xA;&#34;Buang.&#34; Ucapnya rendah. Suaranya sedingin angin malam yang berhembus mengenai dedaunan. &#xA;&#xA;Satu detik berlalu. Tubuhku tidak bergeming. Aku masih menodongkan pistolku pada Haya yang terduduk di tanah. Seiring bergesernya jarum di jam tanganku, aku dapat merasakan rasa ngilu yang menembus kulit leherku. Bermuda jelas tidak ragu menebas leherku.&#xA;&#xA;Mau tidak mau, aku membuang pistolku. Setidaknya, aku tidak boleh mati konyol di sini.&#xA;&#xA;Benda dingin yang sebelumnya telah mengenai kulitku itu segera terangkat. Perlahan, Bermuda berjalan memutar--masih dengan ujung pisau yang teracung sempurna padaku. Matanya menatapku tajam. &#xA;&#xA;Bermuda memang tidak takut membunuh, tapi dia jelas tidak berpengalaman mengintimidasi orang lain. Seharusnya dia menancapkan pisaunya lebih dalam agar aku tidak bisa melarikan diri. Namun alih-alih berjaga di belakangku, dia justru melangkah ke depanku. Sekarang, siapa yang dapat menjamin aku tidak akan memutar tubuhku lalu lari secepat mungkin?&#xA;&#xA;Sambil terus beradu mata dengannya, aku memanfaatkan kelonggaran ini untuk bertanya. &#34;Siapa yang nyuruh lo?&#34;&#xA;&#xA;Dahinya mengernyit, &#34;nyuruh?&#34; &#xA;&#xA;&#34;Siapa yang nyuruh lo buat mata-matain tempat gue?&#34; Ulangku. Mataku mengikuti Bermuda yang masih berjalan perlahan hingga dia berada tepat di antara aku dan Haya. &#xA;&#xA;Oh, my... dia melindungi Haya?&#xA;&#xA;&#34;Lo nyuruh Haya?&#34; Aku menaikkan satu alisku. Kepalaku sedikit miring--berusaha menatap Haya yang masih berwajah pucat. &#34;Jadi bocah ini deketin gue emang sengaja buat nyari celah di gue?&#34;&#xA;&#xA;Haya menggeleng cepat. &#34;Nggak. Sumpah. Nggak.&#34;&#xA;&#xA;Pandanganku pada Haya terputus begitu Bermuda menggeser tubuhnya, matanya dan mata pisau di tangannya menatapku sama-sama tajam. &#34;Ini semua rencana gue.&#34; &#xA;&#xA;Apa?&#xA;&#xA;Jadi Haya tidak merencanakan ini semua? Dia hanya diperintah oleh Bermuda? &#xA;&#xA;Aku ingin menanyakannya tapi setengah kepalaku melarang pertanyaan aneh itu terucap. &#xA;&#xA;&#34;Gue perlu sesuatu.&#34; Suara Bermuda kembali menyadarkan kepalaku. Dia terlihat merogoh saku dengan tangan kirinya. &#34;Lo kenal Sejati?&#34;&#xA;&#xA;Oh, fuck. Bermuda tidak boleh berurusan dengan Sejati. Aku harus membalik keadaan agar bisa menginterogasi Bermuda atau Haya atau keduanya.&#xA;&#xA;Kakiku melangkah maju. Bermuda melotot.&#xA;&#xA;Tanganku bergerak cepat memukul tangan kanan Bermuda dari luar dengan gerakan memotong hingga tangannya terdorong ke dalam. Dengan gerakan yang tidak kalah cepat, Bermuda mengarahkan pisaunya kembali ke arahku. Aku menunduk--berkelit. Sebelum tangan kiri Bermuda sempat ikut campur, aku memukul pergelangan tangan Bermuda pada arah berlawanan dengan kedua tanganku--untuk menjatuhkan pisaunya. Berhasil. &#xA;&#xA;Tanpa aba-aba, aku memukul dada Bermuda dengan telapak tangan. Itu gerakan cepat. Sasaranku tepat. Lelaki dengan rambut cepak ini mengaduh. Dia tidak sempat menghindar. Aku berencana mengakhiri duel ini dengan memberikan satu bantingan lalu mengunci seluruh tubuhnya. Namun ujung mataku menangkap gerakan tiba-tiba, bukan dari Bermuda. &#xA;&#xA;Haya. &#xA;&#xA;DOR!&#xA;&#xA;&#34;Lepasin Erde!&#34; Teriaknya lantang. Suara dan tubuhnya bergetar. Aku yakin ini pertama kalinya Haya memegang pistol.&#xA;&#xA;Tunggu.&#xA;&#xA;Erde?&#xA;&#xA;Siapa Erde?&#xA;&#xA;&#34;Mu--mundur!&#34;&#xA;&#xA;Haya mengacungkan pistol padaku. Aku menurut. Walau aku tidak yakin dia bisa menembak dengan kondisi sepayah itu, tapi dengan jarak sedekat ini aku yakin tembakannya tidak akan meleset. Dua tanganku terangkat, kakiku perlahan menjauhi Bermuda. &#xA;&#xA;Kini Haya berjalan pelan--dengan tubuh yang bergetar--memunggungi Bermuda. Sementara Bermuda justru memandang Haya ngeri. Dari raut wajahnya, aku dapat menebak dia akan merebut pistol itu dalam waktu--&#xA;&#xA;Nah, benar, &#39;kan.&#xA;&#xA;Kini pistol itu berpindah di tangan Bermuda. Lelaki itu menyuruh Haya mundur dengan matanya. &#xA;&#xA;Sesaat kemudian, aku kembali bertatap mata dengan Bermuda. Tangannya yang memegang pistol terlihat baik-baik saja. Padahal, gerakan pukulan dua tangan yang kuberikan tadi cukup mematikan, minimal pergelangan tangannya akan terasa ngilu dan bengkak. Namun sepertinya pergelangan tangannya baik-baik saja. &#xA;&#xA;&#34;Lo kenal Sejati, ya &#39;kan?&#34; Tatapan Bermuda lebih tajam dari sebelumnya, napasnya memburu.&#xA;&#xA;Aku menarik napas cepat. &#34;Kenapa lo nanyain Sejati?&#34;&#xA;&#xA;&#34;Ini.&#34; Dia menunjukkan sebuah kertas lecek berwarna hijau. &#34;Lo pernah liat ini?&#34;&#xA;&#xA;Holy moly.&#xA;&#xA;Cek?&#xA;&#xA;Bagaimana bisa Bermuda memiliki cek itu?&#xA;&#xA;&#34;Lo tau?&#34;&#xA;&#xA;Tentu saja aku tahu. &#xA;&#xA;Maksudnya, semua orang di organisasi kami tahu. Itu adalah cara kami menerima upah.&#xA;&#xA;&#34;Kenapa?&#34; Tanyaku, hati-hati. &#xA;&#xA;&#34;Gue mau nyairin ini.&#34;&#xA;&#xA;Damn.&#xA;&#xA;Jangan bilang semua ini kulewati hanya karena Bermuda ingin mencairkan cek tidak seberapa itu?&#xA;&#xA;&#34;Itu doang?&#34;&#xA;&#xA;Dua alisnya terangkat. &#34;Itu doang?&#34;&#xA;&#xA;Aku mengernyit. Kenapa dia mengulangi ucapanku?&#xA;&#xA;Dengan sisa kesabaran, aku memperjelas pertanyaanku. &#34;Lo cuma butuh duit aja?&#34; &#xA;&#xA;Bermuda mengangguk. &#34;Gue cuma perlu duitnya.&#34;&#xA;&#xA;Seriously?&#xA;&#xA;&#34;Lo cuma perlu duitnya aja?&#34; Kini aku yang mengulangi ucapannya. Tanganku berkacak pinggang--yang membuat Bermuda semakin memantapkan acungan pistol di tangannya padaku. &#34;Terus kenapa lo sampe harus cari tau tentang tempat gue?&#34; Protesku tidak terima. &#34;Kenapa Haya harus nyadap gue?!&#34;&#xA;&#xA;&#34;Haya nggak tau apa-apa!&#34; Bermuda menjawab cepat. Matanya berkilat di antara kegelapan malam. &#34;Gue yang minta Haya buat ngerjain semuanya!&#34; Ucapannya terhenti sejenak. &#34;Dia nggak tau apa-apa. Gue manfaatin dia buat deketin Sejati biar bisa dapet duit dari ini. Kebetulan aja lo kenal sama Sejati. Gue nggak tau kalian ternyata saling kenal!&#34;&#xA;&#xA;Lengang. &#xA;&#xA;Ucapan Bermuda membuatku (sedikit) lega dan bingung. Setidaknya aku tidak dibodohi Haya tapi aku tidak paham situasi tidak masuk akal apa yang sedang kuhadapi. &#xA;&#xA;Bermuda menggunakan Haya untuk mencari tahu tentang Sejati? Apa jangan-jangan karena Sejati adalah dosen Haya? Lalu entah bagaimana dia akhirnya mengetahui kalau aku kenal dengan Sejati? Dan entah bagaimana (lagi), dia bisa mengetahui pekerjaanku. &#xA;&#xA;Terlalu banyak jembatan yang harus tersambung di antara fakta-fakta itu. Tapi yang paling utama...&#xA;&#xA;Semua rute memusingkan itu... hanya untuk uang?&#xA;&#xA;Damn...&#xA;&#xA;Aku menarik napas dalam-dalam. &#xA;&#xA;Jadi ini semua hanya tentang uang? &#xA;&#xA;Sedangkal itu?&#xA;&#xA;&#34;Gue nggak bakal nanya apa-apa tentang kalian,&#34; Bermuda kembali bersuara, dia kembali menunjukkan cek berwarna hijau di tangannya, &#34;gue cuma mau ini.&#34;&#xA;&#xA;Aku menggigit bibirku. Masih tidak percaya. &#34;Seriously? Nyairin ini aja?&#34;&#xA;&#xA;Bermuda mengangguk.&#xA;&#xA;Sebenarnya, aku tahu uang memiliki kekuatan yang cukup besar. Organisasiku terbiasa menyelesaikan segalanya dengan uang. Karena berada di kantor yang memang mengelola uang, aku sudah muak melihat kertas yang dipuja-puja banyak orang itu. Sepertinya aku terlalu muak hingga melupakan kertas itu masih memiliki kekuatan. Bahkan untuk orang berdarah dingin seperti Bermuda. &#xA;&#xA;Perutku tergelitik. &#xA;&#xA;Baiklah. Anggap saja ini uang tutup mulut untuknya.&#xA;&#xA;&#34;Nggak perlu Sejati.&#34; Aku menggeleng, &#34;gue juga bisa.&#34; Tanganku berusaha meraih cek di tangan Bermuda tapi lelaki itu mengacungkan pistol ke arah tanganku. Cepat-cepat aku menarik kembali tanganku. &#34;Cuma mau nyairin ini aja, &#39;kan?&#34;&#xA;&#xA;Awalnya Bermuda mengernyit, sorot matanya menelisik raut wajahku. Dia mengangguk. &#34;Gue bakal pergi abis dapet duit ini. Gue nggak peduli sama tempat kerja lo atau apapun yang kalian lakuin.&#34;&#xA;&#xA;&#34;Nggak semua orang tau kantor gue nyediain jasa nagih utang.&#34; Aku melirik Haya yang masih bersembunyi di belakang Bermuda. &#34;Haya udah tau tentang ini.&#34;&#xA;&#xA;Tidak ada jawaban.&#xA;&#xA;Terdengar jangkrik yang mengerik di sekitar kami. Malam semakin larut. Angin dingin berhembus menerbangkan ujung baju. Luka di leherku yang masih terbuka kini terasa perih.&#xA;&#xA;&#34;Haya bakal diem.&#34; Bermuda akhirnya angkat suara. &#34;Dia juga nggak peduli.&#34;&#xA;&#xA;Sepintas, mataku menangkap raut protes dari wajah Haya. Sepertinya dia tidak sependapat dengan Bermuda. &#xA;&#xA;&#34;Gue bakal bantu.&#34; Jawabku cepat, &#34;tapi habis ini lo harus mastiin nggak bakal balik ke sana lagi.&#34; Aku melihat Bermuda menaikkan dua alisnya, dia setuju. &#34;jangan ikut campur... tentang apapun.&#34; Lanjutku--yang juga langsung mendapat persetujuan darinya. &#xA;&#xA;&#34;Abis ini lo nggak akan liat gue lagi.&#34; Dia memastikan. Sorot matanya mantap, menunjukkan mulutnya bisa dipercaya.&#xA;&#xA;Baiklah. &#xA;&#xA;Daripada masalah ini semakin berlarut-larut, lebih baik diselesaikan dengan cara seperti ini. &#xA;&#xA;Aku melirik Haya sekilas, &#34;kita bisa bahas lagi nanti, biar Haya--&#34;&#xA;&#xA;&#34;Langsung bahas sama gue aja.&#34; Potong Bermuda cepat. &#34;Haya nggak tau apa-apa.&#34;&#xA;&#xA;Tapi--seperti sebelumnya--Haya melirik Erde tidak terima.  &#34;Lho, kan gue--&#34;&#xA;&#xA;&#34;Ini urusan gue sama Maru.&#34; Bermuda sedikit menolehkan kepalanya pada Haya. &#34;Urusan lo cuma sama gue. Lo nggak ada urusan sama Maru.&#34;&#xA;&#xA;&#34;Masa nggak ada?&#34; Haya menatapku. &#34;Dia pasti udah nggak mau temenan sama gue abis ini.&#34;&#xA;&#xA;&#34;Mending enggak, sih.&#34; Jawabku cepat. Memang baiknya kami tidak berteman lagi setelah kejadian ini. Entah Haya akan pura-pura melupakan atau terus membahas, aku tidak nyaman dengan keduanya. &#xA;&#xA;Jawabanku berhasil menutup rasa tidak terima Haya. Dia diam.&#xA;&#xA;&#34;Gue ada urusan.&#34; Aku menatap Bermuda. &#34;Bahas besok lagi aja.&#34;&#xA;&#xA;Dan pergulatan malam itu berakhir dengan cara yang tidak pernah kuduga. Tidak ada pertumpahan darah. Bahkan satu-satunya darah yang menetes adalah darahku.&#xA;&#xA;Kami sempat ribut kecil karena Bermuda dan Haya sama-sama ngotot untuk menyita pistolku. Aku harus meyakinkan mereka selama kurang lebih tiga menit bahwa pistol ini adalah pistol yang sudah kubawa sejak bertahun-tahun sebelumnya. Aku tidak akan membuang pelurunya sembarangan--atau tiba-tiba menembak mereka di tempat padahal kami sudah mencapai kesepakatan. &#xA;&#xA;&#34;Yuk.&#34; Bermuda melirik Haya yang terlihat masih berusaha mengendalikan dirinya. Aku yakin tidak mudah bagi Haya untuk tetap bersikap biasa setelah nyawanya nyaris melayang dan tangannya menarik pelatuk untuk pertama kalinya. &#xA;&#xA;Namun jawaban Haya tidak terduga. Aku sendiri sampai harus menoleh untuk memastikan Haya tidak sedang berhalusinasi karena trauma.&#xA;&#xA;&#34;Gue mau pulang sama Maru.&#34; Katanya.&#xA;&#xA;Tidak ada reaksi apa-apa dari Bermuda. Sepertinya hanya aku yang terkejut. Bermuda menoleh padaku, &#34;lo bawa apa?&#34;&#xA;&#xA;&#34;Motor.&#34; &#xA;&#xA;&#34;Gue juga bawa motor.&#34; Dia menambahi. &#34;Tapi gue parkir agak jauh, jadi--&#34;&#xA;&#xA;&#34;Duluan aja.&#34;&#xA;&#xA;Orang yang memotong kalimat Bermuda barusan adalah Haya. &#xA;&#xA;&#34;Bareng lah, ngapain--&#34;&#xA;&#xA;&#34;Duluan aja.&#34; Haya sekali lagi memotong. &#34;Gue mau ngobrol bentar sama Maru.&#34;&#xA;&#xA;&#34;Lo gila?&#34; Bermuda memutar tubuhnya hingga sepenuhnya menghadap Haya. &#34;Kepala lo hampir dibolongin sama dia?&#34; Tangannya menunjukku. &#34;Lo mau gue ninggalin kalian berdua--&#34;&#xA;&#xA;&#34;Cuma nyaris aja &#39;kan nggak dibolongin beneran?&#34; &#xA;&#xA;Oh, crap.&#xA;&#xA;Situasi macam apa ini?&#xA;&#xA;Haya membuka mulutnya, &#34;gini-gini Maru pernah temenan sama gu--&#34;&#xA;&#xA;&#34;Nggak bakal gue apa-apain,&#34; kini aku yang memotong. Aku tidak mau waktuku terbuang sia-sia untuk menunggu pertengkaran keduanya. &#34;Tenang aja.&#34;&#xA;&#xA;---&#xA;&#xA;&#34;Sorry.&#34;&#xA;&#xA;Suara Haya terdengar di belakangku. &#xA;&#xA;Aku mengangguk. &#34;Santai.&#34; &#xA;&#xA;Kami terus menyusuri taman terbengkalai ini. Kakiku lincah menghindari tumbuhan-tumbuhan berduri di sekitar kami. Mataku sudah terbiasa pada kegelapan, seberkas cahaya dari lampu senter Haya mempermudah langkahku.&#xA;&#xA;Tepat di samping taman--di antara perbatasan taman dan hutan--terdapat sebuah tangga yang tertutup oleh tumbuhan merambat. Aku berjalan pelan menuruni lima anak tangga lalu segera berbelok. Di balik tangga terdapat sebuah pintu tua--yang juga dipenuhi tumbuhan merambat. Tapi kami tidak akan memasukinya. Aku memarkir motorku tepat di bawah tangga. &#xA;&#xA;&#34;Abis ini lo beneran harus diem.&#34; Aku memulai percakapan, tanganku sibuk menyibak kain hitam yang sengaja kugunakan untuk menutupi motorku. &#34;Apa yang sampe di gue, cukup di gue aja.&#34;&#xA;&#xA;Haya tidak berkomentar selama beberapa detik. Hingga akhirnya motorku telah siap, ia baru menjawab. &#34;Elo sih nggak pernah cerita apa-apa ke gue.&#34;&#xA;&#xA;Aku menaikkan satu alisku. &#34;Lo nggak tau apa-apa, man. Nggak ada yang bisa gue ceritain.&#34;&#xA;&#xA;&#34;Sekarang gue tau sesuatu.&#34; Walau penerangan yang kudapat hanyalah lampu senter dari ponsel Haya yang mengarah ke motorku, aku masih dapat melihat wajahnya yang bersungut-sungut ditimpa cahaya bulan. &#34;Harusnya ada yang bisa lo ceritain &#39;kan?&#34;&#xA;&#xA;&#34;Mana bisa gue percaya sama lo.&#34; Tolakku cepat. Aku mendorong motorku hingga mencapai bagian tanah yang cukup datar. &#xA;&#xA;&#34;Yang bener aja?&#34; Dia berjalan mengekori. &#34;Gue nggak bilang ke siapa-siapa tentang kerjaan lo.&#34; &#xA;&#xA;Kepalaku menoleh cepat. &#34;You better not.&#34;&#xA;&#xA;Setelah berhasil mencapai tanah datar, aku menaiki motorku, menyalakan mesinnya. &#34;Naik.&#34;&#xA;&#xA;Haya berdeham. &#34;Lo beneran nggak bakal buang gue di tengah jalan &#39;kan?&#34;&#xA;&#xA;Aku memakai helmku. Menoleh jengah pada lelaki menyebalkan ini. &#34;Lo sendiri yang minta pulang bareng gue. Mau naik nggak? Atau mau jalan kaki?&#34;&#xA;&#xA;Dengan satu gertakan itu. Haya menaiki motorku. Tidak butuh waktu lama, kami telah membelah hutan dan mencapai jalan raya. &#xA;&#xA;Aku melihat motor Bermuda yang terus mengikuti kami dari jalan raya. Terlihat jelas dia menunggu di jalan masuk hutan. Namun aku mengabaikannya, aku juga tidak memberi tahu Haya. &#xA;&#xA;&#34;Gue mau tanya sesuatu.&#34; Seru Haya dari belakang. &#xA;&#xA;&#34;Apa?&#34;&#xA;&#xA;Aku cukup penasaran dengan hal yang ingin dibicarakan Haya, kelihatannya dia tidak mau Bermuda tahu soal ini. &#xA;&#xA;&#34;Lo pernah bunuh orang?&#34;&#xA;&#xA;Laju motorku melambat. &#xA;&#xA;Oh, yeah. Terima kasih banyak atas pertanyaannya, Haya. Aku yakin aku tidak perlu menjawabnya. Alih-alih menjawab ya atau tidak, aku balik bertanya, &#34;kenapa emang?&#34;&#xA;&#xA;&#34;Ya...&#34; Haya memberi jeda satu detik, &#34;lo keliatan kayak orang yang peduli sama nyawa orang lain. Lo marah pas ada berita orang meninggal karena peluru nyasar. Lo juga selalu nyelametin gue pas di-ganking, katanya lo nggak bakal biarin hero gue mati konyol.&#34; &#xA;&#xA;Aku semakin melambatkan motorku, berusaha mendengar penjelasan Haya. &#xA;&#xA;&#34;Menurut gue, kalo lo emang pencitraan doang...&#34; Dia sedikit meringis, &#34;dua tahun kelamaan nggak sih? Kayak nggak mungkin aja gitu, lo betah acting di depan gue seolah-olah lo peduli sama nyawa orang lain padahal lo... bunuhin orang?&#34;&#xA;&#xA;Make sense.&#xA;&#xA;Dugaanku, Haya tahu kantorku tidak memberikan jasa debt collector biasa. Mungkin dia tahu track record kantorku yang menggunakan segala cara untuk menagih utang.&#xA;&#xA;Well, seandainya aku dapat dengan bebas mengatakan pada Haya bahwa kecaman yang kuberikan adalah wujud kemarahanku pada diri sendiri. Seandainya Haya tahu, tidak ada yang dapat mengungguli kebencianku pada diri sendiri. Seandainya Haya tahu, aku lebih memilih menyekap seseorang seumur hidup daripada harus mencabut nyawanya. Seandainya Haya tahu, aku tidak punya pilihan....&#xA;&#xA;Yeah. Semakin dipikirkan, aku terlihat semakin menyedihkan. &#xA;&#xA;Tidak bermaksud menjustifikasi kesalahan yang kulakukan. Tapi kadang ada orang di dunia ini yang tetap melakukan sesuatu meski dia tahu tindakannya salah. Bukan karena dia tidak tahu mana yang benar atau salah, bisa saja itu memang pilihan hidupnya atau--sepertiku--itulah satu-satunya pilihan yang dia miliki. &#xA;&#xA;Kalau saja kami sedang membahas tindakan orang lain di meja Warung Aa&#39;, mungkin aku dapat dengan mantap mengutarakan pikiranku. Tapi dengan keadaan sekacau ini, aku hanya akan terdengar seperti orang yang mencari pembenaran sendiri (memang).&#xA;&#xA;&#34;Lo bisa aja bunuh gue.&#34; Dia melanjutkan ucapannya, &#34;gue ngiranya gue bakal langsung mati tadi. Tapi --&#34;&#xA;&#xA;&#34;Karena baru gue yang tau.&#34; Aku memotong cepat, takut terbawa suasana kalau Haya terus mengoceh, &#34;makanya gue nyuruh lo diem. Apa yang udah sampe di gue, cukup di gue aja. Lo jangan bilang apa-apa lagi ke siapapun.&#34;&#xA;&#xA;Sekali nama lo disebut, gue nggak bisa ngapa-ngapain selain nurut. Lanjutku dalam hati. &#xA;&#xA;&#34;Lo tau sesuatu tentang Panti Asuhan Kasih Abadi?&#34;&#xA;&#xA;Oh, crap.&#xA;&#xA;CKITTT!&#xA;&#xA;Aku menepi. Kepalaku menoleh pada Haya. &#xA;&#xA;&#34;Jangan bunuh gue.&#34; Wajahnya pias. &#xA;&#xA;Tanganku cekatan membuka helm. &#34;Lo tau dari mana?&#34;&#xA;&#xA;&#34;Lo tau?&#34;&#xA;&#xA;&#34;Turun.&#34; Sergahku cepat.&#xA;&#xA;&#34;Nggak.&#34; Dia menggeleng kuat.&#xA;&#xA;&#34;Turun.&#34; Aku kembali memakai helmku. &#34;Gue nggak mau ngomongin ini.&#34;&#xA;&#xA;&#34;Tapi gue--&#34;&#xA;&#xA;&#34;Gue masih sabar.&#34; Niatku menggunakan helm sirna, kepalaku kembali menoleh pada Haya. &#34;Turun. Lari. Sekarang.&#34; Aku menekan setiap kata yang kukeluarkan. &#xA;&#xA;&#34;Gue nggak bakal bilang sama siapa-siapa.&#34;&#xA;&#xA;Oh, yeah. Seolah aku tidak tahu hubungannya dengan Bermuda.&#xA;&#xA;&#34;Gue nggak punya siapa-siapa. Nggak ada yang bisa gue ceritain tentang ini. Gue nanya karena gue emang harus tau.&#34;&#xA;&#xA;Aku menghela napas kasar. &#34;Kenapa?&#34;&#xA;&#xA;&#34;Lo tau panti asuhan ini?&#34;&#xA;&#xA;&#34;Kenapa lo harus tau?&#34;&#xA;&#xA;&#34;Panti itu jual orang?&#34;&#xA;&#xA;Aku melotot. &#xA;&#xA;Tidak. Gawat.&#xA;&#xA;Sepertinya aku terlalu meremehkan Haya dan Bermuda. Bagaimana kalau ini semua--sekali lagi--adalah strategi mereka? &#xA;&#xA;Belum sempat aku menjawab, Haya telah mengeluarkan pertanyaan lain. &#34;Apa konsekuensinya kalo kabur dari sana?&#34;&#xA;&#xA;Oh?&#xA;&#xA;&#34;Lo kenal orang yang kabur dari sana?&#34;&#xA;&#xA;Sejenak, Haya tidak menjawab. Kami sama-sama terdiam. &#xA;&#xA;Jalanan sepi. Bahkan aku tidak melihat motor Bermuda yang awalnya mengikuti kami. &#xA;&#xA;&#34;Gue nanya.&#34; &#xA;&#xA;&#34;Ada 20 orang yang pernah kabur dari panti.&#34; Aku menaruh helmku di atas tangki bensin. &#34;You met one of them? Siapa?&#34;&#xA;&#xA;&#34;Kenapa lo bisa tau?&#34; Aku dapat merasakan Haya memajukan tubuhnya hingga wajahnya nyaris sejajar dengan lenganku. &#34;Lo ngurusin panti juga?&#34;&#xA;&#xA;Aku mengibaskan lenganku--sengaja menyenggol wajahnya agar dia memundurkan tubuhnya. &#34;Kenapa lo pengen tau soal panti?&#34; Seruku kesal. &#xA;&#xA;Haya meringis. &#34;Sakit!&#34; &#xA;&#xA;Mampus.&#xA;&#xA;&#34;Bisa nggak lo jawab gue dulu baru nanya balik?!&#34; Haya berseru kesal. Tangannya mengusap pipi.&#xA;&#xA;Aku mendecak. &#34;Lo duluan yang jawab. Gue juga bakal jawab.&#34;&#xA;&#xA;&#34;Ini cuma di antara kita berdua aja.&#34; Haya memastikan.&#xA;&#xA;Aku mengangguk. Well, informasi yang akan kuterima sebenarnya cukup penting. Panti Asuhan yang dimaksud Haya bukan bagianku--seperti yang sudah diketahui sebelumnya, aku hanya bertugas di bagian keuangan--terutama penagihan utang. Tapi panti asuhan adalah objek penting untuk organisasi kami. &#xA;&#xA;&#34;Informasi apapun yang gue kasih ke lo sekarang... keep di elo aja.&#34; Haya menelan ludahnya. &#34;Kalo sampe nyebar, gue bakal ancurin kantor lo.&#34;&#xA;&#xA;&#34;What the fuck?&#34;&#xA;&#xA;&#34;Ma--maksudnya,&#34; Haya kelabakan saat melihat aku menoleh dan nyaris turun dari motor, &#34;i--ini beneran di antara kita aja.&#34;&#xA;&#xA;Aku kembali menghadap depan. Mengangguk. &#34;Lo bisa pegang omongan gue.&#34;&#xA;&#xA;Lengang. &#xA;&#xA;Aku menatap wajah Haya dari kaca spion. Sepertinya dia sedang menimbang beberapa hal. Aku tidak berkomentar, sengaja memberinya waktu. &#xA;&#xA;&#34;Bener. Gue tau panti itu jual orang karena...&#34; Suara Haya memecah keheningan di antara kami. &#34;... dikasih tau orang yang pernah kabur dari panti.&#34;&#xA;&#xA;&#34;Siapa?&#34;&#xA;&#xA;&#34;Gue nggak bisa ngasih tau!&#34; Seru Haya cepat. &#34;Gue cuma pengen tau karena...&#34; Dia terdiam, berdeham. &#34;Gue pengen tau apa aja yang udah dia lewatin.&#34;&#xA;&#xA;&#34;Bermuda?&#34; Tembakku tak kalah cepat.&#xA;&#xA;&#34;Gue cuma pengen tau.&#34;&#xA;&#xA;&#34;Lo naksir dia?&#34;&#xA;&#xA;&#34;Gue cuma pengen tau!&#34; Suara Haya meninggi.&#xA;&#xA;&#34;Beneran Bermuda?&#34;&#xA;&#xA;&#34;Katanya lo bakal jawab kalo gue udah jawab?&#34;&#xA;&#xA;Sudah tertebak.&#xA;&#xA;Pasti Bermuda.&#xA;&#xA;Oh, God. Kabur dari panti asuhan bukan hal yang mudah. Tidak heran Bermuda tumbuh seperti itu. Dibutuhkan keberanian sebesar mencabut nyawa orang untuk membebaskan diri dari sana.&#xA;&#xA;Aku menelan ludah. Panti asuhan adalah satu dari banyaknya sumber uang organisasiku yang membuatku tutup mata. Aku tidak mau melihat apapun yang terjadi di sana dan aku harus memaksa agar aku tidak acuh pada makhluk hidup di sana. &#xA;&#xA;Sejarah panti itu kelam. Penuh darah dan kekejaman. Menceritakannya pada Haya hanya akan membuatku membuka mata atas itu semua. Membuka mata atas itu semua artinya aku akan memunggungi organisasiku. Memunggungi organisasiku artinya aku akan mati di langkah pertama. &#xA;&#xA;Aku tidak pernah punya pilihan. Setiap keputusan yang kubuat berujung pada hidup dan mati. Orang waras manapun tidak akan memilih kematian. &#xA;&#xA;Begitupun aku.]]&gt;</description>
      <content:encoded><![CDATA[<blockquote><p>POV: MAHAMERU
cw / tw // gun ; pistol ; knife ; pisau ; fight scene ; berantem ;</p></blockquote>

<p>Apa, <em>sih</em>, yang lebih menyakitkan dari dikhianati teman sendiri?</p>

<p>Aku yakin ada banyak jawaban tapi sampai sekarang hal tersakit yang pernah kurasakan adalah dikhianati oleh Haya. </p>

<p>Oh, <em>c&#39;mon</em>, Haya adalah orang terakhir yang akan kucurigai jika korekku hilang di meja Warung Aa&#39;. Bagaimana bisa dia merencanakan pengkhianatan?</p>

<p>Dua tahun bukan waktu yang singkat. Awalnya kami hanya teman makan di Warung Aa&#39;, kemudian kami bermain <em>game</em> bersama, kemudian kami saling menyimpan kontak satu sama lain. Haya adalah satu-satunya temanku selama aku berstatus mahasiswa di kampusku yang sekarang.</p>

<p>Memang, <em>sih</em>, aku sendiri yang memutuskan tidak mau berteman dengan siapapun karena tidak mau pekerjaanku terganggu. Namun ada kalanya aku salah dalam menentukan mana yang aku mau dan tidak mau saat merasakannya sendiri. Contohnya adalah pertemananaku dengan Haya.</p>

<p>Mempunyai teman ternyata tidak buruk juga. Kami dua orang asing dengan dunia masing-masing. Duduk di meja yang sama. Bertukar opini tentang hal yang tabu dan tidak kami tahu. Menyenangkan karena kami sama-sama tidak terlalu peduli dengan urusan pribadi.</p>

<p>Aku suka berteman dengan Haya. Tidak ada hal berat yang perlu kupikirkan dan aku hanya perlu menjadi Mahameru tanpa kepura-puraan.</p>

<p><em>Yeah</em>, bodohnya aku berpikir bahwa Haya adalah pengecualian. Hanya karena kami sama-sama tertutup dan tidak <em>kepo</em>, seharusnya aku tidak langsung mempercayainya.</p>

<p>Aku masih mengingat darahku mendidih saat menangkap keberadaan Bermuda (<em>slash</em> Rudi) sore tadi.</p>

<p>Lelaki berambut cepak itu sedang mengikutiku. Dia cukup pintar dengan menyuruh orang lain mengikutiku sebelumnya—sosok tinggi dengan rambut yang sedikit lebih panjang. Namun dia tidak cukup pintar untuk tidak bergabung dengan sosok yang lebih tinggi itu. Dia seharusnya sadar, aku pernah bertemu sekaligus berduel dengannya. Aku hapal tinggi, perawakan, panjang kaki, bahkan ritme napasnya.</p>

<p>Terlebih lagi, dia membuntutiku di wilayahku sendiri! Salah satu penghinaan terbesar yang pernah kuterima. Setiap jalan, manusia, rumah, bangunan, hingga tempat sampah di sekitar kantorku adalah milik <em>kami</em>. Tidak ada satu nyamuk pun yang bergerak tanpa seizin <em>kami</em>, berani-beraninya lelaki tidak tahu diri itu menginjakkan kaki di tempat <em>kami</em>, membawa satu orang asing lain pula!</p>

<p>Dari awal aku sudah yakin dia memang mencurigakan. Sembarangan memasuki kamarku, membawa pisau di balik bajunya, dan—yang paling utama—pisau itu diarahkan pada leherku. Lalu saat aku tahu nama aslinya bukan Rudi, aku yakin Haya juga terlibat dalam semua keanehan ini—kalau tidak, untuk apa dia menyembunyikan nama asli Bermuda di depanku?</p>

<p>Kecurigaanku diperkuat saat sore tadi tiba-tiba ponselku bergetar hebat dan kantorku mendapat telepon dari divisi IT organisasi kami, mereka ingin berbicara langsung denganku.</p>

<p>“Mahameru, ada <em>spyware</em> di HP-mu. Coba cek <em>email</em> yang baru aja dikirim. Buka lewat komputer, jangan HP.”</p>

<p><em>Holy crap.</em></p>

<p><em>Email</em> itu berisi sebuah file yang terindikasi melakukan pemantauan di ponselku, lengkap dengan lokasi <em>file</em> tersebut.</p>

<p>Ini aplikasi yang dipasang Haya di ponselku.</p>

<p><em>Oh, c&#39;mon.</em> Jangan Haya.</p>

<p>Di detik itu juga, aku teringat bagaimana kami bertemu. Setiap adegan terulang kembali di kepalaku.</p>

<p>Kalau Haya memang benar komplotan Bermuda, itu artinya semua yang dilakukannya padaku hanyalah <em>strategi</em>.</p>

<p><em>He tricked me.</em></p>

<p>Apalagi yang bisa kurasakan selain marah?</p>

<p>Aku yakin aku terlihat bodoh di depan Haya. Aku yakin dia menertawaiku habis-habisan karena gampang didekati. <em>Memalukan.</em></p>

<p>Ada banyak musuh <em>kami</em>, aku tidak heran kalau ada pihak tertentu yang mengincar <em>kami</em>. Yang membuatku heran adalah, aku tidak menyangka mereka berani sedekat ini.</p>

<p>Apalagi Haya.</p>

<p><em>Terutama Haya.</em></p>

<p>Benarkah semua yang dilakukan Haya selama ini hanya wujud <em>strategi</em>-nya?</p>

<p><em>Yeah</em>. Mungkin Haya tidak menganggap pertemanan kami. Bisa saja di matanya aku hanyalah target, tapi Haya adalah satu-satunya teman yang kumiliki.</p>

<p><em>Oh, crap.</em> Makin dipikirkan aku makin terlihat menyedihkan.</p>

<p>Setidaknya aku menghabiskan sepuluh menit untuk merutuki Haya.</p>

<p><em>Manusia Sialan.</em></p>

<p>Sore itu juga aku merancang sebuah rencana <em>memancing</em> sederhana. Aku hanya perlu mengutarakan niatku untuk mengunjungi rumah Bermuda. Jika Haya yang datang, itu artinya Haya memang bekerja untuk Bermuda—karena dia tidak tahu alamat rumah Bermuda tapi dia tetap datang untuk membuntutiku. Jika Bermuda yang datang, itu artinya dia menangkap pesanku sebagai ajakan untuk berduel. Jika tidak ada yang datang, setidaknya mereka tahu kalau rencana mereka sudah terbongkar olehku, aku bisa memburu mereka dengan bebas.</p>

<p>Tapi <em>holy moly</em>, aku tidak tahu keduanya akan datang. Tidak terprediksi. Rencana pancingan itu gagal.</p>

<p>Awalnya aku sedikit lega karena hanya Haya yang datang. Dia terlihat ketakutan melihat pistol yang kubawa—tapi ketakutan itu tidak sepadan dengan amarah yang kurasakan. Setidaknya ketakutan yang dirasakannya harus menghantuinya seumur hidup atau minimal dia merasa ngeri tiap mendengar namaku agar perasaan kami setara.</p>

<p>Tapi baru di tembakan pertama—itupun ke udara. Kini leherku justru menjadi korban dari pisau Bermuda, untuk yang kedua kalinya pula!</p>

<p>Harus kuakui, Bermuda cukup luar biasa. Aku bahkan tidak menyadari kedatangannya—kapan dia sampai dan mengendap. Tidak mungkin dia datang ke tempat ini tanpa menggunakan kendaraan, tapi aku tidak mendengar kendaraannya sama sekali. Telingaku juga tidak sempat mendeteksi keberadaannya.</p>

<p>Setengah kepalaku yakin Bermuda bukan orang biasa. Pegerakan senyap mungkin bisa diakali dan dibuat-buat, tapi caranya menodong leherku dengan pisau hanya dapat dilakukan oleh tangan yang sudah berpengalaman. Tidak ada keraguan pada genggamannya.</p>

<p>Ini bukan pertama kalinya nyawaku berada di ujung senjata. Setidaknya, lebih dari seratus orang pernah mengarahkan mata pisaunya padaku.</p>

<p>Hebatnya, tangan Bermuda tidak bergetar. Sama sekali. Tidak ada keraguan setitik pun.</p>

<p><em>Bermuda tidak takut membunuh.</em></p>

<p><em>Impressive.</em> Organisasi kami memiliki satu sesi latihan khusus untuk melawan rasa takut membunuh.</p>

<p>“Buang.” Ucapnya rendah. Suaranya sedingin angin malam yang berhembus mengenai dedaunan.</p>

<p>Satu detik berlalu. Tubuhku tidak bergeming. Aku masih menodongkan pistolku pada Haya yang terduduk di tanah. Seiring bergesernya jarum di jam tanganku, aku dapat merasakan rasa ngilu yang menembus kulit leherku. Bermuda jelas tidak ragu menebas leherku.</p>

<p>Mau tidak mau, aku membuang pistolku. Setidaknya, aku tidak boleh mati konyol di sini.</p>

<p>Benda dingin yang sebelumnya telah mengenai kulitku itu segera terangkat. Perlahan, Bermuda berjalan memutar—masih dengan ujung pisau yang teracung sempurna padaku. Matanya menatapku tajam.</p>

<p>Bermuda memang tidak takut membunuh, tapi dia jelas tidak berpengalaman mengintimidasi orang lain. Seharusnya dia menancapkan pisaunya lebih dalam agar aku tidak bisa melarikan diri. Namun alih-alih berjaga di belakangku, dia justru melangkah ke depanku. Sekarang, siapa yang dapat menjamin aku tidak akan memutar tubuhku lalu lari secepat mungkin?</p>

<p>Sambil terus beradu mata dengannya, aku memanfaatkan kelonggaran ini untuk bertanya. “Siapa yang nyuruh lo?”</p>

<p>Dahinya mengernyit, “<em>nyuruh?</em>“</p>

<p>“Siapa yang nyuruh lo buat mata-matain tempat gue?” Ulangku. Mataku mengikuti Bermuda yang masih berjalan perlahan hingga dia berada tepat di antara aku dan Haya.</p>

<p><em>Oh, my... dia melindungi Haya?</em></p>

<p>“Lo nyuruh Haya?” Aku menaikkan satu alisku. Kepalaku sedikit miring—berusaha menatap Haya yang masih berwajah pucat. “Jadi bocah ini deketin gue emang sengaja buat nyari celah di gue?”</p>

<p>Haya menggeleng cepat. “Nggak. Sumpah. Nggak.”</p>

<p>Pandanganku pada Haya terputus begitu Bermuda menggeser tubuhnya, matanya dan mata pisau di tangannya menatapku sama-sama tajam. “Ini semua rencana gue.”</p>

<p><em>Apa?</em></p>

<p>Jadi Haya tidak merencanakan ini semua? Dia hanya diperintah oleh Bermuda?</p>

<p>Aku ingin menanyakannya tapi setengah kepalaku melarang pertanyaan aneh itu terucap.</p>

<p>“Gue perlu sesuatu.” Suara Bermuda kembali menyadarkan kepalaku. Dia terlihat merogoh saku dengan tangan kirinya. “Lo kenal Sejati?”</p>

<p><em>Oh, fuck. Bermuda tidak boleh berurusan dengan Sejati. Aku harus membalik keadaan agar bisa menginterogasi Bermuda atau Haya atau keduanya.</em></p>

<p>Kakiku melangkah maju. Bermuda melotot.</p>

<p>Tanganku bergerak cepat memukul tangan kanan Bermuda dari luar dengan gerakan memotong hingga tangannya terdorong ke dalam. Dengan gerakan yang tidak kalah cepat, Bermuda mengarahkan pisaunya kembali ke arahku. Aku menunduk—berkelit. Sebelum tangan kiri Bermuda sempat ikut campur, aku memukul pergelangan tangan Bermuda pada arah berlawanan dengan kedua tanganku—untuk menjatuhkan pisaunya. Berhasil.</p>

<p>Tanpa aba-aba, aku memukul dada Bermuda dengan telapak tangan. Itu gerakan cepat. Sasaranku tepat. Lelaki dengan rambut cepak ini mengaduh. Dia tidak sempat menghindar. Aku berencana mengakhiri duel ini dengan memberikan satu bantingan lalu mengunci seluruh tubuhnya. Namun ujung mataku menangkap gerakan tiba-tiba, bukan dari Bermuda.</p>

<p>Haya.</p>

<p><em>DOR!</em></p>

<p>“Lepasin Erde!” Teriaknya lantang. Suara dan tubuhnya bergetar. Aku yakin ini pertama kalinya Haya memegang pistol.</p>

<p><em>Tunggu.</em></p>

<p><em>Erde?</em></p>

<p><em>Siapa Erde?</em></p>

<p>“Mu—mundur!”</p>

<p>Haya mengacungkan pistol padaku. Aku menurut. Walau aku tidak yakin dia bisa menembak dengan kondisi sepayah itu, tapi dengan jarak sedekat ini aku yakin tembakannya tidak akan meleset. Dua tanganku terangkat, kakiku perlahan menjauhi Bermuda.</p>

<p>Kini Haya berjalan pelan—dengan tubuh yang bergetar—memunggungi Bermuda. Sementara Bermuda justru memandang Haya ngeri. Dari raut wajahnya, aku dapat menebak dia akan merebut pistol itu dalam waktu—</p>

<p><em>Nah, benar, &#39;kan.</em></p>

<p>Kini pistol itu berpindah di tangan Bermuda. Lelaki itu menyuruh Haya mundur dengan matanya.</p>

<p>Sesaat kemudian, aku kembali bertatap mata dengan Bermuda. Tangannya yang memegang pistol terlihat baik-baik saja. Padahal, gerakan pukulan dua tangan yang kuberikan tadi cukup mematikan, minimal pergelangan tangannya akan terasa ngilu dan bengkak. Namun sepertinya pergelangan tangannya baik-baik saja.</p>

<p>“Lo kenal Sejati, ya &#39;kan?” Tatapan Bermuda lebih tajam dari sebelumnya, napasnya memburu.</p>

<p>Aku menarik napas cepat. “Kenapa lo nanyain Sejati?”</p>

<p>“Ini.” Dia menunjukkan sebuah kertas lecek berwarna hijau. “Lo pernah liat ini?”</p>

<p><em>Holy moly.</em></p>

<p><em>Cek?</em></p>

<p>Bagaimana bisa Bermuda memiliki cek itu?</p>

<p>“Lo tau?”</p>

<p>Tentu saja aku tahu.</p>

<p>Maksudnya, semua orang di organisasi kami tahu. Itu adalah cara kami menerima upah.</p>

<p>“Kenapa?” Tanyaku, hati-hati.</p>

<p>“Gue mau nyairin ini.”</p>

<p><em>Damn.</em></p>

<p>Jangan bilang semua ini kulewati hanya karena Bermuda ingin mencairkan cek tidak seberapa itu?</p>

<p>“Itu doang?”</p>

<p>Dua alisnya terangkat. “<em>Itu doang?</em>“</p>

<p>Aku mengernyit. Kenapa dia mengulangi ucapanku?</p>

<p>Dengan sisa kesabaran, aku memperjelas pertanyaanku. “Lo cuma butuh duit aja?”</p>

<p>Bermuda mengangguk. “Gue cuma perlu duitnya.”</p>

<p><em>Seriously?</em></p>

<p>“Lo cuma perlu duitnya aja?” Kini aku yang mengulangi ucapannya. Tanganku berkacak pinggang—yang membuat Bermuda semakin memantapkan acungan pistol di tangannya padaku. “Terus kenapa lo sampe harus cari tau tentang tempat gue?” Protesku tidak terima. “Kenapa Haya harus nyadap gue?!”</p>

<p>“Haya nggak tau apa-apa!” Bermuda menjawab cepat. Matanya berkilat di antara kegelapan malam. “Gue yang minta Haya buat ngerjain semuanya!” Ucapannya terhenti sejenak. “Dia nggak tau apa-apa. Gue manfaatin dia buat deketin Sejati biar bisa dapet duit dari ini. Kebetulan aja lo kenal sama Sejati. Gue nggak tau kalian ternyata saling kenal!”</p>

<p>Lengang.</p>

<p>Ucapan Bermuda membuatku (sedikit) lega dan bingung. Setidaknya aku tidak dibodohi Haya tapi aku tidak paham situasi tidak masuk akal apa yang sedang kuhadapi.</p>

<p>Bermuda menggunakan Haya untuk mencari tahu tentang Sejati? Apa jangan-jangan karena Sejati adalah dosen Haya? Lalu entah bagaimana dia akhirnya mengetahui kalau aku kenal dengan Sejati? Dan entah bagaimana (lagi), dia bisa mengetahui pekerjaanku.</p>

<p>Terlalu banyak jembatan yang harus tersambung di antara fakta-fakta itu. Tapi yang paling utama...</p>

<p><em>Semua rute memusingkan itu... hanya untuk uang?</em></p>

<p><em>Damn...</em></p>

<p>Aku menarik napas dalam-dalam.</p>

<p>Jadi ini semua hanya tentang uang?</p>

<p><em>Sedangkal itu?</em></p>

<p>“Gue nggak bakal nanya apa-apa tentang kalian,” Bermuda kembali bersuara, dia kembali menunjukkan cek berwarna hijau di tangannya, “gue cuma mau ini.”</p>

<p>Aku menggigit bibirku. Masih tidak percaya. “<em>Seriously?</em> Nyairin ini aja?”</p>

<p>Bermuda mengangguk.</p>

<p>Sebenarnya, aku tahu uang memiliki kekuatan yang cukup besar. Organisasiku terbiasa menyelesaikan segalanya dengan uang. Karena berada di kantor yang memang mengelola uang, aku sudah muak melihat kertas yang dipuja-puja banyak orang itu. Sepertinya aku terlalu muak hingga melupakan kertas itu masih memiliki kekuatan. Bahkan untuk orang berdarah dingin seperti Bermuda.</p>

<p>Perutku tergelitik.</p>

<p><em>Baiklah. Anggap saja ini uang tutup mulut untuknya.</em></p>

<p>“Nggak perlu Sejati.” Aku menggeleng, “gue juga bisa.” Tanganku berusaha meraih cek di tangan Bermuda tapi lelaki itu mengacungkan pistol ke arah tanganku. Cepat-cepat aku menarik kembali tanganku. “Cuma mau nyairin ini aja, &#39;kan?”</p>

<p>Awalnya Bermuda mengernyit, sorot matanya menelisik raut wajahku. Dia mengangguk. “Gue bakal pergi abis dapet duit ini. Gue nggak peduli sama tempat kerja lo atau apapun yang kalian lakuin.”</p>

<p>“Nggak semua orang tau kantor gue nyediain jasa nagih utang.” Aku melirik Haya yang masih bersembunyi di belakang Bermuda. “Haya udah tau tentang ini.”</p>

<p>Tidak ada jawaban.</p>

<p>Terdengar jangkrik yang mengerik di sekitar kami. Malam semakin larut. Angin dingin berhembus menerbangkan ujung baju. Luka di leherku yang masih terbuka kini terasa perih.</p>

<p>“Haya bakal diem.” Bermuda akhirnya angkat suara. “Dia juga nggak peduli.”</p>

<p>Sepintas, mataku menangkap raut protes dari wajah Haya. Sepertinya dia tidak sependapat dengan Bermuda.</p>

<p>“Gue bakal bantu.” Jawabku cepat, “tapi habis ini lo harus mastiin nggak bakal balik ke sana lagi.” Aku melihat Bermuda menaikkan dua alisnya, dia setuju. “jangan ikut campur... tentang apapun.” Lanjutku—yang juga langsung mendapat persetujuan darinya.</p>

<p>“Abis ini lo nggak akan liat gue lagi.” Dia memastikan. Sorot matanya mantap, menunjukkan mulutnya bisa dipercaya.</p>

<p><em>Baiklah.</em></p>

<p>Daripada masalah ini semakin berlarut-larut, lebih baik diselesaikan dengan cara seperti ini.</p>

<p>Aku melirik Haya sekilas, “kita bisa bahas lagi nanti, biar Haya—”</p>

<p>“Langsung bahas sama gue aja.” Potong Bermuda cepat. “Haya nggak tau apa-apa.”</p>

<p>Tapi—seperti sebelumnya—Haya melirik Erde tidak terima.  “Lho, kan gue—”</p>

<p>“Ini urusan gue sama Maru.” Bermuda sedikit menolehkan kepalanya pada Haya. “Urusan lo cuma sama gue. Lo nggak ada urusan sama Maru.”</p>

<p>“Masa nggak ada?” Haya menatapku. “Dia pasti udah nggak mau temenan sama gue abis ini.”</p>

<p>“Mending enggak, sih.” Jawabku cepat. Memang baiknya kami tidak berteman lagi setelah kejadian ini. Entah Haya akan pura-pura melupakan atau terus membahas, aku tidak nyaman dengan keduanya.</p>

<p>Jawabanku berhasil menutup rasa tidak terima Haya. Dia diam.</p>

<p>“Gue ada urusan.” Aku menatap Bermuda. “Bahas besok lagi aja.”</p>

<p>Dan pergulatan malam itu berakhir dengan cara yang tidak pernah kuduga. Tidak ada pertumpahan darah. Bahkan satu-satunya darah yang menetes adalah darahku.</p>

<p>Kami sempat ribut kecil karena Bermuda dan Haya sama-sama ngotot untuk menyita pistolku. Aku harus meyakinkan mereka selama kurang lebih tiga menit bahwa pistol ini adalah pistol yang sudah kubawa sejak bertahun-tahun sebelumnya. Aku tidak akan membuang pelurunya sembarangan—atau tiba-tiba menembak mereka di tempat padahal kami sudah mencapai kesepakatan.</p>

<p>“Yuk.” Bermuda melirik Haya yang terlihat masih berusaha mengendalikan dirinya. Aku yakin tidak mudah bagi Haya untuk tetap bersikap biasa setelah nyawanya nyaris melayang dan tangannya menarik pelatuk untuk pertama kalinya.</p>

<p>Namun jawaban Haya tidak terduga. Aku sendiri sampai harus menoleh untuk memastikan Haya tidak sedang berhalusinasi karena trauma.</p>

<p>“Gue mau pulang sama Maru.” Katanya.</p>

<p>Tidak ada reaksi apa-apa dari Bermuda. Sepertinya hanya aku yang terkejut. Bermuda menoleh padaku, “lo bawa apa?”</p>

<p>“Motor.”</p>

<p>“Gue juga bawa motor.” Dia menambahi. “Tapi gue parkir agak jauh, jadi—”</p>

<p>“Duluan aja.”</p>

<p>Orang yang memotong kalimat Bermuda barusan adalah Haya.</p>

<p>“Bareng lah, ngapain—”</p>

<p>“Duluan aja.” Haya sekali lagi memotong. “Gue mau ngobrol bentar sama Maru.”</p>

<p>“Lo gila?” Bermuda memutar tubuhnya hingga sepenuhnya menghadap Haya. “Kepala lo hampir dibolongin sama dia?” Tangannya menunjukku. “Lo mau gue ninggalin kalian berdua—”</p>

<p>“Cuma nyaris aja &#39;kan nggak dibolongin beneran?”</p>

<p><em>Oh, crap.</em></p>

<p><em>Situasi macam apa ini?</em></p>

<p>Haya membuka mulutnya, “gini-gini Maru pernah temenan sama gu—”</p>

<p>“Nggak bakal gue apa-apain,” kini aku yang memotong. Aku tidak mau waktuku terbuang sia-sia untuk menunggu pertengkaran keduanya. “Tenang aja.”</p>

<hr/>

<p>“<em>Sorry</em>.”</p>

<p>Suara Haya terdengar di belakangku.</p>

<p>Aku mengangguk. “Santai.”</p>

<p>Kami terus menyusuri taman terbengkalai ini. Kakiku lincah menghindari tumbuhan-tumbuhan berduri di sekitar kami. Mataku sudah terbiasa pada kegelapan, seberkas cahaya dari lampu senter Haya mempermudah langkahku.</p>

<p>Tepat di samping taman—di antara perbatasan taman dan hutan—terdapat sebuah tangga yang tertutup oleh tumbuhan merambat. Aku berjalan pelan menuruni lima anak tangga lalu segera berbelok. Di balik tangga terdapat sebuah pintu tua—yang juga dipenuhi tumbuhan merambat. Tapi kami tidak akan memasukinya. Aku memarkir motorku tepat di bawah tangga.</p>

<p>“Abis ini lo beneran harus diem.” Aku memulai percakapan, tanganku sibuk menyibak kain hitam yang sengaja kugunakan untuk menutupi motorku. “Apa yang sampe di gue, cukup di gue aja.”</p>

<p>Haya tidak berkomentar selama beberapa detik. Hingga akhirnya motorku telah siap, ia baru menjawab. “Elo sih nggak pernah cerita apa-apa ke gue.”</p>

<p>Aku menaikkan satu alisku. “Lo nggak tau apa-apa, <em>man.</em> Nggak ada yang bisa gue ceritain.”</p>

<p>“Sekarang gue tau sesuatu.” Walau penerangan yang kudapat hanyalah lampu senter dari ponsel Haya yang mengarah ke motorku, aku masih dapat melihat wajahnya yang bersungut-sungut ditimpa cahaya bulan. “Harusnya ada yang bisa lo ceritain &#39;kan?”</p>

<p>“Mana bisa gue percaya sama lo.” Tolakku cepat. Aku mendorong motorku hingga mencapai bagian tanah yang cukup datar.</p>

<p>“Yang bener aja?” Dia berjalan mengekori. “Gue nggak bilang ke siapa-siapa tentang kerjaan lo.”</p>

<p>Kepalaku menoleh cepat. “<em>You better not.</em>“</p>

<p>Setelah berhasil mencapai tanah datar, aku menaiki motorku, menyalakan mesinnya. “Naik.”</p>

<p>Haya berdeham. “Lo beneran nggak bakal buang gue di tengah jalan &#39;kan?”</p>

<p>Aku memakai helmku. Menoleh jengah pada lelaki menyebalkan ini. “Lo sendiri yang minta pulang bareng gue. Mau naik nggak? Atau mau jalan kaki?”</p>

<p>Dengan satu gertakan itu. Haya menaiki motorku. Tidak butuh waktu lama, kami telah membelah hutan dan mencapai jalan raya.</p>

<p>Aku melihat motor Bermuda yang terus mengikuti kami dari jalan raya. Terlihat jelas dia menunggu di jalan masuk hutan. Namun aku mengabaikannya, aku juga tidak memberi tahu Haya.</p>

<p>“Gue mau tanya sesuatu.” Seru Haya dari belakang.</p>

<p>“Apa?”</p>

<p>Aku cukup penasaran dengan hal yang ingin dibicarakan Haya, kelihatannya dia tidak mau Bermuda tahu soal ini.</p>

<p>“Lo pernah bunuh orang?”</p>

<p>Laju motorku melambat.</p>

<p><em>Oh, yeah.</em> Terima kasih banyak atas pertanyaannya, Haya. Aku yakin aku tidak perlu menjawabnya. Alih-alih menjawab ya atau tidak, aku balik bertanya, “kenapa emang?”</p>

<p>“Ya...” Haya memberi jeda satu detik, “lo keliatan kayak orang yang peduli sama nyawa orang lain. Lo marah pas ada berita orang meninggal karena peluru nyasar. Lo juga selalu nyelametin gue pas di-<em>ganking</em>, katanya lo nggak bakal biarin <em>hero</em> gue mati konyol.”</p>

<p>Aku semakin melambatkan motorku, berusaha mendengar penjelasan Haya.</p>

<p>“Menurut gue, kalo lo emang pencitraan doang...” Dia sedikit meringis, “dua tahun kelamaan nggak sih? Kayak nggak mungkin aja gitu, lo betah <em>acting</em> di depan gue seolah-olah lo peduli sama nyawa orang lain padahal lo... bunuhin orang?”</p>

<p><em>Make sense.</em></p>

<p>Dugaanku, Haya tahu kantorku tidak memberikan jasa <em>debt collector</em> biasa. Mungkin dia tahu <em>track record</em> kantorku yang menggunakan segala cara untuk menagih utang.</p>

<p><em>Well,</em> seandainya aku dapat dengan bebas mengatakan pada Haya bahwa kecaman yang kuberikan adalah wujud kemarahanku pada diri sendiri. Seandainya Haya tahu, tidak ada yang dapat mengungguli kebencianku pada diri sendiri. Seandainya Haya tahu, aku lebih memilih menyekap seseorang seumur hidup daripada harus mencabut nyawanya. Seandainya Haya tahu, aku tidak punya pilihan....</p>

<p><em>Yeah.</em> Semakin dipikirkan, aku terlihat semakin menyedihkan.</p>

<p>Tidak bermaksud menjustifikasi <em>kesalahan</em> yang kulakukan. Tapi kadang ada orang di dunia ini yang tetap melakukan sesuatu meski dia tahu tindakannya salah. Bukan karena dia tidak tahu mana yang benar atau salah, bisa saja itu memang pilihan hidupnya atau—sepertiku—itulah satu-satunya pilihan yang dia miliki.</p>

<p>Kalau saja kami sedang membahas tindakan orang lain di meja Warung Aa&#39;, mungkin aku dapat dengan mantap mengutarakan pikiranku. Tapi dengan keadaan sekacau ini, aku hanya akan terdengar seperti orang yang mencari pembenaran sendiri (<em>memang</em>).</p>

<p>“Lo bisa aja bunuh gue.” Dia melanjutkan ucapannya, “gue ngiranya gue bakal langsung mati tadi. Tapi —”</p>

<p>“Karena baru gue yang tau.” Aku memotong cepat, takut terbawa suasana kalau Haya terus mengoceh, “makanya gue nyuruh lo diem. Apa yang udah sampe di gue, cukup di gue aja. Lo jangan bilang apa-apa lagi ke siapapun.”</p>

<p><em>Sekali nama lo disebut, gue nggak bisa ngapa-ngapain selain nurut.</em> Lanjutku dalam hati.</p>

<p>“Lo tau sesuatu tentang Panti Asuhan Kasih Abadi?”</p>

<p><em>Oh, crap.</em></p>

<p><em>CKITTT!</em></p>

<p>Aku menepi. Kepalaku menoleh pada Haya.</p>

<p>“Jangan bunuh gue.” Wajahnya pias.</p>

<p>Tanganku cekatan membuka helm. “Lo tau dari mana?”</p>

<p>“Lo tau?”</p>

<p>“Turun.” Sergahku cepat.</p>

<p>“Nggak.” Dia menggeleng kuat.</p>

<p>“Turun.” Aku kembali memakai helmku. “Gue nggak mau ngomongin ini.”</p>

<p>“Tapi gue—”</p>

<p>“Gue masih sabar.” Niatku menggunakan helm sirna, kepalaku kembali menoleh pada Haya. “Turun. Lari. Sekarang.” Aku menekan setiap kata yang kukeluarkan.</p>

<p>“Gue nggak bakal bilang sama siapa-siapa.”</p>

<p><em>Oh, yeah. Seolah aku tidak tahu hubungannya dengan Bermuda.</em></p>

<p>“Gue nggak punya siapa-siapa. Nggak ada yang bisa gue ceritain tentang ini. Gue nanya karena gue emang harus tau.”</p>

<p>Aku menghela napas kasar. “Kenapa?”</p>

<p>“Lo tau panti asuhan ini?”</p>

<p>“Kenapa lo harus tau?”</p>

<p>“Panti itu jual orang?”</p>

<p>Aku melotot.</p>

<p><em>Tidak. Gawat.</em></p>

<p>Sepertinya aku terlalu meremehkan Haya dan Bermuda. Bagaimana kalau ini semua—sekali lagi—adalah strategi mereka?</p>

<p>Belum sempat aku menjawab, Haya telah mengeluarkan pertanyaan lain. “Apa konsekuensinya kalo kabur dari sana?”</p>

<p><em>Oh?</em></p>

<p>“Lo kenal orang yang kabur dari sana?”</p>

<p>Sejenak, Haya tidak menjawab. Kami sama-sama terdiam.</p>

<p>Jalanan sepi. Bahkan aku tidak melihat motor Bermuda yang awalnya mengikuti kami.</p>

<p>“Gue nanya.”</p>

<p>“Ada 20 orang yang pernah kabur dari panti.” Aku menaruh helmku di atas tangki bensin. “<em>You met one of them</em>? Siapa?”</p>

<p>“Kenapa lo bisa tau?” Aku dapat merasakan Haya memajukan tubuhnya hingga wajahnya nyaris sejajar dengan lenganku. “Lo ngurusin panti juga?”</p>

<p>Aku mengibaskan lenganku—sengaja menyenggol wajahnya agar dia memundurkan tubuhnya. “Kenapa lo pengen tau soal panti?” Seruku kesal.</p>

<p>Haya meringis. “Sakit!”</p>

<p><em>Mampus.</em></p>

<p>“Bisa nggak lo jawab gue dulu baru nanya balik?!” Haya berseru kesal. Tangannya mengusap pipi.</p>

<p>Aku mendecak. “Lo duluan yang jawab. Gue juga bakal jawab.”</p>

<p>“Ini cuma di antara kita berdua aja.” Haya memastikan.</p>

<p>Aku mengangguk. <em>Well</em>, informasi yang akan kuterima sebenarnya cukup penting. Panti Asuhan yang dimaksud Haya bukan bagianku—seperti yang sudah diketahui sebelumnya, aku hanya bertugas di bagian keuangan—terutama penagihan utang. Tapi panti asuhan adalah objek penting untuk organisasi kami.</p>

<p>“Informasi apapun yang gue kasih ke lo sekarang... <em>keep</em> di elo aja.” Haya menelan ludahnya. “Kalo sampe nyebar, gue bakal ancurin kantor lo.”</p>

<p>“<em>What the fuck?</em>“</p>

<p>“Ma—maksudnya,” Haya kelabakan saat melihat aku menoleh dan nyaris turun dari motor, “i—ini beneran di antara kita aja.”</p>

<p>Aku kembali menghadap depan. Mengangguk. “Lo bisa pegang omongan gue.”</p>

<p>Lengang.</p>

<p>Aku menatap wajah Haya dari kaca spion. Sepertinya dia sedang menimbang beberapa hal. Aku tidak berkomentar, sengaja memberinya waktu.</p>

<p>“Bener. Gue tau panti itu jual orang karena...” Suara Haya memecah keheningan di antara kami. “... dikasih tau orang yang pernah kabur dari panti.”</p>

<p>“Siapa?”</p>

<p>“Gue nggak bisa ngasih tau!” Seru Haya cepat. “Gue cuma pengen tau karena...” Dia terdiam, berdeham. “Gue pengen tau apa aja yang udah dia lewatin.”</p>

<p>“Bermuda?” Tembakku tak kalah cepat.</p>

<p>“Gue cuma pengen tau.”</p>

<p>“Lo naksir dia?”</p>

<p>“Gue cuma pengen tau!” Suara Haya meninggi.</p>

<p>“Beneran Bermuda?”</p>

<p>“Katanya lo bakal jawab kalo gue udah jawab?”</p>

<p><em>Sudah tertebak.</em></p>

<p><em>Pasti Bermuda.</em></p>

<p><em>Oh, God.</em> Kabur dari panti asuhan bukan hal yang mudah. Tidak heran Bermuda tumbuh <em>seperti itu</em>. Dibutuhkan keberanian sebesar mencabut nyawa orang untuk membebaskan diri dari sana.</p>

<p>Aku menelan ludah. Panti asuhan adalah satu dari banyaknya sumber uang organisasiku yang membuatku tutup mata. Aku tidak mau melihat apapun yang terjadi di sana dan aku harus memaksa agar aku tidak acuh pada makhluk hidup di sana.</p>

<p>Sejarah panti itu kelam. Penuh darah dan kekejaman. Menceritakannya pada Haya hanya akan membuatku membuka mata atas itu semua. Membuka mata atas itu semua artinya aku akan memunggungi organisasiku. Memunggungi organisasiku artinya aku akan mati di langkah pertama.</p>

<p>Aku tidak pernah punya pilihan. Setiap keputusan yang kubuat berujung pada hidup dan mati. Orang waras manapun tidak akan memilih kematian.</p>

<p><em>Begitupun aku.</em></p>
]]></content:encoded>
      <guid>https://bulanjuni.writeas.com/reflection</guid>
      <pubDate>Sat, 25 Feb 2023 08:35:45 +0000</pubDate>
    </item>
    <item>
      <title>Unfold</title>
      <link>https://bulanjuni.writeas.com/unfold?pk_campaign=rss-feed</link>
      <description>&lt;![CDATA[  POV: FUJI&#xA;  cw / tw / mention of blood&#xA;&#xA;Aku tidak pernah menakar kebodohan Bang Erde. Satu, karena aku tidak berminat. Dua, karena aku tidak pernah memiliki waktu dan kesempatan. &#xA;&#xA;Tapi malam ini, aku tidak sengaja menimbang kebodohan sekaligus kepolosannya. Ah, mau dilihat dari segi manapun, aku yakin beratus-ratus persen Haya benar-benar menaruh perasaan dengan Bang Erde. Dua mataku, satu mata batinku, bahkan mata kakiku dapat dengan jelas melihatnya. !--more--&#xA;&#xA;Pukul dua pagi, aku tidur di kasur dalam kamar Haya--yang ternyata jarang digunakan sehingga tadi aku harus membersihkannya lebih dulu, sementara si pemilik kamar dan Bang Erde sedang duduk di ruang tamu, suara keduanya  menembus dinding tipis rumah ini. &#xA;&#xA;Setengah jam telah berlalu semenjak kami baru saja menemukan keterkaitan orang-orang dari Mandala Group dengan Yayasan Kasih Abadi, yang ternyata berkaitan dengan--amit-amit aku sangat benci menyebut nama ini--Panti Asuhan Kasih Abadi. &#xA;&#xA;Nama itu seharusnya telah tertinggal jauh. Kami (aku dan Bang Erde) telah berlari ratusan kilometer dari tempat itu. Entah bagaimana, akhirnya, aku percaya bumi itu bulat. Kami telah berlari jauh, tapi saking jauhnya, kami justru kembali ke garis awal. &#xA;&#xA;Tempat itu dan semua yang ada di dalam sana terasa pahit. &#xA;&#xA;Aku tidak mau membahasnya. Aku membencinya. Aku sangat membenci tempat itu. Aku lebih memilih pura-pura tidur ketika Bang Erde berniat menceritakan kisah itu pada Haya. Bahkan aku sudah memilih untuk tidur di kamar Haya agar mereka bisa bebas bercerita di ruang bawah tanah--alias ruang kerja HOKU--tapi entah bagaimana, justru mereka berdua memutuskan untuk mengikutiku ke atas dan duduk berdua di ruang tamu.&#xA;&#xA;Mau tidak mau, akhirnya aku mendengar kembali cerita itu. Lebih menyebalkan lagi, Bang Erde menceritakan tentang panti terkutuk itu dengan santai seolah semua anak di dunia ini mengalami hal yang kami rasakan.&#xA;&#xA;&#34;Gue sama Fuji sama-sama dari panti itu. Pas tau mereka jualin anak-anak panti, kita kabur.&#34;&#xA;&#xA;Kira-kira begitulah cerita singkat Bang Erde. Sisanya hanya berisi kekagetan Haya dan berbagai macam pertanyaan-pertanyaan--yang menurutku--amat personal.&#xA;&#xA;&#34;Lo pernah mau dijual juga sama mereka?&#34; Dengan jawaban, &#34;pernah, lah. Kan gue anak panti situ juga.&#34;&#xA;&#xA;&#34;Kok lo bisa masuk panti? Orang tua lo kenapa?&#34; Yang tentunya tidak mendapat jawaban dari Bang Erde karena Bang Erde juga tidak tahu siapa orang tuanya dan mengapa dia bisa berakhir di tempat itu--begitupun aku dan semua anak di panti itu karena kami semua telah berada di panti sejak masih bayi. Bahkan selama aku tinggal di panti itu, aku tidak pernah melihat anak baru yang berusia di atas dua tahun. &#xA;&#xA;Rasa kecewa berdecakan di lidahku karena Haya tidak menanyakan makanan yang kami makan dan apa kegiatan kami selama di sana. Mungkin sama seperti Bang Erde, empati Haya juga sama rendahnya. Mungkin dia berpikir satu-satunya kebusukan yang disembunyikan panti itu hanyalah perdagangan manusia berkedok adopsi, padahal kami juga diperlakukan seperti binatang di sana (bahkan aku yakin binatang diperlakukan lebih layak daripada kami). &#xA;&#xA;Aku mengubah posisi tidurku. Langit-langit kamar terlihat kosong, hanya ada satu bohlam bulat berwarna putih terang di tengah. &#xA;&#xA;Aku menghela napas kasar. Haya juga melewatkan kesempatan untuk bertanya bagaimana kami bisa pergi dari tempat terkutuk itu. Mungkin dia juga sama dengan Bang Erde, kemampuan sosialnya perlu dipertanyakan. &#xA;&#xA;Tidak ada suara selama beberapa detik dari luar.&#xA;&#xA;Aku meraih guling dan segera berbalik menghadap tembok. Ranjang Haya memang agak kotor tadinya, namun kasurnya luar biasa nyaman, tidak terlalu keras dan tidak terlalu empuk, kasur ini seperti mengikuti bentuk tubuh siapapun di atasnya. &#xA;&#xA;Kamar Haya adalah kamar sederhana dengan satu ranjang dan kasur yang berwarna serba putih dan almari. &#xA;&#xA;Aku pernah sekali menjemput Bang Erde di sel penjara sementara. Dan aku bisa mengatakan kekosongan di kamar ini mengingatkanku pada sel penjara.  Selain karena ruangannya yang kosong, kamar ini seperti sengaja diisolasi dari dunia luar. Terdapat satu jendela di samping ranjang yang ditutup dengan tempelan kertas koran. &#xA;&#xA;Sebuah helaan napas kuhembuskan saat aku sekali lagi mendengar pertanyaan Haya. &#xA;&#xA;&#34;Lo gimana sekarang?&#34;&#xA;&#xA;&#34;Lo sedih nggak kita harus bahas panti ini?&#34;&#xA;&#xA;&#34;Lo beneran udah nggak apa-apa?&#34;&#xA;&#xA;Pertanyaan itu kelewat aneh untuk ditanyakan pada Bang Erde yang tidak pernah memedulikan perasaannya sendiri. Orang seperti Bang Erde jelas hanya akan menganggap suatu hal menyedihkan jika dapat membuatnya menangis dan suatu hal menyenangkan jika dapat membuatnya tertawa. Dia sederhana sekaligus menyebalkan. &#xA;&#xA;Mataku sudah hampir terpejam ketika tiba-tiba Bang Erde mengganti topik.&#xA;&#xA;&#34;Lo kenal Maru dari mana?&#34;&#xA;&#xA;Maru.&#xA;&#xA;Kedua mataku terbuka sempurna. &#xA;&#xA;&#34;Gue udah temenan sama Maru dari lama. Kita sering mabar di warmindo.&#34; &#xA;&#xA;Otakku berputar cepat.&#xA;&#xA;&#34;Dari gue maba. Maru ini mahasiswa abadi. Dia kating tapi nggak lulus-lulus.&#34;&#xA;&#xA;Maru. &#xA;&#xA;Mataku mengerjap beberapa kali saat pandanganku berubah menjadi kilasan-kilasan pancaran laptop Haya beberapa jam lalu. &#xA;&#xA;Tunggu dulu...&#xA;&#xA;Mandala&#xA;&#xA;Mandala Group adalah pemilik PT. Neo Central Tbk yang memiliki tiga perusahaan: Neo Central Bank, Neo Central Law Firm, dan PT. Neo Central Capital.&#xA;&#xA;Lalu seolah ada yang mengganti tayangan di mataku, tiba-tiba aku teringat saat aku memasuki kantor Maru bersama anak buah Edgard--salah satu penguasa wilayah yang bertugas sebagai makelar segala urusan, aku datang bersamanya setelah mengaku bahwa aku memerlukan jasa debt collector untuk menagih utang dari seorang preman dan aku terlalu takut melakukannya sendirian. &#xA;&#xA;Kantor Maru berada di dekat stasiun kereta listrik. Memasuki sebuah pasar dan gang kecil, kantornya terletak di jalan kecil namun ramai. Sekilas orang-orang akan mengira kantor itu sebagai ruko biasa, tapi saat masuk, tempat itu lebih mirip kantor agen properti karena peta raksasa yang menempel di dinding dan maket perkotaan yang terletak di ujung ruangan. &#xA;&#xA;&#34;Bro Yasa!&#34;&#xA;&#xA;Aku dan Yasa--nama anak buah Edgard yang sedang bersamaku--segera menoleh dan mendapati sebuah kepala yang muncul dari meja resepsionis. &#xA;&#xA;Seorang lelaki dengan badan kurus menghampiri kami, ia terlihat nyentrik dengan kaos singlet dan celana pendek serba hitam serta rambut sebahunya yang dikuncir setengah. &#xA;&#xA;&#34;Bro Yudhis!&#34; &#xA;&#xA;Yasa dan seseorang yang disebut Yudhis ini saling berjabat tangan. Aku ingat saat mereka sedang berjabat tangan, mataku sedikit melirik untuk mengamati ruangan. Terdapat satu karpet besar berwarna merah tua dengan sofa dan meja di atasnya, meja resepsionis biasa terletak di ujung ruangan berwarna coklat tua, sebuah telepon intercom berada tepat di antara meja resepsionis dan pintu lift dan tentunya maket perkotaan di ujung lain ruangan. &#xA;&#xA;Lantai ruangan itu menggunakan parket kayu jati yang senada dengan meja resepsionis, tembok ruangannya berwarna oranye... cinnamon? Aku merasa ruangan itu terlihat gelap sekaligus terang. Nuansa merah, coklat dan oranye di ruangan itu memberikan sensasi tenang sekaligus mencekam. &#xA;&#xA;Yasa dan Yudhis berbincang selama beberapa menit sebelum akhirnya Yudhis melihatku dan menyuruh kami (aku dan Yasa) menunggu di sofa sementara lelaki dengan kaos singlet itu menghilang di lift.&#xA;&#xA;&#34;Tadi gue bilang yang butuh jasa mereka gue, bukan elo.&#34;&#xA;&#xA;Satu alisku naik, kenapa?&#xA;&#xA;&#34;Dia nggak suka orang yang nanya-nanya doang kayak elo.&#34; Yasa menoleh padaku, pipi tirusnya terlihat jelas saat aku melihatnya dari  sisi yang agak serong, &#34;Bro Edgrard emang baru mau nagih utang ke Bro Barong. Jadi biar sekalian lewat mereka aja. Orang-orang Bro Yudhis kenal juga sama Bro Barong.&#34; Ia menepuk bahuku singkat, &#34;entar lo perhatiin aja pas gue nanyain prosesnya gimana, harganya berapa. Kalo ada pertanyaan, tanyain dulu ke gue baru entar gue tanyain ke Bro Yudhis.&#34;&#xA;&#xA;Aku ingat aku hanya mengangguk saat itu. Sepertinya Yasa tahu aku tidak benar-benar memiliki niat menggunakan jasa penagih utang. Walau kami hanya berurusan beberapa kali, tapi Yasa adalah orang yang cepat tanggap. &#xA;&#xA;&#34;Ini anak baru. Dia baru belajar sama gue,&#34; menjadi penjelasan yang diberikan Yasa ketika Yudhis akhirnya muncul dari lift. &#xA;&#xA;Tidak ada yang menyangka apa yang kudengar berikutnya sama sekali tidak mirip sistem marketing di sebuah kantor pelayanan jasa. &#xA;&#xA;&#34;Bro Barong ya. Berarti gue harus nagih baik-baik? Padahal gue udah bayangin komisi gede soalnya kemarin abis ada yang minta jantung ke sini.&#34;&#xA;&#xA;Kemudian tawanya memenuhi ruangan. &#xA;&#xA;Duh, tidak lucu. &#xA;&#xA;Sungguh. Dia terlihat seperti seseorang yang mampu menyiksa orang lain sampai orang itu menyerahkan jantungnya secara sukarela karena tidak tahan disiksa.&#xA;&#xA;Bro Barong yang disebut-sebut dari tadi adalah rekan Bro Edgard, dulunya. Namun mereka sempat berkonflik karena batas wilayah dan terus melanjutkan konflik itu hingga saat ini. &#xA;&#xA;Yudhis menanyakan beberapa pertanyaan umum terkait jumlah utang, bukti, dan kronologi. Sebagai penagih utang kelas preman, kuakui dia termasuk teliti. &#xA;&#xA;Lalu aku tidak akan melupakan moment paling mengerikan yang kualami hari itu. &#xA;&#xA;Tisu dan handuk penuh noda darah di dalam tempat sampah toilet dan cincin dengan noda merah kecoklatan mengering di bawah meja tamu. &#xA;&#xA;Aku mual hanya dengan mengingatnya. &#xA;&#xA;Tapi bukan itu ingatan yang kucari.&#xA;&#xA;Saat kembali dari toilet, Yasa sedang mengisi beberapa berkas yang sepertinya menjadi perjanjian kerja sama untuk keduanya. Aku sempat mengamati map yang sedang dipegang Yudhis, ada sebuah tanda di bagian bawah selain tulisan nama kantornya yang tercetak besar.&#xA;&#xA;Tunggu...&#xA;&#xA;Apa nama kantornya?&#xA;&#xA;Neo Central Finance... &#xA;&#xA;Alisku mengernyit. Ada simbol lain di bawah nama kantornya...&#xA;&#xA;CC...&#xA;&#xA;Mataku terbelalak. &#xA;&#xA;Neo Central Finance... milik Neo Central Capital. &#xA;&#xA;Ruh dan pikiranku terpental kembali ke  kamar Haya.&#xA;&#xA;Aku segera bangkit dari kasur dan menerjang ruang tamu. Sayup-sayup, aku masih mendengar percakapan Bang Erde dan Haya. Namun kini aku terlalu fokus memikiran Maru untuk menganalisis kata apa saja yang mereka ucapkan.&#xA;&#xA;Haya terlonjak saat melihatku muncul tiba-tiba dari pintu kamarnya, sementara Bang Erde mengernyitkan dahi, &#34;kirain udah tidur?&#34; &#xA;&#xA;Aku menggeleng cepat. &#34;Gue baru inget,&#34; aku menelan ludah, &#34;Maru--&#34;&#xA;&#xA;&#34;Duduk dulu, deh.&#34; Haya memotong. &#xA;&#xA;Aku menggeleng keras. Tidak usah duduk untuk menceritakan ini. &#xA;&#xA;&#34;Maru kerja di bawah Mandala juga.&#34;&#xA;&#xA;Hening. &#xA;&#xA;&#34;Kantor debt collector Maru, punyanya Mandala Group.&#34; Lanjutku.&#xA;&#xA;Haya mengernyit, &#34;tau dari mana?&#34;&#xA;&#xA;&#34;Gue pernah ke kantornya.&#34;&#xA;&#xA;&#34;Lo pernah ke kantornya?&#34; Wajah Bang Erde terlihat terkejut (dan tersinggung).&#xA;&#xA;&#34;Enggak, maksud gue,&#34; Haya menyerobot, tidak mengacuhkan Bang Erde yang baru saja bertanya, &#34;lo tau dari mana Maru kerja di kantor debt collector?&#34;&#xA;&#xA;Aku menoleh cepat pada Haya. &#34;Gue pernah cari tau tentang Maru.&#34; &#xA;&#xA;Tangan Bang Erde menepuk sikutku keras, &#34;lo ngapain ke kantornya?&#34; Alisnya mengernyit, &#34;bukannya lo ngelarang gue--&#34;&#xA;&#xA;Haya gantian menepuk sikutku yang lain, &#34;debt collector ini beneran debt collector atau preman-preman galak modelan lintah darat yang hobi buangin--&#34;&#xA;&#xA;&#34;Satu-satu ngomongnya.&#34; Aku mengibaskan tangan keduanya. Kududukkan badanku di samping Bang Erde. &#xA;&#xA;Bang Erde menoleh ke arahku, &#34;ngapain lo ke kantor Maru?&#34; &#xA;&#xA;Aku menceritakan garis besar kunjungan singkatku beberapa hari lalu. &#34;Gue ditemenin anak buahnya Edgard pas kesana. Dia bantuin gue.&#34;&#xA;&#xA;&#34;Lo temenan sama Edgard?&#34;&#xA;&#xA;&#34;Edgard siapa?&#34;&#xA;&#xA;Aku menoleh pada Haya, &#34;Edgard kepala preman di distrik satu-dua Neo.&#34; Lalu menoleh pada Bang Erde, &#34;enggak. Murni bisnis.&#34;&#xA;&#xA;Kepala Haya bergantian menatapku dan Bang Erde, ia jelas terlihat seperti tertinggal jauh dari kami. &#34;Bentar, maksud lo Maru semacam preman galak tukang nagihin utang yang tatoan gitu?&#34;&#xA;&#xA;&#34;Nggak.&#34; Jawabku cepat. &#34;Kita belum--&#34;&#xA;&#xA;&#34;Nggak tau.&#34; Bang Erde menyela, &#34;kemungkinan besar gitu tapi kita belum tau sampe sekarang.&#34;&#xA;&#xA;Dua alis Haya terangkat, wajahnya berubah sumringah. &#34;Bagus, dong.&#34;&#xA;&#xA;Waduh.&#xA;&#xA;Tidak ada jawaban dariku dan Bang Erde.&#xA;&#xA;Aku jelas paham Haya baru saja menemukan peluang untuk memanfaatkan Maru dan aku segera memberi tatapan datar sebagai tanda bahwa aku tidak setuju dengan idenya. &#xA;&#xA;&#34;Kok bagus?&#34; Bang Erde ikut menatap (heran) ke arah Haya. &#xA;&#xA;&#34;Kita bisa pake Maru.&#34;&#xA;&#xA;Nah kan.&#xA;&#xA;&#34;Pake buat?&#34;&#xA;&#xA;&#34;Apa aja.&#34;&#xA;&#xA;&#34;Jangan sembarangan.&#34; Selaku, aku mencondongkan tubuhku, &#34;salah salah lo make dia, bisa-bisa kita semua mati.&#34;&#xA;&#xA;&#34;Lo pikir Maru bakal bunuh kita?&#34; Haya memiringkan kepalanya. Dia jelas tersinggung.&#xA;&#xA;Bang Erde menoleh cepat padaku. &#34;Apa aja yang lo liat di kantornya?&#34;&#xA;&#xA;Aku bergumam selama beberapa saat sebelum menggeleng pelan, &#34;nggak ada. Kantornya biasa aja. Tapi kelakuan mereka yang nggak biasa.&#34;&#xA;&#xA;&#34;Apa?&#34;&#xA;&#xA;&#34;Kayaknya mereka nyiksa dan bunuh orang di kantor itu, atau nggak jauh dari situ.&#34; Aku balas menatap Haya yang menatapku dengan seksama, &#34;gue sempet liat bekas darah di toilet sama ruang tamu.&#34;&#xA;&#xA;&#34;Lo yakin itu beneran darah dari mana? Kok bisa mikir itu darah manusia?&#34; Haya ikut mencondongkan tubuhnya, kini dua sikunya ditumpukan pada lututnya. &#34;Kenapa lo kayak tau banget mereka beneran nyiksa orang?&#34;&#xA;&#xA;&#34;Semua orang di sana tau.&#34; Potongku cepat. Semua orang yang kumaksud mencakup anak buah Edgard yang pergi bersamaku. Seharusnya jawaban ini bisa menjawab pertanyaannya--baik yang ditanyakan maupun tidak. Haya cukup pintar untuk menyadari maksud kalimatku. Dia tahu aku pergi bersama anak buah seorang penguasa distrik. Tidak mungkin aku sengaja menyebarkan sembarang informasi.&#xA;&#xA;Tidak ada suara selama beberapa saat. &#xA;&#xA;&#34;Nggak.&#34; Haya menggeleng, ia memundurkan tubuhnya, menyandarkannya di sandaran sofa. &#34;Maru bukan orang kayak gitu.&#34;&#xA;&#xA;Bang Erde terkekeh. &#34;Tau dari mana?&#34;&#xA;&#xA;&#34;Gue udah kenal Maru dari lama.&#34;&#xA;&#xA;&#34;Terus kenapa? Lo ngerasa kenal sama dia?&#34; Timpal Bang Erde sengak.&#xA;&#xA;&#34;Iyalah,&#34; Haya menatap kami dengan tatapan tersinggung, &#34;gue yang paling kenal Maru di antara kalian.&#34;&#xA;&#xA;&#34;Lo baru tau kerjaan Maru dari kita.&#34; Jawab Bang Erde dengan muka dua kali lebih tersinggung.  &#34;Preman-preman di sana aja cerita ke Fuji kalo Maru ditakutin di daerah situ.&#34; Tambahnya. &#xA;&#xA;&#34;Bisa aja imej kantornya emang serem terus Maru keseret karena kerja di situ.&#34; Kilah Haya.&#xA;&#xA;Bang Erde menghela napas kasar, mulutnya ternganga seolah tidak menyangka apa yang baru didengar telinganya, &#34;ngapain lo belain Maru?&#34;&#xA;&#xA;Haya terdiam. &#34;Gue nggak belain.&#34; Dia berdeham lalu membenarkan posisi duduknya, &#34;pokoknya, kita bisa cari tau sesuatu lewat Maru.&#34;&#xA;&#xA;&#34;Lo udah gila?&#34; Bang Erde berdecak, tangannya dilipat di depan dada. Namun sepertinya ia tetap tertarik dengan rencana aneh dari Haya, sebuah pertanyaan mengikuti pertanyaannya sebelumnya, &#34;gimana caranya? Emang bisa?&#34;&#xA;&#xA;Aku menghela napas. Sepertinya mereka tidak akan mendengarku jika kularang. Sepertinya pesanku tentang Maru berasal dari pihak yang berbahaya tidak tersampaikan ke telinga mereka. &#xA;&#xA;&#34;Ya bisa? Kenapa nggak bisa?&#34; Jawab Haya sambil tersenyum pongah, &#34;kita malah bisa dapet update paling aktual dari Maru.&#34;&#xA;&#xA;&#34;Tapi gimana caranya?&#34; Kini aku bertanya tak sabar.&#xA;&#xA;&#34;Gue temenan sama Maru.&#34;&#xA;&#xA;Astaga.&#xA;&#xA;&#34;Lo pikir gampang cuma karena lo temenan sama Maru?&#34;&#xA;&#xA;&#34;Iya.&#34; Haya mengangguk mantab.&#xA;&#xA;]]&gt;</description>
      <content:encoded><![CDATA[<blockquote><p><em>POV: FUJI</em>
<em>cw / tw / mention of blood</em></p></blockquote>

<p>Aku tidak pernah menakar kebodohan Bang Erde. Satu, karena aku tidak berminat. Dua, karena aku tidak pernah memiliki waktu dan kesempatan.</p>

<p>Tapi malam ini, aku tidak sengaja menimbang kebodohan sekaligus kepolosannya. <em>Ah</em>, mau dilihat dari segi manapun, aku yakin beratus-ratus persen Haya benar-benar menaruh perasaan dengan Bang Erde. Dua mataku, satu mata batinku, bahkan mata kakiku dapat dengan jelas melihatnya. </p>

<p>Pukul dua pagi, aku tidur di kasur dalam kamar Haya—yang ternyata jarang digunakan sehingga tadi aku harus membersihkannya lebih dulu, sementara si pemilik kamar dan Bang Erde sedang duduk di ruang tamu, suara keduanya  menembus dinding tipis rumah ini.</p>

<p>Setengah jam telah berlalu semenjak kami baru saja menemukan keterkaitan orang-orang dari Mandala Group dengan Yayasan Kasih Abadi, yang ternyata berkaitan dengan—amit-amit aku sangat benci menyebut nama ini—Panti Asuhan Kasih Abadi.</p>

<p>Nama itu seharusnya telah tertinggal jauh. Kami (aku dan Bang Erde) telah berlari ratusan kilometer dari tempat itu. Entah bagaimana, akhirnya, aku percaya bumi itu bulat. Kami telah berlari jauh, tapi saking jauhnya, kami justru kembali ke garis awal.</p>

<p>Tempat itu dan semua yang ada di dalam sana terasa pahit.</p>

<p>Aku tidak mau membahasnya. Aku membencinya. Aku <em>sangat</em> membenci tempat itu. Aku lebih memilih pura-pura tidur ketika Bang Erde berniat menceritakan kisah itu pada Haya. Bahkan aku sudah memilih untuk tidur di kamar Haya agar mereka bisa bebas bercerita di ruang bawah tanah—alias ruang kerja HOKU—tapi entah bagaimana, justru mereka berdua memutuskan untuk mengikutiku ke atas dan duduk berdua di ruang tamu.</p>

<p>Mau tidak mau, akhirnya aku mendengar kembali cerita itu. Lebih menyebalkan lagi, Bang Erde menceritakan tentang panti terkutuk itu dengan santai seolah semua anak di dunia ini mengalami hal yang kami rasakan.</p>

<p>“Gue sama Fuji sama-sama dari panti itu. Pas tau mereka jualin anak-anak panti, kita kabur.”</p>

<p>Kira-kira begitulah cerita singkat Bang Erde. Sisanya hanya berisi kekagetan Haya dan berbagai macam pertanyaan-pertanyaan—<em>yang menurutku</em>—amat personal.</p>

<p>“Lo pernah mau dijual juga sama mereka?” Dengan jawaban, “pernah, lah. Kan gue anak panti situ juga.”</p>

<p>“Kok lo bisa masuk panti? Orang tua lo kenapa?” Yang tentunya tidak mendapat jawaban dari Bang Erde karena Bang Erde juga tidak tahu siapa orang tuanya dan mengapa dia bisa berakhir di tempat itu—begitupun aku dan semua anak di panti itu karena kami semua telah berada di panti sejak masih bayi. Bahkan selama aku tinggal di panti itu, aku tidak pernah melihat anak baru yang berusia di atas dua tahun.</p>

<p>Rasa kecewa berdecakan di lidahku karena Haya tidak menanyakan makanan yang kami makan dan apa kegiatan kami selama di sana. Mungkin sama seperti Bang Erde, empati Haya juga sama rendahnya. Mungkin dia berpikir satu-satunya kebusukan yang disembunyikan panti itu hanyalah perdagangan manusia berkedok adopsi, padahal kami juga diperlakukan seperti binatang di sana (bahkan aku yakin binatang diperlakukan lebih layak daripada kami).</p>

<p>Aku mengubah posisi tidurku. Langit-langit kamar terlihat kosong, hanya ada satu bohlam bulat berwarna putih terang di tengah.</p>

<p>Aku menghela napas kasar. Haya juga melewatkan kesempatan untuk bertanya bagaimana kami bisa pergi dari tempat terkutuk itu. Mungkin dia juga sama dengan Bang Erde, kemampuan sosialnya perlu dipertanyakan.</p>

<p>Tidak ada suara selama beberapa detik dari luar.</p>

<p>Aku meraih guling dan segera berbalik menghadap tembok. Ranjang Haya memang agak kotor tadinya, namun kasurnya luar biasa nyaman, tidak terlalu keras dan tidak terlalu empuk, kasur ini seperti mengikuti bentuk tubuh siapapun di atasnya.</p>

<p>Kamar Haya adalah kamar sederhana dengan satu ranjang dan kasur yang berwarna serba putih dan almari.</p>

<p>Aku pernah sekali menjemput Bang Erde di sel penjara sementara. Dan aku bisa mengatakan kekosongan di kamar ini mengingatkanku pada sel penjara.  Selain karena ruangannya yang kosong, kamar ini seperti sengaja diisolasi dari dunia luar. Terdapat satu jendela di samping ranjang yang ditutup dengan tempelan kertas koran.</p>

<p>Sebuah helaan napas kuhembuskan saat aku sekali lagi mendengar pertanyaan Haya.</p>

<p>“Lo gimana sekarang?”</p>

<p>“Lo sedih nggak kita harus bahas panti ini?”</p>

<p>“Lo beneran udah nggak apa-apa?”</p>

<p>Pertanyaan itu kelewat aneh untuk ditanyakan pada Bang Erde yang tidak pernah memedulikan perasaannya sendiri. Orang seperti Bang Erde jelas hanya akan menganggap suatu hal menyedihkan jika dapat membuatnya menangis dan suatu hal menyenangkan jika dapat membuatnya tertawa. Dia sederhana sekaligus menyebalkan.</p>

<p>Mataku sudah hampir terpejam ketika tiba-tiba Bang Erde mengganti topik.</p>

<p>“Lo kenal Maru dari mana?”</p>

<p><em>Maru.</em></p>

<p>Kedua mataku terbuka sempurna.</p>

<p>“Gue udah temenan sama Maru dari lama. Kita sering mabar di <em>warmindo</em>.”</p>

<p>Otakku berputar cepat.</p>

<p>“Dari gue maba. Maru ini mahasiswa abadi. Dia kating tapi nggak lulus-lulus.”</p>

<p><em>Maru.</em></p>

<p>Mataku mengerjap beberapa kali saat pandanganku berubah menjadi kilasan-kilasan pancaran laptop Haya beberapa jam lalu.</p>

<p><em>Tunggu dulu...</em></p>

<p><img src="https://pbs.twimg.com/media/FhdIB53aUAE5eYK?format=png&amp;name=large" alt="Mandala"/></p>

<p>Mandala Group adalah pemilik PT. Neo Central Tbk yang memiliki tiga perusahaan: Neo Central Bank, Neo Central Law Firm, dan PT. Neo Central Capital.</p>

<p>Lalu seolah ada yang mengganti tayangan di mataku, tiba-tiba aku teringat saat aku memasuki kantor Maru bersama anak buah Edgard—salah satu penguasa wilayah yang bertugas sebagai makelar segala urusan, aku datang bersamanya setelah mengaku bahwa aku memerlukan jasa <em>debt collector</em> untuk menagih utang dari seorang preman dan aku terlalu takut melakukannya sendirian.</p>

<p>Kantor Maru berada di dekat stasiun kereta listrik. Memasuki sebuah pasar dan gang kecil, kantornya terletak di jalan kecil namun ramai. Sekilas orang-orang akan mengira kantor itu sebagai ruko biasa, tapi saat masuk, tempat itu lebih mirip kantor agen properti karena peta raksasa yang menempel di dinding dan maket perkotaan yang terletak di ujung ruangan.</p>

<p>“<em>Bro</em> Yasa!”</p>

<p>Aku dan Yasa—nama anak buah Edgard yang sedang bersamaku—segera menoleh dan mendapati sebuah kepala yang muncul dari meja resepsionis.</p>

<p>Seorang lelaki dengan badan kurus menghampiri kami, ia terlihat nyentrik dengan kaos singlet dan celana pendek serba hitam serta rambut sebahunya yang dikuncir setengah.</p>

<p>“<em>Bro</em> Yudhis!”</p>

<p>Yasa dan seseorang yang disebut Yudhis ini saling berjabat tangan. Aku ingat saat mereka sedang berjabat tangan, mataku sedikit melirik untuk mengamati ruangan. Terdapat satu karpet besar berwarna merah tua dengan sofa dan meja di atasnya, meja resepsionis biasa terletak di ujung ruangan berwarna coklat tua, sebuah telepon intercom berada tepat di antara meja resepsionis dan pintu lift dan tentunya maket perkotaan di ujung lain ruangan.</p>

<p>Lantai ruangan itu menggunakan parket kayu jati yang senada dengan meja resepsionis, tembok ruangannya berwarna oranye... <em>cinnamon</em>? Aku merasa ruangan itu terlihat gelap sekaligus terang. Nuansa merah, coklat dan oranye di ruangan itu memberikan sensasi tenang sekaligus mencekam.</p>

<p>Yasa dan Yudhis berbincang selama beberapa menit sebelum akhirnya Yudhis melihatku dan menyuruh kami (aku dan Yasa) menunggu di sofa sementara lelaki dengan kaos singlet itu menghilang di lift.</p>

<p>“Tadi gue bilang yang butuh jasa mereka gue, bukan elo.”</p>

<p>Satu alisku naik, <em>kenapa?</em></p>

<p>“Dia nggak suka orang yang nanya-nanya doang kayak elo.” Yasa menoleh padaku, pipi tirusnya terlihat jelas saat aku melihatnya dari  sisi yang agak serong, “<em>Bro</em> Edgrard emang baru mau nagih utang ke <em>Bro</em> Barong. Jadi biar sekalian lewat mereka aja. Orang-orang <em>Bro</em> Yudhis kenal juga sama <em>Bro</em> Barong.” Ia menepuk bahuku singkat, “entar lo perhatiin aja pas gue nanyain prosesnya gimana, harganya berapa. Kalo ada pertanyaan, tanyain dulu ke gue baru entar gue tanyain ke <em>Bro</em> Yudhis.”</p>

<p>Aku ingat aku hanya mengangguk saat itu. Sepertinya Yasa tahu aku tidak benar-benar memiliki niat menggunakan jasa penagih utang. Walau kami hanya berurusan beberapa kali, tapi Yasa adalah orang yang cepat tanggap.</p>

<p>“Ini anak baru. Dia baru belajar sama gue,” menjadi penjelasan yang diberikan Yasa ketika Yudhis akhirnya muncul dari lift.</p>

<p>Tidak ada yang menyangka apa yang kudengar berikutnya sama sekali tidak mirip sistem <em>marketing</em> di sebuah kantor pelayanan jasa.</p>

<p>“<em>Bro</em> Barong ya. Berarti gue harus nagih baik-baik? Padahal gue udah bayangin komisi gede soalnya kemarin abis ada yang minta jantung ke sini.”</p>

<p>Kemudian tawanya memenuhi ruangan.</p>

<p>Duh, <em>tidak lucu</em>.</p>

<p>Sungguh. Dia terlihat seperti seseorang yang mampu menyiksa orang lain sampai orang itu menyerahkan jantungnya secara sukarela karena tidak tahan disiksa.</p>

<p><em>Bro</em> Barong yang disebut-sebut dari tadi adalah rekan <em>Bro</em> Edgard, <em>dulunya</em>. Namun mereka sempat berkonflik karena batas wilayah dan terus melanjutkan konflik itu hingga saat ini.</p>

<p>Yudhis menanyakan beberapa pertanyaan umum terkait jumlah utang, bukti, dan kronologi. Sebagai penagih utang kelas preman, kuakui dia termasuk teliti.</p>

<p>Lalu aku tidak akan melupakan <em>moment</em> paling mengerikan yang kualami hari itu.</p>

<p>Tisu dan handuk penuh noda darah di dalam tempat sampah toilet dan cincin dengan noda merah kecoklatan mengering di bawah meja tamu.</p>

<p>Aku mual hanya dengan mengingatnya.</p>

<p><em>Tapi bukan itu ingatan yang kucari.</em></p>

<p>Saat kembali dari toilet, Yasa sedang mengisi beberapa berkas yang sepertinya menjadi perjanjian kerja sama untuk keduanya. Aku sempat mengamati map yang sedang dipegang Yudhis, ada sebuah tanda di bagian bawah selain tulisan nama kantornya yang tercetak besar.</p>

<p><em>Tunggu...</em></p>

<p><em>Apa nama kantornya?</em></p>

<p><em>Neo Central Finance</em>...</p>

<p>Alisku mengernyit. Ada simbol lain di bawah nama kantornya...</p>

<p><em>CC</em>...</p>

<p>Mataku terbelalak.</p>

<p><em>Neo Central Finance</em>... milik <em>Neo Central Capital</em>.</p>

<p>Ruh dan pikiranku terpental kembali ke  kamar Haya.</p>

<p>Aku segera bangkit dari kasur dan menerjang ruang tamu. Sayup-sayup, aku masih mendengar percakapan Bang Erde dan Haya. Namun kini aku terlalu fokus memikiran Maru untuk menganalisis kata apa saja yang mereka ucapkan.</p>

<p>Haya terlonjak saat melihatku muncul tiba-tiba dari pintu kamarnya, sementara Bang Erde mengernyitkan dahi, “kirain udah tidur?”</p>

<p>Aku menggeleng cepat. “Gue baru inget,” aku menelan ludah, “Maru—”</p>

<p>“Duduk dulu, deh.” Haya memotong.</p>

<p>Aku menggeleng keras. <em>Tidak usah duduk untuk menceritakan ini.</em></p>

<p>“Maru kerja di bawah Mandala juga.”</p>

<p>Hening.</p>

<p>“Kantor <em>debt collector</em> Maru, punyanya Mandala Group.” Lanjutku.</p>

<p>Haya mengernyit, “tau dari mana?”</p>

<p>“Gue pernah ke kantornya.”</p>

<p>“Lo pernah ke kantornya?” Wajah Bang Erde terlihat terkejut (dan tersinggung).</p>

<p>“Enggak, maksud gue,” Haya menyerobot, tidak mengacuhkan Bang Erde yang baru saja bertanya, “lo tau dari mana Maru kerja di kantor <em>debt collector</em>?”</p>

<p>Aku menoleh cepat pada Haya. “Gue pernah cari tau tentang Maru.”</p>

<p>Tangan Bang Erde menepuk sikutku keras, “lo ngapain ke kantornya?” Alisnya mengernyit, “bukannya lo ngelarang gue—”</p>

<p>Haya gantian menepuk sikutku yang lain, “<em>debt collector</em> ini beneran <em>debt collector</em> atau preman-preman galak modelan lintah darat yang hobi buangin—”</p>

<p>“Satu-satu ngomongnya.” Aku mengibaskan tangan keduanya. Kududukkan badanku di samping Bang Erde.</p>

<p>Bang Erde menoleh ke arahku, “ngapain lo ke kantor Maru?”</p>

<p>Aku menceritakan garis besar <em>kunjungan</em> singkatku beberapa hari lalu. “Gue ditemenin anak buahnya Edgard pas kesana. Dia bantuin gue.”</p>

<p>“Lo temenan sama Edgard?”</p>

<p>“Edgard siapa?”</p>

<p>Aku menoleh pada Haya, “Edgard kepala preman di distrik satu-dua Neo.” Lalu menoleh pada Bang Erde, “enggak. Murni bisnis.”</p>

<p>Kepala Haya bergantian menatapku dan Bang Erde, ia jelas terlihat seperti tertinggal jauh dari kami. “Bentar, maksud lo Maru semacam preman galak tukang nagihin utang yang tatoan gitu?”</p>

<p>“Nggak.” Jawabku cepat. “Kita belum—”</p>

<p>“Nggak tau.” Bang Erde menyela, “kemungkinan besar gitu tapi kita belum tau sampe sekarang.”</p>

<p>Dua alis Haya terangkat, wajahnya berubah sumringah. “Bagus, dong.”</p>

<p><em>Waduh.</em></p>

<p>Tidak ada jawaban dariku dan Bang Erde.</p>

<p>Aku jelas paham Haya baru saja menemukan peluang untuk memanfaatkan Maru dan aku segera memberi tatapan datar sebagai tanda bahwa aku tidak setuju dengan idenya.</p>

<p>“Kok bagus?” Bang Erde ikut menatap (heran) ke arah Haya.</p>

<p>“Kita bisa pake Maru.”</p>

<p><em>Nah kan.</em></p>

<p>“Pake buat?”</p>

<p>“Apa aja.”</p>

<p>“Jangan sembarangan.” Selaku, aku mencondongkan tubuhku, “salah salah lo make dia, bisa-bisa kita semua mati.”</p>

<p>“Lo pikir Maru bakal bunuh kita?” Haya memiringkan kepalanya. Dia jelas tersinggung.</p>

<p>Bang Erde menoleh cepat padaku. “Apa aja yang lo liat di kantornya?”</p>

<p>Aku bergumam selama beberapa saat sebelum menggeleng pelan, “nggak ada. Kantornya biasa aja. Tapi kelakuan mereka yang nggak biasa.”</p>

<p>“Apa?”</p>

<p>“Kayaknya mereka nyiksa dan bunuh orang di kantor itu, atau nggak jauh dari situ.” Aku balas menatap Haya yang menatapku dengan seksama, “gue sempet liat bekas darah di toilet sama ruang tamu.”</p>

<p>“Lo yakin itu beneran darah dari mana? Kok bisa mikir itu darah manusia?” Haya ikut mencondongkan tubuhnya, kini dua sikunya ditumpukan pada lututnya. “Kenapa lo kayak tau banget mereka beneran nyiksa orang?”</p>

<p>“<em>Semua orang</em> di sana tau.” Potongku cepat. <em>Semua orang</em> yang kumaksud mencakup anak buah Edgard yang pergi bersamaku. Seharusnya jawaban ini bisa menjawab pertanyaannya—baik yang ditanyakan maupun tidak. Haya cukup pintar untuk menyadari maksud kalimatku. Dia tahu aku pergi bersama anak buah seorang penguasa distrik. Tidak mungkin aku sengaja menyebarkan sembarang informasi.</p>

<p>Tidak ada suara selama beberapa saat.</p>

<p>“Nggak.” Haya menggeleng, ia memundurkan tubuhnya, menyandarkannya di sandaran sofa. “Maru bukan orang kayak gitu.”</p>

<p>Bang Erde terkekeh. “Tau dari mana?”</p>

<p>“Gue udah kenal Maru dari lama.”</p>

<p>“Terus kenapa? Lo ngerasa kenal sama dia?” Timpal Bang Erde sengak.</p>

<p>“Iyalah,” Haya menatap kami dengan tatapan tersinggung, “gue yang paling kenal Maru di antara kalian.”</p>

<p>“Lo baru tau kerjaan Maru dari kita.” Jawab Bang Erde dengan muka dua kali lebih tersinggung.  “Preman-preman di sana aja cerita ke Fuji kalo Maru ditakutin di daerah situ.” Tambahnya.</p>

<p>“Bisa aja <em>imej</em> kantornya emang serem terus Maru keseret karena kerja di situ.” Kilah Haya.</p>

<p>Bang Erde menghela napas kasar, mulutnya ternganga seolah tidak menyangka apa yang baru didengar telinganya, “ngapain lo belain Maru?”</p>

<p>Haya terdiam. “Gue nggak belain.” Dia berdeham lalu membenarkan posisi duduknya, “pokoknya, kita bisa cari tau sesuatu lewat Maru.”</p>

<p>“Lo udah gila?” Bang Erde berdecak, tangannya dilipat di depan dada. Namun sepertinya ia tetap tertarik dengan rencana aneh dari Haya, sebuah pertanyaan mengikuti pertanyaannya sebelumnya, “gimana caranya? Emang bisa?”</p>

<p>Aku menghela napas. Sepertinya mereka tidak akan mendengarku jika kularang. Sepertinya pesanku tentang Maru berasal dari pihak yang berbahaya tidak tersampaikan ke telinga mereka.</p>

<p>“Ya bisa? Kenapa nggak bisa?” Jawab Haya sambil tersenyum pongah, “kita malah bisa dapet <em>update</em> paling aktual dari Maru.”</p>

<p>“Tapi gimana caranya?” Kini aku bertanya tak sabar.</p>

<p>“Gue temenan sama Maru.”</p>

<p><em>Astaga.</em></p>

<p>“Lo pikir gampang cuma karena lo temenan sama Maru?”</p>

<p>“Iya.” Haya mengangguk mantab.</p>
]]></content:encoded>
      <guid>https://bulanjuni.writeas.com/unfold</guid>
      <pubDate>Sat, 11 Feb 2023 17:31:56 +0000</pubDate>
    </item>
    <item>
      <title>Ruang Bawah Tanah</title>
      <link>https://bulanjuni.writeas.com/ruang-bawah-tanah?pk_campaign=rss-feed</link>
      <description>&lt;![CDATA[  POV: Bermuda&#xA;&#xA;&#34;Jadi, lo beneran HOKU?&#34; &#xA;&#xA;Mungkin aku sudah menanyakan pertanyaan itu berkali-kali. Tapi berapa kalipun aku bertanya, aku selalu ingin memastikan lagi dan lagi. &#xA;&#xA;Apa benar Haya adalah HOKU? !--more--&#xA;&#xA;Haya tidak menjawab. Dia terus memasuki rumahnya hingga memasuki sebuah gudang di ujung kontrakan. Aku memasuki gudang itu dan terkejut saat Haya tiba-tiba menyingkirkan beberapa kardus lalu terlihat pegangan hitam di atas lantai kayu yang kami pijak. &#xA;&#xA;Saat pintu itu dibuka, aku menyadari ada sesuatu di bawah lantai ini.&#xA;&#xA;Ruang bawah tanah.&#xA;&#xA;Sebuah tangga terlihat berdiri tegak dari pintu hingga lantai ruang bawah tanah. Tangga besi yang sebenarnya--menurutku--sudah agak usang dan lebih baik diganti.&#xA;&#xA;Ruang bawah tanah ini berbentuk studio sederhana. Anehnya, ruangan ini terasa sangat dingin. Ada dua tirai di masing-masin ujung ruangan yang sepertinya menjadi sekat di sini. Mataku menelisik setiap sudut dan semua hal yang dapat kusisir. &#xA;&#xA;Meja, kursi, dua layar komputer, sebuah kotak hitam besar dengan lampu warna-warni yang aku tidak tahu apa namanya; semuanya terletak di dekat tirai yang berdekatan dengan tangga. Satu meja lagi yang tidak diisi dengan perabot apapun, di dekat tirai lain yang--omong-omong, sangat berantakan. Lantai berdebu. Tirai menguning. Sampah makanan instan.&#xA;&#xA;Setelah melihat semua ini, aku mulai yakin Haya adalah HOKU. &#xA;&#xA;Walau aku merasa tidak sedekat itu dengan HOKU, tapi aku mengingat beberapa hal yang pernah disampaikannya saat kami sedang menjalankan misi. Dia menyukai onigiri tuna dan minuman energi yang kalengnya berwarna hijau. Dua sampah itu terlihat di antara beberapa sampah di atas mejanya yang kosong.&#xA;&#xA;Memang, sih. HOKU tidak pernah menegaskan jenis kelaminnya, tapi kalau dilihat dari suaranya yang tinggi dan nada bicaranya yang dibuat terlihat manja dan menyebalkan, aku 100% yakin dia adalah perempuan--aku bukannya menghakimi semua perempuan memiliki ciri khas suara tinggi dan nada bicara menyebalkan, tapi siapapun yang mendengar suara HOKU pasti juga akan berpikir jenis kelaminnya perempuan.&#xA;&#xA;&#34;Nih, gue tunjukkin history transaksi kita, ya!&#34; Seruan Haya mengagetkanku. Dia sedang duduk di depan komputernya, tangannya menggeser layar komputernya untuk dihadapkan padaku. &#xA;&#xA;Dia menjelaskan satu per satu rincian transaksi yang kami lakukan bersama selama dua tahun belakangan. &#xA;&#xA;Aku menghela napas pelan. Haya benar-benar HOKU. &#xA;&#xA;Mataku tertuju pada bekas merah yang masih tercetak di lehernya. &#xA;&#xA;Gawat.&#xA;&#xA;Aku nyaris membunuh HOKU.&#xA;&#xA;Tapi aku punya alasan melakukannya. &#xA;&#xA;Hanya 3 orang yang mengetahui identitasku sebagai RED. Aku sendiri, Fuji, dan HOKU. Aku yakin Fuji dan HOKU tidak akan menyebarkan ke orang di sekitarnya tentangku--toh untuk apa juga. Jadi saat Haya tiba-tiba menebak bahwa aku RED, aku kalang kabut. &#xA;&#xA;Bagaimana tidak? Coba bayangkan orang seperti Haya yang culun, pengecut, manja, merepotkan, banyak permintaan, dan terlihat lusuh; tiba-tiba mengetahui bahwa aku RED? Ada banyak pertanyaan yang berdesakan di kepalaku hingga aku merasa bahwa menggunakan kekerasan jauh lebih mudah--semua manusia akan jujur saat dihadapkan dengan kematian.  &#xA;&#xA;Dan aku lebih terkejut lagi ternyata mahasiswa culun, pengecut, manja, merepotkan, banyak permintaan, dan terlihat lusuh ini adalah HOKU. Setidaknya aku membayangkan HOKU sebagai perempuan bersih, cerdas, mandiri, memiliki highlight rambut warna terang dan selalu menjaga kebersihan rambutnya. &#xA;&#xA;&#34;Lo percaya &#39;kan? Gue HOKU!&#34;&#xA;&#xA;Seruan Haya membuyarkan lamunanku. &#xA;&#xA;&#34;Maaf.&#34; Jawabku cepat. Sepertinya aku tidak perlu menjelaskan alasanku tidak mempercayainya. &#34;Lo nggak keliatan kayak HOKU.&#34;&#xA;&#xA;&#34;Oh masa?&#34; Salah satu ujung bibirnya naik, kepalanya dimiringkan. Entah mengapa aku merasa dia berubah total sejak memasuki kontrakan ini. Beberapa menit yang lalu dia masih terlihat seperti Haya, sekarang dia benar-benar seperti HOKU--menyebalkan. Dia memutar kursinya ke arahku, tangannya disilangkan di depan dada, &#34;emang HOKU di pikiran lo kayak apa?&#34;&#xA;&#xA;Aku ingin menjelaskan bahwa HOKU di pikiranku adalah sosok menyebalkan sekaligus cerdas. Tapi aku tahu dia akan tersinggung jika aku mengatakan wajahnya terlihat bodoh (mungkin dia akan marah karena aku paham betul HOKU mudah tersinggung soal kecerdasan). Jadi dengan pertimbangan singkat, aku menjawab, &#34;gue kira HOKU cewek.&#34; &#xA;&#xA;&#34;Gue emang malsuin suara gue, sih.&#34; Dia mengangguk perlahan, wajahnya mendongak menatapku. &#34;Gue juga nggak nyangka elo RED. Lo nggak keliatan kayak RED.&#34;&#xA;&#xA;Aku tidak menanggapinya. Lagipula aku sudah tahu aku tidak terlihat seperti RED karena aku memang merubah penampilan dan sikapku saat berada di depan Haya. Kini aku lebih memilih berjalan mengitari ruangannya, melihat-lihat.&#xA;&#xA;Mataku sempat menangkap tumpukan kardus di balik salah satu tirai yang terletak di ujung ruangan. Sedang dari sela-sela tirai di ujung lain aku melihat kasur dan tempat--&#xA;&#xA;&#34;Gue mau tanya.&#34; &#xA;&#xA;Aku segera menoleh. &#xA;&#xA;Haya masih duduk di kursinya, kakinya yang satu disilangkan pada kaki yang lain. &#34;Kenapa lo deketin gue? RED nggak kelihatan kayak orang yang milih sembarang orang buat dideketin.&#34;&#xA;&#xA;Untuk beberapa saat, aku terdiam. Sebenarnya, aku cukup mempercayai HOKU untuk menceritakan tentang Sejati. Tapi orang yang duduk di depanku adalah Haya--aku masih menganggapnya Haya. Terlebih, dulu aku sengaja mendekatinya karena ingin menggunakan-nya, dia berhak marah dan tersinggung dengan jawabanku dan aku tidak siap menghadapinya. &#xA;&#xA;Tapi menyembunyikan alasanku dari HOKU hanya akan menambah masalah baru. &#xA;&#xA;&#34;Karena lo deket sama Sejati.&#34; Aku menyandarkan tubuhku di pinggiran meja. &#34;Gue butuh informasi tentang dia.&#34;&#xA;&#xA;Ujung tangan dan kakiku mulai terasa dingin. Aku heran bagaimana Haya bisa bertahan di tempat ini. Ruang bawah tanahnya benar-benar bersuhu rendah. Di suhu ruangan sedingin ini, rasa siagaku berkurang. Kulitku akan sulit merasakan kehadiran orang lain. &#xA;&#xA;&#34;Kenapa?&#34; Haya menatapku lurus. &#xA;&#xA;Mataku balas menatap Haya lurus-lurus.&#xA;&#xA;Mencurigakan.&#xA;&#xA;Haya tidak tampak terkejut. Seolah dia sudah tahu Sejati yang aku maksud adalah Sejati dosennya. Aku mengamati wajahnya yang tiba-tiba lebih mengeras dari sebelumnya. &#xA;&#xA;Akhirnya aku menjelaskan secara singkat tentang Sejati. Tentang aku yang mengambil salah satu isi paket yang seharusnya kukirimkan. &#xA;&#xA;&#34;Lo ambil?!&#34; Haya menegakkan duduknya. &#34;Lo tau lo nggak boleh buka paket apapun yang lo kirim!&#34; Telunjuknya menghardikku. &#xA;&#xA;&#34;Gue sampe dicegat preman waktu itu. Seenggaknya gue harus tau apa isi paketnya!&#34; Aku mengernyitkan dahiku, &#34;bukannya udah jadi perjanjian gue harus tau apa yang gue kirim?&#34;&#xA;&#xA;Haya tidak menjawab tapi masih terlihat jelas sisa raut tersinggung di wajahnya. &#xA;&#xA;Aku berdeham sebelum kembali menjelaskan bahwa satu-satunya yang kuinginkan adalah mencairkan cek itu. Aku ingin mengambil uangnya. Hanya sampai situ, aku menekankan tujuanku adalah cek milik Sejati.&#xA;&#xA;Haya menyandarkan punggungnya di sandaran kursi. Dia tidak terlihat kesal karena aku sudah menggunakan-nya. Namun raut wajahnya menunjukkan ada beberapa hal yang mengganjal di kepalanya. Dia menggigiti ujung kukunya. &#34;Cuma karena lo butuh duit?&#34;&#xA;&#xA;Aku mengangguk.&#xA;&#xA;Dia menghela napas. Tangannya menyisir rambut ke belakang. &#34;Kenapa mau lo ambil? Itu bukan duit lo.&#34;&#xA;&#xA;&#34;Bukan duit mereka juga.&#34; Sergahku cepat.&#xA;&#xA;Alisnya naik satu. &#34;Maksudnya?&#34;&#xA;&#xA;&#34;Itu duit orang lain yang mereka sembunyiin.&#34;&#xA;&#xA;&#34;Dirty money?&#34;&#xA;&#xA;Gawat. Aku tidak tahu artinya. Kalau tidak salah money artinya uang, kalau dirty mungkin--&#xA;&#xA;&#34;Dana gelap?&#34;&#xA;&#xA;Sepertinya Haya berhasil membaca raut wajah bingungku. Aku segera mengangguk saat mendengar istilah itu. Kemarin Fuji sempat menyinggung sesuatu tentang penggelapan dana. &#34;Lo tau sesuatu?&#34; Tanyaku, mengingat misi terakhir kami adalah mencari tahu tentang kampus kami. Kalau Fuji dapat mengendus penggelapan dana ini hanya dengan membaca laporan keuangan, seharusnya HOKU juga sudah mengetahuinya.&#xA;&#xA;&#34;Nggak. Sama sekali nggak.&#34; Dia menggeleng mantab. &#34;Lo tau gue nggak akan sekongkol sama organisasi kayak gitu, apalagi kalo buat gelapin dana.&#34;&#xA;&#xA;Kemudian dia menatapku dengan alis saling bertaut. &#34;Btw, lo tau dari mana?&#34;&#xA;&#xA;Aku menelan ludahku. Haya mungkin akan mengomel lagi kalau aku mengatakan bahwa aku telah menyalin paket yang seharusnya hanya kuantar. &#34;Gosip.&#34; Jawabku akhirnya.&#xA;&#xA;&#34;Tapi Pak Jati nggak pernah keliatan mencurigakan.&#34; Haya tampak menyipitkan matanya--seperti sedang berpikir keras. &#34;Dia sibuk kayak dosen biasanya. Menurut gue dia nggak ada hubungannya misal beneran ada penggelapan dana di kampus.&#34;&#xA;&#xA;&#34;Gue udah bilang, &#39;kan,&#34; aku berjalan ke arahnya. &#34;Cek yang ada di gue itu atas nama dia. Gimana bisa dia nggak ada hubungannya?&#34;&#xA;&#xA;Haya tidak menjawab. &#xA;&#xA;Dan semakin langkahku mendekat, aku menyadari sesuatu. Sesuatu yang sepertinya terus terlewat dari pengawasanku. Mungkin sesuatu ini yang membuat Haya terlihat biasa saja saat tahu aku hanya menggunakannya. &#xA;&#xA;&#34;Gue emang deketin lo duluan.&#34; Ujarku saat aku sudah kembali berdiri di dekatnya, ia mendongak dari tempatnya duduk. &#34;Tapi lo yang duluan ngajak gue pacaran.&#34; Aku menyandarkan tubuhku di ujung mejanya. &#34;Kenapa? HOKU yang gue kenal nggak bakal ngajak sembarang orang buat pacaran.&#34;&#xA;&#xA;Yak.&#xA;&#xA;Aku yakin ada sesuatu. Apalagi setelah melihat ujung bibir Haya yang tertarik. Raut tengilnya kembali menyapaku. &#xA;&#xA;Dia terkekeh. &#34;Kalo begini lo jadi lebih mirip RED.&#34;&#xA;&#xA;&#34;Kenapa?&#34;&#xA;&#xA;&#34;Curigaan.&#34; Jawabnya cepat. Dia memutar kursinya untuk menghadapku. &#34;Sebenernya gue punya alesan yang sama kayak lo.&#34;&#xA;&#xA;Nah, kan.&#xA; &#xA;&#34;Target gue Danaraja.&#34; &#xA;&#xA;Tubuhku membeku. &#xA;&#xA;Danaraja? &#xA;&#xA;&#34;Pak Danar?&#34; Meskipun satu-satunya Danaraja yang kukenal adalah dosenku. Tapi aku perlu memastikan apakah telingaku tidak salah dengar.&#xA;&#xA;&#34;Iya.&#34; Dia mengangguk yakin.&#xA;&#xA;Sebuah rasa geli mengerling di perutku. Jadi aku dan Haya hanya menggunakan hubungan ini untuk kepentingan masing-masing?&#xA;&#xA;Aku menutup mulutku yang nyaris tertawa. &#34;Kenapa?&#34;&#xA;&#xA;&#34;Gue ada urusan sama dia.&#34; Haya mengendikkan bahunya. &#34;Gue pengen cari tau dia sebenernya siapa.&#34;&#xA;&#xA;Ucapan Haya terdengar aneh. Untuk apa dia memastikan identitas Danaraja? &#xA;&#xA;Lagipula, pasti mudah bagi HOKU untuk mencari tahu identitas dosen biasa seperti Danaraja. &#34;Emang dia siapa?&#34;&#xA;&#xA;Alih-alih menjawab pertanyaanku, Haya balik bertanya. &#34;Seberapa kenal lo sama dia?&#34;&#xA;&#xA;Aku menggeleng. &#34;Gue juga nggak kenal sama dia. Tujuan gue cuma Sejati.&#34;&#xA;&#xA;Mata Haya tiba-tiba berhenti tepat di mataku. Aku mengernyit. Dia menatapku cukup lama tanpa berkata apa-apa. Tatapannya mengingatkanku pada tatapan Fuji saat dia sedang membuat keputusan dalam diam.&#xA;&#xA;Untuk beberapa saat, aku hanya dapat mendengar suara mesin dari kotak hitam besar dengan lampu warna-warni yang ada di balik meja. &#xA;&#xA;&#34;Lo inget waktu kita makan bareng Maru?&#34; &#xA;&#xA;Aku mengangguk. &#34;Iya.&#34;&#xA;&#xA;&#34;Itu gue lagi ngikutin Danaraja. Dia masuk ke hotel tempat kita nggak sengaja ketemu waktu itu.&#34;&#xA;&#xA;Ya ampun.&#xA;&#xA;&#34;Lo yakin?&#34; Aku memastikan sekali lagi. &#xA;&#xA;Haya mengangguk.&#xA;&#xA;&#34;Gue juga lagi ngikutin Sejati waktu itu.&#34; Jawabku spontan. Aku menegakkan tubuhku. Kini jantungku berdebar keras. &#34;Mereka ketemuan?&#34;&#xA;&#xA;Ada sesuatu yang mencurigakan.&#xA;&#xA;Aku mengincar Sejati dan menemukan fakta bahwa terdapat sesuatu yang mencurigakan di kampus kami. Sebagai RED, aku juga mengingat bahwa kampus kami menjadi target klienku dan HOKU. Dan Haya, alias si HOKU, mengincar Danaraja--yang juga bekerja di kampus kami. &#xA;&#xA;Aku tahu, pasti ada sesuatu di kampus ini.&#xA;&#xA;Mataku menatap Haya antusias. &#xA;&#xA;Dan aku tahu, aku dan Haya ada di pihak yang sama.&#xA;&#xA;]]&gt;</description>
      <content:encoded><![CDATA[<blockquote><p>POV: Bermuda</p></blockquote>

<p>“Jadi, lo beneran <em>HOKU?</em>“</p>

<p>Mungkin aku sudah menanyakan pertanyaan itu berkali-kali. Tapi berapa kalipun aku bertanya, aku selalu ingin memastikan lagi dan lagi.</p>

<p><em>Apa benar Haya adalah HOKU?</em> </p>

<p>Haya tidak menjawab. Dia terus memasuki rumahnya hingga memasuki sebuah gudang di ujung kontrakan. Aku memasuki gudang itu dan terkejut saat Haya tiba-tiba menyingkirkan beberapa kardus lalu terlihat pegangan hitam di atas lantai kayu yang kami pijak.</p>

<p>Saat pintu itu dibuka, aku menyadari ada sesuatu di bawah lantai ini.</p>

<p><em>Ruang bawah tanah.</em></p>

<p>Sebuah tangga terlihat berdiri tegak dari pintu hingga lantai ruang bawah tanah. Tangga besi yang sebenarnya—menurutku—sudah agak usang dan lebih baik diganti.</p>

<p>Ruang bawah tanah ini berbentuk studio sederhana. Anehnya, ruangan ini terasa sangat dingin. Ada dua tirai di masing-masin ujung ruangan yang sepertinya menjadi sekat di sini. Mataku menelisik setiap sudut dan semua hal yang dapat kusisir.</p>

<p><em>Meja, kursi, dua layar komputer, sebuah kotak hitam besar dengan lampu warna-warni yang aku tidak tahu apa namanya; semuanya terletak di dekat tirai yang berdekatan dengan tangga. Satu meja lagi yang tidak diisi dengan perabot apapun, di dekat tirai lain yang—omong-omong, sangat berantakan. Lantai berdebu. Tirai menguning. Sampah makanan instan.</em></p>

<p>Setelah melihat semua ini, aku mulai yakin Haya adalah <em>HOKU</em>.</p>

<p>Walau aku merasa tidak sedekat itu dengan <em>HOKU</em>, tapi aku mengingat beberapa hal yang pernah disampaikannya saat kami sedang menjalankan misi. Dia menyukai onigiri tuna dan minuman energi yang kalengnya berwarna hijau. Dua sampah itu terlihat di antara beberapa sampah di atas mejanya yang kosong.</p>

<p>Memang, <em>sih</em>. <em>HOKU</em> tidak pernah menegaskan jenis kelaminnya, tapi kalau dilihat dari suaranya yang tinggi dan nada bicaranya yang dibuat terlihat manja dan menyebalkan, aku 100% yakin dia adalah perempuan—aku bukannya menghakimi semua perempuan memiliki ciri khas suara tinggi dan nada bicara menyebalkan, tapi siapapun yang mendengar suara <em>HOKU</em> pasti juga akan berpikir jenis kelaminnya perempuan.</p>

<p>“Nih, gue tunjukkin <em>history</em> transaksi kita, ya!” Seruan Haya mengagetkanku. Dia sedang duduk di depan komputernya, tangannya menggeser layar komputernya untuk dihadapkan padaku.</p>

<p>Dia menjelaskan satu per satu rincian transaksi yang kami lakukan bersama selama dua tahun belakangan.</p>

<p>Aku menghela napas pelan. <em>Haya benar-benar HOKU</em>.</p>

<p>Mataku tertuju pada bekas merah yang masih tercetak di lehernya.</p>

<p><em>Gawat.</em></p>

<p>Aku nyaris membunuh <em>HOKU</em>.</p>

<p>Tapi aku punya alasan melakukannya.</p>

<p>Hanya 3 orang yang mengetahui identitasku sebagai <em>RED</em>. Aku sendiri, Fuji, dan <em>HOKU</em>. Aku yakin Fuji dan <em>HOKU</em> tidak akan menyebarkan ke orang di sekitarnya tentangku—toh untuk apa juga. Jadi saat Haya tiba-tiba menebak bahwa aku <em>RED</em>, aku kalang kabut.</p>

<p>Bagaimana tidak? Coba bayangkan orang seperti Haya yang culun, pengecut, manja, merepotkan, banyak permintaan, dan terlihat lusuh; tiba-tiba mengetahui bahwa aku <em>RED</em>? Ada banyak pertanyaan yang berdesakan di kepalaku hingga aku merasa bahwa menggunakan kekerasan jauh lebih mudah—semua manusia akan jujur saat dihadapkan dengan kematian.</p>

<p>Dan aku lebih terkejut lagi ternyata mahasiswa culun, pengecut, manja, merepotkan, banyak permintaan, dan terlihat lusuh ini adalah <em>HOKU</em>. Setidaknya aku membayangkan <em>HOKU</em> sebagai perempuan bersih, cerdas, mandiri, memiliki <em>highlight</em> rambut warna terang dan selalu menjaga kebersihan rambutnya.</p>

<p>“Lo percaya &#39;kan? Gue <em>HOKU</em>!”</p>

<p>Seruan Haya membuyarkan lamunanku.</p>

<p>“Maaf.” Jawabku cepat. Sepertinya aku tidak perlu menjelaskan alasanku tidak mempercayainya. “Lo nggak keliatan kayak <em>HOKU</em>.”</p>

<p>“Oh masa?” Salah satu ujung bibirnya naik, kepalanya dimiringkan. Entah mengapa aku merasa dia berubah total sejak memasuki kontrakan ini. Beberapa menit yang lalu dia masih terlihat seperti Haya, sekarang dia benar-benar seperti <em>HOKU</em>—menyebalkan. Dia memutar kursinya ke arahku, tangannya disilangkan di depan dada, “emang HOKU di pikiran lo kayak apa?”</p>

<p>Aku ingin menjelaskan bahwa <em>HOKU</em> di pikiranku adalah sosok menyebalkan sekaligus cerdas. Tapi aku tahu dia akan tersinggung jika aku mengatakan wajahnya terlihat bodoh (mungkin dia akan marah karena aku paham betul <em>HOKU</em> mudah tersinggung soal <em>kecerdasan</em>). Jadi dengan pertimbangan singkat, aku menjawab, “gue kira <em>HOKU</em> cewek.”</p>

<p>“Gue emang malsuin suara gue, sih.” Dia mengangguk perlahan, wajahnya mendongak menatapku. “Gue juga nggak nyangka elo <em>RED</em>. Lo nggak keliatan kayak <em>RED.</em>“</p>

<p>Aku tidak menanggapinya. Lagipula aku sudah tahu aku tidak terlihat seperti <em>RED</em> karena aku memang merubah penampilan dan sikapku saat berada di depan Haya. Kini aku lebih memilih berjalan mengitari ruangannya, melihat-lihat.</p>

<p>Mataku sempat menangkap tumpukan kardus di balik salah satu tirai yang terletak di ujung ruangan. Sedang dari sela-sela tirai di ujung lain aku melihat kasur dan tempat—</p>

<p>“Gue mau tanya.”</p>

<p>Aku segera menoleh.</p>

<p>Haya masih duduk di kursinya, kakinya yang satu disilangkan pada kaki yang lain. “Kenapa lo deketin gue? <em>RED</em> nggak kelihatan kayak orang yang milih sembarang orang buat dideketin.”</p>

<p>Untuk beberapa saat, aku terdiam. Sebenarnya, aku cukup mempercayai <em>HOKU</em> untuk menceritakan tentang Sejati. Tapi orang yang duduk di depanku adalah Haya—aku masih menganggapnya Haya. Terlebih, dulu aku sengaja mendekatinya karena ingin <em>menggunakan</em>-nya, dia berhak marah dan tersinggung dengan jawabanku dan aku tidak siap menghadapinya.</p>

<p>Tapi menyembunyikan alasanku dari <em>HOKU</em> hanya akan menambah masalah baru.</p>

<p>“Karena lo deket sama Sejati.” Aku menyandarkan tubuhku di pinggiran meja. “Gue butuh informasi tentang dia.”</p>

<p>Ujung tangan dan kakiku mulai terasa dingin. Aku heran bagaimana Haya bisa bertahan di tempat ini. Ruang bawah tanahnya benar-benar bersuhu rendah. Di suhu ruangan sedingin ini, rasa siagaku berkurang. Kulitku akan sulit merasakan kehadiran orang lain.</p>

<p>“Kenapa?” Haya menatapku lurus.</p>

<p>Mataku balas menatap Haya lurus-lurus.</p>

<p><em>Mencurigakan</em>.</p>

<p>Haya tidak tampak terkejut. Seolah dia sudah tahu Sejati yang aku maksud adalah Sejati dosennya. Aku mengamati wajahnya yang tiba-tiba lebih mengeras dari sebelumnya.</p>

<p>Akhirnya aku menjelaskan secara singkat tentang Sejati. Tentang aku yang mengambil salah satu isi paket yang seharusnya kukirimkan.</p>

<p>“Lo ambil?!” Haya menegakkan duduknya. “Lo tau lo nggak boleh buka paket apapun yang lo kirim!” Telunjuknya menghardikku.</p>

<p>“Gue sampe dicegat preman waktu itu. Seenggaknya gue harus tau apa isi paketnya!” Aku mengernyitkan dahiku, “bukannya udah jadi perjanjian gue harus tau apa yang gue kirim?”</p>

<p>Haya tidak menjawab tapi masih terlihat jelas sisa raut tersinggung di wajahnya.</p>

<p>Aku berdeham sebelum kembali menjelaskan bahwa satu-satunya yang kuinginkan adalah mencairkan cek itu. Aku ingin mengambil uangnya. Hanya sampai situ, aku menekankan tujuanku adalah cek milik Sejati.</p>

<p>Haya menyandarkan punggungnya di sandaran kursi. Dia tidak terlihat kesal karena aku sudah <em>menggunakan</em>-nya. Namun raut wajahnya menunjukkan ada beberapa hal yang mengganjal di kepalanya. Dia menggigiti ujung kukunya. “Cuma karena lo butuh duit?”</p>

<p>Aku mengangguk.</p>

<p>Dia menghela napas. Tangannya menyisir rambut ke belakang. “Kenapa mau lo ambil? Itu bukan duit lo.”</p>

<p>“Bukan duit mereka juga.” Sergahku cepat.</p>

<p>Alisnya naik satu. “Maksudnya?”</p>

<p>“Itu duit orang lain yang mereka sembunyiin.”</p>

<p>“<em>Dirty money?</em>“</p>

<p><em>Gawat.</em> Aku tidak tahu artinya. Kalau tidak salah <em>money</em> artinya uang, kalau <em>dirty</em> mungkin—</p>

<p>“Dana gelap?”</p>

<p>Sepertinya Haya berhasil membaca raut wajah bingungku. Aku segera mengangguk saat mendengar istilah itu. Kemarin Fuji sempat menyinggung sesuatu tentang <em>penggelapan dana</em>. “Lo tau sesuatu?” Tanyaku, mengingat misi terakhir kami adalah mencari tahu tentang kampus kami. Kalau Fuji dapat mengendus penggelapan dana ini hanya dengan membaca laporan keuangan, seharusnya <em>HOKU</em> juga sudah mengetahuinya.</p>

<p>“Nggak. Sama sekali nggak.” Dia menggeleng mantab. “Lo tau gue nggak akan sekongkol sama organisasi kayak gitu, apalagi kalo buat gelapin dana.”</p>

<p>Kemudian dia menatapku dengan alis saling bertaut. “<em>Btw</em>, lo tau dari mana?”</p>

<p>Aku menelan ludahku. Haya mungkin akan mengomel lagi kalau aku mengatakan bahwa aku telah menyalin <em>paket</em> yang seharusnya hanya kuantar. “Gosip.” Jawabku akhirnya.</p>

<p>“Tapi Pak Jati nggak pernah keliatan mencurigakan.” Haya tampak menyipitkan matanya—seperti sedang berpikir keras. “Dia sibuk kayak dosen biasanya. Menurut gue dia nggak ada hubungannya misal beneran ada penggelapan dana di kampus.”</p>

<p>“Gue udah bilang, &#39;kan,” aku berjalan ke arahnya. “Cek yang ada di gue itu atas nama dia. Gimana bisa dia nggak ada hubungannya?”</p>

<p>Haya tidak menjawab.</p>

<p>Dan semakin langkahku mendekat, aku menyadari sesuatu. Sesuatu yang sepertinya terus terlewat dari pengawasanku. Mungkin <em>sesuatu</em> ini yang membuat Haya terlihat biasa saja saat tahu aku hanya <em>menggunakannya</em>.</p>

<p>“Gue emang deketin lo duluan.” Ujarku saat aku sudah kembali berdiri di dekatnya, ia mendongak dari tempatnya duduk. “Tapi lo yang duluan ngajak gue pacaran.” Aku menyandarkan tubuhku di ujung mejanya. “Kenapa? <em>HOKU</em> yang gue kenal nggak bakal ngajak sembarang orang buat pacaran.”</p>

<p><em>Yak.</em></p>

<p>Aku yakin ada sesuatu. Apalagi setelah melihat ujung bibir Haya yang tertarik. Raut tengilnya kembali menyapaku.</p>

<p>Dia terkekeh. “Kalo begini lo jadi lebih mirip <em>RED.</em>“</p>

<p>“Kenapa?”</p>

<p>“Curigaan.” Jawabnya cepat. Dia memutar kursinya untuk menghadapku. “Sebenernya gue punya alesan yang sama kayak lo.”</p>

<p><em>Nah, kan.</em></p>

<p>“Target gue Danaraja.”</p>

<p>Tubuhku membeku.</p>

<p><em>Danaraja?</em></p>

<p>“Pak Danar?” Meskipun satu-satunya Danaraja yang kukenal adalah dosenku. Tapi aku perlu memastikan apakah telingaku tidak salah dengar.</p>

<p>“Iya.” Dia mengangguk yakin.</p>

<p>Sebuah rasa geli mengerling di perutku. Jadi aku dan Haya hanya menggunakan hubungan ini untuk kepentingan masing-masing?</p>

<p>Aku menutup mulutku yang nyaris tertawa. “Kenapa?”</p>

<p>“Gue ada urusan sama dia.” Haya mengendikkan bahunya. “Gue pengen cari tau dia sebenernya siapa.”</p>

<p>Ucapan Haya terdengar aneh. Untuk apa dia memastikan identitas Danaraja?</p>

<p>Lagipula, pasti mudah bagi <em>HOKU</em> untuk mencari tahu identitas dosen biasa seperti Danaraja. “Emang dia siapa?”</p>

<p>Alih-alih menjawab pertanyaanku, Haya balik bertanya. “Seberapa kenal lo sama dia?”</p>

<p>Aku menggeleng. “Gue juga nggak kenal sama dia. Tujuan gue cuma Sejati.”</p>

<p>Mata Haya tiba-tiba berhenti tepat di mataku. Aku mengernyit. Dia menatapku cukup lama tanpa berkata apa-apa. Tatapannya mengingatkanku pada tatapan Fuji saat dia sedang membuat keputusan dalam diam.</p>

<p>Untuk beberapa saat, aku hanya dapat mendengar suara mesin dari kotak hitam besar dengan lampu warna-warni yang ada di balik meja.</p>

<p>“Lo inget waktu kita makan bareng Maru?”</p>

<p>Aku mengangguk. “Iya.”</p>

<p>“Itu gue lagi ngikutin Danaraja. Dia masuk ke hotel tempat kita nggak sengaja ketemu waktu itu.”</p>

<p><em>Ya ampun.</em></p>

<p>“Lo yakin?” Aku memastikan sekali lagi.</p>

<p>Haya mengangguk.</p>

<p>“Gue juga lagi ngikutin Sejati waktu itu.” Jawabku spontan. Aku menegakkan tubuhku. Kini jantungku berdebar keras. “Mereka ketemuan?”</p>

<p><em>Ada sesuatu yang mencurigakan.</em></p>

<p>Aku mengincar Sejati dan menemukan fakta bahwa terdapat sesuatu yang mencurigakan di kampus kami. Sebagai <em>RED</em>, aku juga mengingat bahwa kampus kami menjadi target klienku dan <em>HOKU</em>. Dan Haya, alias si <em>HOKU</em>, mengincar Danaraja—yang juga bekerja di kampus kami.</p>

<p><em>Aku tahu, pasti ada sesuatu di kampus ini.</em></p>

<p>Mataku menatap Haya antusias.</p>

<p><em>Dan aku tahu, aku dan Haya ada di pihak yang sama.</em></p>
]]></content:encoded>
      <guid>https://bulanjuni.writeas.com/ruang-bawah-tanah</guid>
      <pubDate>Sat, 05 Nov 2022 20:35:39 +0000</pubDate>
    </item>
    <item>
      <title>Chemistry </title>
      <link>https://bulanjuni.writeas.com/chemistry?pk_campaign=rss-feed</link>
      <description>&lt;![CDATA[  POV: Himalaya.&#xA;&#xA;Aku percaya perasaan manusia dikendalikan oleh otak. Inilah yang dulu aku pelajari saat masih SMA--ritme detak jantung; telapak tangan berkeringat; kaki bergetar; lutut yang mendadak terasa lemas; dan semua reaksi tubuh kita diatur oleh organ yang dilindungi di dalam tengkorak. !--more--&#xA;&#xA;Sebagai manusia dengan ingatan kuat dan kemampuan analisis yang tajam, sejauh ini aku merasa aku lebih unggul dari semua manusia yang pernah aku temui. Setidaknya aku meyakini struktur lekukan otakku lebih kompleks dari kebanyakan manusia.&#xA;&#xA;Itu sebabnya, aku selalu menjadi juara umum di sekolah atau di lomba manapun yang aku ikuti. Itu sebabnya, aku lebih dari percaya diri bahwa aku dapat mengendalikan seluruh perasaan yang kurasakan atau gerakan yang kulakukan. Itu sebabnya, aku tidak pernah ragu dalam melakukan apapun. &#xA;&#xA;Tapi saat melihat pesan dari Erde masuk di ujung layar ponselku. Aku sempat meragukan dan mempertanyakan apapun yang dilakukan tanganku yang seharusnya menggerakkan mouse komputer. &#xA;&#xA;Tiba-tiba aku sudah mem-pause game online yang sedang kumainkan.&#xA;&#xA;Dan hal yang lebih gila terjadi. Aku mengabaikan teriakan beberapa orang di headset yang mengomel karena karakterku di game terdiam. &#xA;&#xA;  Erde Hk&#39;22 : Kak, masih bangun gak?&#xA;&#xA;Sebenarnya, sejak sore tadi aku tidak bertukar pesan dengan Erde. Dia mengantarku ke kampus untuk bertemu dengan Pak Jati namun dia pamit tidak bisa menjemputku. Aku tidak menanyakan alasannya, hanya memberi anggukan setuju. &#xA;&#xA;  Haya : Belum. Kenapa?&#xA;&#xA;Tiga puluh detik kemudian, dua buah pesan muncul. &#xA;&#xA;  Erde Hk&#39;22: Laper. Mau nemenin gue makan gak?&#xA;  Erde Hk&#39;22: Kalo mau, entar gue jemput setengah jam lagi.&#xA;&#xA;Jika aku masih mempercayai otakku dan meyakini bahwa kepalaku akan selalu memberikan perintah rasional pada seluruh tubuhku, seharusnya aku menjawab tidak mau. Aku bisa beralasan sekarang sudah terlalu larut atau aku terlalu lelah untuk keluar. Tapi tanganku memberi balasan lain.&#xA;&#xA;  Haya: Mauuu.&#xA;&#xA;Aku menjawab mau dan... menambahkan banyak huruf U di belakang...?&#xA;&#xA;Tunggu. Bagian mana dari otakku yang akan bertanggung jawab untuk tindakan yang baru saja kulakukan?&#xA;&#xA;Aku sudah menyadari adanya perubahan sejak beberapa hari belakangan. Mulai dari panggilan sayang yang terdengar natural saat aku memanggil Erde atau tanganku yang tiba-tiba memiliki inisiatif sendiri untuk menggamit lengannya. &#xA;&#xA;Nah, seharusnya otakku sudah membuat sebuah mekanisme baru untuk menghadapi Erde agar aku tidak terus-menerus membuat kesalahan. Itulah salah satu fungsi otak--self monitoring error--yang tugasnya mengirimkan sinyal negatif saat tubuhku melakukan kesalahan--sebuah proses error-related negativity. &#xA;&#xA;Tapi mulutku malah otomatis menjawab enggak, Sayang. Saat Erde datang dengan muka cengengesan, Kak Sayang, gue ganggu ya?&#xA;&#xA;Tidak sampai lima belas menit kemudian--saat kami sudah duduk lesehan di salah satu warung angkringan yang buka sampai pagi--aku kembali membuat kesalahan. Aku mengulurkan tanganku pada Erde sambil mengeluh, dingin.  &#xA;&#xA;Awalnya aku tidak menyadari hal yang kulakukan adalah kesalahan karena... ya... apa sih salahnya mengeluh kalau malam ini dingin? Toh ini sudah jam setengah satu pagi dan beberapa hari lalu badan pemerintah yang bertugas menyampaikan kondisi cuaca sudah memberi pernyataan bahwa cuaca di malam hari akan lebih dingin dari biasanya karena sedang peralihan musim.&#xA;&#xA;Otakku segera memberi sengatan baru--aku sudah melakukan kesalahan--saat aku mendapati tangan Erde sedikit menepuk punggung tanganku sambil bergumam, masa sih? Karena ternyata tangannya lebih hangat walaupun menerjang angin malam selama di perjalanan.&#xA;&#xA;Belum sempat aku menarik tanganku, Erde langsung berdiri dan buru-buru menghampiri mas-mas penjual angkringan, ia kembali dengan gelas dan cangkir minuman--membuatku sedikit heran mengapa ia melakukan self-service padahal pesanan kami akan diantar nanti. &#xA;&#xA;&#34;Ngapain?&#34; Tanyaku. &#xA;&#xA;Dia meletakkan susu jahe hangat dan es jeruk--yang, by the way, bukan pesanan kami karena tadi kami meminta dua es jeruk.&#xA;&#xA;&#34;Lo jangan minum es, minum jahe anget aja.&#34; Erde menyodorkan cangkir berisi susu jahe anget padaku. &#xA;&#xA;Apaaaa sihhhhhhh.&#xA;&#xA;Kalau begini &#39;kan aku jadi terharu. &#xA;&#xA;Kenapa dia selalu memberikan solusi atas masalah-masalah(tidak penting)ku?&#xA;&#xA;Ini bukan pertama kalinya Erde bersikap seperti ini. Sebelumnya dia pernah membelikan makanan padahal aku yang lapar; membungkuk untuk mengambil barang padahal pulpenku yang jatuh; berjalan ke lantai 3 dengan tangga padahal ponselku yang tertinggal; berlari membeli salep di apotek padahal tanganku yang tersengat ujung puntung rokok; dan hal-hal heroik tidak penting lainnya.&#xA;&#xA;Tapi kalau dipikir-pikir, apa aku boleh merasa terharu?&#xA;&#xA;Ya boleh, dong. Aku merasa aku adalah orang penting karena ada orang lain yang memilih untuk mengurusi hal-hal kecil yang bahkan tidak kupedulikan. &#xA;&#xA;Nah, itu dia. Itulah sebabnya sekarang aku merasakan sedikit rasa aneh yang mengganjal. Karena aku tidak biasa diperlakukan seperti ini--bukan tidak pernah karena, by the way, aku pernah diperlakukan seperti ini oleh panitia lomba tingkat nasional yang kuikuti saat aku menjadi finalis, dan beberapa staff hotel yang kudatangi saat aku menginap. &#xA;&#xA;Tapi mereka semua melakukan itu karena itulah tugas mereka. Sedangkan Erde? Oke aku tau dia pacarku tapi memangnya tugas seorang pacar adalah mengurus hal-hal kecil dari pacarnya? Bukankah manusia--&#xA;&#xA;&#34;Eh!! Awas itu panas!&#34; Seruan ini adalah seruan dari mulutku yang jelas bukan perintah otakku karena otakku sedang memikirkan hal lain. Sepertinya karena mataku tidak sengaja--atau sengaja--melihat tangan Erde yang memegang pegangan cangkir agak miring dan tangannya yang lain secara kebetulan sedang berada di sekitar bagian bawah cangkir yang membuatku takut dia akan menyentuh bagian bawah cangkir yang panas atau malah--kemungkinan terburuknya--cangkir itu tumpah dan isinya akan langsung menyiram tangan Erde.&#xA;&#xA;Tapi sepertinya semua itu hanyalah skenario di kepalaku karena apa yang terjadi sekarang adalah tangankulah yang memegang bagian bawah cangkir itu dan gerakanku membuat cairan panas di dalamnya tumpah mengenai jari-jariku.&#xA;&#xA;Erde cepat-cepat menaruh cangkir di meja lalu meraih jari-jariku yang mulai memerah. &#xA;&#xA;&#34;Gue tau, Kak, ini panas.&#34; Ia meraih tisu lalu mengeringkan jari-jariku. &#34;Lo tau nggak ini panas?! Kenapa tangannya langsung nyamber sembarang gitu?!&#34; Ia meniup jari-jariku--yang duh, emang panas banget, sih.&#xA;&#xA;Aku belum sempat memarahi tanganku yang bergerak sendiri karena tiba-tiba Erde sudah bertanya lagi, &#34;perih nggak?&#34;&#xA;&#xA;Aduuuuh. &#xA;&#xA;Harusnya sih, tanganku tidak apa-apa karena susu jahe yang menumpahi tanganku tidak panas-panas amat. Tapi aku malah menjawab, &#34;perih dikit...&#34;&#xA;&#xA;Aku segera menggigit bibirku yang berani mengeluarkan rengekan menyebalkan seperti itu--yang sepertinya membuat Erde mengira aku benar-benar kesakitan. &#xA;&#xA;Erde celingukan lalu matanya berhenti pada satu titik, &#34;ke kran sana, yuk? Biar kena air mengalir.&#34; Kemudian dia menambahkan lagi, &#34;atau mau ke rumah sakit aja? Ke IGD?&#34;&#xA;&#xA;Aku segera menggeleng. &#34;Nggak usah.&#34;&#xA;&#xA;&#34;Kok nggak usah? Katanya perih?&#34;&#xA;&#xA;&#34;Udah enakan abis lo tiup-tiup.&#34; &#xA;&#xA;Shiiiiiiiiiiiiiit. Kalau aku bisa mengeluarkan kartu merah, aku akan langsung mengeluarkan kartu merah untuk mulutku yang berani mengucapkan kalimat-kalimat aneh saat aku berada di depan Erde.&#xA;&#xA;Erde terkekeh lalu melepas tanganku--yang membuatku kecewa dan bertanya-tanya apa urgensinya melepas tanganku untuk tertawa padahal dia bisa tertawa sambil tetap menggenggam tanganku--TUH, KAN. Aku akan mengeluarkan kartu merah untuk otakku yang berani memikirkan hal-hal aneh. &#xA;&#xA;Kemudian--seperti biasa--Erde menanyakan kegiatanku hari ini dan menanyakan hal-hal umum terkait projekku dengan Pak Jati dan apakah Pak Jati memperlakukanku dengan baik. Rasanya sekarang sudah biasa menceritakan semua kegiatan perkuliahanku pada Erde karena ia terus menanyakan lika-liku kegiatan kampusku. &#xA;&#xA;Jadi, aku menceritakan semua hal mulai dari aku yang malas bangun, malas mandi, malas ikut kelas, hingga malas mengerjakan projek bersama Pak Jati. &#xA;&#xA;Di tengah-tengah ceritaku--yang sepertinya sudah setengah jam--tiba-tiba tangan Erde sudah berada di pipiku, mencubitnya. &#xA;&#xA;Tunggu. Erde mencubit pipiku?&#xA;&#xA;Tunggu.&#xA;&#xA;Erde mencubit pipiku! &#xA;&#xA;Tidak hanya itu. Dia mengusap pipiku selama beberapa saat!&#xA;&#xA;&#34;Makan dulu, ini makanannya udah dingin.&#34; Ucapnya.&#xA;&#xA;Aku langsung diam. &#xA;&#xA;Erde tertawa. &#xA;&#xA;Gawaaaaat.&#xA;&#xA;Apa yang terjadi?&#xA;&#xA;Sepertinya ada sesuatu di tangan Erde tadi. Awalnya rasa hangat itu hanya ada di pipiku namun lama kelamaan aku bisa merasakan efeknya menjalar di seluruh tubuhku.&#xA;&#xA;Rasanya seluruh dunia melambat dan hal-hal di sekitar Erde terlihat buram—gerobak angkringan, meja sebelah, dinding tinggi yang melindungi gedung kantor, bahkan mas-mas angkringan yang tengah lewat di belakang Erde pun hanya terlihat samar-samar. &#xA;&#xA;Suara-suara di sekitarku mendadak lenyap. Seolah ada musik pelan yang mengalun di telingaku untuk mengiringi gelak tawa Erde. Dulu aku menyukai musik band indie tanah air namun sekarang gelak tawa Erde menjadi lagu favoritku dan ingin kutambahkan ke daily playlist. &#xA;&#xA;Belum lagi jantungku yang berdetak lebih cepat, seolah organ sekepal tangan itu sedang meronta-ronta dari balik tulang rusuk. &#xA;&#xA;Kemudian… dorrrr!&#xA;&#xA;Ada sebuah kembang api yang meledak di dalam kepalaku. Memporak-porandakan saraf dan menghalangi sinyal-sinyal yang saling terhubung di sana. &#xA;&#xA;Kepalaku mendadak kosong. &#xA;&#xA;Aku tidak bisa berpikir. Napasku tertahan sejenak.&#xA;&#xA;Gawat.&#xA;&#xA;Apa aku nyaris gila?&#xA;&#xA;---&#xA;&#xA;Aku memikirkan kesalahan apa yang terjadi pada otakku hingga semua hal aneh tadi terus terjadi di luar kendaliku. &#xA;&#xA;Apa kemarin kepalaku sempat terbentur sesuatu? Apa aku salah makan? Atau jangan-jangan aku melakukan kebiasaan rutin yang tanpa kusadari dapat menurunkan daya kerja otak? &#xA;&#xA;Jangan-jangan pola tidurku merusak salah satu saraf di otakku. Atau karena aku terus-terusan berada di ruangan ber-AC? Tapi menurut penelitian, otak bekerja lebih baik di suhu dingin daripada panas.&#xA;&#xA;Gawat.&#xA;&#xA;Sepertinya aku sedang bingung. &#xA;&#xA;Aku paling membenci kondisi ini. &#xA;&#xA;Tidak ada soal yang tidak dapat kujawab. Bahkan saat seluruh temanku kebingungan mencari kesalahan pada kode yang kami tulis, aku dapat menemukannya hanya dengan mengamati beberapa menit--karena apa? Karena aku memiliki lekukan otak yang lebih kompleks dari kebanyakan manusia.&#xA;&#xA;Lalu apa yang menyebabkan tubuhku bergerak di luar kendali?&#xA;&#xA;Sepertinya ada bagian di otakku yang mengirimkan sinyal-sinyal tertentu tanpa kusadari. Walaupun sinyal-sinyal ini tidak kukenali, tapi mereka memiliki getaran kuat yang membuat tubuhku dapat bergerak sebelum aku menyadari apa yang kulakukan.&#xA;&#xA;Kira-kira bagian otak sebelah mana yang dapat memberikan sinyal kuat seperti ini?&#xA;&#xA;Kepalaku berdenyut. &#xA;&#xA;Apa ya...&#xA;&#xA;Apa ya...&#xA;&#xA;Apa--&#xA;&#xA;&#34;Kak Sayaaaaang. Kita udah sampe.&#34;&#xA;&#xA;Panggilan Erde segera membuatku tersadar. &#xA;&#xA;&#34;Bengong terus, kenapa Kak?&#34;&#xA;&#xA;Iya, ya.&#xA;&#xA;Sepertinya pikiranku terlalu menyita kesadaranku. &#xA;&#xA;Aku segera turun lalu menyodorkan helm. &#34;Thanks, Erde. Hati-hati baliknya.&#34;&#xA;&#xA;Kakiku siap berbalik saat tiba-tiba suara Erde menusuk telingaku. &#34;Makasih, Kak Sayang udah nemenin makan. Besok ketemu lagi, ya!&#34;&#xA;&#xA;Kak Sayang...&#xA;&#xA;Oh...&#xA;&#xA;ITU DIA!&#xA;&#xA;Aku segera berbalik. &#xA;&#xA;Itu dia!&#xA;&#xA;Itu dia sinyal kuat yang sudah mendominasi seluruh tubuhku!&#xA;&#xA;&#34;Erde!&#34; Aku cepat-cepat menghampiri Erde yang sudah siap berbalik dengan motornya. Wajahnya terheran melihatku berlari ke arahnya. &#xA;&#xA;Itu dia. Itu dia. Itu dia!&#xA;&#xA;&#34;Gue sayang sama lo!&#34; &#xA;&#xA;&#34;H-hah?&#34; Erde terkejut saat tanganku tiba-tiba mencengkeram lengannya. Tentu dia akan terkejut! Aku juga terkejut dengan jawaban yang kutemukan!&#xA;&#xA;Tapi inilah potongan puzzle yang kucari belakangan ini!&#xA;&#xA;Sekarang semuanya menjadi sangat jelas dan masuk akal. &#xA;&#xA;Hormon yang dihasilkan saat jatuh cinta dapat melemahkan prefrontal cortex--bagian otak yang mengatur kemampuan kognitif seseorang--merencanakan sesuatu, membuat keputusan, memecahkan masalah, mengontrol diri, mengingat instruksi, menimbang konsekuensi--yah, pokoknya fungsi-fungsi semacam ini.&#xA;&#xA;Itu dia jawabannya!&#xA;&#xA;&#34;Iya, Kak. Gue juga...&#34; Erde tampak sedikit tertegun melihat gerakan tiba-tibaku, &#34;gue juga sayang sama lo.&#34;&#xA;&#xA;Erde menjawab pernyataanku seolah itu hal biasa yang memang harus terjadi di antara kami. &#xA;&#xA;Tidak. Dia tidak paham.&#xA;&#xA;&#34;Gue sayang lo, Erde.&#34; Aku mengencangkan cengkeramanku pada lengannya--dia harus benar-benar memahami apa yang hendak kusampaikan, &#34;gue beneran sayang banget sama lo.&#34; Aku mengulangi ucapanku dengan penekanan. Dia harus benar-benar paham.&#xA;&#xA;Erde sedikit menepis tanganku--dan aku menyadari cengkeramanku sudah terlalu kuat. Bisa-bisa aku mendorongnya dan membuatnya terjatuh dari motor. Aku segera mundur. &#xA;&#xA;Aku merasa bersalah karena tiba-tiba menyerangnya, tapi aku terlalu girang karena berhasil menemukan lubang yang sudah lama mengganjal di kepalaku. Dan aku ingin membagikan dopamin dan serotonin yang meledak-ledak di tubuhku pada Erde.&#xA;&#xA;&#34;Gue juga sayang sama lo, Kak. Kita emang pacaran karena itu, ya &#39;kan?&#34;&#xA;&#xA;Bibirku tersenyum lebar. &#xA;&#xA;Aku nyaris tidak dapat menjelaskan fenomena yang ada di rongga dadaku. Rasanya ada bunga-bunga yang bermekaran di sekitar tulang rusukku. Aroma wanginya menggelitik perut dan wajahku. Senyumku tidak mau turun. &#xA;&#xA;Setelah kami berpamitan (sekali lagi), kakiku memasuki rumah dengan langkah ringan. Rasanya lega. &#xA;&#xA;Aku lega karena semua kesalahan yang terjadi di kepalaku bukanlah error atau karena daya pikirku menurun. Aku hanya sedang jatuh cinta. &#xA;&#xA;Aku jatuh cinta pada pacarku sendiri.&#xA;&#xA;Rasanya aku ingin menjelaskan seberapa buncah yang memenuhi tubuhku. Aku merasa hebat. Aku merasa tubuhku ringan. Aku merasa aku bisa terbang kapan saja. &#xA;&#xA;Aku juga ingin menjelaskan bahwa jatuh cinta adalah perasaan ekslusif yang--dulunya--kupikir akan sangat jauh dariku. Ternyata, tidak juga. Aku juga bisa merasakan kemewahan jatuh cinta. Aku ingin menjelaskan sepanjang dan seruntut mungkin karena semuanya sudah masuk akal dan aku tau mengapa aku melakukan ini-melakukan itu. &#xA;&#xA;Lihat, &#39;kan? Kadang pertanyaan yang terlihat sulit memiliki jawaban paling sederhana. &#xA;&#xA;Gawat. Aku tidak bisa berhenti tertawa. Lucu kalau mengingat aku hanya mendekati Erde untuk mencari tahu tentang Pak Danaraja, tapi sekarang aku malah lebih tertarik untuk mengetahui segala hal tentang Erde. Aku nyaris tertawa (lagi).&#xA;&#xA;Gawatnya lagi, karena terlalu senang, aku tidak bisa tidur. Walaupun aku belum sampai di kamar, aku tahu aku tidak akan bisa tidur karena mataku terasa segar. &#xA;&#xA;Sepuluh detik kemudian, aku teringat pagar rumahku yang belum kukunci karena sibuk memikirkan Erde tadi. &#xA;&#xA;Aku segera berjalan keluar. Dan, tebak apa yang kulihat?&#xA;&#xA;Yep.&#xA;&#xA;Pacarku!&#xA;&#xA;Erde!&#xA;&#xA;Orang yang kusayangi.&#xA;&#xA;Cinta pertamaku.&#xA;&#xA;Erde belum pulang. Kukira dia sudah pergi dari tadi.&#xA;&#xA;By the way, kalau dilihat-lihat, tubuh Erde sangat... apa ya namanya? &#xA;&#xA;Sangat bagus. &#xA;&#xA;Dia berdiri di samping motor maticnya yang (katanya) dibeli khusus untuk kuliah. Tangannya yang satu menggenggam ponsel, tangan yang lain berkacak pinggang. &#xA;&#xA;Sepertinya aku sudah menambah satu alasan lagi mengapa aku menyayangi Erde. Pinggangnya terasa pas di lingkaran tanganku. Aku ingin melompati pagar lalu memeluknya dari belakang. Kakiku berjalan sepelan mungkin--entah mengapa tapi aku ingin mengejutkannya dari belakang.&#xA;&#xA;Eh, apa aku ajak dia menginap hari ini ya? Toh ini sudah terlalu larut. &#xA;&#xA;Jarak kami tinggal beberapa langkah. &#xA;&#xA;&#34;Halo?&#34;&#xA;&#xA;Oh, Erde sedang menelepon seseorang.&#xA;&#xA;Walaupun suaranya agak pelan, tapi frekuensinya masih dapat ditangkap daun telingaku.&#xA;&#xA;&#34;Nggak ada hasil. Sia-sia.&#34; Suara Erde terdengar penuh kekecewaan.&#xA;&#xA;Kenapa?&#xA;&#xA;&#34;Gue udah mancing dia buat cerita tentang Sejati, tapi dia malah cerita panjang lebar kemana-mana, kuping gue bisa berdarah lama-lama!&#34; Nada suaranya meninggi.&#xA;&#xA;Sebentar. Apa--&#xA;&#xA;&#34;Gue capek banget, Ji. Dia juga makin aneh. Sampe kapan gue harus gini terus sama Haya? Lo coba cari cara lain selain jadi pacarnya, bisa nggak?&#34;&#xA;&#xA;DEG.&#xA;&#xA;]]&gt;</description>
      <content:encoded><![CDATA[<blockquote><p>POV: Himalaya.</p></blockquote>

<p>Aku percaya perasaan manusia dikendalikan oleh otak. Inilah yang dulu aku pelajari saat masih SMA—ritme detak jantung; telapak tangan berkeringat; kaki bergetar; lutut yang mendadak terasa lemas; dan semua reaksi tubuh kita diatur oleh organ yang dilindungi di dalam tengkorak. </p>

<p>Sebagai manusia dengan ingatan kuat dan kemampuan analisis yang tajam, sejauh ini aku merasa aku lebih unggul dari semua manusia yang pernah aku temui. Setidaknya aku meyakini struktur lekukan otakku lebih kompleks dari kebanyakan manusia.</p>

<p>Itu sebabnya, aku selalu menjadi juara umum di sekolah atau di lomba manapun yang aku ikuti. Itu sebabnya, aku lebih dari percaya diri bahwa aku dapat mengendalikan seluruh perasaan yang kurasakan atau gerakan yang kulakukan. Itu sebabnya, aku tidak pernah ragu dalam melakukan apapun.</p>

<p>Tapi saat melihat pesan dari Erde masuk di ujung layar ponselku. Aku sempat meragukan dan mempertanyakan apapun yang dilakukan tanganku yang seharusnya menggerakkan <em>mouse</em> komputer.</p>

<p>Tiba-tiba aku sudah mem-<em>pause</em> <em>game online</em> yang sedang kumainkan.</p>

<p>Dan hal yang lebih <em>gila</em> terjadi. Aku mengabaikan teriakan beberapa orang di <em>headset</em> yang mengomel karena karakterku di <em>game</em> terdiam.</p>

<blockquote><p><strong>Erde Hk&#39;22</strong> : <em>Kak, masih bangun gak?</em></p></blockquote>

<p>Sebenarnya, sejak sore tadi aku tidak bertukar pesan dengan Erde. Dia mengantarku ke kampus untuk bertemu dengan Pak Jati namun dia pamit tidak bisa menjemputku. Aku tidak menanyakan alasannya, hanya memberi anggukan setuju.</p>

<blockquote><p><strong>Haya</strong> : <em>Belum. Kenapa?</em></p></blockquote>

<p>Tiga puluh detik kemudian, dua buah pesan muncul.</p>

<blockquote><p><strong>Erde Hk&#39;22</strong>: <em>Laper. Mau nemenin gue makan gak?</em>
<strong>Erde Hk&#39;22</strong>: <em>Kalo mau, entar gue jemput setengah jam lagi.</em></p></blockquote>

<p>Jika aku masih mempercayai otakku dan meyakini bahwa kepalaku akan selalu memberikan perintah rasional pada seluruh tubuhku, <em>seharusnya</em> aku menjawab <em>tidak mau</em>. Aku bisa beralasan sekarang sudah terlalu larut atau aku terlalu lelah untuk keluar. Tapi tanganku memberi balasan lain.</p>

<blockquote><p><strong>Haya</strong>: <em>Mauuu.</em></p></blockquote>

<p>Aku menjawab <em>mau</em> dan... menambahkan banyak huruf <em>U</em> di belakang...?</p>

<p><em>Tunggu.</em> Bagian mana dari otakku yang akan bertanggung jawab untuk tindakan yang baru saja kulakukan?</p>

<p>Aku sudah menyadari adanya perubahan sejak beberapa hari belakangan. Mulai dari panggilan <em>sayang</em> yang terdengar natural saat aku memanggil Erde atau tanganku yang tiba-tiba memiliki inisiatif sendiri untuk menggamit lengannya.</p>

<p><em>Nah</em>, seharusnya otakku sudah membuat sebuah mekanisme baru untuk menghadapi Erde agar aku tidak terus-menerus membuat kesalahan. Itulah salah satu fungsi otak—<em>self monitoring error</em>—yang tugasnya mengirimkan sinyal negatif saat tubuhku melakukan kesalahan—sebuah proses <em>error-related negativity</em>.</p>

<p>Tapi mulutku malah otomatis menjawab <em>enggak, Sayang.</em> Saat Erde datang dengan muka cengengesan, <em>Kak Sayang, gue ganggu ya?</em></p>

<p>Tidak sampai lima belas menit kemudian—saat kami sudah duduk lesehan di salah satu warung angkringan yang buka sampai pagi—aku kembali membuat kesalahan. Aku mengulurkan tanganku pada Erde sambil mengeluh, <em>dingin</em>.</p>

<p>Awalnya aku tidak menyadari hal yang kulakukan adalah kesalahan karena... <em>ya...</em> apa <em>sih</em> salahnya mengeluh kalau malam ini dingin? Toh ini sudah jam setengah satu pagi dan beberapa hari lalu badan pemerintah yang bertugas menyampaikan kondisi cuaca sudah memberi pernyataan bahwa cuaca di malam hari akan lebih dingin dari biasanya karena sedang peralihan musim.</p>

<p>Otakku segera memberi sengatan baru—<em>aku sudah melakukan kesalahan</em>—saat aku mendapati tangan Erde sedikit menepuk punggung tanganku sambil bergumam, <em>masa sih?</em> Karena ternyata tangannya lebih hangat walaupun menerjang angin malam selama di perjalanan.</p>

<p>Belum sempat aku menarik tanganku, Erde langsung berdiri dan buru-buru menghampiri <em>mas-mas</em> penjual angkringan, ia kembali dengan gelas dan cangkir minuman—membuatku sedikit heran mengapa ia melakukan <em>self-service</em> padahal pesanan kami akan diantar nanti.</p>

<p>“Ngapain?” Tanyaku.</p>

<p>Dia meletakkan susu jahe hangat dan es jeruk—yang, <em>by the way</em>, bukan pesanan kami karena tadi kami meminta dua es jeruk.</p>

<p>“Lo jangan minum es, minum jahe anget aja.” Erde menyodorkan cangkir berisi susu jahe anget padaku.</p>

<p><em>Apaaaa sihhhhhhh.</em></p>

<p>Kalau begini &#39;kan aku jadi terharu.</p>

<p>Kenapa dia selalu memberikan solusi atas masalah-masalah(tidak penting)ku?</p>

<p>Ini bukan pertama kalinya Erde bersikap <em>seperti ini</em>. Sebelumnya dia pernah membelikan makanan padahal aku yang lapar; membungkuk untuk mengambil barang padahal pulpenku yang jatuh; berjalan ke lantai 3 dengan tangga padahal ponselku yang tertinggal; berlari membeli salep di apotek padahal tanganku yang tersengat ujung puntung rokok; dan hal-hal heroik tidak penting lainnya.</p>

<p>Tapi kalau dipikir-pikir, apa aku boleh merasa terharu?</p>

<p><em>Ya boleh, dong</em>. Aku merasa aku adalah orang penting karena ada orang lain yang memilih untuk mengurusi hal-hal kecil yang bahkan tidak kupedulikan.</p>

<p><em>Nah, itu dia.</em> Itulah sebabnya sekarang aku merasakan sedikit rasa aneh yang mengganjal. Karena aku tidak biasa diperlakukan <em>seperti ini</em>—bukan tidak pernah karena, <em>by the way</em>, aku pernah diperlakukan seperti ini oleh panitia lomba tingkat nasional yang kuikuti saat aku menjadi finalis, dan beberapa <em>staff</em> hotel yang kudatangi saat aku menginap.</p>

<p>Tapi mereka semua melakukan <em>itu</em> karena itulah tugas mereka. Sedangkan Erde? Oke aku tau dia pacarku tapi memangnya tugas seorang pacar adalah mengurus hal-hal kecil dari pacarnya? Bukankah manusia—</p>

<p>“Eh!! Awas itu panas!” Seruan ini adalah seruan dari mulutku yang jelas bukan perintah otakku karena otakku sedang memikirkan hal lain. Sepertinya karena mataku tidak sengaja—<em>atau sengaja</em>—melihat tangan Erde yang memegang pegangan cangkir agak miring dan tangannya yang lain secara kebetulan sedang berada di sekitar bagian bawah cangkir yang membuatku takut dia akan menyentuh bagian bawah cangkir yang panas atau malah—kemungkinan terburuknya—cangkir itu tumpah dan isinya akan langsung menyiram tangan Erde.</p>

<p>Tapi sepertinya semua itu hanyalah skenario di kepalaku karena apa yang terjadi sekarang adalah tangankulah yang memegang bagian bawah cangkir itu dan gerakanku membuat cairan panas di dalamnya tumpah mengenai jari-jariku.</p>

<p>Erde cepat-cepat menaruh cangkir di meja lalu meraih jari-jariku yang mulai memerah.</p>

<p>“Gue tau, Kak, ini panas.” Ia meraih tisu lalu mengeringkan jari-jariku. “<strong>Lo</strong> tau nggak ini panas?! Kenapa tangannya langsung nyamber sembarang gitu?!” Ia meniup jari-jariku—yang <em>duh, emang panas banget, sih.</em></p>

<p>Aku belum sempat memarahi tanganku yang bergerak sendiri karena tiba-tiba Erde sudah bertanya lagi, “perih nggak?”</p>

<p><em>Aduuuuh.</em></p>

<p>Harusnya <em>sih</em>, tanganku tidak apa-apa karena susu jahe yang menumpahi tanganku tidak panas-panas amat. Tapi aku malah menjawab, “perih dikit...”</p>

<p>Aku segera menggigit bibirku yang berani mengeluarkan rengekan menyebalkan seperti itu—yang sepertinya membuat Erde mengira aku benar-benar kesakitan.</p>

<p>Erde celingukan lalu matanya berhenti pada satu titik, “ke kran sana, yuk? Biar kena air mengalir.” Kemudian dia menambahkan lagi, “atau mau ke rumah sakit aja? Ke IGD?”</p>

<p>Aku segera menggeleng. “Nggak usah.”</p>

<p>“Kok nggak usah? Katanya perih?”</p>

<p>“Udah enakan abis lo tiup-tiup.”</p>

<p><em>Shiiiiiiiiiiiiiit</em>. Kalau aku bisa mengeluarkan kartu merah, aku akan langsung mengeluarkan kartu merah untuk mulutku yang berani mengucapkan kalimat-kalimat aneh saat aku berada di depan Erde.</p>

<p>Erde terkekeh lalu melepas tanganku—yang membuatku kecewa dan bertanya-tanya apa urgensinya melepas tanganku untuk tertawa padahal dia bisa tertawa sambil tetap menggenggam tanganku—<em>TUH, KAN</em>. Aku akan mengeluarkan kartu merah untuk otakku yang berani memikirkan hal-hal aneh.</p>

<p>Kemudian—seperti biasa—Erde menanyakan kegiatanku hari ini dan menanyakan hal-hal umum terkait projekku dengan Pak Jati dan apakah Pak Jati memperlakukanku dengan baik. Rasanya sekarang sudah biasa menceritakan semua kegiatan perkuliahanku pada Erde karena ia terus menanyakan lika-liku kegiatan kampusku.</p>

<p>Jadi, aku menceritakan semua hal mulai dari aku yang malas bangun, malas mandi, malas ikut kelas, hingga malas mengerjakan projek bersama Pak Jati.</p>

<p>Di tengah-tengah ceritaku—yang sepertinya sudah setengah jam—tiba-tiba tangan Erde sudah berada di pipiku, mencubitnya.</p>

<p><em>Tunggu. Erde mencubit pipiku?</em></p>

<p><em>Tunggu.</em></p>

<p><em>Erde mencubit pipiku!</em></p>

<p>Tidak hanya itu. Dia mengusap pipiku selama beberapa saat!</p>

<p>“Makan dulu, ini makanannya udah dingin.” Ucapnya.</p>

<p>Aku langsung diam.</p>

<p>Erde tertawa.</p>

<p><em>Gawaaaaat.</em></p>

<p><em>Apa yang terjadi?</em></p>

<p>Sepertinya ada sesuatu di tangan Erde tadi. Awalnya rasa hangat itu hanya ada di pipiku namun lama kelamaan aku bisa merasakan efeknya menjalar di seluruh tubuhku.</p>

<p>Rasanya seluruh dunia melambat dan hal-hal di sekitar Erde terlihat buram—gerobak angkringan, meja sebelah, dinding tinggi yang melindungi gedung kantor, bahkan <em>mas-mas</em> angkringan yang tengah lewat di belakang Erde pun hanya terlihat samar-samar.</p>

<p>Suara-suara di sekitarku mendadak lenyap. Seolah ada musik pelan yang mengalun di telingaku untuk mengiringi gelak tawa Erde. Dulu aku menyukai musik band indie tanah air namun sekarang gelak tawa Erde menjadi lagu favoritku dan ingin kutambahkan ke <em>daily playlist</em>.</p>

<p>Belum lagi jantungku yang berdetak lebih cepat, seolah organ sekepal tangan itu sedang meronta-ronta dari balik tulang rusuk.</p>

<p>Kemudian… <em>dorrrr!</em></p>

<p>Ada sebuah kembang api yang meledak di dalam kepalaku. Memporak-porandakan saraf dan menghalangi sinyal-sinyal yang saling terhubung di sana.</p>

<p>Kepalaku mendadak kosong.</p>

<p>Aku tidak bisa berpikir. Napasku tertahan sejenak.</p>

<p><em>Gawat.</em></p>

<p><em>Apa aku nyaris gila?</em></p>

<hr/>

<p>Aku memikirkan kesalahan apa yang terjadi pada otakku hingga semua hal aneh tadi terus terjadi di luar kendaliku.</p>

<p>Apa kemarin kepalaku sempat terbentur sesuatu? Apa aku salah makan? Atau jangan-jangan aku melakukan kebiasaan rutin yang tanpa kusadari dapat menurunkan daya kerja otak?</p>

<p>Jangan-jangan pola tidurku merusak salah satu saraf di otakku. Atau karena aku terus-terusan berada di ruangan ber-AC? Tapi menurut penelitian, otak bekerja lebih baik di suhu dingin daripada panas.</p>

<p><em>Gawat.</em></p>

<p>Sepertinya aku sedang <em>bingung.</em></p>

<p>Aku paling membenci kondisi ini.</p>

<p>Tidak ada soal yang tidak dapat kujawab. Bahkan saat seluruh temanku kebingungan mencari kesalahan pada kode yang kami tulis, aku dapat menemukannya hanya dengan mengamati beberapa menit—<em>karena apa?</em> Karena aku memiliki lekukan otak yang lebih kompleks dari kebanyakan manusia.</p>

<p><em>Lalu apa yang menyebabkan tubuhku bergerak di luar kendali?</em></p>

<p>Sepertinya ada bagian di otakku yang mengirimkan sinyal-sinyal tertentu tanpa kusadari. Walaupun sinyal-sinyal ini tidak kukenali, tapi mereka memiliki getaran kuat yang membuat tubuhku dapat bergerak sebelum aku menyadari apa yang kulakukan.</p>

<p>Kira-kira bagian otak sebelah mana yang dapat memberikan sinyal kuat seperti ini?</p>

<p>Kepalaku berdenyut.</p>

<p><em>Apa ya...</em></p>

<p><em>Apa ya...</em></p>

<p><em>Apa—</em></p>

<p>“Kak Sayaaaaang. Kita udah sampe.”</p>

<p>Panggilan Erde segera membuatku tersadar.</p>

<p>“Bengong terus, kenapa Kak?”</p>

<p><em>Iya, ya.</em></p>

<p>Sepertinya pikiranku terlalu menyita kesadaranku.</p>

<p>Aku segera turun lalu menyodorkan helm. “<em>Thanks</em>, Erde. Hati-hati baliknya.”</p>

<p>Kakiku siap berbalik saat tiba-tiba suara Erde menusuk telingaku. “Makasih, Kak Sayang udah nemenin makan. Besok ketemu lagi, ya!”</p>

<p><em>Kak Sayang...</em></p>

<p><em>Oh...</em></p>

<p><em>ITU DIA!</em></p>

<p>Aku segera berbalik.</p>

<p><em>Itu dia!</em></p>

<p><em>Itu dia sinyal kuat yang sudah mendominasi seluruh tubuhku!</em></p>

<p>“Erde!” Aku cepat-cepat menghampiri Erde yang sudah siap berbalik dengan motornya. Wajahnya terheran melihatku berlari ke arahnya.</p>

<p><em>Itu dia. Itu dia. Itu dia!</em></p>

<p>“Gue sayang sama lo!”</p>

<p>“H-hah?” Erde terkejut saat tanganku tiba-tiba mencengkeram lengannya. Tentu dia akan terkejut! Aku juga terkejut dengan jawaban yang kutemukan!</p>

<p>Tapi inilah potongan <em>puzzle</em> yang kucari belakangan ini!</p>

<p>Sekarang semuanya menjadi sangat jelas dan masuk akal.</p>

<p>Hormon yang dihasilkan saat jatuh cinta dapat melemahkan <em>prefrontal cortex</em>—bagian otak yang mengatur kemampuan kognitif seseorang—merencanakan sesuatu, membuat keputusan, memecahkan masalah, mengontrol diri, mengingat instruksi, menimbang konsekuensi—<em>yah, pokoknya fungsi-fungsi semacam ini</em>.</p>

<p><em>Itu dia jawabannya!</em></p>

<p>“Iya, Kak. Gue juga...” Erde tampak sedikit tertegun melihat gerakan tiba-tibaku, “gue juga sayang sama lo.”</p>

<p>Erde menjawab pernyataanku seolah itu hal biasa yang memang harus terjadi di antara kami.</p>

<p><em>Tidak. Dia tidak paham.</em></p>

<p>“Gue sayang lo, Erde.” Aku mengencangkan cengkeramanku pada lengannya—dia harus benar-benar memahami apa yang hendak kusampaikan, “gue <em>beneran</em> sayang banget sama lo.” Aku mengulangi ucapanku dengan penekanan. Dia harus benar-benar paham.</p>

<p>Erde sedikit menepis tanganku—dan aku menyadari cengkeramanku sudah terlalu kuat. Bisa-bisa aku mendorongnya dan membuatnya terjatuh dari motor. Aku segera mundur.</p>

<p>Aku merasa bersalah karena <em>tiba-tiba</em> menyerangnya, tapi aku terlalu girang karena berhasil menemukan lubang yang sudah lama mengganjal di kepalaku. <em>Dan aku ingin membagikan dopamin dan serotonin yang meledak-ledak di tubuhku pada Erde.</em></p>

<p>“Gue juga sayang sama lo, Kak. Kita emang pacaran karena itu, ya &#39;kan?”</p>

<p>Bibirku tersenyum lebar.</p>

<p>Aku nyaris tidak dapat menjelaskan fenomena yang ada di rongga dadaku. Rasanya ada bunga-bunga yang bermekaran di sekitar tulang rusukku. Aroma wanginya menggelitik perut dan wajahku. Senyumku tidak mau turun.</p>

<p>Setelah kami berpamitan (sekali lagi), kakiku memasuki rumah dengan langkah ringan. Rasanya lega.</p>

<p>Aku lega karena semua kesalahan yang terjadi di kepalaku bukanlah <em>error</em> atau karena daya pikirku menurun. Aku hanya sedang jatuh cinta.</p>

<p><em>Aku jatuh cinta pada pacarku sendiri.</em></p>

<p>Rasanya aku ingin menjelaskan seberapa buncah yang memenuhi tubuhku. Aku merasa hebat. Aku merasa tubuhku ringan. Aku merasa aku bisa terbang kapan saja.</p>

<p>Aku juga ingin menjelaskan bahwa <em>jatuh cinta</em> adalah perasaan ekslusif yang—dulunya—kupikir akan sangat jauh dariku. Ternyata, <em>tidak juga</em>. Aku juga bisa merasakan <em>kemewahan</em> jatuh cinta. Aku ingin menjelaskan sepanjang dan seruntut mungkin karena semuanya sudah masuk akal dan aku tau mengapa aku <em>melakukan ini-melakukan itu</em>.</p>

<p><em>Lihat, &#39;kan?</em> Kadang pertanyaan yang terlihat sulit memiliki jawaban paling sederhana.</p>

<p><em>Gawat.</em> Aku tidak bisa berhenti tertawa. Lucu kalau mengingat aku hanya mendekati Erde untuk mencari tahu tentang Pak Danaraja, tapi sekarang aku malah lebih tertarik untuk mengetahui segala hal tentang Erde. Aku nyaris tertawa (lagi).</p>

<p>Gawatnya lagi, karena terlalu senang, aku tidak bisa tidur. Walaupun aku belum sampai di kamar, aku tahu aku tidak akan bisa tidur karena mataku terasa segar.</p>

<p>Sepuluh detik kemudian, aku teringat pagar rumahku yang belum kukunci karena sibuk memikirkan Erde tadi.</p>

<p>Aku segera berjalan keluar. Dan, tebak apa yang kulihat?</p>

<p><em>Yep.</em></p>

<p><em>Pacarku!</em></p>

<p><em>Erde!</em></p>

<p><em>Orang yang kusayangi.</em></p>

<p><em>Cinta pertamaku.</em></p>

<p>Erde belum pulang. Kukira dia sudah pergi dari tadi.</p>

<p><em>By the way</em>, kalau dilihat-lihat, tubuh Erde sangat... <em>apa ya namanya?</em></p>

<p>Sangat bagus.</p>

<p>Dia berdiri di samping motor <em>matic</em>nya yang (katanya) dibeli khusus untuk kuliah. Tangannya yang satu menggenggam ponsel, tangan yang lain berkacak pinggang.</p>

<p>Sepertinya aku sudah menambah satu alasan lagi mengapa aku menyayangi Erde. Pinggangnya terasa pas di lingkaran tanganku. Aku ingin melompati pagar lalu memeluknya dari belakang. Kakiku berjalan sepelan mungkin—entah mengapa tapi aku ingin mengejutkannya dari belakang.</p>

<p><em>Eh, apa aku ajak dia menginap hari ini ya?</em> Toh ini sudah terlalu larut.</p>

<p>Jarak kami tinggal beberapa langkah.</p>

<p>“Halo?”</p>

<p><em>Oh, Erde sedang menelepon seseorang.</em></p>

<p>Walaupun suaranya agak pelan, tapi frekuensinya masih dapat ditangkap daun telingaku.</p>

<p>“Nggak ada hasil. Sia-sia.” Suara Erde terdengar penuh kekecewaan.</p>

<p><em>Kenapa?</em></p>

<p>“Gue udah mancing dia buat cerita tentang Sejati, tapi dia malah cerita panjang lebar kemana-mana, kuping gue bisa berdarah lama-lama!” Nada suaranya meninggi.</p>

<p><em>Sebentar. Apa—</em></p>

<p>“Gue capek banget, Ji. Dia juga makin aneh. Sampe kapan gue harus gini terus sama Haya? Lo coba cari cara lain selain jadi pacarnya, bisa nggak?”</p>

<p><em>DEG.</em></p>
]]></content:encoded>
      <guid>https://bulanjuni.writeas.com/chemistry</guid>
      <pubDate>Sun, 23 Oct 2022 04:23:07 +0000</pubDate>
    </item>
    <item>
      <title>Rumah Susun</title>
      <link>https://bulanjuni.writeas.com/rumah-susun?pk_campaign=rss-feed</link>
      <description>&lt;![CDATA[  POV: BERMUDA.&#xA;  cw / tw // harsh words ; murder attempt ; blood ; gun violence ; pistol ; pisau ; knife ; &#xA;&#xA;Pilihan paling salah yang pernah kulakukan adalah memacari Haya. &#xA;&#xA;Dia tidak mendekatkanku dengan Sejati atau membantuku mendapat informasi yang berguna. &#xA;&#xA;Dia menyusahkan.&#xA;&#xA;Dalam berbagai hal. !--more--&#xA;&#xA;Tapi, anehnya, di beberapa waktu, aku merasa Haya akan membawaku pada sesuatu.&#xA;&#xA;Seperti tadi, saat aku membuntuti Sejati, tiba-tiba aku bertemu Haya. Apa yang mereka lakukan di lokasi yang sama?&#xA;&#xA;Aku menyesal tidak terus-terusan berada di samping Haya. Jangan-jangan aku bisa membuntuti Sejati secara terbuka kalau saja aku mendesak untuk mengantar Haya tadi pagi. &#xA;&#xA;Aku menghela napas. Punggungku kubanting pada sandaran sofa. Mataku mengedar. &#xA;&#xA;Dulu aku pernah tinggal di rumah susun. Tidak semewah ini, tentunya. Rumah susun yang kutempati lebih mirip bangunan terbengkalai untuk orang-orang yang hidupnya tidak memiliki banyak pilihan--seperti aku dan Fuji.&#xA;&#xA;Rumah susun ini terlihat seperti apartemen sederhana dari luar. Dengan bangunan  bebentuk kotak biasa. Warnanya juga sederhana--putih.&#xA;&#xA;Unit milik teman Haya juga masih dicat serba putih. Aku duduk di sofa ruang tamu berwarna coklat yang langsung menyambung dengan dapur dan kamar mandi. Di depanku ada meja yang di atasnya terdapat TV layar datar seukuran komputer. Di samping meja terdapat pintu yang--menurutku--terhubung dengan kamar tidur. &#xA;&#xA;Semuanya serba sederhana. Perabotan di rumah ini juga tidak banyak. Di pintu masuk ada rak sepatu dua tingkat. Meja dan sofa di ruang tamu, wastafel dan kabinet di dapur, dan--&#xA;&#xA;sudah.&#xA;&#xA;Hanya itu. &#xA;&#xA;Aku menegakkan posisi dudukku. &#xA;&#xA;Ada yang aneh.&#xA;&#xA;Unit ini terlihat kosong.&#xA;&#xA;Kakiku beranjak perlahan. Lantai di unit ini menggunakan keramik warna putih kecoklatan--apa ya namanya? Krem?--yang entah bagaimana membuat debu-debu dan beberapa noda yang tidak kukenali terlihat jelas.&#xA;&#xA;Aku mendekati dapur. &#xA;&#xA;Wastafel ini... sangat kering. Ada noda putih yang membentuk bercak tidak teratur--yang juga kering. Tanganku segera membuka kabinet dan--&#xA;&#xA;Sial.&#xA;&#xA;Badanku refleks menghindar saat seekor kecoak terbang ke arahku. Aku cepat mengibaskan tanganku saat ada laba-laba kecil yang berjalan di punggung tanganku. &#xA;&#xA;Apakah tempat ini benar rumah milik teman Haya?&#xA;&#xA;Kabinet itu kosong. Ujung-ujung tembok di wastafel ini juga terlihat kotor. &#xA;&#xA;Tidak ada peralatan apapun di dapur ini selain beberapa sendok dan garpu di dalam kabinet tadi. &#xA;&#xA;Aku beranjak ke balkon. &#xA;&#xA;Uh-oh. Pintu balkon sepertinya macet. &#xA;&#xA;Haruskah aku masuk ke kamar mandi?&#xA;&#xA;Yak. Aku sudah di dalam kamar mandi. &#xA;&#xA;Kering. Semua di kamar mandi ini kering. Bahkan shower di atasku seperti tidak pernah dinyalakan. Dan tentunya, lagi-lagi ada kecoak. Tidak ada peralatan mandi di dalam sini. Apapun yang ada di dalam kamar mandi ini sedikit menganggu hidungku. Aku tidak suka aroma aneh di ruangan sempit ini, seperti aroma cat yang sudah terlalu lama dan sedikit pengap--mungkin karena ruangan ini tidak pernah dibuka. &#xA;&#xA;Aku kembali ke ruang tamu. &#xA;&#xA;Apa aku harus masuk ke kamar tidur?&#xA;&#xA;Yak. Aku sudah memasuki kamar tidur. &#xA;&#xA;Apek. Berdebu. Kotor.&#xA;&#xA;Tiga kata itu segera terlintas di kepalaku.&#xA;&#xA;Kamar tidur nyaris sama kosongnya dengan ruangan lain. Hanya ada kasur tipis berwarna biru--tanpa sprei--yang digulung, lengkap dengan satu bantal dan selimut di atasnya--tidak terlihat seperti kamar tidur di rumah susun untuk kelas menengah (menurutku). Ada satu almari kecil yang saat kubuka juga kosong. Terdapat satu jendela di kamar ini, tapi kondisinya sama persis dengan pintu balkon--macet. &#xA;&#xA;Baiklah, aku mungkin akan mencurigai Haya berniat membunuhku di tempat ini kalau saja dia tidak mengganjal pintu dengan sepatu--aku jelas tidak bisa keluar jika pintu itu tertutup dan terkunci. Pintu balkon dan jendela di kaamr ini macet total. Aku juga tidak tau bagaimana sistem keamanan dengan sandi bekerja dan bagaimana cara membukanya. &#xA;&#xA;Aku meraih ponselku lalu mengambil beberapa foto. Mungkin aku bisa mendiskusikan ini semua dengan Fuji nantinya. Sudah menjadi kebiasaan, apapun yang aku temukan akan langsung kulaporkan pada Fuji. Badanku bisa mencium aroma-aroma mencurigakan, dan Fuji lah yang bertugas membuktikan kecurigaanku. &#xA;&#xA;Mungkin aku terlihat berlebihan, tapi aku memiliki insting yang kuat. &#xA;&#xA;Ada hal mencurigakan di rumah ini. &#xA;&#xA;Atau, lebih tepatnya, teman Haya mencurigakan.&#xA;&#xA;Dan sepertinya aku bisa mengatakan Haya juga mencurigakan karena berteman dengan pemilik unit ini. &#xA;&#xA;Anehnya, Haya tidak mengatakan apapun tentang temannya. Kalau dipikir-pikir, sepertinya Haya sudah pernah mengunjungi rumah ini--tidak mungkin Haya tau sandi rumah ini jika dia tidak pernah kemari, &#39;kan?&#xA;&#xA;Rumah ini sudah tidak ditinggali beberapa bulan. Itu kesimpulan sementara yang ada di kepalaku. &#xA;&#xA;Aku pernah memasuki rumah kosong.&#xA;&#xA;Dulu aku dan Fuji tidur di rumah kosong berbulan-bulan--atau mungkin beberapa tahun? Aku tidak terlalu ingat. Kami berpindah dari satu rumah ke rumah lain. Aku cukup akrab dengan suasana rumah seperti ini--tentunya, tidak sebagus ini. Hanya saja, aku bisa merasakan kekosongan yang sama di rumah ini. Siapapun pemiliknya, dia tidak lagi tinggal di sini. &#xA;&#xA;Aku masih mengamati sekitar saat mendadak aku merasa duniaku berhenti selama sepersekian detik. &#xA;&#xA;Uh-Oh.&#xA;&#xA;Seluruh udara di rongga dadaku menggumpal, membuat jantungku seperti terhimpit. Dadaku sesak. Napasku tercekat. &#xA;&#xA;Suhu badanku turun beberapa derajat. &#xA;&#xA;Aku sepenuhnya menyadari apa yang terjadi. Ini adalah alarm bahaya yang otomatis muncul ketika aku harus waspada dengan sekitar. &#xA;&#xA;Saat badanku dingin, aku bisa merasakan apapun yang lebih hangat dari kulitku--angin, sorotan lampu senter, nyala api, atau manusia. &#xA;&#xA;Kata Fuji, mata manusia hanya memiliki ruang pandang sekitar 120°. Aku tidak tau seberapa besar 120°, tapi kata Fuji, seluruh badanku adalah mata. &#xA;&#xA;Mungkin mataku sedang mengarah ke jendela kamar yang bersebrangan dengan pintu kamar namun siku dan punggungku dapat melihat ada orang lain yang sedang berada di belakangku. &#xA;&#xA;Dan aku mengetahui apapun yang ada di belakangku adalah sosok berbahaya karena sedari tadi aku tidak mendengar suaranya memasuki pintu depan, langkah kakinya saat memasuki kamar, maupun suara napasnya. &#xA;&#xA;Aku terdiam, berusaha sewajar mungkin agar terlihat seolah aku tidak menyadari keberadaannya. &#xA;&#xA;Posisiku tidak diuntungkan. Pertama, aku membelakanginya. Kedua, apapun yang kulakukan--entah itu berputar menghadapnya atau menyerang duluan--akan merugikan diriku sendiri karena aku akan bergerak lebih dulu dan gerakanku memberinya waktu untuk memprediksi serangan apa yang layak diberikan padaku.&#xA;&#xA;Tapi diam juga tidak menguntungkan. Aku tidak tau apa rencananya dan senjata yang dibawa. Dia bisa saja menikamku dari belakang atau mengunci badanku. &#xA;&#xA;Sial.&#xA;&#xA;Saat aku merasa sosok ini makin mendekat ke punggungku, aku segera memutar badanku sambil memberinya serangan siku. Kecepatan dan arah seranganku akurat--tapi dia berhasil menghindar.&#xA;&#xA;Dia menghindari seranganku dengan sedikit meliukkan tubuhnya, ditangkisnya tanganku dengan cara yang tidak wajar--seolah dia sedang mengendalikan tanganku ke arah lain. Aku sempat mengunci mataku padanya, dua bola matanya menatapku tajam.&#xA;&#xA;Dari gerakan setengah detik itu, aku tau. Dia adalah petarung jarak dekat. Dan apapun teknik yang dia gunakan--dia terlatih. &#xA;&#xA;Aku segera mengambil jarak. &#xA;&#xA;Sayangnya, aku juga petarung jarak dekat, namun aku tidak mau mengambil risiko untuk berada di jangkaunnya karena: pertama dan utama, dia terlatih; kedua, dia memiliki postur yang lebih tinggi dan besar daripada badanku. &#xA;&#xA;Kami saling mengunci mata untuk waktu yang lama--atau menurutku, rasanya semua berjalan dengan lambat. Dia tidak menanyakan apapun, dari matanya terlihat bahwa dia tidak peduli siapa aku dan apa yang kulakukan di sini. Dia hanya ingin membungkam seluruh panca indraku dan membuangku dari jendela--atau lebih tepatnya, dia ingin menyingkirkanku. &#xA;&#xA;Rasanya aku hanya berkedip sekilas ketika dia sudah mengambil langkah di depanku. Aku segera melempar satu tinju lurus-lurus--dan aku menyadari aku terkecoh, dia tidak menyerangku, dia hanya mendekatkan jarak padaku agar aku menyerangnya. &#xA;&#xA;Dia menangkap tinjuku dengan satu tangan, mengunci lenganku. Tangannya yang lain membentuk gerakan memotong. &#xA;&#xA;Sial, dia mau mematahkan tanganku!&#xA;&#xA;Di waktu yang sangat singkat--tepat sebelum dia mengangkat tangannya yang bertugas meremukkan tulangku, aku mencengkeram balik lengannya--menariknya ke arahku, bersaman dengan tendangan lutut yang langsung kuarahkan ke perutnya. &#xA;&#xA;BUGH!&#xA;&#xA;Dia meringis. &#xA;&#xA;Tapi--seolah tendanganku hanya menggelitik perutnya--dia menggunakan kedekatan jarak kami untuk membalikkan badanku lalu mengunci leherku dari belakang. Aku segera memindahkan bebanku ke punggung--mendorongnya ke lantai.&#xA;&#xA;BRUK!&#xA;&#xA;Kami berdua jatuh. &#xA;&#xA;Aku berguling ke arah pintu--menjaga jarak sejauh mungkin darinya. Tanganku dengan cepat merogoh pisau lipat di pinggang sebelum berbalik ke arahnya, ujung mataku menangkap gerakannya--dia sudah berdiri. Lalu dengan sekali hentakan aku mengarahkan pisauku ke lehernya. Dia menghindar dengan gerakan yang tidak masuk akal cepatnya lalu aku merasakan sebuah benda dingin menempel di dahiku. &#xA;&#xA;Sial.&#xA;&#xA;Orang ini... mengarahkan moncong pistolnya tepat di kepalaku. &#xA;&#xA;Kami mematung. &#xA;&#xA;Pisauku masih tepat berada di samping urat nadinya--aku yakin ujung pisauku sedikit menggores kulit lehernya karena aku melihat sedikit cairan merah mengalir dari sana. &#xA;&#xA;Pistolnya menempel di dahiku. Hanya perlu sedikit tarikan di telunjuknya, otakku akan berhamburan. &#xA;&#xA;Napasku terengah. Mata kami saling mengunci. Peluh menetes di seluruh tubuhku tapi aku masih kedinginan. &#xA;&#xA;Aku cukup terkejut dengan senjata yang dia gunakan. Pistol adalah senjata jarak jauh. Dia bisa menembakku sejak tadi dan mungkin aku sudah terkapar di kamar ini. Tapi kenapa dia tidak langsung membunuhku padahal dia menyerangku habis-habisan?&#xA;&#xA;Aku mengamati wajahnya. Kedua mata bulatnya menatapku sengit, garis rahangnya terlihat jelas--dia sedang menggertakkan giginya. &#xA;&#xA;Anehnya, dia mengenakan kaos dan celana jeans hitam. Pakaian yang cukup biasa saja kalau dilihat dari kemampuan dan--&#xA;&#xA;&#34;Who sent you?&#34;&#xA;&#xA;Siaaaaaaaaaal. &#xA;&#xA;Ada saat-saat dalam hidupku di mana aku ingin belajar bahasa asing namun kegiatanku terlalu padat untuk mengingat-ingat dua kata dengan makna yang sama. &#xA;&#xA;Aku tidak menjawab. Pilihan yang salah karena moncong pistolnya terus ditekankan di dahiku. &#34;Jawab.&#34; Lanjutnya dengan suara rendah. &#xA;&#xA;Oh. Baguslah. Kami bisa berbicara dengan bahasa yang sama. &#xA;&#xA;Tanganku makin kuat mencengkeram gagang pisauku. Aku harus mengetahui apa tujuannya kemari, apakah dia benar-benar menargetkanku atau aku hanya sedang sial karena berada di sini. &#34;Siapa yang lo cari?&#34; &#xA;&#xA;Ada kebingungan di matanya sebelum dia kembali memasang wajah datar, &#34;lo mainin gue?&#34; Ujung bibirnya naik, tangannya terus dimajukan namun aku menahan kepalaku melawan arah dorongannya.&#xA;&#xA;&#34;Mainin?&#34; Aku ikut menaikkan ujung bibirku, &#34;gue bisa mutusin urat nadi lo sekarang.&#34;&#xA;&#xA;Dia terkekeh, &#34;lo pikir gue nggak bisa ngehancurin kepala lo sekarang?&#34; &#xA;&#xA;Hening.&#xA;&#xA;Aku sudah merancang gerakan berikutnya di kepalaku. Tanganku yang kosong akan menepis pistolnya dan tanganku yang lain menggoreskan pisauku dalam satu gerakan cepat. Gerakan ini harus cepat dan akurat karena aku tidak bisa meremehkan kecepatannya menghindariku, belum lagi pistolnya yang bisa kapan saja ditembakkan.&#xA;&#xA;Tapi tiba-tiba...&#xA;&#xA;Beberapa nada terdengar dan...&#xA;&#xA;Cklek!&#xA;&#xA;&#34;Gue beliin nasi kuning aja nggak apa-apa ya?&#34;&#xA;&#xA;Haya?!&#xA;&#xA;Astaga. Dasar cowok tolol. Bagaimana bisa dia masuk ke rumah ini dengan suara seriang itu saat ada seseorang yang hendak menghancurkan kepalaku?&#xA;&#xA;Suara langkah Haya semakin mendekat. Aku berpikir keras. Haya bisa saja dalam bahaya jika orang di depanku memutuskan untuk menarik pelatuknya. Tapi di satu sisi, Haya juga bisa mencurigaiku karena mengarahkan pisau ke leher orang lain. &#xA;&#xA;Setengah detik berlalu.&#xA;&#xA;Aku refleks menurunkan tanganku yang--anehnya--orang di depanku ikut menurunkan pistolnya lalu cepat-cepat memasukkannya di balik pinggangnya. &#xA;&#xA;&#34;Lo lagi di kamar mandi ya?&#34; Suara Haya makin jelas terdengar--dia melewati pintu kamar, &#34;gue--&#34; Ucapannya terhenti. Sepertinya dia melihat punggungku dari ambang pintu. &#xA;&#xA;Dia terdiam cukup lama. &#xA;&#xA;Aku sudah siap pura-pura terjatuh--dan mengatakan orang serba hitam ini adalah perampok--ketika aku menyadari Haya sama sekali tidak terkejut dengan kehadiran orang ini--Haya mengenalnya.&#xA;&#xA;Dia mengernyit.&#xA;&#xA;&#34;Maru? Kok udah pulang?&#34;&#xA;&#xA;Jantungku meledak. &#xA;&#xA;Orang ini adalah teman Haya?&#xA;&#xA;]]&gt;</description>
      <content:encoded><![CDATA[<blockquote><p>POV: BERMUDA.
cw / tw // harsh words ; murder attempt ; blood ; gun violence ; pistol ; pisau ; knife ;</p></blockquote>

<p>Pilihan paling salah yang pernah kulakukan adalah memacari Haya.</p>

<p>Dia tidak mendekatkanku dengan Sejati atau membantuku mendapat informasi yang berguna.</p>

<p><em>Dia menyusahkan.</em></p>

<p><em>Dalam berbagai hal.</em> </p>

<p>Tapi, anehnya, di beberapa waktu, aku merasa Haya akan membawaku pada <em>sesuatu.</em></p>

<p>Seperti tadi, saat aku membuntuti Sejati, tiba-tiba aku bertemu Haya. Apa yang mereka lakukan di lokasi yang sama?</p>

<p>Aku menyesal tidak terus-terusan berada di samping Haya. Jangan-jangan aku bisa membuntuti Sejati secara terbuka kalau saja aku mendesak untuk mengantar Haya tadi pagi.</p>

<p>Aku menghela napas. Punggungku kubanting pada sandaran sofa. Mataku mengedar.</p>

<p>Dulu aku pernah tinggal di rumah susun. Tidak <em>semewah</em> ini, tentunya. Rumah susun yang kutempati lebih mirip bangunan terbengkalai untuk orang-orang yang hidupnya tidak memiliki banyak pilihan—seperti aku dan Fuji.</p>

<p>Rumah susun ini terlihat seperti apartemen sederhana dari luar. Dengan bangunan  bebentuk kotak biasa. Warnanya juga sederhana—putih.</p>

<p>Unit milik teman Haya juga masih dicat serba putih. Aku duduk di sofa ruang tamu berwarna coklat yang langsung menyambung dengan dapur dan kamar mandi. Di depanku ada meja yang di atasnya terdapat TV layar datar seukuran komputer. Di samping meja terdapat pintu yang—menurutku—terhubung dengan kamar tidur.</p>

<p>Semuanya serba sederhana. Perabotan di rumah ini juga tidak banyak. Di pintu masuk ada rak sepatu dua tingkat. Meja dan sofa di ruang tamu, wastafel dan kabinet di dapur, dan—</p>

<p><em>sudah.</em></p>

<p>Hanya itu.</p>

<p>Aku menegakkan posisi dudukku.</p>

<p><em>Ada yang aneh.</em></p>

<p>Unit ini terlihat kosong.</p>

<p>Kakiku beranjak perlahan. Lantai di unit ini menggunakan keramik warna putih kecoklatan—<em>apa ya namanya? Krem?</em>—yang entah bagaimana membuat debu-debu dan beberapa noda yang tidak kukenali terlihat jelas.</p>

<p>Aku mendekati dapur.</p>

<p>Wastafel ini... sangat kering. Ada noda putih yang membentuk bercak tidak teratur—yang juga kering. Tanganku segera membuka kabinet dan—</p>

<p><em>Sial.</em></p>

<p>Badanku refleks menghindar saat seekor kecoak terbang ke arahku. Aku cepat mengibaskan tanganku saat ada laba-laba kecil yang berjalan di punggung tanganku.</p>

<p><em>Apakah tempat ini benar rumah milik teman Haya?</em></p>

<p>Kabinet itu kosong. Ujung-ujung tembok di wastafel ini juga terlihat kotor.</p>

<p>Tidak ada peralatan apapun di dapur ini selain beberapa sendok dan garpu di dalam kabinet tadi.</p>

<p>Aku beranjak ke balkon.</p>

<p><em>Uh-oh</em>. Pintu balkon sepertinya macet.</p>

<p><em>Haruskah aku masuk ke kamar mandi?</em></p>

<p><em>Yak.</em> Aku sudah di dalam kamar mandi.</p>

<p>Kering. Semua di kamar mandi ini kering. Bahkan <em>shower</em> di atasku seperti tidak pernah dinyalakan. Dan tentunya, lagi-lagi ada kecoak. Tidak ada peralatan mandi di dalam sini. Apapun yang ada di dalam kamar mandi ini sedikit menganggu hidungku. Aku tidak suka aroma aneh di ruangan sempit ini, seperti aroma cat yang sudah terlalu lama dan sedikit pengap—mungkin karena ruangan ini tidak pernah dibuka.</p>

<p>Aku kembali ke ruang tamu.</p>

<p><em>Apa aku harus masuk ke kamar tidur?</em></p>

<p><em>Yak.</em> Aku sudah memasuki kamar tidur.</p>

<p><em>Apek. Berdebu. Kotor.</em></p>

<p>Tiga kata itu segera terlintas di kepalaku.</p>

<p>Kamar tidur nyaris sama kosongnya dengan ruangan lain. Hanya ada kasur tipis berwarna biru—tanpa sprei—yang digulung, lengkap dengan satu bantal dan selimut di atasnya—tidak terlihat seperti kamar tidur di rumah susun untuk kelas menengah (menurutku). Ada satu almari kecil yang saat kubuka juga kosong. Terdapat satu jendela di kamar ini, tapi kondisinya sama persis dengan pintu balkon—macet.</p>

<p>Baiklah, aku mungkin akan mencurigai Haya berniat membunuhku di tempat ini kalau saja dia tidak mengganjal pintu dengan sepatu—aku jelas tidak bisa keluar jika pintu itu tertutup dan terkunci. Pintu balkon dan jendela di kaamr ini macet total. Aku juga tidak tau bagaimana sistem keamanan dengan sandi bekerja dan bagaimana cara membukanya.</p>

<p>Aku meraih ponselku lalu mengambil beberapa foto. Mungkin aku bisa mendiskusikan ini semua dengan Fuji nantinya. Sudah menjadi kebiasaan, apapun yang aku temukan akan langsung kulaporkan pada Fuji. Badanku bisa mencium aroma-aroma mencurigakan, dan Fuji lah yang bertugas membuktikan kecurigaanku.</p>

<p>Mungkin aku terlihat berlebihan, tapi aku memiliki insting yang kuat.</p>

<p>Ada hal mencurigakan di rumah ini.</p>

<p>Atau, lebih tepatnya, <em>teman Haya mencurigakan.</em></p>

<p>Dan sepertinya aku bisa mengatakan Haya juga mencurigakan karena berteman dengan pemilik unit ini.</p>

<p>Anehnya, Haya tidak mengatakan apapun tentang temannya. Kalau dipikir-pikir, sepertinya Haya sudah pernah mengunjungi rumah ini—tidak mungkin Haya tau sandi rumah ini jika dia tidak pernah kemari, &#39;kan?</p>

<p>Rumah ini sudah tidak ditinggali beberapa bulan. Itu kesimpulan sementara yang ada di kepalaku.</p>

<p>Aku pernah memasuki rumah kosong.</p>

<p>Dulu aku dan Fuji tidur di rumah kosong berbulan-bulan—atau mungkin beberapa tahun? Aku tidak terlalu ingat. Kami berpindah dari satu rumah ke rumah lain. Aku cukup akrab dengan suasana rumah seperti ini—tentunya, tidak sebagus ini. Hanya saja, aku bisa merasakan kekosongan yang sama di rumah ini. Siapapun pemiliknya, dia tidak lagi tinggal di sini.</p>

<p>Aku masih mengamati sekitar saat mendadak aku merasa duniaku berhenti selama sepersekian detik.</p>

<p><em>Uh-Oh.</em></p>

<p>Seluruh udara di rongga dadaku menggumpal, membuat jantungku seperti terhimpit. Dadaku sesak. Napasku tercekat.</p>

<p>Suhu badanku turun beberapa derajat.</p>

<p>Aku sepenuhnya menyadari apa yang terjadi. Ini adalah <em>alarm</em> bahaya yang otomatis muncul ketika aku harus waspada dengan sekitar.</p>

<p>Saat badanku dingin, aku bisa merasakan apapun yang lebih hangat dari kulitku—angin, sorotan lampu senter, nyala api, atau <em>manusia</em>.</p>

<p>Kata Fuji, mata manusia hanya memiliki ruang pandang sekitar 120°. Aku tidak tau seberapa besar 120°, tapi kata Fuji, seluruh badanku adalah mata.</p>

<p>Mungkin mataku sedang mengarah ke jendela kamar yang bersebrangan dengan pintu kamar namun siku dan punggungku dapat <em>melihat</em> ada orang lain yang sedang berada di belakangku.</p>

<p>Dan aku mengetahui apapun yang ada di belakangku adalah sosok berbahaya karena sedari tadi aku tidak mendengar suaranya memasuki pintu depan, langkah kakinya saat memasuki kamar, maupun suara napasnya.</p>

<p>Aku terdiam, berusaha sewajar mungkin agar terlihat seolah aku tidak menyadari keberadaannya.</p>

<p>Posisiku tidak diuntungkan. Pertama, aku membelakanginya. Kedua, apapun yang kulakukan—entah itu berputar menghadapnya atau menyerang duluan—akan merugikan diriku sendiri karena aku akan bergerak lebih dulu dan gerakanku memberinya waktu untuk memprediksi serangan apa yang <em>layak</em> diberikan padaku.</p>

<p>Tapi diam juga tidak menguntungkan. Aku tidak tau apa rencananya dan senjata yang dibawa. Dia bisa saja menikamku dari belakang atau mengunci badanku.</p>

<p><em>Sial.</em></p>

<p>Saat aku merasa <em>sosok</em> ini makin mendekat ke punggungku, aku segera memutar badanku sambil memberinya serangan siku. Kecepatan dan arah seranganku akurat—tapi dia berhasil menghindar.</p>

<p>Dia menghindari seranganku dengan sedikit meliukkan tubuhnya, ditangkisnya tanganku dengan cara yang tidak wajar—seolah dia sedang mengendalikan tanganku ke arah lain. Aku sempat mengunci mataku padanya, dua bola matanya menatapku tajam.</p>

<p>Dari gerakan setengah detik itu, aku tau. Dia adalah petarung jarak dekat. Dan apapun teknik yang dia gunakan—dia terlatih.</p>

<p>Aku segera mengambil jarak.</p>

<p>Sayangnya, aku juga petarung jarak dekat, namun aku tidak mau mengambil risiko untuk berada di jangkaunnya karena: pertama dan utama, dia terlatih; kedua, dia memiliki postur yang lebih tinggi dan besar daripada badanku.</p>

<p>Kami saling mengunci mata untuk waktu yang lama—atau menurutku, rasanya semua berjalan dengan lambat. Dia tidak menanyakan apapun, dari matanya terlihat bahwa dia tidak peduli siapa aku dan apa yang kulakukan di sini. Dia hanya ingin membungkam seluruh panca indraku dan membuangku dari jendela—atau lebih tepatnya, dia ingin menyingkirkanku.</p>

<p>Rasanya aku hanya berkedip sekilas ketika dia sudah mengambil langkah di depanku. Aku segera melempar satu tinju lurus-lurus—dan aku menyadari aku terkecoh, dia tidak menyerangku, dia hanya mendekatkan jarak padaku agar aku menyerangnya.</p>

<p>Dia menangkap tinjuku dengan satu tangan, mengunci lenganku. Tangannya yang lain membentuk gerakan memotong.</p>

<p><em>Sial, dia mau mematahkan tanganku!</em></p>

<p>Di waktu yang sangat singkat—tepat sebelum dia mengangkat tangannya yang bertugas meremukkan tulangku, aku mencengkeram balik lengannya—menariknya ke arahku, bersaman dengan tendangan lutut yang langsung kuarahkan ke perutnya.</p>

<p><em>BUGH!</em></p>

<p>Dia meringis.</p>

<p>Tapi—seolah tendanganku hanya menggelitik perutnya—dia menggunakan kedekatan jarak kami untuk membalikkan badanku lalu mengunci leherku dari belakang. Aku segera memindahkan bebanku ke punggung—mendorongnya ke lantai.</p>

<p><em>BRUK!</em></p>

<p>Kami berdua jatuh.</p>

<p>Aku berguling ke arah pintu—menjaga jarak sejauh mungkin darinya. Tanganku dengan cepat merogoh pisau lipat di pinggang sebelum berbalik ke arahnya, ujung mataku menangkap gerakannya—dia sudah berdiri. Lalu dengan sekali hentakan aku mengarahkan pisauku ke lehernya. Dia menghindar dengan gerakan yang tidak masuk akal cepatnya lalu aku merasakan sebuah benda dingin menempel di dahiku.</p>

<p><em>Sial.</em></p>

<p>Orang ini... mengarahkan moncong pistolnya tepat di kepalaku.</p>

<p>Kami mematung.</p>

<p>Pisauku masih tepat berada di samping urat nadinya—aku yakin ujung pisauku sedikit menggores kulit lehernya karena aku melihat sedikit cairan merah mengalir dari sana.</p>

<p>Pistolnya menempel di dahiku. Hanya perlu sedikit tarikan di telunjuknya, otakku akan berhamburan.</p>

<p>Napasku terengah. Mata kami saling mengunci. Peluh menetes di seluruh tubuhku tapi aku masih kedinginan.</p>

<p>Aku cukup terkejut dengan senjata yang dia gunakan. Pistol adalah senjata jarak jauh. Dia bisa menembakku sejak tadi dan mungkin aku sudah terkapar di kamar ini. <em>Tapi kenapa dia tidak langsung membunuhku padahal dia menyerangku habis-habisan?</em></p>

<p>Aku mengamati wajahnya. Kedua mata bulatnya menatapku sengit, garis rahangnya terlihat jelas—dia sedang menggertakkan giginya.</p>

<p>Anehnya, dia mengenakan kaos dan celana <em>jeans</em> hitam. Pakaian yang cukup <em>biasa saja</em> kalau dilihat dari kemampuan dan—</p>

<p><em>“Who sent you?”</em></p>

<p><em>Siaaaaaaaaaal.</em></p>

<p>Ada saat-saat dalam hidupku di mana aku ingin belajar bahasa asing namun kegiatanku terlalu padat untuk mengingat-ingat dua kata dengan makna yang sama.</p>

<p>Aku tidak menjawab. Pilihan yang salah karena moncong pistolnya terus ditekankan di dahiku. “Jawab.” Lanjutnya dengan suara rendah.</p>

<p><em>Oh. Baguslah.</em> Kami bisa berbicara dengan bahasa yang sama.</p>

<p>Tanganku makin kuat mencengkeram gagang pisauku. Aku harus mengetahui apa tujuannya kemari, apakah dia benar-benar menargetkanku atau aku hanya sedang sial karena berada di sini. “Siapa yang lo cari?”</p>

<p>Ada kebingungan di matanya sebelum dia kembali memasang wajah datar, “lo mainin gue?” Ujung bibirnya naik, tangannya terus dimajukan namun aku menahan kepalaku melawan arah dorongannya.</p>

<p>“<em>Mainin</em>?” Aku ikut menaikkan ujung bibirku, “gue bisa mutusin urat nadi lo sekarang.”</p>

<p>Dia terkekeh, “lo pikir gue nggak bisa ngehancurin kepala lo sekarang?”</p>

<p>Hening.</p>

<p>Aku sudah merancang gerakan berikutnya di kepalaku. Tanganku yang kosong akan menepis pistolnya dan tanganku yang lain menggoreskan pisauku dalam satu gerakan cepat. Gerakan ini harus cepat dan akurat karena aku tidak bisa meremehkan kecepatannya menghindariku, belum lagi pistolnya yang bisa kapan saja ditembakkan.</p>

<p>Tapi tiba-tiba...</p>

<p>Beberapa nada terdengar dan...</p>

<p><em>Cklek!</em></p>

<p>“Gue beliin nasi kuning aja nggak apa-apa ya?”</p>

<p><em>Haya?!</em></p>

<p><em>Astaga. Dasar cowok tolol. Bagaimana bisa dia masuk ke rumah ini dengan suara seriang itu saat ada seseorang yang hendak menghancurkan kepalaku?</em></p>

<p>Suara langkah Haya semakin mendekat. Aku berpikir keras. Haya bisa saja dalam bahaya jika orang di depanku memutuskan untuk menarik pelatuknya. Tapi di satu sisi, Haya juga bisa mencurigaiku karena mengarahkan pisau ke leher orang lain.</p>

<p><em>Setengah detik berlalu.</em></p>

<p>Aku refleks menurunkan tanganku yang—anehnya—orang di depanku ikut menurunkan pistolnya lalu cepat-cepat memasukkannya di balik pinggangnya.</p>

<p>“Lo lagi di kamar mandi ya?” Suara Haya makin jelas terdengar—dia melewati pintu kamar, “gue—” Ucapannya terhenti. Sepertinya dia melihat punggungku dari ambang pintu.</p>

<p>Dia terdiam cukup lama.</p>

<p>Aku sudah siap pura-pura terjatuh—dan mengatakan orang serba hitam ini adalah perampok—ketika aku menyadari Haya sama sekali tidak terkejut dengan kehadiran orang ini—<em>Haya mengenalnya.</em></p>

<p>Dia mengernyit.</p>

<p>“Maru? Kok udah pulang?”</p>

<p>Jantungku meledak.</p>

<p><em>Orang ini adalah teman Haya?</em></p>
]]></content:encoded>
      <guid>https://bulanjuni.writeas.com/rumah-susun</guid>
      <pubDate>Sat, 15 Oct 2022 17:05:49 +0000</pubDate>
    </item>
    <item>
      <title>Rumah (Kontrakan)</title>
      <link>https://bulanjuni.writeas.com/rumah-kontrakan?pk_campaign=rss-feed</link>
      <description>&lt;![CDATA[  POV: HIMALAYA.&#xA;&#xA;Saat melihat Erde menungguku di lobby, ada satu tanda tanya yang terus berdenging di kepalaku.&#xA;&#xA;Apa Erde bisa dipercaya? !--more--&#xA;&#xA;Ketika membicarakan tentang kepercayaan, pengkhianatan akan selalu mengikuti.&#xA;&#xA;Menurut penelitian, manusia memiliki risiko 90% untuk melakukan pengkhianatan yang menguntungkan diri sendiri, terutama saat dia yakin tidak akan ketahuan. &#xA;&#xA;Dalam sebuah artikel terkenal dari sekolah bisnis tersohor, tingkat kepercayaan seseorang tergantung pada situasi. Mana keuntungan yang ingin didapatkan? Jangka pendek atau jangka panjang?&#xA;&#xA;Seseorang yang ingin mendapatkan keuntungan jangka pendek biasanya akan cenderung melakukan pengkhianatan. &#xA;&#xA;Keuntungan jangka pendek apa yang bisa didapatkan Erde dari orang sepertiku?&#xA;&#xA;Yep. Tidak ada. &#xA;&#xA;Aku adalah manusia paling biasa yang ada di kampus kami. Dengan tampang menjanjikan seperti Erde, dia bisa mendapatkan sesama anak hukum atau bergeser ke anak bisnis yang tajir melintir. &#xA;&#xA;Kecuali Erde tau aset digital yang kumiliki. Tapi tidak mungkin. Menelusuri kepemilikan aset digital sama susahnya dengan mencari akar kesalahan pengkodean saat melakukan pemograman. &#xA;&#xA;Aku juga tidak populer. Benar-benar tidak ada keuntungan yang bisa didapatkan Erde dariku. &#xA;&#xA;Dan membicarakan tentang keuntungan, aku sepenuhnya menyadari aku adalah pihak yang mengambil keuntungan dari Erde. &#xA;&#xA;Jadi, apa Erde bisa dipercaya?&#xA;&#xA;Yep. Mungkin bisa. &#xA;&#xA;Mungkin ini yang membuatku gusar sejak kemarin. Erde adalah orang yang bisa kupercaya namun aku memanfaatkannya. Mungkin debaran jantung dan semua rasa gugup yang kurasakan adalah wujud dari rasa bersalahku. &#xA;&#xA;Mungkin, setidaknya, untuk mengurangi rasa bersalahku, aku harus memandang Erde sebagai pacarku.&#xA;&#xA;Mungkin seharusnya aku memperlakukan Erde dengan lebih baik--seperti hasil pencarianku tentang perfet boyfriend tadi malam. &#xA;&#xA;&#34;Erde.&#34; Panggilku saat kami masih dalam perjalanan di atas motor, aku memajukan wajahku agar lebih dekat padanya. &#xA;&#xA;&#34;Iya, Kak?&#34; Suaranya teredam karena helm yang digunakan. &#xA;&#xA;Aku menelan ludah. Jantungku berdebar keras ketika hidungku dapat mencium aroma manis vanilla dan segarnya pepohonan dari tubuh Erd--tunggu, kenapa aku jadi membahas aroma tubuh Erde?&#xA;&#xA;Jantungku berdebar karena aku akan mengucapkan hal yang--mungkin--akan terdengar tidak masuk akal. &#xA;&#xA;&#34;Sampe kapan lo mau manggil gue kak?&#34;&#xA;&#xA;Tidak ada jawaban. &#xA;&#xA;Aku sudah berniat memberi penjelasan panjang (dan masuk akal) untuk menerangkan kenapa ia harus mengganti panggilan itu namun Erde lebih dulu menjawab, &#34;maksudnya? Emang lo mau dipanggil gimana, Kak?&#34;&#xA;&#xA;&#34;Ya, namanya juga orang pacaran.&#34; Jantungku semakin berdebar kencang, aku mengkahwatirkan aliran darahku yang mengalir cepat, &#34;harusnya kita manggil pake panggilan khusus gitu nggak, sih?&#34;&#xA;&#xA;Lagi-lagi tidak ada jawaban. &#xA;&#xA;Tiga puluh detik kemudian, aku menyadari kami sudah nyaris sampai di rumah kontrakanku. &#xA;&#xA;Aku turun dari motor. Melepas helm lalu menyerahkannya pada Erde. Mungkin sebaiknya aku--&#xA;&#xA;&#34;Kalo sayang gimana, Kak?&#34;&#xA;&#xA;Mataku membulat. Gerakan tanganku terhenti. &#xA;&#xA;Apa?&#xA;&#xA;&#34;Kalo gue manggil lo pake sayang gimana?&#34; Sepertinya Erde menganggap diamku tadi karena aku tidak mendengar ucapannya, &#34;kalo lo keberatan kita bisa ganti--&#34;&#xA;&#xA;&#34;Fine.&#34; Jawabku cepat, mengangguk setuju, &#34;boleh. Berarti gue juga bisa manggil lo sayang, nih?&#34;&#xA;&#xA;Erde yang telah membuka helmnya, balas memberi anggukan, tersenyum. &#34;Kayaknya gue bakal agak canggung. Nggak langsung manggil sayang nggak apa-apa &#39;kan?&#34;&#xA;&#xA;Aku mengangguk cepat--sepertinya aku juga akan kesulitan membiasakan diri.  &#34;Kita mulai pelan-pelan aja.&#34;&#xA;&#xA;Kemudian Erde pamit. &#xA;&#xA;&#34;Eh!&#34; Sebuah panggilan terdengar. Dan aku terkejut karena suara itu berasal dari mulutku.&#xA;&#xA;Ups. Tiba-tiba aku ingin mengajak Erde berbicara lebih lama.&#xA;&#xA;Maksudnya--wajar &#39;kan aku ingin berbincang lebih lama dengannya? Aku ingin membiasakan diri untuk memanggilnya sayang, untuk membiasakan diri ini kami harus sering berlatih, yang artinya kami harus sering menghabiskan waktu berdua untuk membicarakan apa saja. Ya &#39;kan?&#xA;&#xA;Gerakan Erde terhenti, dia menoleh, &#34;kenapa...&#34; Dia terdiam sejenak, &#34;... Sayang?&#34;&#xA;&#xA;Shit.&#xA;&#xA;&#34;Mau mampir dulu nggak?&#34; &#xA;&#xA;Jujur, hanya kalimat itu yang sempat terlewat di kepalaku. Tentu aku bisa saja mengajaknya jalan-jalan atau pergi ke suatu tempat, tapi aku merasa hal terwajar yang bisa kami lakukan sebagai pacar untuk saat ini--karena kami sedang berdiri tepat di depan rumahku--adalah melanjutkan pembicaraan di dalam rumah.&#xA;&#xA;Lalu saat kami sudah di dalam rumah. Aku menyadari sesuatu. &#xA;&#xA;Aku tidak mengenal pacarku sendiri. &#xA;&#xA;Aku tidak tau harus mengambilkan minum apa untuk Erde. Aku tidak tau camilan apa yang harus aku siapkan. Aku tidak tau harus memulai pembicaraan dengan membicarakan apa. Aku tidak tau apa-apa tentang Erde. &#xA;&#xA;Rasa bersalahku semakin membesar. &#xA;&#xA;Aku baru menyadari selama ini kami tidak pernah membicarakan tentang diri kami sendiri. Erde hanya menanyakan kesibukanku dan aku hanya menanyakan tentang dosennya--Danaraja. Erde juga hanya membelikan makanan favoritku dan aku sama sekali tidak pernah menanyakan makanan favoritnya. &#xA;&#xA;&#34;Kenapa?&#34; &#xA;&#xA;Lamunanku tersadar saat Erde yang sedang duduk di sampingku tiba-tiba memundurkan tubuhnya--mungkin merasa tidak nyaman (atau salting?) karena aku terus-terusan menatapnya. &#xA;&#xA;Anehnya, sedari tadi Erde hanya duduk santai. Matanya tidak berkeliling untuk melihat-lihat interior ruang tamu yang langsung tersambung dengan dapur. Dia hanya duduk diam.&#xA;&#xA;&#34;Lo mau minum sesuatu nggak? Gue punya air putih, soda, kopi, teh, susu. Lo mau minum apa?&#34;&#xA;&#xA;&#34;Air putih aja.&#34; Dia tersenyum. Aku segera beranjak menuju dapur, membuka kulkas dan mengambil dua botol air putih dingin. &#xA;&#xA;Saat aku kembali, Erde sedang memainkan ponselnya yang berdering beberapa kali. &#xA;&#xA;&#34;Kenapa? Dicariin?&#34; Aku menaruh dua botol air di meja. &#xA;&#xA;Erde menggeleng, &#34;adek gue.&#34;&#xA;&#xA;Oh?&#xA;&#xA;Erde punya adik? That&#39;s new.&#xA;&#xA;Tangan Erde mengambil salah satu botol lalu membukanya. Saat aku hendak mengambil botol yang lain... yaampun.... aku hanya bisa diam saat Erde memberikan botol yang segelnya telah dibuka padaku. &#xA;&#xA;Kenapa?&#xA;&#xA;Sebelum aku sempat menanyakan apapun, Erde telah mengambil botol yang lain. Ia membuka dan langsung meminumnya. &#xA;&#xA;Aku baru menyadari beberapa hal. Erde sering melakukan hal-hal seperti ini. Membukakan saos, mengambilkan sendok, membuka kertas pembungkus sedotan, memberikan minuman yang tutupnya sudah tidak disegel.&#xA;&#xA;Dan belum sempat aku bersuara apapun, Erde sudah lebih dulu bertanya, &#34;lo pernah ke Jepang?&#34;&#xA;&#xA;Dua alisku naik, &#34;maksudnya?&#34;&#xA;&#xA;Erde menunjuk sesuatu di belakangku dengan dagunya, &#34;itu ada tempelan Jepang di kulkas lo.&#34;&#xA;&#xA;Kepalaku menoleh, mengikuti arah pandang Erde. Oh My God. Bagaimana bisa Erde melihat magnet kulkas sejauh itu? Bukankah dari tadi ia hanya diam saja bermain HP? Atau jangan-jangan Erde memperhatikanku saat aku berjalan mengambil botol?&#xA;&#xA;&#34;Itu beli di olshop.&#34; Jawabku dengan sedikit kekehan ringan. &#xA;&#xA;Erde hanya memberikan senyuman--yang cukup manis--lalu menanyakan kesibukanku hari ini. &#xA;&#xA;Aku menjawab seadanya, ditambah sedikit pertanyaan umpan balik agar percakapan kami lebih lama. &#xA;&#xA;Tanpa kusadari, percakapan kami menjadi lebih panjang. Aku sedikit bercerita tentang mengapa aku membeli magnet kulkas bertuliskan negara Jepang dan Erde menimpali tentang keinginannya berlibur ke Swiss. &#xA;&#xA;Setelah percakapan berlalu selama dua puluh menit, aku kembali menyadari bahwa kami menghindari menggunakan kata Sayang yang menjadi panggilan baru kami. &#xA;&#xA;Mungkin keputusanku mengubah nama panggilan adalah gerakan yang terlalu cepat. &#xA;&#xA;Tapi ternyata ada hal lain lagi yang tidak kalah cepat. Tanganku yang tiba-tiba bergerak menepuk lengan bawah Erde karena dia baru saja menceritakan kisah lucu tentang adiknya yang katanya luar biasa pintar.&#xA;&#xA;Seluruh tubuhku seperti terkena sengatan listrik. Tapi aku enggan melepas tanganku dari tangan Erde. &#xA;&#xA;Sebaliknya, tanganku justru turun menggenggam telapak tangan Erde. &#xA;&#xA;Keputusan yang salah karena seluruh organ dalamku segera memberontak. Jantungku berdebar kencang dan aliran darahku lebih deras dari biasanya. Otakku seperti mengeras--apapun yang terjadi di dalam tempurung kepalaku, aku tau hipotalamusku sedang bekerja keras.&#xA;&#xA;Setelah satu detik yang hening dan kepalaku yang berdenging. Aku merasa aliran darahku berhenti saat Erde balas menggenggam tanganku dan memberi senyum simpul. &#xA;&#xA;Seperti sungai yang telah mencapai lautan. Aku merasa jantungku melambat dan pembuluh darahku tidak lagi diburu-buru waktu. &#xA;&#xA;Kakiku seperti berpijak di danau yang tenang. &#xA;&#xA;Aku tidak tau apa yang terjadi tapi aku mengingat hormon oksitosin adalah salah satu hormon yang dapat memberikan ketenangan saat diedarkan. &#xA;&#xA;Bahayanya, aku juga mengingat, hormon oksitosin dihasilkan pada beberapa kemungkinan: saat Ibu menyusui anaknya, saat Ibu melahirkan anaknya, saat bercinta, dan--yang paling gawat--adalah saat kita bersentuhan dengan orang yang kita sayangi.&#xA;&#xA;---&#xA;.&#xA;&#xA;.&#xA;&#xA;---&#xA;&#xA;Mampir. &#xA;&#xA;  POV: BERMUDA&#xA;  cw / tw / mention of wound ; luka ; kissing ; violence &#xA;&#xA;Aku sedang berciuman dengan Haya. &#xA;&#xA;Serius. Ciuman adalah hal teraneh yang pernah kualami sejauh ini. Aku bisa merasakan ayam dari restoran cepat saji yang baru saja dimakan Haya sekaligus rasa manis--yang entah datang dari mana. &#xA;&#xA;Ciuman juga membuat panca indraku melemah, aku menyadarinya. &#xA;&#xA;Mataku selalu awas saat memasuki tempat baru. Setengah jam yang lalu aku masih menelisik setiap sudut rumah Haya--secara diam-diam. Tapi sekarang aku menutup mataku dan hanya dapat mendengar suara lumatan kami. &#xA;&#xA;Ini pertama kalinya aku ciuman. Tapi aku merasa sudah pernah melakukan ini berkali-kali. Apa karena aku sering menonton film-film tengah malam di TV?&#xA;&#xA;Saat Haya tiba-tiba melumat bibirku dan lidahnya terus berusaha meraih sesuatu di rongga mulutku, aku tau--aku harus membalasnya dengan cara yang sama. &#xA;&#xA;Jadilah kami saling membalas lumatan.&#xA;&#xA;Sial.&#xA;&#xA;Ciuman tidak pernah menjadi bagian dari rencanaku untuk mendekati Haya. Awalnya--memang--aku sengaja membelikan makanan dan sering menjemputnya menemui Sejati, tapi itu semua murni karena aku ingin menelusuri Fakultas Ilmu Komputer. &#xA;&#xA;Untuk sesaat, aku terbuai dengan manis dan kenyalnya bibir Haya. Kami bergantian memberikan lumatan, awalnya Haya terus memajukan wajahnya hingga punggungku menyentuh sandaran kursi, namun setelahnya aku mulai tidak sabar dengan temponya yang melambat. Aku segera merubah posisi dan membiarkan Haya bersandar di sandaran kursi. &#xA;&#xA;Dan saat itulah.&#xA;&#xA;Aku terkejut ketika tangan Haya bergerak ke dalam kaosku dan nyaris mengusap pinggangku. &#xA;&#xA;Sepersekian detik sebelum usapan itu terjadi, aku teringat beberapa hal. &#xA;&#xA;Tangan-tangan yang berusaha menghancurkan badanku. &#xA;&#xA;Aku dapat melihat dengan jelas pisau-pisau yang pernah kuhindari agar tidak merobek punggungku. Puluhan cambuk yang akhirnya mendarat di seluruh badanku. Juga pukulan dan tendangan yang mengincar setiap inchi badanku.&#xA;&#xA;Ada banyak hal di balik kaosku.&#xA;&#xA;Bekas sayatan, bekas cambukan, bekas pukulan. &#xA;&#xA;Dan satu pisau di sela-sela ikat pinggangku.&#xA;&#xA;Sial.&#xA;&#xA;Aku lengah. &#xA;&#xA;Seharusnya aku menolak ajakan Haya untuk mampir di rumahnya, itu salahku. &#xA;&#xA;Bisa saja Haya merencanakan sesuatu. Membiarkan tangannya menyentuh badanku adalah kesalahan keduaku.&#xA;&#xA;Kalau aku tidak segera melakukan sesuatu, mungkin Haya juga akan meninggalkan bekas luka di balik kaosku. &#xA;&#xA;Tanganku mencekal pergelangan tangan Haya kuat. Aku memundurkan badanku dan menatapnya tajam. Apa yang sedang ia rencanakan?&#xA;&#xA;Mata Haya terlihat sayu dan bergetar, bibirnya yang merekah terbata, &#34;ke--kenapa, Sayang?&#34;&#xA;&#xA;Jantungku terus berdebar. Mataku awas dan telingaku menajam. Ujung mataku dapat melihat cicak yang lewat di jendela ruang tamu. Aku bisa mendengar suara motor dari jalanan dan air yang menetes di wastafel dapur. Cengkeraman tanganku menguat, aku ingin meremukkan tulang-tulangnya agar ia tidak sembarangan mendaratkan tangan di badanku. &#xA;&#xA;Rahangku mengeras. &#34;Jangan sentuh gue.&#34; Desisku kemudian.&#xA;&#xA;Haya meringis dan itulah satu-satunya hal yang menyadarkanku bahwa aku sedang menyakitinya. &#xA;&#xA;Tangannya segera kulepaskan. Kakiku sigap mengambil dua langkah darinya--aku nyaris menabrak meja di belakangku. &#34;Maaf.&#34;&#xA;&#xA;&#34;Eh--ini--&#34;&#xA;&#xA;&#34;Gue pulang dulu.&#34; &#xA;&#xA;Aku marah. Ada rasa tidak nyaman saat menyadari aku lengah di depan Haya. &#xA;&#xA;Sial.&#xA;]]&gt;</description>
      <content:encoded><![CDATA[<blockquote><p>POV: HIMALAYA.</p></blockquote>

<p>Saat melihat Erde menungguku di <em>lobby</em>, ada satu tanda tanya yang terus berdenging di kepalaku.</p>

<p><em>Apa Erde bisa dipercaya?</em> </p>

<p>Ketika membicarakan tentang kepercayaan, <em>pengkhianatan</em> akan selalu mengikuti.</p>

<p>Menurut penelitian, manusia memiliki risiko 90% untuk melakukan pengkhianatan yang menguntungkan diri sendiri, terutama saat dia yakin tidak akan ketahuan.</p>

<p>Dalam sebuah artikel terkenal dari sekolah bisnis tersohor, tingkat kepercayaan seseorang tergantung pada situasi. <em>Mana keuntungan yang ingin didapatkan? Jangka pendek atau jangka panjang?</em></p>

<p>Seseorang yang ingin mendapatkan keuntungan jangka pendek biasanya akan cenderung melakukan pengkhianatan.</p>

<p>Keuntungan jangka pendek apa yang bisa didapatkan Erde dari orang sepertiku?</p>

<p><em>Yep</em>. Tidak ada.</p>

<p>Aku adalah manusia paling biasa yang ada di kampus kami. Dengan tampang menjanjikan seperti Erde, dia bisa mendapatkan sesama anak hukum atau bergeser ke anak bisnis yang tajir melintir.</p>

<p>Kecuali Erde tau aset digital yang kumiliki. <em>Tapi tidak mungkin</em>. Menelusuri kepemilikan aset digital sama susahnya dengan mencari akar kesalahan pengkodean saat melakukan pemograman.</p>

<p>Aku juga tidak populer. Benar-benar tidak ada keuntungan yang bisa didapatkan Erde dariku.</p>

<p>Dan membicarakan tentang keuntungan, aku sepenuhnya menyadari aku adalah pihak yang mengambil keuntungan dari Erde.</p>

<p>Jadi, apa Erde bisa dipercaya?</p>

<p><em>Yep.</em> Mungkin bisa.</p>

<p>Mungkin ini yang membuatku gusar sejak kemarin. Erde adalah orang yang bisa kupercaya namun aku memanfaatkannya. Mungkin debaran jantung dan semua rasa gugup yang kurasakan adalah wujud dari rasa bersalahku.</p>

<p>Mungkin, setidaknya, untuk mengurangi <em>rasa bersalahku</em>, aku harus memandang Erde sebagai <em>pacarku</em>.</p>

<p>Mungkin seharusnya aku memperlakukan Erde dengan lebih baik—seperti hasil pencarianku tentang <em>perfet boyfriend</em> tadi malam.</p>

<p>“Erde.” Panggilku saat kami masih dalam perjalanan di atas motor, aku memajukan wajahku agar lebih dekat padanya.</p>

<p>“Iya, Kak?” Suaranya teredam karena helm yang digunakan.</p>

<p>Aku menelan ludah. Jantungku berdebar keras ketika hidungku dapat mencium aroma manis vanilla dan segarnya pepohonan dari tubuh Erd—<em>tunggu</em>, kenapa aku jadi membahas aroma tubuh Erde?</p>

<p>Jantungku berdebar karena aku akan mengucapkan hal yang—mungkin—akan terdengar tidak masuk akal.</p>

<p>“Sampe kapan lo mau manggil gue <em>kak</em>?”</p>

<p>Tidak ada jawaban.</p>

<p>Aku sudah berniat memberi penjelasan panjang (dan masuk akal) untuk menerangkan kenapa ia harus mengganti panggilan itu namun Erde lebih dulu menjawab, “maksudnya? Emang lo mau dipanggil gimana, Kak?”</p>

<p>“Ya, namanya juga orang pacaran.” Jantungku semakin berdebar kencang, aku mengkahwatirkan aliran darahku yang mengalir cepat, “harusnya kita manggil pake <em>panggilan khusus</em> gitu nggak, sih?”</p>

<p>Lagi-lagi tidak ada jawaban.</p>

<p>Tiga puluh detik kemudian, aku menyadari kami sudah nyaris sampai di rumah kontrakanku.</p>

<p>Aku turun dari motor. Melepas helm lalu menyerahkannya pada Erde. Mungkin sebaiknya aku—</p>

<p>“Kalo <em>sayang</em> gimana, Kak?”</p>

<p>Mataku membulat. Gerakan tanganku terhenti.</p>

<p><em>Apa?</em></p>

<p>“Kalo gue manggil lo pake <em>sayang</em> gimana?” Sepertinya Erde menganggap diamku tadi karena aku tidak mendengar ucapannya, “kalo lo keberatan kita bisa ganti—”</p>

<p><em>“Fine.”</em> Jawabku cepat, mengangguk setuju, “boleh. Berarti gue juga bisa manggil lo <em>sayang</em>, nih?”</p>

<p>Erde yang telah membuka helmnya, balas memberi anggukan, tersenyum. “Kayaknya gue bakal agak canggung. Nggak langsung manggil <em>sayang</em> nggak apa-apa &#39;kan?”</p>

<p>Aku mengangguk cepat—sepertinya aku juga akan kesulitan membiasakan diri.  “Kita mulai pelan-pelan aja.”</p>

<p>Kemudian Erde pamit.</p>

<p>“Eh!” Sebuah panggilan terdengar. Dan aku terkejut karena suara itu berasal dari mulutku.</p>

<p><em>Ups.</em> Tiba-tiba aku ingin mengajak Erde berbicara lebih lama.</p>

<p>Maksudnya—wajar &#39;kan aku ingin berbincang lebih lama dengannya? Aku ingin membiasakan diri untuk memanggilnya <em>sayang</em>, untuk membiasakan diri ini kami harus sering berlatih, yang artinya kami harus sering menghabiskan waktu berdua untuk membicarakan apa saja. <em>Ya &#39;kan?</em></p>

<p>Gerakan Erde terhenti, dia menoleh, “kenapa...” Dia terdiam sejenak, “... Sayang?”</p>

<p><em>Shit.</em></p>

<p>“Mau mampir dulu nggak?”</p>

<p>Jujur, hanya kalimat itu yang sempat terlewat di kepalaku. Tentu aku bisa saja mengajaknya jalan-jalan atau pergi ke suatu tempat, tapi aku merasa hal terwajar yang bisa kami lakukan sebagai <em>pacar</em> untuk saat ini—karena kami sedang berdiri tepat di depan rumahku—adalah melanjutkan pembicaraan di dalam rumah.</p>

<p>Lalu saat kami sudah di dalam rumah. Aku menyadari sesuatu.</p>

<p>Aku tidak mengenal pacarku sendiri.</p>

<p>Aku tidak tau harus mengambilkan minum apa untuk Erde. Aku tidak tau camilan apa yang harus aku siapkan. Aku tidak tau harus memulai pembicaraan dengan membicarakan apa. Aku tidak tau apa-apa tentang Erde.</p>

<p>Rasa bersalahku semakin membesar.</p>

<p>Aku baru menyadari selama ini kami tidak pernah membicarakan tentang diri kami sendiri. Erde hanya menanyakan kesibukanku dan aku hanya menanyakan tentang dosennya—Danaraja. Erde juga hanya membelikan makanan favoritku dan aku sama sekali tidak pernah menanyakan makanan favoritnya.</p>

<p>“Kenapa?”</p>

<p>Lamunanku tersadar saat Erde yang sedang duduk di sampingku tiba-tiba memundurkan tubuhnya—mungkin merasa tidak nyaman (atau <em>salting</em>?) karena aku terus-terusan menatapnya.</p>

<p>Anehnya, sedari tadi Erde hanya duduk santai. Matanya tidak berkeliling untuk melihat-lihat interior ruang tamu yang langsung tersambung dengan dapur. Dia hanya duduk diam.</p>

<p>“Lo mau minum sesuatu nggak? Gue punya air putih, soda, kopi, teh, susu. Lo mau minum apa?”</p>

<p>“Air putih aja.” Dia tersenyum. Aku segera beranjak menuju dapur, membuka kulkas dan mengambil dua botol air putih dingin.</p>

<p>Saat aku kembali, Erde sedang memainkan ponselnya yang berdering beberapa kali.</p>

<p>“Kenapa? Dicariin?” Aku menaruh dua botol air di meja.</p>

<p>Erde menggeleng, “adek gue.”</p>

<p><em>Oh?</em></p>

<p>Erde punya adik? <em>That&#39;s new.</em></p>

<p>Tangan Erde mengambil salah satu botol lalu membukanya. Saat aku hendak mengambil botol yang lain... <em>yaampun</em>.... aku hanya bisa diam saat Erde memberikan botol yang segelnya telah dibuka padaku.</p>

<p><em>Kenapa?</em></p>

<p>Sebelum aku sempat menanyakan apapun, Erde telah mengambil botol yang lain. Ia membuka dan langsung meminumnya.</p>

<p>Aku baru menyadari beberapa hal. Erde sering melakukan hal-hal seperti ini. Membukakan saos, mengambilkan sendok, membuka kertas pembungkus sedotan, memberikan minuman yang tutupnya sudah tidak disegel.</p>

<p>Dan belum sempat aku bersuara apapun, Erde sudah lebih dulu bertanya, “lo pernah ke Jepang?”</p>

<p>Dua alisku naik, “maksudnya?”</p>

<p>Erde menunjuk sesuatu di belakangku dengan dagunya, “itu ada tempelan Jepang di kulkas lo.”</p>

<p>Kepalaku menoleh, mengikuti arah pandang Erde. <em>Oh My God.</em> Bagaimana bisa Erde melihat magnet kulkas sejauh itu? Bukankah dari tadi ia hanya diam saja bermain HP? Atau jangan-jangan Erde memperhatikanku saat aku berjalan mengambil botol?</p>

<p>“Itu beli di <em>olshop</em>.” Jawabku dengan sedikit kekehan ringan.</p>

<p>Erde hanya memberikan senyuman—yang cukup manis—lalu menanyakan kesibukanku hari ini.</p>

<p>Aku menjawab seadanya, ditambah sedikit pertanyaan umpan balik agar percakapan kami lebih lama.</p>

<p>Tanpa kusadari, percakapan kami menjadi lebih panjang. Aku sedikit bercerita tentang mengapa aku membeli magnet kulkas bertuliskan negara Jepang dan Erde menimpali tentang keinginannya berlibur ke Swiss.</p>

<p>Setelah percakapan berlalu selama dua puluh menit, aku kembali menyadari bahwa kami menghindari menggunakan kata <em>Sayang</em> yang menjadi panggilan baru kami.</p>

<p>Mungkin keputusanku mengubah nama panggilan adalah gerakan yang terlalu cepat.</p>

<p>Tapi ternyata ada hal lain lagi yang tidak kalah cepat. Tanganku yang tiba-tiba bergerak menepuk lengan bawah Erde karena dia baru saja menceritakan kisah lucu tentang adiknya yang katanya luar biasa pintar.</p>

<p>Seluruh tubuhku seperti terkena sengatan listrik. Tapi aku enggan melepas tanganku dari tangan Erde.</p>

<p>Sebaliknya, tanganku justru turun menggenggam telapak tangan Erde.</p>

<p>Keputusan yang salah karena seluruh organ dalamku segera memberontak. Jantungku berdebar kencang dan aliran darahku lebih deras dari biasanya. Otakku seperti mengeras—apapun yang terjadi di dalam tempurung kepalaku, aku tau hipotalamusku sedang bekerja keras.</p>

<p>Setelah satu detik yang hening dan kepalaku yang berdenging. Aku merasa aliran darahku berhenti saat Erde balas menggenggam tanganku dan memberi senyum simpul.</p>

<p>Seperti sungai yang telah mencapai lautan. Aku merasa jantungku melambat dan pembuluh darahku tidak lagi diburu-buru waktu.</p>

<p>Kakiku seperti berpijak di danau yang tenang.</p>

<p>Aku tidak tau apa yang terjadi tapi aku mengingat hormon oksitosin adalah salah satu hormon yang dapat memberikan ketenangan saat diedarkan.</p>

<p>Bahayanya, aku juga mengingat, hormon oksitosin dihasilkan pada beberapa kemungkinan: saat Ibu menyusui anaknya, saat Ibu melahirkan anaknya, saat bercinta, dan—yang paling gawat—adalah saat kita bersentuhan dengan orang yang kita sayangi.</p>

<hr/>

<p>.</p>

<p>.</p>

<hr/>

<h1 id="mampir" id="mampir">Mampir.</h1>

<blockquote><p>POV: BERMUDA
cw / tw / mention of wound ; luka ; kissing ; violence</p></blockquote>

<p>Aku sedang berciuman dengan Haya.</p>

<p><em>Serius.</em> Ciuman adalah hal teraneh yang pernah kualami sejauh ini. Aku bisa merasakan ayam dari restoran cepat saji yang baru saja dimakan Haya sekaligus rasa manis—yang entah datang dari mana.</p>

<p>Ciuman juga membuat panca indraku melemah, aku menyadarinya.</p>

<p>Mataku selalu awas saat memasuki tempat baru. Setengah jam yang lalu aku masih menelisik setiap sudut rumah Haya—secara diam-diam. Tapi sekarang aku menutup mataku dan hanya dapat mendengar suara lumatan kami.</p>

<p>Ini pertama kalinya aku ciuman. Tapi aku merasa sudah pernah melakukan ini berkali-kali. Apa karena aku sering menonton film-film tengah malam di TV?</p>

<p>Saat Haya tiba-tiba melumat bibirku dan lidahnya terus berusaha meraih sesuatu di rongga mulutku, <em>aku tau</em>—aku harus membalasnya dengan cara yang sama.</p>

<p>Jadilah kami saling membalas lumatan.</p>

<p><em>Sial.</em></p>

<p>Ciuman tidak pernah menjadi bagian dari rencanaku untuk mendekati Haya. Awalnya—memang—aku sengaja membelikan makanan dan sering menjemputnya menemui Sejati, tapi itu semua murni karena aku ingin menelusuri Fakultas Ilmu Komputer.</p>

<p>Untuk sesaat, aku terbuai dengan manis dan kenyalnya bibir Haya. Kami bergantian memberikan lumatan, awalnya Haya terus memajukan wajahnya hingga punggungku menyentuh sandaran kursi, namun setelahnya aku mulai tidak sabar dengan temponya yang melambat. Aku segera merubah posisi dan membiarkan Haya bersandar di sandaran kursi.</p>

<p>Dan saat itulah.</p>

<p>Aku terkejut ketika tangan Haya bergerak ke dalam kaosku dan nyaris mengusap pinggangku.</p>

<p>Sepersekian detik sebelum usapan itu terjadi, aku teringat beberapa hal.</p>

<p><em>Tangan-tangan yang berusaha menghancurkan badanku.</em></p>

<p>Aku dapat melihat dengan jelas pisau-pisau yang pernah kuhindari agar tidak merobek punggungku. Puluhan cambuk yang akhirnya mendarat di seluruh badanku. Juga pukulan dan tendangan yang mengincar setiap inchi badanku.</p>

<p>Ada banyak hal di balik kaosku.</p>

<p>Bekas sayatan, bekas cambukan, bekas pukulan.</p>

<p><em>Dan satu pisau di sela-sela ikat pinggangku.</em></p>

<p><strong>Sial.</strong></p>

<p>Aku lengah.</p>

<p>Seharusnya aku menolak ajakan Haya untuk mampir di rumahnya, itu salahku.</p>

<p>Bisa saja Haya merencanakan sesuatu. Membiarkan tangannya menyentuh badanku adalah kesalahan keduaku.</p>

<p>Kalau aku tidak segera melakukan sesuatu, mungkin Haya juga akan meninggalkan bekas luka di balik kaosku.</p>

<p>Tanganku mencekal pergelangan tangan Haya kuat. Aku memundurkan badanku dan menatapnya tajam. <em>Apa yang sedang ia rencanakan?</em></p>

<p>Mata Haya terlihat sayu dan bergetar, bibirnya yang merekah terbata, “ke—kenapa, Sayang?”</p>

<p>Jantungku terus berdebar. Mataku awas dan telingaku menajam. Ujung mataku dapat melihat cicak yang lewat di jendela ruang tamu. Aku bisa mendengar suara motor dari jalanan dan air yang menetes di wastafel dapur. Cengkeraman tanganku menguat, aku ingin meremukkan tulang-tulangnya agar ia tidak sembarangan mendaratkan tangan di badanku.</p>

<p>Rahangku mengeras. “Jangan sentuh gue.” Desisku kemudian.</p>

<p>Haya meringis dan itulah satu-satunya hal yang menyadarkanku bahwa aku sedang menyakitinya.</p>

<p>Tangannya segera kulepaskan. Kakiku sigap mengambil dua langkah darinya—aku nyaris menabrak meja di belakangku. “Maaf.”</p>

<p>“Eh—ini—”</p>

<p>“Gue pulang dulu.”</p>

<p>Aku marah. Ada rasa tidak nyaman saat menyadari aku lengah di depan Haya.</p>

<p><em>Sial.</em></p>
]]></content:encoded>
      <guid>https://bulanjuni.writeas.com/rumah-kontrakan</guid>
      <pubDate>Sun, 09 Oct 2022 12:14:51 +0000</pubDate>
    </item>
  </channel>
</rss>